Connect with us

OPINI

Epos Al-Husain di Sela Ingatan

Published

on

Pahlawan Terang di Senja

Tim Media DPW ABI Sulsel

Ingatan ibarat gudang sunyi, tempat segala kesan disimpan dan dibiarkan menetap. Di dalamnya terserak fragmen-fragmen kehidupan—termasuk yang kelam dan getir—yang tak sepatutnya diabaikan. Sebab dari potongan-potongan itulah terbentang jejak yang dapat ditelusuri kembali, menjadi napak tilas yang memugar kenangan dan menghidupkan kembali apa yang nyaris terhapus oleh waktu.

Manusia adalah makhluk yang mengenang. Itulah mengapa manusia membuat monumen, misalnya, sebagai usaha merawat ingatan. Sebab ingatan seperti debu: selaur mikro-materi yang tak berhingga, namun mudah melayang tertiup, hingga buyar. Dan mengenang adalah cara terbaik mengabadikan ingatan. Agar ia tetap stabil dan solid, dan tak tertimbun oleh debu masa. Sebab ia  akan menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi.

Seperti ingatan tentang kematian tragis Cucu Rasulullah Saw, Imam Husain bin Ali as, keluarga, dan sahabatnya di Padang tandus Karbala. Kisah kepahlawanan yang tak selayaknya hilang dari ingatan umat manusia. Sebab banyak nilai-nilai yang seharusnya menjadi menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi  bagi umat manusia dalam kisah tersebut.

Meski pada akhirnya, Imam Husain as bersama para pengikut setianya syahid di tanah Karbala, dibantai oleh pasukan Dinasti Umayyah dalam pertempuran tak seimbang atas perintah Yazid, penguasa zalim yang haus legitimasi. Tapi di situlah kisah ini menjadi epos yang menyejarah, dan sangat perlu mengabadi dalam relung ingatan umat manusia. Sebab di sana, ada heroisme dari manusia suci yang bikin takjub dan mengundang air mata.

Ketika seluruh sahabat, saudara, dan anak-anaknya telah mati syahid, tak ada niat untuk menyerah atas nama kebenaran dan agama kakeknya.  Di antara terik matahari dan tajamnya kerikil-kerikil panas, Imam Husain tetap bertarung tanpa pertolongan, dengan keadaan lapar dan haus. Hingga seluruh tubuhnya dipenuhi luka tombak, anak panah, dan sabetan pedang.

Akhirnya, tubuh mulia itu telah lemah tak berdaya, dipenuhi luka dan darah perjuangan. Umar bin Sa’d, yang hatinya telah beku oleh ambisi, menginginkan akhir bagi Imam Husain as. Ia memerintahkan Syabats, Sinan, dan Khula untuk mencabut nyawa beliau. Namun, bahkan di tengah kekejaman, masih tersisa setitik gentar dan iba dalam dada mereka: tak sanggup mengakhiri hidup Cucu tercinta Rasulullah Saw.

Hingga muncullah seorang makhluk pongah, keji, dan terlaknat, Syimr bin Dzil Jausyan. Ia tanpa ragu duduk di atas dada Imam Husain. Dengan tangan berlumur dosa dan hati yang membatu, ia memenggal kepala manusia mulia itu. Imam Husain pun gugur sebagai syahid: seorang pahlawan suci yang darahnya menjadi tinta sejarah.

Battle of Karbala Without written version

Foto: Wikipedia

Begitu mengguncangnya peristiwa itu, hingga bumi berguncang, langit menghitam, dan cahaya Timur maupun Barat meredup dalam kabut duka. Bahkan para malaikat pun menangis, menyaksikan jatuhnya sang pemilik jiwa yang paling bersih, demi menegakkan kebenaran yang tak bisa dibeli oleh kekuasaan mana pun. Tragis dan muram. Kematian yang sunyi.

Tapi di balik tragedi kemanusiaan terparah dalam sejarah itu, sekali lagi ditegaskan, ada banyak nilai yang perlu diabadikan dalam gudang ingatan agar ia tak buyar ditempa zaman.  Tentang pengorbanan, kehormatan, kesetiaan, usaha menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan, atau tentang nilai herosieme Al-Husain saat berhadapan dengan tirani.

Alquran telah memerintahkan untuk selalu mengenang  orang-orang yang dimuliakan, agar kita bisa memetik hikmah di setiap jalinan kisah dan keutuhan pribadinya. Seperti ketika Allah meminta Nabi Muhammad Saw untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Idris karena ada nilai kejujuran yang dapat dipelajari dari pribadi mereka (Q.S  Maryam: 41, Maryam: 56-57).

Di sisi lain, Karbala menjadi saksi, bahwa Imam Husain dan para pengikut setianya memiliki sejuta kemuliaan yang sangat perlu dipelajari dan diikuti. Bukankah menjadi sangat pantas, mereka  menjadi fragmen bersejarah yang tersimpan rapi dalam gudang ingatan umat manusia sebagai sosok teladang yang inspiring?

Tapi ingatan tak hanya sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi semata. Ia juga bisa memantik perasaan manusia. Seperti ketika kita kembali mengenang peristiwa sedih dan menggembirakan, selalu ada momen di mana jiwa kita ikut larung dalam kesedihan atau kegembiraan tersebut. Jika peristiwa biasa dapat memacu perasaan kita, bagaimana dengan saat kita mengenang peristiwa memilukan yang dialami Imam Husain?

Sayyid Moustafa Qazwini mengatakan, menangisi Imam Husain as dinilai sebagai pendekatan diri kepada Allah Swt, karena tragedi Imam Husain as sangat berkaitan erat dengan pengorbanan agung yang beliau tanggung deritanya demi Allah Swt.

Ini merupakan pengingatan dari Allah Swt dan riwayat dari Rasulullah saw yang, karena mengetahui nasib cucunya, menangis saat kelahiran Imam Husain as, ketika masa kanak-kanak yang suka bermain-main, dan pada saat-saat terakhir menjelang beliau wafat.

Namun, tentu ada sisi lain yang juga sangat penting disimak berkaitan dengan kekuatan perasaan. Sensibilitas dapat tumbuh di tengah-tengah meluapnya perasaan itu.  Orang-orang yeng memiliki sensibilitas yang tinggi akan mudah peka dan empati terhadap orang lain yang kesusahan, yang tertindas, yang terzalimi.

Kesedihan kita terhadap ketertindasan yang dialami Imam Husain dan pengikut setianya, mestinya diterjemahkan dalam bentuk sensibilitas sosial tersebut. Menangisi Imam Husain tak hanya untuk mempertebal rasa cinta dan mendapatkan keberkahan individual, namun ikut terpacu untuk selalu peka terhadap orang-orang yang terzalimi, dan bersama-sama dengan mereka untuk melawan penindasan, sebagaimana kesungguhan Imam Husain meruntuhkan tirani.

Murtadha Muthahhari, ulama besar mazhab Syiah, memandang bahwa derasnya penekanan para Imam suci atas tangisan bagi Imam Husain as bukan semata luapan duka, melainkan pancaran kesadaran yang hendak menanamkan ruh kebangkitan, semangat kebebasan, dan api perlawanan terhadap kezaliman agar tak pernah padam ditelan zaman.

Dalam pandangannya, seruan para Imam itu telah menjadi bara yang menyulut gerakan-gerakan perlawanan, menyalakan revolusi di pelbagai masa, dan menjadikan nama Imam Husain as sebagai panji agung bagi mereka yang bangkit melawan keangkaramurkaan. Maka ingatlah Al-Husain. Kenanglah tragedi Karbala. Jadikan sebagai sumber pengetahuan, inspirasi, dan sebagai teologi pembebasan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Memaknai Arbain: Spiritualitas, Solidaritas, dan Perlawanan

Published

on

By

149fa886 2c71 4211 922a 3f9d684bf039

Tim Media DPW ABI Sulsel

Arbain adalah peringatan keagamaan umat Syiah yang jatuh pada 40 hari setelah tragedi Karbala. Pada hari ini, lautan manusia dari berbagai penjuru dunia mengalir menuju makam Imam Husain bin Ali as di Karbala. Mereka berkumpul dalam sebuah ziarah akbar atas nama cinta tanpa pamrih kepada cucu Nabi Muhammad Saw tersebut. Perjalanan ini tentu tak mudah.

Ratusan kilometer harus dilalui oleh puluhan juta jiwa menuju tanah suci, tempat darah kesyahidan tertumpah dan bara cinta yang tak pernah padam, bahkan setelah lebih dari 1300 tahun berlalu sejak cucu Nabi itu gugur di padang Karbala. Ziarah panjang itu adalah laku batin yang menandai keterikatan eksistensial pada Jalan Husaini. Olehnya itu, ia mengandung makna spiritualitas yang dalam dan menyentuh dimensi paling hakiki dari keberagamaan.

Seperti yang diungkapkan oleh Ayatullah Reza Ramezani, ziarah, khususnya ziarah Arbain, bukan sekadar tradisi keagamaan, namun juga laku tauhid. Dalam ajaran Ahlulbait, ziarah mengandung pelajaran besar tentang keesaan Tuhan, kehidupan setelah mati, dan spiritualitas yang bertanggung jawab. Sayangnya, tidak sedikit yang mencemooh aktivitas ziarah karena dianggap sebagai bentuk syirik.

Padahal, menurut Ayatullah Ramezani, justru sebaliknya: ziarah adalah perlawanan terhadap syirik. Karena mengarahkan manusia kepada Tuhan melalui keteladanan Imam Ma’sum. Sebab, seorang peziarah idealnya mencerminkan sosok yang diziarahi dalam keyakinan dan perilaku. Dengan begitu, ziarah menjadi proses transformasi diri menuju kesempurnaan spiritual dan moral. Arbain, dalam konteks ini, adalah manifestasi kecintaan kepada Imam Husain yang membangkitkan keberanian, kesetiaan, dan semangat pengorbanan.

Spiritualitas dalam ziarah bukanlah spiritualitas yang melarikan diri dari tanggung jawab seperti dalam sebagian tradisi Timur atau spiritualitas sekuler ala Barat. Sebaliknya, ini adalah spiritualitas yang rasional, epik, penuh semangat perjuangan, dan berlandaskan wahyu. Ziarah menjadi sarana pembentukan peradaban Islam yang luhur yang berisi kebebasan, kehormatan, dan keadilan.

Namun, Arbain tentu tak cukup hanya dimaknai sebagai laku spiritualitas. Ia juga adalah jalan Al-Husain yang menolak tunduk pada tirani, yang menolak dijinakkan oleh logika kekuasaan yang menindas. Itulah sebabnya, Arbain dapat— dan seharusnya bisa— menjelma menjadi ikrar perlawanan yang paling lantang terhadap segala bentuk kezaliman. Karena itu, kita berharap dentum langkah para peziarah yang membanjiri Karbala di musim Arbain tahun ini menggema ke seluruh penjuru dunia. Sebab inilah pertemuan terbesar umat manusia di zaman kontemporer.

Sebuah momen agung yang layak dijadikan penegasan bagi perlawanan terhadap kezaliman Zionisme maupun berbagai bentuk kolonialisme lainnya, sekaligus menjadi seruan global untuk membela Palestina dan siapa pun kaum mustadhafin yang tertindas. Dalam lanskap dunia hari ini, Arbain dapat membangkitkan kembali semangat melawan kolonialisme Barat yang kini menyaru dalam wajah demokrasi semu, imperialisme budaya, dan kekerasan struktural. Di tengah arus dominasi itulah, Husainisme dapat tampil sebagai bahasa moral yang kokoh.

Bahwa spirit Al-Husain dapat menjadi simbol perlawanan yang menolak tunduk pada kekuatan adidaya seperti Amerika dan Israel, yang terus menindas bangsa-bangsa lemah, terutama rakyat Palestina. Maka, ziarah ke Karbala tidak harus berhenti sebagai ritus spiritual belaka, namun juga deklarasi politik tanpa suara: bahwa umat yang mencintai Al-Husain tidak akan pernah tunduk pada logika kekuasaan yang zalim.

Selain itu, Arbain juga adalah momentum yang sangat indah saat melihat puluhan juta orang berjalan dengan harapan dan cinta. Dan dalam Arbain, harapan dan cinta itu menemukan bentuknya: ratusan kilometer dilalui, tubuh didera lelah, namun langkah tak pernah surut. Mereka benar-benar meneladani Al-Husain dengan pengorbanan nyata demi keberkahan yang tak ternilai harganya. Di sepanjang jalan menuju Karbala, kita juga akan menjumpai para pelayan peziarah: jiwa-jiwa tulus yang berdiri tanpa bayaran dan tanpa mengharap balasan.

Mereka menyambut siapa pun yang lewat dengan senyum dan suguhan, sebagai bentuk pengabdian suci. Dalam ritus Arbain yang terus berlangsung dari tahun ke tahun, jutaan peziarah Syiah melakukan perjalanan panjang menuju makam Al-Husain. Namun, mereka tidak sendiri. Peziarah juga datang dari kalangan Ahlusunnah, bahkan dari komunitas non-Muslim di berbagai penjuru dunia. Di momen inilah, para pelayan merasa terhormat dapat menyuguhkan makanan dan minuman kepada siapa saja, tanpa membedakan Syiah, Sunni, atau non-Muslim.

Dalam semangat inilah, Arbain menghapus semua sekat bangsa, kasta, agama, dan warna kulit. Semuanya larut dalam satu identitas: pecinta Al-Husain. Maka tak heran jika Arbain mampu melampaui sekat-sekat identitas, menjelma menjadi ruang ukhuwah insaniyah yang tulus, serta spiritualitas yang tak mengenal paspor.

Menurut Seyyed Masoom Bagherpour, salah satu tujuan penting dari Arbain adalah menenangkan hati dan memperkuat semangat persaudaraan di antara masyarakat, bahkan seluruh umat manusia yang mencintai kebebasan. Cinta kepada Imam Husain menghimpun berbagai kepentingan makhluk dalam satu arah, mengubah keberagaman menjadi kesatuan, dan perbedaan menjadi persahabatan.

Dalam arti ini, Arbain sejatinya membawa transformasi sosial. Masyarakat yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba berubah menjadi komunitas cinta dan pelayanan. Mereka saling membantu, saling menyemangati, dan saling menguatkan. Inilah sebabnya, cinta kepada Al-Husain menciptakan sebuah keajaiban moral yang tak bisa ditakar dengan angka atau logika statistik. Ia hadir dalam bentuk keramahan yang melimpah, toleransi yang menembus batas, dan cinta yang mengalir bening: tanpa syarat dan tanpa pamrih.

Continue Reading

OPINI

Reaktualisasi Taqiyah dan Jalan Khidmat Kader di Ambang Fajar Kebenaran

Published

on

By

IMG 20250722 WA0011

Oleh: Erwin Lessy (Ketua Departemen Kaderisasi DPW ABI Sulsel)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”
(QS. An-Nashr: 1–3)

Untuk kita semua para Kader khususnya yang baru saja menyelesaikan Pendidikan Tingkat Dasar, pertanyaannya kini bukan lagi, apa yang kita pelajari? Tapi, apakah kita siap untuk menjadi bagian dari ayat ini?

Jika hari itu benar-benar datang, yakni hari di mana manusia berbondong-bondong datang pada kebenaran, pada cahaya Ahlulbait, pada poros keadilan sejati, apakah jiwa kita telah cukup teduh untuk membimbing, bukan menghakimi? Apakah kita telah memiliki kedalaman untuk memeluk, bukan sekadar menjelaskan?

Kita hidup di zaman yang kian terbuka, ketika tirai-tirai sejarah mulai tersingkap, ketika nama-nama suci yang dulu disembunyikan mulai disebut dengan rasa rindu. Tapi ingatlah bahwa ketika kebenaran mulai muncul ke permukaan, tantangan justru tidak berkurang, melainkan berubah bentuk.

Di tengah gelombang informasi, taqiyah bukan lagi hanya soal menjaga diri dari bahaya. Taqiyah adalah seni menjaga kesucian misi, agar cahaya tidak dipaksakan kepada mata yang belum siap. Taqiyah adalah hikmah para pencinta, yang lebih memilih menunda bicara demi menjaga keutuhan pesan.

Taqiyah yang kita pahami di pelatihan bukanlah kelemahan, melainkan sebuah kepekaan spiritual, kesanggupan untuk bersabar demi tegaknya sesuatu yang lebih besar. Dan kita semua, para kader, kini memikul amanah itu.

Kelulusan ini bukan tanda bahwa kita telah selesai. Ini adalah pintu pertama dari jalan panjang khidmat, yakni jalan yang sunyi, tapi penuh cahaya. Kita bukan sekadar pembawa pengetahuan. Kita adalah penjaga arah, pemikul harapan, dan penyambung cahaya dari generasi ke generasi.

Maka, mari kita tanamkan dalam hati bahwa tugas kita bukan hanya menyampaikan kebenaran, tapi menyiapkan dunia agar bisa menerimanya. Dan untuk itu, dibutuhkan lebih dari sekadar keberanian tapi juga dibutuhkan cinta, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.

Berbahagialah kita semua hari ini, karena telah memulai langkah di jalan yang mulia. Tapi bersiaplah juga, karena jalan khidmat tak mengenal jeda bagi mereka yang mencintai dengan tulus.

Semoga kita semua menjadi kader yang bukan hanya paham, tapi juga tangguh dalam diam, kuat dalam kesabaran, dan lembut dalam khidmat. Karena dunia sedang berubah, dan cahaya kebenaran sedang mencari penjemputnya. Dan semoga salah satu di antara kita, adalah penjemput itu.

Continue Reading

OPINI

Manusia dan Dunianya: Menelusuri Jejak Epistemologi Menuju Realitas

Published

on

By

virtual reality 7499754 1920

Oleh: Irfanesa (Ketua Umum LDSI Al-Muntazhar)

Kerangka acuan epistemologi akan mempengaruhi cara seseorang melihat realitas. Epistemologi bahkan bekerja dalam membangun pola pikir dan sikap hidup manusia dalam keseharian. Seseorang yang memandang dunia sebagai sesuatu yang mampu dikendalikan dan diklasifikasi akan berupaya merekonstruksi realitas secara mekanistik dan sesuai dengan keinginannya, membaginya menjadi bagian-bagian yang tanpa keterkaitan integral.

Namun pada tataran metafisik, realitas adalah wujud nyata dan mandiri – tidak bergantung pada konstruksi pahaman. Rotasi bumi terhadap matahari hingga tetesan air embun di pagi hari tidak bergantung pada sebagaimana manusia mengkonstruksinya. Dunia eksternal berjalan melalui mekanismenya sendiri tanpa determinasi akal manusia.

Namun, terdapat ruang korelasi antara pemikiran yang dinyatakan melalui tindakan manusia terhadap alam di sekitarnya. Sehingga nampak sekilas adanya distingsi ihwal relasi antar pahaman dan realitas. Ketegangan ini melahirkan perdebatan panjang dalam filsafat, khususnya dalam wilayah ontologi antara dua kutub besar: realisme dan idealisme.

Realisme dan idealisme adalah dua corak filosofis yang berakar dari pemikiran filsafat Yunani. Kemudian ditafsirkan oleh murid-muridnya baik Platon maupun Aristoteles era skolastik hingga era perdebatan filsafat hari ini. Keduanya sejalin berkelindan melatarbelakangi perkembangan narasi filsafat.

Untuk menyoal hubungan antara realitas dan pahaman, tentu perlu kita telaah bagaimana latar belakang tindakan manusia di realitas. Murtadha Muthahhari dalam mengkontruksikan hal ini memberi gambaran bahwa tindakan manusia dikonstruksi oleh corak ideologi dianut. Manusia meyakini ideologi tertentu karena bersesuaian dengan pandangan alam yang diyakininya. Keyakinanya tersebut bersumber dari basis pengetahuannya atau epistemologi. Dengan kata lain, epistemologi adalah akar yang menopang keseluruhan bangunan keyakinan, ideologi, hingga tindakan manusia dalam realitas.

Di lain sisi bahasan metafisika atau ontologi Islam, Allamah Thabatabai menjelaskan bahwa realitas dikonsepsi menjadi wujud dan mahiyah. Mahiyah diartikan sebagai jawaban dari pertanyaan “apa itu?”. Mahiyah memberikan batasan atau karakteristik sesuatu dengan sesuatu yang lain. Sehingga mahiyah menjadi dasar dari suatu wujud yang tunggal menuju pluralitas.

Namun, mahiyah menurut Allamah Thabatabai netral terhadap sifat-sifat wujud. Putih misalnya, Ia netral dari sifat ada atau tidak ada pada realitas dinding. Realitas dinding ada yang berwujud putih ada juga berwujud selain putih. Dalam arti bahwa mewujudnya sesuatu bergantung pada wujud itu sendiri. Wujudlah yang menjadi sumber bagi mahiyah untuk mewujud pada realitas.

Lebih lanjut, wujud bersifat tunggal (unitas) dan tidak memiliki genus karena selain wujud adalah ketiadaan. Pada kitab Bidayah  Al-Hikmah karya Allamah Thabatabai mengatakan bahwa konsep ketiadaan tidak terdapat perbedaan karena diferensiasi sesuatu bersumber dari eksistensi dan pluralitasnya. Sementara ketiadaan bukan hanya tidak plural, tapi juga tidak tunggal. Bahkan, ketiadaan itu tidak ada. Sehingga mustahil menemukan perbedaan pada sesuatu yang tidak plural, tidak tunggal, dan tidak ada.

Postulasi atas wujud memberikan kepastian akan basis epistemologi manusia. Bahwa realitas itu mandiri dan tidak berkorespondensi dari pahaman manusia. Meski secara harfiah realitas terdiri dari kejamakan, namun di balik semuanya ada ketunggalan wujud, memberikan pancaran eksistensi, sehingga segala sesuatu menjadi mungkin adanya. Selain itu, realitas mungkin diketahui dan dikenali manusia melalui kepemilikian perangkat epistemologi. Pada wilayah inilah, keyakinan akan perangkat epistemologi membentuk beberapa aliran besar dalam filsafat.

Epistemologi manusia e1753252527401

Rasionalisme

Rasionalisme adalah sebuah aliran filsafat yang meyakini adanya ‘innate ideas’ pada manusia. Innate idea (Ide bawaan) adalah konsep yang dimiliki manusia yang bersifat universal, pasti, dan tidak bergantung dari pengalaman. Konsep tentang “keseluruhan lebih besar dari pada sebagian”, “sesuatu yang bertentangan tidak mungkin maujud pada satu subjek, predikat, ruang,  dan waktu yang sama”, dan “segala sesuatu muncul karena ada sebabnya” adalah konsep yang dipahami manusia dengan pasti tanpa prasyarat pengalaman. Seseorang tidak perlu mengamati keseluruhan sebelum mengambil kesimpulan bahwa ia lebih besar dari pada bagian-bagiannya.

Para pemikir ini tumbuh pada abad ke 17 setelah Rene Descartes merumuskan suatu paradigma skeptisisme metodologis. Ia menemukan postulat dirinya sebagai subjek peragu yang mustahil diragukan. Argumen Rene Descartes secara tidak langsung meminjam konsep Suhrawardi yang lebih dulu mengenalkan konsep “knowledge by presence”. Knowledge by presence adalah pengetahuan langsung dan non-representational.

Mustahilnya Rene Descartes meragukan dirinya karena pada konteks keraguannya, ia sebagai subjek mengetahui objek dirinya yang meragu secara langsung melalui kehadiran objek dirinya sebagai peragu dalam dirinya sebagai subjek. Sederhananya bahwa kehadiran langsung itu ditandai oleh nir jarak antara dirinya sebagai subjek dan dirinya sebagai objek.

Jadi Rasionalisme meyakini bahwa kebenaran akan realitas hanya dapat diakses melalui optimalisasi perangkat rasio, termasuk pengembangan potensi innate idea dalam mencerabut jarak antara Res cogitans – Subjek yang berpikir – dan Res-extensa – materi yang dipikirkan.

Empirisme

Aliran filsafat empirisme sebaliknya merupakan kritik atas pandangan yang mengedepankan rasio sebagai satu-satunya alat episteme yang membuat pengetahuan bagi manusia menjadi mungkin. Empirisme memandang mungkinnya manusia mengetahui apa pun jika dan hanya jika ada pengalaman sebagai prasyarat. John lock, Berkeley, dan David Hume adalah beberapa filsuf yang meyakini model episteme semacam itu.

Tentu terdapat spektrum dalam pandangan empiris. John Locke misalnya dalam karyanya An Essay Concerning Human Understanding (1689) masih mengakui adanya sebab-akibat. Ia membagi pengalaman menjadi sensation dan reflection. Sensation adalah pencerapan inderawi atas pengamatan dari dunia luar. Sementara reflection adalah pengalaman internal atas aktivitas pikiran manusia.

Namun keniscayaan pada hubungan sebab dan akibat bagi Locke tidak diketahui melalui akal murni, melainkan melalui pengamatan inderawi atas realitas yang terjadi secara berulang. Misalnya kita meyakini keniscayaan hubungan api dengan efek panasnya karena fenomena itu adalah hasil pengamatan kita yang terjadi secara berulang.

Berbeda halnya dengan David Hume dalam karyanya A Treatise of Human Nature (1739). Hume tidak meyakini hubungan pasti antara sebab dan akibat dapat diamati manusia. Hubungan pasti atau keniscayaan antara sebab dan akibat adalah hasil asosiasi antara ide-ide setiap mengamati fenomena secara berulang-ulang. Sehingga asosiasi tersebut hanyalah kebiasaan pikiran yang mengandaikan satu hal mengikuti yang lain.

Kesimpulannya empirisme memandang dunia sebagai representasi dari pengalaman inderawi. Apa yang benar dan keliru ditentukan oleh sejauh mana realitas tersebut dapat direpresentasi melalui pengalaman qua inderawi. Meski banyak kritikan terhadap pandangan ini, namun paradigma sains modern justru menjadikan epistemologi empiris sebagai salah satu metologi utama dalam memverifikasi suatu temuan sains. Sains yang tidak membasiskan diri pada empirisme dengan mudah dianggap sebagai pseudo-sains.

Intuisionisme

Intuisionisme adalah aliran filsafat yang meyakini kemampuan intuisi sebagai ihwal yang mampu mencerap pengetahuan secara langsung. Beberpaa tokoh dalam aliran ini ialah Henry Bergson (1859-1941), Blaise Pascal (1623-1662). Bergson mengkritik kapasitas intelek manusia dalam memahami realitas. Realitas sebagaimana adanya adalah suatu proses yang bersifat kontinu. Keadaan manusia, kesadaran, dan kehidupan tidak dapat dijeda untuk melihatnya dalam suatu teori tertentu. Kemampuan intelek cenderung mereduksi realitas kedalam part-part yang tidak terhubung secara integral.

Lebih lanjut bagi Bergson realitas yang majemuk dan mengalami perubahan hanya bisa didekati melalui pengamatan langsung oleh intuisi. Intuisi membuat kita mampu berpartisipasi dalam realitas, bukan hanya mengamatinya sebagai objek yang terpisah dari diri kita. Intuisi bukan mistik, justru ia merupakan bentuk pengetahuan yang paling tinggi.

Konsep-konsep utama dari pikiran Bergson kemudian mempengaruhi paradigma ilmu-ilmu sosial. Hal ini karena manusia, kesadaran, kehidupan, dan hubungannya dengan komunitasnya merupakan hal yang dinamis. Keadaan dinamis tidak dapat diamati selain menjadi bagian dari proses perubahan itu.

Kesimpulannya epistemologi intuisionisme menekankan keterlibatan manusia agar mampu mencerap realitas secara langsung. Hal ini juga merupakan bentuk kritik atas dua pandangan epistemologi sebelumnya. Rasio dan inderawi menurut pandangan ini terbatas dan sulit untuk memahami realitas yang kompleks dan dinamis.

Epistemologi Islam

Seringkali pemikir filsafat menganggap sebelah mata filsafat islam. Filsafat islam dianggap tidak memiliki gagasan utama, ia dipandang sebagai suatu era keberlanjutan filsafat Yunani kepada era filsafat modern. Sehingga seringkali tokoh-tokoh filsuf islam dipandang sebagai penafsir atau komentator tradisi Aristotelian belaka. Hal ini mengakibatkan filsafat islam kurang beroleh panggung dalam perdebatan filsafat beberapa abad belakangan.

Filsafat islam baru menjadi diskursif yang berarti pasca revolusi islam Iran di paruh kedua abad 20. Barulah belakangan muncul tokoh – tokoh seperti Henry Corbin, Oliver Leaman, dan Seyyed Hossein Nasr yang ‘mempromosikan’, menulis, dan mengkaji filsafat islam secara serius. Menurut mereka tokoh seperti Mulla Sadra, Suhrawardi, dan Ibn Arabi layak diberi predikat sebagai pemikir orisinil bukan sekadar komentator filsafat.

Epistemologi islam memandang realitas sebagai sesuatu yang bergradasi. Pada gradasi paling rendah, manusia memandang materi sebagai realitas sejati. Hingga terus bergerak secara vertikal sampai tingkatan yang lebih abstrak dan bersifat non materi, tidak bergantung, tidak bersebab, dan tidak mengalami perubahan. Alat dan metode untuk mencapai tingkatan tertinggi realitas  juga mengalami proporsi yang berbeda. Dalam hal ini dibutuhkan kemurnian hati melalui penyucian jiwa dalam gerak vertikal menuju realitas tertinggi.

Pada pemikiran filsafat islam kontemporer berkembang lewat syarah dari pemikiran Mulla Sadra. Mereka menggunakan istilah Irfan, kata tersebut berasal dari akar kata Arab “Arafa” yang berarti mengetahui. Namun pada konteks ini Irfan adalah tradisi filsafat yang menekankan pada penyucian jiwa agar mampu mencerap pengetahuan hakiki. Pengetahuan hakiki dicerap melalui pengalaman batin, intuisi, dan penyucian hati. Berlainan dengan pandangan sebelumnya, pandangan ini menekankan hati sebagai cermin yang mampu memantulkan realitas sebagaimana adanya bukan menggunakan Indera, rasio, dan intuisi an sich.

Manusia dipandang sebagai makhluk yang terus bergerak ke arah kesempurnaan. Secara potensial manusia mampu memahami realitas gradatif tersebut melalui medium penyucian jiwa. Jiwa yang suci akan membawa manusia pada realitas sejati. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Fajr ayat 27-30 Tuhan berfirman :

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ۝٢٧ ارْجِعِيٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ ۝٢٨ فَادْخُلِيْ فِىْ عِبٰدِىْࣖ ۝٢٩ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ ۝٣٠

  1. “Wahai jiwa yang tenang!”
  2. “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.”
  3. “Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.”
  4. “Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Sinkretis dilakukan Mulla Sadra antara tradisi rasionalitas diskursif ala Aristotelian dan mistisisme islam membentuk tradisi baru yang disebut Teosofi atau apa yang dideklarasikannya sebagai Al-Hikmah al-Muta‘āliyah. Meski terpengaruh oleh doktrin teologi islam, Al-Hikmah al-Muta‘āliyah tetap berkembang oleh murid-muridnya hingga era kontemporer. Filsafat islam dari sisi perkembangannya tak pernah berhenti sebagaimana pandangan sinisme barat melihat filsafat islam. Tradisi Al-Hikmah al-Muta‘āliyah menjadi corak dan pemandu para pengikutnya untuk berada di lintasan eksistensi yang benar.

Penutup

Epistemologi baik dalam penelusuran alat maupun sumber pengetahuan, mampu menjadi pisau bedah untuk melihat kecenderungan sebuah narasi filsafat. Alat dan sumber pengetahuan ini menjadi diferentia yang melahirkan spektrum bahasan yang beragam dalam filsafat. Menjadikan Indera sebagai satu-satunya alat yang valid dalam menyusun premis ilmu pengetahuan akan berkorelasi pada menjadikan ihwal materi sebagai satu-satunya realitas. Sementara menjadikan kapasitas rasio sebagai satu-satunya alat yang valid dalam menyusun premis ilmu pengetahuan akan  berkorelasi pada menjadikan ihwal materi sebagai realitas semu dan tidak mandiri.

Disisi lain, Metafisika islam memberikan ragam argumentasi wujud demi mencerahkan manusia yang selama ini redup akal dan hatinya terhadap pancaran kebenaran yang terang-benderang. Metafisika Islam membawa manusia menuju jalur utama lintasan eksistensi menuju kesempurnaan. Memantulkan realitas sejati melalui penyucian jiwa sebagai penunjuk arah. Agar manusia tidak terjebak pada absurditas kehidupan, fokus pada realitas semu, hingga tercerabut dari hakikat kediriannya. Selain itu, agar manusia tidak terlalu melangit, mengawang-awang, dan sadar di wadah mana ia sedang berada.

Sebagai kesimpulan filsafat islamlah yang menjadi titik sinkretis dari bahasan epistemologi. Karena islam menjadikan indrawi, akal, intuisi, dan hati manusia sebagai potensi jiwa dalam mencerap realitas sebagaimana adanya.

Continue Reading

Trending