OPINI
Manusia dan Dunianya: Menelusuri Jejak Epistemologi Menuju Realitas
Oleh: Irfanesa (Ketua Umum LDSI Al-Muntazhar)
Kerangka acuan epistemologi akan mempengaruhi cara seseorang melihat realitas. Epistemologi bahkan bekerja dalam membangun pola pikir dan sikap hidup manusia dalam keseharian. Seseorang yang memandang dunia sebagai sesuatu yang mampu dikendalikan dan diklasifikasi akan berupaya merekonstruksi realitas secara mekanistik dan sesuai dengan keinginannya, membaginya menjadi bagian-bagian yang tanpa keterkaitan integral.
Namun pada tataran metafisik, realitas adalah wujud nyata dan mandiri – tidak bergantung pada konstruksi pahaman. Rotasi bumi terhadap matahari hingga tetesan air embun di pagi hari tidak bergantung pada sebagaimana manusia mengkonstruksinya. Dunia eksternal berjalan melalui mekanismenya sendiri tanpa determinasi akal manusia.
Namun, terdapat ruang korelasi antara pemikiran yang dinyatakan melalui tindakan manusia terhadap alam di sekitarnya. Sehingga nampak sekilas adanya distingsi ihwal relasi antar pahaman dan realitas. Ketegangan ini melahirkan perdebatan panjang dalam filsafat, khususnya dalam wilayah ontologi antara dua kutub besar: realisme dan idealisme.
Realisme dan idealisme adalah dua corak filosofis yang berakar dari pemikiran filsafat Yunani. Kemudian ditafsirkan oleh murid-muridnya baik Platon maupun Aristoteles era skolastik hingga era perdebatan filsafat hari ini. Keduanya sejalin berkelindan melatarbelakangi perkembangan narasi filsafat.
Untuk menyoal hubungan antara realitas dan pahaman, tentu perlu kita telaah bagaimana latar belakang tindakan manusia di realitas. Murtadha Muthahhari dalam mengkontruksikan hal ini memberi gambaran bahwa tindakan manusia dikonstruksi oleh corak ideologi dianut. Manusia meyakini ideologi tertentu karena bersesuaian dengan pandangan alam yang diyakininya. Keyakinanya tersebut bersumber dari basis pengetahuannya atau epistemologi. Dengan kata lain, epistemologi adalah akar yang menopang keseluruhan bangunan keyakinan, ideologi, hingga tindakan manusia dalam realitas.
Di lain sisi bahasan metafisika atau ontologi Islam, Allamah Thabatabai menjelaskan bahwa realitas dikonsepsi menjadi wujud dan mahiyah. Mahiyah diartikan sebagai jawaban dari pertanyaan “apa itu?”. Mahiyah memberikan batasan atau karakteristik sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sehingga mahiyah menjadi dasar dari suatu wujud yang tunggal menuju pluralitas.
Namun, mahiyah menurut Allamah Thabatabai netral terhadap sifat-sifat wujud. Putih misalnya, Ia netral dari sifat ada atau tidak ada pada realitas dinding. Realitas dinding ada yang berwujud putih ada juga berwujud selain putih. Dalam arti bahwa mewujudnya sesuatu bergantung pada wujud itu sendiri. Wujudlah yang menjadi sumber bagi mahiyah untuk mewujud pada realitas.
Lebih lanjut, wujud bersifat tunggal (unitas) dan tidak memiliki genus karena selain wujud adalah ketiadaan. Pada kitab Bidayah Al-Hikmah karya Allamah Thabatabai mengatakan bahwa konsep ketiadaan tidak terdapat perbedaan karena diferensiasi sesuatu bersumber dari eksistensi dan pluralitasnya. Sementara ketiadaan bukan hanya tidak plural, tapi juga tidak tunggal. Bahkan, ketiadaan itu tidak ada. Sehingga mustahil menemukan perbedaan pada sesuatu yang tidak plural, tidak tunggal, dan tidak ada.
Postulasi atas wujud memberikan kepastian akan basis epistemologi manusia. Bahwa realitas itu mandiri dan tidak berkorespondensi dari pahaman manusia. Meski secara harfiah realitas terdiri dari kejamakan, namun di balik semuanya ada ketunggalan wujud, memberikan pancaran eksistensi, sehingga segala sesuatu menjadi mungkin adanya. Selain itu, realitas mungkin diketahui dan dikenali manusia melalui kepemilikian perangkat epistemologi. Pada wilayah inilah, keyakinan akan perangkat epistemologi membentuk beberapa aliran besar dalam filsafat.
Rasionalisme
Rasionalisme adalah sebuah aliran filsafat yang meyakini adanya ‘innate ideas’ pada manusia. Innate idea (Ide bawaan) adalah konsep yang dimiliki manusia yang bersifat universal, pasti, dan tidak bergantung dari pengalaman. Konsep tentang “keseluruhan lebih besar dari pada sebagian”, “sesuatu yang bertentangan tidak mungkin maujud pada satu subjek, predikat, ruang, dan waktu yang sama”, dan “segala sesuatu muncul karena ada sebabnya” adalah konsep yang dipahami manusia dengan pasti tanpa prasyarat pengalaman. Seseorang tidak perlu mengamati keseluruhan sebelum mengambil kesimpulan bahwa ia lebih besar dari pada bagian-bagiannya.
Para pemikir ini tumbuh pada abad ke 17 setelah Rene Descartes merumuskan suatu paradigma skeptisisme metodologis. Ia menemukan postulat dirinya sebagai subjek peragu yang mustahil diragukan. Argumen Rene Descartes secara tidak langsung meminjam konsep Suhrawardi yang lebih dulu mengenalkan konsep “knowledge by presence”. Knowledge by presence adalah pengetahuan langsung dan non-representational.
Mustahilnya Rene Descartes meragukan dirinya karena pada konteks keraguannya, ia sebagai subjek mengetahui objek dirinya yang meragu secara langsung melalui kehadiran objek dirinya sebagai peragu dalam dirinya sebagai subjek. Sederhananya bahwa kehadiran langsung itu ditandai oleh nir jarak antara dirinya sebagai subjek dan dirinya sebagai objek.
Jadi Rasionalisme meyakini bahwa kebenaran akan realitas hanya dapat diakses melalui optimalisasi perangkat rasio, termasuk pengembangan potensi innate idea dalam mencerabut jarak antara Res cogitans – Subjek yang berpikir – dan Res-extensa – materi yang dipikirkan.
Empirisme
Aliran filsafat empirisme sebaliknya merupakan kritik atas pandangan yang mengedepankan rasio sebagai satu-satunya alat episteme yang membuat pengetahuan bagi manusia menjadi mungkin. Empirisme memandang mungkinnya manusia mengetahui apa pun jika dan hanya jika ada pengalaman sebagai prasyarat. John lock, Berkeley, dan David Hume adalah beberapa filsuf yang meyakini model episteme semacam itu.
Tentu terdapat spektrum dalam pandangan empiris. John Locke misalnya dalam karyanya An Essay Concerning Human Understanding (1689) masih mengakui adanya sebab-akibat. Ia membagi pengalaman menjadi sensation dan reflection. Sensation adalah pencerapan inderawi atas pengamatan dari dunia luar. Sementara reflection adalah pengalaman internal atas aktivitas pikiran manusia.
Namun keniscayaan pada hubungan sebab dan akibat bagi Locke tidak diketahui melalui akal murni, melainkan melalui pengamatan inderawi atas realitas yang terjadi secara berulang. Misalnya kita meyakini keniscayaan hubungan api dengan efek panasnya karena fenomena itu adalah hasil pengamatan kita yang terjadi secara berulang.
Berbeda halnya dengan David Hume dalam karyanya A Treatise of Human Nature (1739). Hume tidak meyakini hubungan pasti antara sebab dan akibat dapat diamati manusia. Hubungan pasti atau keniscayaan antara sebab dan akibat adalah hasil asosiasi antara ide-ide setiap mengamati fenomena secara berulang-ulang. Sehingga asosiasi tersebut hanyalah kebiasaan pikiran yang mengandaikan satu hal mengikuti yang lain.
Kesimpulannya empirisme memandang dunia sebagai representasi dari pengalaman inderawi. Apa yang benar dan keliru ditentukan oleh sejauh mana realitas tersebut dapat direpresentasi melalui pengalaman qua inderawi. Meski banyak kritikan terhadap pandangan ini, namun paradigma sains modern justru menjadikan epistemologi empiris sebagai salah satu metologi utama dalam memverifikasi suatu temuan sains. Sains yang tidak membasiskan diri pada empirisme dengan mudah dianggap sebagai pseudo-sains.
Intuisionisme
Intuisionisme adalah aliran filsafat yang meyakini kemampuan intuisi sebagai ihwal yang mampu mencerap pengetahuan secara langsung. Beberpaa tokoh dalam aliran ini ialah Henry Bergson (1859-1941), Blaise Pascal (1623-1662). Bergson mengkritik kapasitas intelek manusia dalam memahami realitas. Realitas sebagaimana adanya adalah suatu proses yang bersifat kontinu. Keadaan manusia, kesadaran, dan kehidupan tidak dapat dijeda untuk melihatnya dalam suatu teori tertentu. Kemampuan intelek cenderung mereduksi realitas kedalam part-part yang tidak terhubung secara integral.
Lebih lanjut bagi Bergson realitas yang majemuk dan mengalami perubahan hanya bisa didekati melalui pengamatan langsung oleh intuisi. Intuisi membuat kita mampu berpartisipasi dalam realitas, bukan hanya mengamatinya sebagai objek yang terpisah dari diri kita. Intuisi bukan mistik, justru ia merupakan bentuk pengetahuan yang paling tinggi.
Konsep-konsep utama dari pikiran Bergson kemudian mempengaruhi paradigma ilmu-ilmu sosial. Hal ini karena manusia, kesadaran, kehidupan, dan hubungannya dengan komunitasnya merupakan hal yang dinamis. Keadaan dinamis tidak dapat diamati selain menjadi bagian dari proses perubahan itu.
Kesimpulannya epistemologi intuisionisme menekankan keterlibatan manusia agar mampu mencerap realitas secara langsung. Hal ini juga merupakan bentuk kritik atas dua pandangan epistemologi sebelumnya. Rasio dan inderawi menurut pandangan ini terbatas dan sulit untuk memahami realitas yang kompleks dan dinamis.
Epistemologi Islam
Seringkali pemikir filsafat menganggap sebelah mata filsafat islam. Filsafat islam dianggap tidak memiliki gagasan utama, ia dipandang sebagai suatu era keberlanjutan filsafat Yunani kepada era filsafat modern. Sehingga seringkali tokoh-tokoh filsuf islam dipandang sebagai penafsir atau komentator tradisi Aristotelian belaka. Hal ini mengakibatkan filsafat islam kurang beroleh panggung dalam perdebatan filsafat beberapa abad belakangan.
Filsafat islam baru menjadi diskursif yang berarti pasca revolusi islam Iran di paruh kedua abad 20. Barulah belakangan muncul tokoh – tokoh seperti Henry Corbin, Oliver Leaman, dan Seyyed Hossein Nasr yang ‘mempromosikan’, menulis, dan mengkaji filsafat islam secara serius. Menurut mereka tokoh seperti Mulla Sadra, Suhrawardi, dan Ibn Arabi layak diberi predikat sebagai pemikir orisinil bukan sekadar komentator filsafat.
Epistemologi islam memandang realitas sebagai sesuatu yang bergradasi. Pada gradasi paling rendah, manusia memandang materi sebagai realitas sejati. Hingga terus bergerak secara vertikal sampai tingkatan yang lebih abstrak dan bersifat non materi, tidak bergantung, tidak bersebab, dan tidak mengalami perubahan. Alat dan metode untuk mencapai tingkatan tertinggi realitas juga mengalami proporsi yang berbeda. Dalam hal ini dibutuhkan kemurnian hati melalui penyucian jiwa dalam gerak vertikal menuju realitas tertinggi.
Pada pemikiran filsafat islam kontemporer berkembang lewat syarah dari pemikiran Mulla Sadra. Mereka menggunakan istilah Irfan, kata tersebut berasal dari akar kata Arab “Arafa” yang berarti mengetahui. Namun pada konteks ini Irfan adalah tradisi filsafat yang menekankan pada penyucian jiwa agar mampu mencerap pengetahuan hakiki. Pengetahuan hakiki dicerap melalui pengalaman batin, intuisi, dan penyucian hati. Berlainan dengan pandangan sebelumnya, pandangan ini menekankan hati sebagai cermin yang mampu memantulkan realitas sebagaimana adanya bukan menggunakan Indera, rasio, dan intuisi an sich.
Manusia dipandang sebagai makhluk yang terus bergerak ke arah kesempurnaan. Secara potensial manusia mampu memahami realitas gradatif tersebut melalui medium penyucian jiwa. Jiwa yang suci akan membawa manusia pada realitas sejati. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Fajr ayat 27-30 Tuhan berfirman :
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ٢٧ ارْجِعِيٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ٢٨ فَادْخُلِيْ فِىْ عِبٰدِىْࣖ ٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ ٣٠
- “Wahai jiwa yang tenang!”
- “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”
- “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.”
- “Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Sinkretis dilakukan Mulla Sadra antara tradisi rasionalitas diskursif ala Aristotelian dan mistisisme islam membentuk tradisi baru yang disebut Teosofi atau apa yang dideklarasikannya sebagai Al-Hikmah al-Muta‘āliyah. Meski terpengaruh oleh doktrin teologi islam, Al-Hikmah al-Muta‘āliyah tetap berkembang oleh murid-muridnya hingga era kontemporer. Filsafat islam dari sisi perkembangannya tak pernah berhenti sebagaimana pandangan sinisme barat melihat filsafat islam. Tradisi Al-Hikmah al-Muta‘āliyah menjadi corak dan pemandu para pengikutnya untuk berada di lintasan eksistensi yang benar.
Penutup
Epistemologi baik dalam penelusuran alat maupun sumber pengetahuan, mampu menjadi pisau bedah untuk melihat kecenderungan sebuah narasi filsafat. Alat dan sumber pengetahuan ini menjadi diferentia yang melahirkan spektrum bahasan yang beragam dalam filsafat. Menjadikan Indera sebagai satu-satunya alat yang valid dalam menyusun premis ilmu pengetahuan akan berkorelasi pada menjadikan ihwal materi sebagai satu-satunya realitas. Sementara menjadikan kapasitas rasio sebagai satu-satunya alat yang valid dalam menyusun premis ilmu pengetahuan akan berkorelasi pada menjadikan ihwal materi sebagai realitas semu dan tidak mandiri.
Disisi lain, Metafisika islam memberikan ragam argumentasi wujud demi mencerahkan manusia yang selama ini redup akal dan hatinya terhadap pancaran kebenaran yang terang-benderang. Metafisika Islam membawa manusia menuju jalur utama lintasan eksistensi menuju kesempurnaan. Memantulkan realitas sejati melalui penyucian jiwa sebagai penunjuk arah. Agar manusia tidak terjebak pada absurditas kehidupan, fokus pada realitas semu, hingga tercerabut dari hakikat kediriannya. Selain itu, agar manusia tidak terlalu melangit, mengawang-awang, dan sadar di wadah mana ia sedang berada.
Sebagai kesimpulan filsafat islamlah yang menjadi titik sinkretis dari bahasan epistemologi. Karena islam menjadikan indrawi, akal, intuisi, dan hati manusia sebagai potensi jiwa dalam mencerap realitas sebagaimana adanya.
OPINI
Iran International: Media Independen atau Pabrik Tuduhan?
Oleh: Erwin Lessy
Ada berita yang tidak cukup dibaca sekali. Bukan karena isinya rumit, tetapi karena di baliknya ada tuduhan yang sangat berat seperti operasi intelijen, jaringan militer, perekrutan warga negara, dan penyebutan sejumlah tokoh. Dalam kasus seperti ini, pertanyaan pertama bukan hanya “benarkah?”, melainkan, siapa yang mengatakan, dari mana ia tahu, bukti apa yang dimiliki, bagaimana informasi diverifikasi, dan dalam ekosistem kepentingan apa media itu bekerja?
Pertanyaan itu relevan setelah Iran International memberitakan dugaan operasi Unit 4000 IRGC di Asia, termasuk klaim mengenai perekrutan warga Indonesia dan penyebutan sejumlah nama di Indonesia.
Tulisan ini tidak hendak membuktikan laporan tersebut benar atau salah. Itu pekerjaan investigasi yang menuntut bukti primer. Yang hendak diuji lebih sederhana, tapi justru lebih penting, yakni seberapa layak Iran International dipercaya ketika melontarkan tuduhan yang sangat serius? Sebab dalam jurnalisme, tuduhan bukanlah fakta. Sumber anonim pun bukan bukti yang selesai dengan sendirinya.
Media yang mengaku independen juga harus diperiksa
Kita sering menempatkan media sebagai pemeriksa fakta. Padahal media juga harus diperiksa. Prinsip ini berlaku untuk semua media, termasuk Iran International, media berbahasa Persia yang berbasis di London dan mengklaim menjalankan jurnalisme independen.
Iran International berada di bawah Volant Media UK Ltd, perusahaan yang didirikan di Inggris pada Desember 2015. Data Companies House menunjukkan Adel Abdulkarim Alabdulkarim tercatat sebagai satu-satunya person with significant control aktif, dengan hak mengangkat atau memberhentikan direktur.
Namun sejarah kepemilikannya tidak sesederhana itu. Info-Cast Cayman Limited pernah tercatat sebagai pengendali dengan kepemilikan saham 75 persen atau lebih. Sebelumnya, Fahad Ibrahim Aldeghither, warga negara Arab Saudi, juga pernah tercatat sebagai pengendali dengan saham dan hak suara 75 persen atau lebih. Keduanya kemudian tidak lagi tercatat sebagai pengendali.
Fakta ini tidak otomatis berarti pemerintah Saudi mengendalikan Iran International. Tapi fakta ini cukup penting untuk menjelaskan mengapa sejak awal muncul pertanyaan mengenai hubungan media tersebut dengan lingkungan bisnis dan kepentingan Saudi.
Pada 2018, The Guardian melaporkan bahwa Iran International didukung melalui struktur offshore dan sebuah perusahaan yang direkturnya merupakan pengusaha Saudi yang disebut memiliki hubungan dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Laporan itu memunculkan pertanyaan mengenai independensi editorial Iran International.
Tetap adil: laporan tersebut bukan bukti final bahwa pemerintah Saudi resmi memiliki Iran International. Iran International dan Volant Media membantahnya. Volant menyebut Iran International sebagai media independen yang tidak memiliki dukungan atau afiliasi negara.
Justru di sinilah publik perlu belajar membedakan antara “tidak terbukti milik pemerintah Saudi” dan “tidak mempunyai hubungan apa pun dengan lingkungan modal Saudi”. Dua pernyataan itu berbeda. Dalam urusan media, struktur kepemilikan dan sumber modal bukan detail administratif belaka, tapi juga bisa membantu publik memahami lingkungan tempat sebuah media beroperasi.
Restrukturisasi dan misteri modal
Persoalan menjadi semakin menarik pada akhir 2025. Dokumen Companies House menunjukkan pada 13 Desember 2025 terjadi penerbitan saham baru senilai sekitar £648,2 juta, yang kemudian dicatat resmi pada Januari 2026. Pada saat yang sama, catatan perusahaan menunjukkan perubahan penting dalam struktur pengendalian.
Financial Times pada Mei 2026 melaporkan Volant Media UK mengalami kerugian lebih dari £410 juta selama lima tahun dan memiliki utang sekitar £482 juta kepada entitas terkait. Restrukturisasi kemudian dilakukan melalui skema konversi utang menjadi ekuitas.
Angkanya sangat besar untuk sebuah perusahaan media. Maka publik berhak bertanya, siapa sebenarnya modal di balik struktur baru Iran International? Pertanyaan itu semakin wajar karena entitas yang terkait dengan struktur kepemilikan baru berada di yurisdiksi seperti Kepulauan Cayman.
Tetap hati-hati: struktur offshore tidak otomatis ilegal. Restrukturisasi utang juga tidak otomatis berarti operasi intelijen. Yang dapat dikatakan adalah struktur finansial Iran International jauh lebih kompleks daripada gambaran sederhana tentang media independen yang hidup semata-mata dari aktivitas jurnalistik biasa. Itu fakta yang layak diketahui publik.
Orientasi editorial yang jelas
Kritik terhadap Iran International tidak boleh berhenti pada soal modal. Persoalan berikutnya adalah arah editorial.
Sejak awal, Iran International dibangun sebagai media yang sangat kritis terhadap Republik Islam Iran. Dalam banyak pemberitaannya, pemerintah Iran, IRGC, dan struktur politik Republik Islam ditempatkan dalam bingkai yang sangat negatif. Itu sendiri bukan pelanggaran jurnalistik. Media berhak kritis.
Masalahnya muncul ketika publik menganggap Iran International sebagai sumber informasi yang sepenuhnya netral, padahal secara editorial media tersebut memiliki posisi geopolitik yang sangat jelas. Dalam konteks Iran, Iran International memberikan ruang besar kepada kelompok oposisi Iran di luar negeri, termasuk Reza Pahlavi. Media itu secara rutin menempatkan Pahlavi sebagai salah satu figur penting dalam masa depan politik Iran.
Sekali lagi, memberitakan tokoh oposisi bukan masalah. BBC, CNN, Al Jazeera, Fox News, RT, dan berbagai media lain juga punya kecenderungan editorial masing-masing. Yang penting adalah publik mengetahui dari posisi mana sebuah media berbicara. Sebab media yang berada dalam konflik geopolitik tidak hanya menyampaikan informasi. Ia juga dapat menjadi bagian dari pertarungan memperebutkan persepsi.
Unit 4000 dan ujian standar jurnalistik
Kembali kepada pemberitaan mengenai Unit 4000. Di sinilah standar jurnalistik Iran International diuji.
Jika sebuah media mengatakan seseorang terlibat dalam operasi rahasia, maka publik berhak bertanya: apa sumber informasinya? Apakah sumber tersebut primer? Apakah sumber itu mempunyai akses langsung? Apakah terdapat dokumen? Apakah terdapat rekaman komunikasi? Apakah ada bukti transaksi? Apakah terdapat saksi independen? Apakah aparat negara tempat operasi diduga berlangsung mengonfirmasi? Apakah pihak yang dituduh diberi kesempatan untuk menjawab sebelum berita diterbitkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan upaya membela siapa pun. Itulah dasar paling elementer dari due process dalam jurnalisme. Terlebih lagi, tuduhan keterlibatan dalam jaringan intelijen atau operasi teror merupakan tuduhan dengan konsekuensi reputasional yang sangat besar. Karena itu, semakin luar biasa sebuah klaim, semakin tinggi pula standar pembuktiannya.
Kalau Iran International mengatakan, “Menurut sumber anonim, seseorang terlibat dalam operasi rahasia,” maka kalimat yang jujur secara epistemologis adalah: “Iran International melaporkan bahwa seseorang diduga terlibat berdasarkan sumber anonim.” Bukan: “Orang tersebut terbukti terlibat.”
Perbedaan satu kata dapat menjadi perbedaan antara jurnalisme dan penghakiman.
Ironi fairness yang perlu dicatat
Ada ironi menarik dalam perkara ini. Iran International sendiri pernah mencari perlindungan dari prinsip keadilan ketika menjadi objek pemberitaan media lain.
Pada 2024, regulator Inggris Ofcom mengabulkan pengaduan Iran International terhadap program Al Jazeera setelah menemukan bahwa materi yang disiarkan memperlakukan Iran International secara tidak adil. Ofcom menyatakan bahwa fakta material dalam program tersebut disajikan, diabaikan, atau dihilangkan dengan cara yang menimbulkan ketidakadilan terhadap Iran International.
Ini justru mengingatkan kita pada prinsip sederhana: fairness harus berlaku dua arah. Jika Iran International meminta media lain memberikan konteks, hak jawab, dan perlakuan adil ketika dirinya dituduh, prinsip yang sama seharusnya diterapkan ketika Iran International menuduh pihak lain. Tidak boleh ada dua standar: ketika saya dituduh, saya meminta bukti; ketika saya menuduh, sumber anonim sudah cukup. Itu bukan prinsip jurnalistik. Itu logika kekuasaan.
Jangan ganti propaganda dengan propaganda
Bahaya lain juga perlu dihindari. Ketika mengkritik Iran International, jangan kemudian melakukan kesalahan yang sama. Tidak perlu mengatakan, “Iran International adalah propaganda Saudi,” jika bukti yang tersedia belum cukup untuk membuktikannya.
Lebih kuat mengatakan: Iran International memiliki sejarah hubungan dengan lingkungan modal Saudi yang telah dilaporkan media investigatif, sementara perusahaan membantah menerima dukungan pemerintah Saudi. Karena itu, hubungan tersebut merupakan faktor relevan dalam menilai konteks editorialnya, tetapi bukan bukti otomatis bahwa seluruh pemberitaannya dikendalikan Saudi.
Kalimat kedua mungkin terasa kurang menggigit. Tetapi justru karena itulah ia lebih ilmiah. Kritik yang baik tidak membutuhkan hiperbola. Ia membutuhkan bukti.
Media tidak boleh menjadi hakim
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan hanya Iran International. Persoalan terbesar adalah kebiasaan publik menerima berita sebagai kebenaran hanya karena berita itu datang dari media asing. Seolah-olah media London pasti lebih objektif daripada media Jakarta. Seolah-olah istilah “sumber intelijen” otomatis berarti benar. Seolah-olah berita berbahasa Inggris atau Persia mempunyai derajat kebenaran lebih tinggi.
Padahal kebenaran tidak mengenal paspor. Sebuah berita tetap harus diuji: sumbernya, metodenya, buktinya, konteksnya, dan kepentingan di balik produksinya.
Dalam filsafat ilmu, kita mengenal prinsip sederhana: klaim harus sebanding dengan bukti. Jika seseorang dituduh terlibat dalam operasi rahasia internasional, bukti yang diperlukan tidak mungkin hanya berupa kalimat “menurut sumber yang mengetahui”. Semakin berat tuduhannya, semakin berat pula beban pembuktiannya.
Publik tidak perlu menjadi pendukung Iran untuk bersikap kritis terhadap Iran International. Begitu pula, publik tidak perlu menyukai Iran International untuk mengakui bahwa informasi yang benar tetap mungkin datang dari media yang memiliki bias. Kita harus belajar membedakan isi informasi dari posisi pembawanya. Itulah kedewasaan literasi media.
Dan mungkin inilah pelajaran paling penting dari kontroversi tersebut: jangan hanya bertanya apa yang diberitakan Iran International. Bertanyalah juga mengapa berita itu diberitakan dengan cara seperti itu, dari posisi kepentingan yang mana, dan dengan bukti sekuat apa.
Sebab di zaman perang informasi, berita tidak selalu menjadi jendela untuk melihat kenyataan. Kadang ia adalah jendela yang sengaja dibuat untuk mengarahkan ke mana kita harus melihat.
KAJIAN ISLAMI
Syahid
Oleh: Khusnul Yaqin
Syahid adalah anugerah. Tidak semua orang mendapatkannya. Kompetisinya sangat ketat—jika kata “kompetisi” boleh digunakan untuk sebuah jalan yang sepenuhnya berada dalam kemurahan Allah.
Syahid bukan semata-mata kematian. Ia justru kehidupan dalam pengertian yang paling hakiki: immortal. Jika kesyahidan dapat dikejar, ia harus dikejar. Jika dapat dipersiapkan, diri harus dipersiapkan. Namun, pada akhirnya, manusia hanya mampu mengetuk pintunya. Allah Yang Maha Pengasihlah yang menentukan siapa yang diizinkan masuk.
Di Karbala, kita melihat bagaimana para sahabat Imam Husain a.s. tidak menjadi syuhada secara tiba-tiba. Mereka adalah manusia-manusia yang sejak awal kehidupannya memupuk kecintaan kepada kebenaran. Setiap kesetiaan kecil, setiap keberanian menolak kebatilan, dan setiap pengorbanan untuk membela yang benar seolah menjadi anak tangga yang mengantarkan mereka menuju Asyura.
Karena itu, Imam Husain a.s. mengetahui orang-orang yang telah memiliki kesiapan batin untuk menjemput kesyahidan. Dalam perjalanan menuju Karbala, beliau terus mendekati seorang musafir yang kelak akan membantunya. Orang itu pada mulanya selalu berusaha menghindar. Barangkali ia mengetahui bahwa berjumpa dengan Imam Husain berarti berjumpa dengan sebuah pilihan yang tidak ringan: mempertahankan seluruh dunianya atau meninggalkan semuanya demi kebenaran.
Namun, setelah Imam Husain a.s. berbicara kepadanya—setelah tabir dunia disingkapkan dan makna kesyahidan diterangkan—orang itu berubah. Ia meninggalkan dunianya. Ia memilih bergabung bersama Al-Husain. Ia tidak lagi bertanya berapa lama akan hidup, tetapi untuk apa hidup yang masih tersisa.
Di situlah kita memahami bahwa syahid adalah anugerah yang mahal. Bukan karena Allah membatasi kasih sayang-Nya, melainkan karena tidak semua manusia bersedia menyiapkan dirinya. Banyak orang ingin memperoleh kemuliaan seorang syahid, tetapi belum tentu bersedia menjalani kehidupan seorang calon syahid: mencintai kebenaran, melawan kezaliman, menundukkan ego, meninggalkan kenyamanan, dan tidak memperjualbelikan keyakinan.
Al-Qur’an menegaskan:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhannya dan memperoleh rezeki.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 169)
Perhatikanlah kalimatnya: وَلَا تَحْسَبَنَّ—jangan sekali-kali engkau mengira. Bukan sekadar “jangan berkata”. Bahkan prasangka bahwa mereka telah mati pun dibantah oleh Allah.
Tidak. Mereka tidak mati.
بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Mereka hidup di sisi Tuhannya. Mereka mendapatkan rezeki. Itulah immortal dalam pengertian yang sesungguhnya. Tubuh mereka mungkin telah meninggalkan alam materi, tetapi keberadaan mereka tidak berhenti. Dalam perenungan spiritual, kehidupan mereka melampaui batas-batas yang kita kenal: alam materi, alam barzakh, dan alam-alam lain yang hanya diketahui oleh Allah. Mereka telah memasuki kehidupan yang tidak lagi dapat dijangkau oleh ukuran biologis manusia.
Lalu, apakah yang masih dapat diancamkan kepada orang seperti itu?
Ancaman bekerja dengan cara menanamkan ketakutan: takut kehilangan jabatan, harta, rumah, keluarga, kebebasan, bahkan kehidupan. Akan tetapi, pada diri seseorang yang telah dianugerahi kesiapan menuju syahid, ancaman itu kehilangan tempat untuk tumbuh. Apa yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti justru mempertebal kerinduannya. Apa yang dimaksudkan untuk membuatnya mundur justru mempercepat langkahnya.
Ancaman akhirnya menjadi nihil.
Hari ini kita melihat Amerika melancarkan berbagai bentuk tekanan terhadap Iran: verbal, ekonomi, politik, sosial, fisik, dan bentuk-bentuk lainnya. Akan tetapi, Iran tidak serta-merta mati atau hancur berantakan. Tekanan itu justru menghidupkan kembali kesadaran yang telah lama tumbuh dalam sejarahnya: bahwa kehidupan tidak selesai oleh kematian dan perjuangan tidak berhenti ketika seorang pejuang gugur.
بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Di Iran, antara mereka yang telah syahid dan mereka yang sedang mempersiapkan diri menuju kesyahidan seolah terdapat konektivitas spiritual yang sangat kuat. Yang telah gugur tidak dipandang sebagai masa lalu. Mereka tetap hadir dalam ingatan, doa, keberanian, dan arah perjuangan orang-orang yang masih hidup. Darah para syuhada tidak membeku di tanah. Ia mengalir menjadi kesadaran.
Mungkin itulah yang tidak dipahami oleh para pengancam. Mereka menghitung jumlah senjata, kekuatan ekonomi, jaringan politik, dan besarnya sanksi. Mereka menghitung semuanya—kecuali satu: manusia yang tidak lagi takut mati karena telah menemukan alasan yang benar untuk hidup.
Orang seperti itu tidak bisa dikalahkan.
Ancaman terhadap orang yang telah mengenal syahid bukan hanya kehilangan kekuatannya. Ancaman itu dapat berbalik kepada orang yang mengucapkannya. Sebab, ketika yang diancam tidak lagi takut, seluruh bangunan kekuasaan si pengancam mulai kehilangan wibawa. Senjatanya masih ada, tetapi taringnya telah tanggal. Suaranya masih keras, tetapi gema ketakutannya kembali menghantam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, yang menghancurkan seorang pengancam bukan semata-mata kekuatan lawannya. Ia dihancurkan oleh kesombongannya sendiri: oleh keyakinannya bahwa setiap manusia dapat ditundukkan dengan rasa takut.
Karbala telah membantah keyakinan itu.
Imam Husain a.s. dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa ada manusia yang tidak dapat dibeli, tidak dapat ditakut-takuti, dan tidak dapat dikalahkan oleh kematian. Sebab, bagi mereka, kematian di jalan Allah bukanlah akhir kehidupan. Ia justru adalah pintu menuju kehidupan yang lebih tinggi.
Syahid memang anugerah. Kita tidak dapat mengklaimnya. Kita tidak berhak merasa telah pantas menerimanya. Kita hanya dapat mempersiapkan diri: mencintai kebenaran, membela mereka yang tertindas, membersihkan hati, dan tidak berkompromi dengan kezaliman.
Selebihnya adalah rahasia kasih sayang Allah.
Barangkali pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: “Apakah saya akan mati sebagai syahid?”
Pertanyaannya justru lebih senyap dan lebih menggetarkan: “Sudahkah saya hidup sebagaimana seseorang yang pantas dianugerahi kesyahidan?”
OPINI
Setan Besar Mengajar Perdamaian di Kampus
Oleh: Iskandar Mateus Maubere
Ada ironi yang kadang-kadang terlalu sempurna untuk disebut ironi. Ia seperti lelucon yang kehilangan kemampuan membuat kita tertawa.
Seseorang menulis di Twitter: Iran kini menjadi salah satu negara yang paling dikagumi di dunia. Pada saat yang sama, Israel menjadi negara yang paling dibenci, dan Amerika menyusul di nomor dua.
Mungkin sebuah survei bisa diperdebatkan. Angka bisa diperiksa. Metode bisa ditanyakan. Tetapi ada sesuatu yang lebih panjang daripada angka: ingatan manusia.
Dan ingatan itu rupanya sedang menumpuk.
Orang mengingat Palestina. Orang mengingat Israel. Orang mengingat sebuah negara Zionis yang sejak berdirinya terus menjadi sumber kerusakan di Timur Tengah, dan jejaknya bahkan melampaui Timur Tengah.
Lalu orang mengingat Amerika.
Amerika berada di belakang Israel, membackup hampir seluruh tindakannya. Tetapi Amerika juga mempunyai daftar perbuatannya sendiri. Hiroshima dan Nagasaki belum hilang dari sejarah. Vietnam belum hilang. Irak belum hilang.
Dunia masih ingat bagaimana Irak diserang dengan cerita tentang senjata pemusnah massal. Perang datang. Negara dihancurkan. Saddam jatuh. Tetapi senjata pemusnah massal yang menjadi alasan itu ternyata tidak terbukti.
Belakangan kita menyaksikan Maduro diculik. Kita juga menyaksikan bagaimana Amerika bertindak terhadap Iran, bahkan sampai membunuh pemimpin spiritual tanpa sandaran hukum internasional yang disepakati.
Semua itu mengendap.
Sejarah ternyata mempunyai memori. Mungkin ia lambat, tetapi ia tidak selalu pelupa.
Karena itu, kalau hari ini masyarakat dunia kemudian melihat Amerika dan Israel sebagai negara yang terus-menerus membuat keonaran, sesungguhnya penilaian itu tidak lahir kemarin sore. Ia merupakan akumulasi pengalaman panjang.
Yang menarik justru terjadi di sini, di negeri kita.
Beberapa universitas Indonesia masih memandang Amerika seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Bahkan ada universitas yang membuat kerja sama dengan Amerika dalam perkara perdamaian agama dan perdamaian dunia.
Di sinilah kita bertemu sebuah absurditas.
Bayangkan: kita mendirikan laboratorium perdamaian bersama sebuah negara yang politik luar negerinya ugal-ugalan.
Mungkin besok kita perlu belajar kesederhanaan kepada orang yang gemar bermewah-mewah. Atau belajar menjaga kambing kepada harimau. Tentu saja harimau mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang kambing.
Amerika mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang perdamaian, terutama karena ia berkali-kali berurusan dengan perang.
Kalau hendak menghabisi sebuah negara, ia lakukan. Kalau hendak mengembargo, ia lakukan. Kalau hendak mengambil presidennya, ia lakukan. Kalau hendak membunuh pemimpin spiritual suatu negara, ia lakukan. Hukum internasional seperti baru dicari setelah tindakan selesai dilakukan.
Lalu kita mengundangnya untuk berbicara tentang perdamaian.
Barangkali masalahnya bukan Amerika.
Masalahnya justru ada pada cara berpikir sebagian kaum intelektual kita.
Universitas seharusnya menjadi tempat orang mempertanyakan kekuasaan, bukan tempat kekuasaan memperoleh kosmetik akademik. Kampus semestinya bertanya: perdamaian macam apakah yang sedang kita pelajari? Perdamaian menurut siapa? Dan siapa yang mempunyai hak menentukan bahwa sebuah bom disebut keamanan, sebuah embargo disebut diplomasi, dan penghancuran sebuah negeri disebut penegakan ketertiban?
Ada sesuatu yang kacau ketika kaum intelektual kehilangan keberanian untuk membaca sejarah karena terlalu terpesona kepada kekuasaan.
Amerika masih dibayangkan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Amerika masih dipandang sebagai negara yang baik-baik saja. Nama besarnya, universitasnya, teknologinya, uangnya, dan jaringan internasionalnya membuat kita kadang-kadang lupa memeriksa apa yang dilakukan politik luar negerinya.
Kita terpukau kepada lampu di ruang tamu dan lupa melihat apa yang berlangsung di halaman belakang.
Imam Khomeini sejak lama menggunakan istilah yang keras untuk Amerika: Setan Besar.
Ungkapan itu bukan bahasa diplomasi. Memang bukan itu maksudnya. Ia merupakan sebuah cara untuk menunjukkan watak kekuasaan yang merasa mempunyai hak menentukan nasib bangsa lain: siapa boleh hidup tenang, siapa harus diembargo, siapa harus diserang, dan siapa pemimpinnya yang boleh disingkirkan.
Maka menjadi ganjil apabila universitas, tempat akal sehat seharusnya dipelihara, justru tidak cukup kritis terhadap kenyataan itu.
Lebih ganjil lagi jika kerja sama itu diberi nama: perdamaian.
Sebab perdamaian bukan seminar. Perdamaian bukan papan nama laboratorium. Perdamaian juga bukan foto bersama setelah penandatanganan memorandum kerja sama.
Perdamaian pertama-tama adalah keberanian untuk tidak menindas manusia lain.
Dan mungkin karena itulah pernyataan Imam Khomeini seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi universitas-universitas di seluruh dunia: jangan sampai institusi yang dibangun untuk mencari kebenaran justru bekerja sama dengan kekuatan yang sejarah politik luar negerinya dipenuhi penindasan.
Ada saatnya sebuah universitas harus memilih.
Bukan antara Timur dan Barat.
Bukan antara Iran dan Amerika.
Tetapi antara kekuasaan dan nurani.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
SALAT1 tahun ago
Apa Itu Sholat Wahsyah? Nama-Nama Salat dan Makna di Baliknya

