Connect with us

KEGIATAN ABI

ABI Sulsel Petakan 5 Sektor Unggulan, Siap Bangun Ekonomi Berbasis Komunitas

Published

on

WhatsApp Image 2026 02 14 at 13.33.56

ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pemetaan Potensi Ekonomi ABI Sulsel” di Sekretariat LDSI Al Muntazar, Makassar, Sabtu (14/2/2026).

Kegiatan ini dihadiri sejumlah pengurus dan pelaku usaha jamaah secara luring, serta sekitar 20 peserta lainnya secara daring. Ketua DPW ABI Sulsel, Imran Latief, membuka acara dengan menekankan pentingnya menindaklanjuti hasil survei ekonomi yang telah dilakukan sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa pengembangan ekonomi jemaah harus disesuaikan dengan nuansa, karakteristik, serta kondisi iklim dan sosial ekonomi di Sulsel agar strategi yang dirumuskan kontekstual dan aplikatif.

FGD dipandu oleh Syamsu Alam selaku fasilitator. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya pemetaan potensi ekonomi berbasis komunitas (jemaah) sebagai fondasi pengembangan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan berorientasi sosial.  ABI, kata dia, sedang memulai langkah strategis untuk mengembangkan komunitas secara lebih saintifik dan terukur.

Untuk menguatkan semangat perubahan, fasilitator mengutip pernyataan Mahatma Gandhi tentang dinamika gagasan baru: “First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.” Kutipan tersebut menggambarkan bahwa setiap inisiatif baru kerap melalui fase diragukan hingga akhirnya diterima.

WhatsApp Image 2026 02 14 at 10.21.32

Lima sektor potensial

Berdasarkan hasil survei pemetaan ekonomi yang sebelumnya dipaparkan secara virtual oleh perwakilan DPP ABI, teridentifikasi lima sektor potensial di Sulsel. Pertama, sektor pendidikan. Bidang ini muncul paling konsisten dengan jumlah profesional terbesar dan skor potensi tinggi di berbagai kabupaten/kota seperti Makassar, Gowa, Wajo, Parepare, Bone, dan Pinrang.

Pendidikan dinilai bukan sekadar sektor pendukung. Ia juga adalah tulang punggung pembangunan modal manusia daerah. Olehnya itu, pengembangan ekonomi berbasis pendidikan seperti kursus vokasi dan pelatihan UMKM, dipandang perlu untuk mendorong peningkatan sektor lain.

Kedua, sektor pertanian dan perkebunan terintegrasi. Di tengah dominasi sektor jasa secara nasional, pertanian di Sulsel tetap relevan dengan basis pelaku usaha yang kuat, khususnya di Pinrang, Soppeng, Bone, Luwu Utara, dan Takalar.

Meski skor potensinya tidak selalu tertinggi, daya sebar wilayah dan kesinambungan ekonomi lokal menjadi kekuatan utama. Peningkatan rantai nilai melalui pengolahan pascapanen, penguatan branding, dan distribusi menjadi prioritas pengembangan.

Ketiga, sektor perikanan dan kelautan. Sektor ini menjadi pembeda struktural Sulsel dibanding rata-rata nasional. Wilayah pesisir seperti Bone, Maros, dan Pangkep menunjukkan potensi besar dengan kombinasi sumber daya alam dan peluang pasar eksternal. Industrialisasi ringan, seperti penyediaan cold storage, pengolahan hasil laut, dan penguatan koperasi nelayan modern, diusulkan sebagai arah kebijakan.

Keempat, sektor kesehatan dan layanan sosial. Sektor ini memiliki skor potensi tinggi pada kelompok profesional, bahkan melampaui rata-rata nasional di beberapa daerah seperti Gowa, Bone, dan Barru. Penyebaran layanan kesehatan yang tidak lagi terpusat di kota besar membuka peluang pengembangan klinik komunitas berbasis kewirausahaan sosial.

Kelima, sektor jasa profesional strategis, meliputi keuangan, akuntansi, hukum, dan teknologi informasi. Meski jumlah pelaku belum sebesar rata-rata nasional, skor potensinya cukup tinggi di Makassar, Parepare, dan Maros. Sulsel dinilai berpeluang menjadi hub jasa profesional di kawasan Indonesia Timur melalui inkubasi profesional dan penguatan layanan digital.

Berbagi pengalaman dan catatan kritis

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta membagikan pandangan dan pengalaman usaha. Santi menekankan konsep “The Power of Kepepet” sebagai dorongan untuk berinovasi di tengah tekanan.

Ia menilai modal integritas, kejujuran, dan daya tahan lebih utama dibandingkan modal finansial semata. Ia juga mendorong model afiliasi komunitas untuk memperkuat jaringan usaha, dengan tahapan eksekusi, belajar, dan peningkatan kapasitas (upgrade).

Baihaqi membagikan pengalaman kegagalannya dalam berusaha sejak 2013 akibat tidak mampu membaca data supply–demand secara tepat. Dari pengalaman tersebut, ia merekomendasikan pembangunan rantai nilai berbasis komunitas serta penggunaan hasil survei awal sebagai baseline untuk pemetaan ekonomi yang lebih detail.

Akbar berpandangan bahwa aktivitas bisnis harus menjadi bagian dari gerakan ideologis komunitas. Ia menyoroti pentingnya integritas, komitmen, kemauan, dan modal ekonomi dalam membangun usaha berbasis jamaah.

Sementara itu, Fahmi selaku pelaku ekspor kopi sejak 2008, menekankan pentingnya kualitas produk, standardisasi pertanian, serta kepercayaan dalam bisnis ekspor. Ia juga mendorong integrasi hulu-hilir melalui pengembangan coffee shop produksi sendiri.

DPW ABI melalui salah satu pengurusnya mendorong agenda sharing session rutin antar pelaku usaha jamaah, termasuk berbagi kisah sukses dan kegagalan. Di sisi lain, Makmur mengingatkan pentingnya menciptakan suasana diskusi yang santai dan terbuka agar proses pemetaan berjalan efektif.

Roadmap dan komitmen lanjutan

Ketua DPW ABI Sulsel bersama Ketua Departemen Ekonomi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan agenda sekali jalan, melainkan berpotensi berlanjut lintas periode kepengurusan.

Sebagai tindak lanjut, forum merumuskan sejumlah rencana, antara lain penyusunan roadmap dan peta data jamaah yang lebih detail, pemetaan unit usaha berbasis komunitas, perancangan integrasi rantai pasok (supply chain), serta program pendampingan dan pelatihan untuk pengembangan digital talent dan penguatan manajemen usaha komunitas.

FGD ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan pemetaan potensi ekonomi jamaah secara lebih sistematis dan membangun kolaborasi lintas komunitas guna mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis nilai dan solidaritas.

KEGIATAN ABI

DPW ABI Sulsel Luncurkan E-Commerce Berbasis Komunitas, Perkuat Ekosistem Ekonomi Jamaah

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 07 12 at 12.39.11

ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Provinsi Sulawesi Selatan resmi meluncurkan aplikasi e-commerce berbasis komunitas pada Ahad (12/7/2026) di Sekretariat DPW ABI Sulsel, Jalan Batua Raya Lorong 4, Makassar.

Peluncuran ini dihadiri puluhan pelaku UMKM dan non-UMKM dari kalangan jamaah Ahlulbait sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang saling menguatkan di lingkungan komunitas.

Momentum peluncuran aplikasi tersebut dipilih sebagai penutup rangkaian kunjungan Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia di Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, DPP melaksanakan pendalaman kualitatif atas hasil Survei Pemberdayaan Ekonomi ABI Tahun 2025, sementara peluncuran aplikasi ini menjadi wujud nyata bagaimana hasil-hasil kajian mulai diterjemahkan ke dalam program yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh jamaah.

Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Dr. Imran Latif, menjelaskan bahwa lahirnya platform digital tersebut berangkat dari kebutuhan mendesak untuk menghadirkan solusi pemberdayaan ekonomi di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Menariknya, gagasan pengembangan aplikasi baru diputuskan hanya beberapa hari sebelumnya dalam rapat bulanan DPW ABI Sulsel.

Alih-alih menunggu seluruh kajian selesai dilakukan, DPW memilih menggunakan pendekatan try and error, yakni membangun, menguji, mengevaluasi, lalu menyempurnakan aplikasi secara bertahap berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan.

“Sering kali kita terlalu lama berhenti pada tahap perencanaan. Padahal kondisi ekonomi masyarakat hari ini menuntut langkah yang cepat. Jika ada kekurangan, kita evaluasi sambil berjalan. Yang terpenting adalah memulai dan terus menyempurnakan,” ujar Dr. Imran.

Menurutnya, selama ini paradigma bisnis lebih banyak berorientasi pada demand side, yakni menghitung daya beli, kecenderungan pasar, serta permintaan konsumen. Padahal, aspek produksi justru menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi.

WhatsApp Image 2026 07 12 at 12.38.48

“Selama ini paradigma bisnis kita cenderung melihat persoalan dari sisi demand side; menghitung daya beli, kecenderungan pasar, dan permintaan konsumen. Padahal kita juga harus mulai memperkuat sisi produksi, bagaimana rantai pasok dibangun, biaya produksi dibuat efisien, dan bagaimana komunitas mampu menciptakan pasarnya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsep pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas menjadi sangat relevan bagi jamaah Ahlulbait karena tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga membangun sebuah ekosistem ekonomi yang saling menopang.

“Kalau komunitas kita mampu saling menjadi produsen sekaligus konsumen, maka akan terbentuk ekosistem ekonomi yang saling menguatkan. Inilah semangat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang ingin kita bangun,” ujarnya.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, Ali Reza Baraqbah atau yang akrab disapa Sayyid Ali Reza.

Menurutnya, model yang dikembangkan DPW ABI Sulsel menawarkan pendekatan yang lebih sederhana, efisien, dan mudah direplikasi dibandingkan pengembangan platform serupa yang selama ini dirancang di tingkat pusat.

Ia mengungkapkan bahwa DPP ABI sebenarnya telah mengembangkan program dengan tujuan yang sama. Namun dalam prosesnya, pengembangannya membutuhkan biaya yang relatif besar.

Sebaliknya, model berbasis web yang dikembangkan DPW ABI Sulsel dinilai lebih ringan dari sisi investasi, tetapi tetap mampu menjawab kebutuhan organisasi di daerah.

“Model ini sangat menarik karena biaya pengembangannya jauh lebih ringan, tetapi tetap fungsional. Saya melihat ini berpotensi menjadi prototipe yang dapat kita tawarkan kepada seluruh DPW dan DPD ABI di Indonesia, khususnya bagi daerah yang jumlah penggunanya masih di bawah seribu akun,” ungkapnya.

Sementara itu, pengembang aplikasi, Syamsu Alam, yang juga merupakan Ketua Program Studi Bisnis Digital Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan akan terus disempurnakan.

Salah satu fitur yang tengah dipersiapkan adalah layanan kurir berbasis komunitas. Fitur ini diharapkan dapat memberdayakan jamaah yang memiliki waktu luang untuk memperoleh tambahan pendapatan melalui layanan pengantaran ketika terdapat pesanan yang masuk melalui aplikasi.

“Aplikasi ini memang masih dalam tahap pengembangan. Masih banyak fitur yang akan terus kami sempurnakan. Dalam waktu dekat kami menargetkan hadirnya fitur kurir berbasis komunitas, sehingga jamaah yang memiliki waktu luang juga dapat memperoleh tambahan pendapatan dari layanan pengantaran,” jelas Syamsu Alam.

Sebagai penutup kegiatan, panitia melakukan simulasi penggunaan aplikasi mulai dari proses pencarian produk UMKM, pemesanan, hingga pembayaran (payment). Simulasi berlangsung lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang hadir.

Salah seorang pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan optimismenya terhadap kehadiran platform digital ini. Menurutnya, aplikasi tersebut berpotensi membuka pasar baru bagi produk-produk jamaah sekaligus memperkuat transaksi ekonomi di lingkungan komunitas.

“Kami berharap aplikasi ini segera berjalan optimal. Nantinya kami juga akan menyesuaikan harga produk dengan skema biaya layanan (fee) yang disepakati bersama pengelola, sehingga sistemnya tetap sehat bagi pelaku usaha maupun pengelola aplikasi,” ujarnya.

Peluncuran aplikasi e-commerce ini menjadi langkah awal DPW ABI Sulawesi Selatan dalam membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga pada penguatan jejaring usaha, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penciptaan pasar internal yang berkelanjutan.

Ke depan, platform ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM, konsumen, hingga mitra distribusi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi jamaah Ahlulbait.

Masyarakat, khususnya pelaku usaha dan jamaah Ahlulbait, kini dapat mulai mengakses platform tersebut melalui gaddekita.com. Sebagai aplikasi e-commerce berbasis web, GaddeKita dirancang agar mudah diakses tanpa perlu mengunduh aplikasi, sehingga dapat digunakan melalui berbagai perangkat untuk mempromosikan produk, memperluas jejaring pemasaran, serta memperkuat transaksi ekonomi di lingkungan komunitas.

Kontributor: Irfanesa 

Continue Reading

KEGIATAN ABI

Bangun Kemandirian Ekonomi Komunitas, DPP ABI Serap Pengalaman PANDU dan Muslimah ABI Sulse

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 07 11 at 13.38.09

ABI Sulsel— Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia (ABI) melakukan rangkaian kunjungan dan dialog strategis di Sulawesi Selatan yang difasilitasi oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ABI Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (10/7). Kegiatan ini menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus menyusun arah penguatan program pemberdayaan ekonomi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Rombongan DPP dipimpin oleh Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi, *Ali Reza Baraqbah* atau yang akrab disapa Sayyid Ali Reza, didampingi Wakil Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi, *Hilmi Dhiya Ulhaq*. Dalam kunjungan tersebut, keduanya berdiskusi bersama pengurus Pimpinan Wilayah (Pimwil) PANDU ABI Sulawesi Selatan dan Pimwil Muslimah Ahlulbait Indonesia Sulawesi Selatan.

Pertemuan yang berlangsung di kediaman  Erna Sudirman, Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi Muslimah ABI Sulawesi Selatan, difokuskan pada pemetaan tantangan sekaligus penggalian praktik-praktik terbaik yang telah dijalankan di daerah.

DPP memaparkan arah kebijakan pemberdayaan ekonomi organisasi, sekaligus meminta pandangan dan pengalaman dari PANDU maupun Muslimah mengenai program-program yang dinilai paling mendesak dan relevan untuk dikembangkan.

Dalam pemaparannya, Sayyid Ali Reza mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI pada tahun 2025, persoalan terbesar yang dihadapi masyarakat dalam upaya pemberdayaan ekonomi masih didominasi oleh keterbatasan akses terhadap permodalan.

“Sekitar 80 persen persoalan pemberdayaan ekonomi yang kami temukan bermuara pada masalah permodalan. Karena itu, program yang kita rancang harus mampu membuka akses pembiayaan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha,” jelasnya.

WhatsApp Image 2026 07 11 at 13.38.09 1

Menanggapi hal tersebut,  Erna membagikan pengalaman panjangnya sebagai pelaku usaha di bidang konstruksi. Ia menjelaskan berbagai strategi praktis yang selama ini diterapkan dalam memperoleh dukungan pembiayaan usaha, mulai dari pemanfaatan fasilitas perbankan hingga berbagai skema pembiayaan yang tersedia di Pegadaian. Pengalaman tersebut menjadi bahan diskusi yang dinilai sangat aplikatif karena berangkat dari praktik lapangan yang telah terbukti dijalankan.

Selain membahas penguatan ekonomi keluarga dan pelaku usaha, forum juga secara khusus mendiskusikan kondisi organisasi kepemudaan ABI. Ketua Pimwil PANDU ABI Sulawesi Selatan, Andi Atikah Permata Mahdiyah P, menyampaikan evaluasi secara terbuka mengenai tantangan yang dihadapi organisasinya.

Menurutnya, hingga saat ini masih banyak pemuda Ahlulbait yang belum memiliki ketertarikan untuk bergabung ke dalam PANDU karena belum melihat manfaat maupun dampak nyata dari keberadaan organisasi. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya sumber daya manusia yang aktif, sehingga berbagai program yang telah direncanakan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) belum dapat dijalankan secara optimal.

Menanggapi hal tersebut, Hilmi Dhiya Ulhaq mendorong PANDU agar mulai membangun model pemberdayaan ekonomi yang tidak hanya mampu menopang pembiayaan organisasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi para anggotanya.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pembentukan lembaga kursus yang dikelola secara profesional oleh PANDU, khususnya untuk mempersiapkan calon mahasiswa menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi maupun memperoleh berbagai program beasiswa.

Selain menjadi ruang pengabdian pemuda, program tersebut juga dinilai berpotensi menjadi unit usaha sosial yang dapat memperkuat kemandirian finansial organisasi sekaligus meningkatkan daya tarik PANDU di kalangan generasi muda.

Diskusi berlangsung hangat selama kurang lebih tiga jam. Berbagai pengalaman, kritik, dan gagasan yang muncul menjadi bekal penting dalam penyusunan program pemberdayaan ekonomi ABI ke depan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan komunitas. Pertemuan kemudian ditutup dengan makan malam bersama dalam suasana penuh keakraban, sebagai simbol penguatan sinergi antara DPP, DPW, serta organisasi otonom ABI dalam mewujudkan ekosistem pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Continue Reading

KEGIATAN ABI

Majelis Pengajian Mutiara Resmi Dimulai, Hadirkan Ruang Belajar Al-Qur’an dan Penguatan Keagamaan bagi Masyarakat

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 06 22 at 17.37.55

ABI Sulsel— Dewan Pengurus Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Yayasan Simpul Panrita Dua Belas menggelar pertemuan perdana Majelis Pengajian Mutiara (Majelis Untuk Tahsin, Iqra, dan Ragam Agama) pada Senin (22/6/2026) di Sekretariat DPW ABI Sulawesi Selatan, Jalan Batua Raya 5 Lorong 4, Makassar.

Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00 hingga 17.30 WITA tersebut diikuti oleh ibu-ibu yang berdomisili di sekitar area sekretariat sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan di lingkungan masyarakat.

Pelaksanaan Majelis Pengajian Mutiara merupakan salah satu bentuk kontribusi sosial-keagamaan yang bertujuan menyediakan ruang belajar yang terbuka, ramah, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Melalui program ini, peserta diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memperbaiki bacaan melalui pembelajaran tahsin, serta memperkaya wawasan keagamaan melalui berbagai materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Pertemuan perdana diawali dengan pembukaan dan perkenalan program kepada peserta. Selanjutnya, kegiatan difokuskan pada pembelajaran dasar membaca Al-Qur’an dan tahsin yang disampaikan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing peserta. Pendekatan yang digunakan menekankan suasana belajar yang nyaman dan tidak menghakimi sehingga setiap peserta dapat mengikuti proses pembelajaran dengan percaya diri.

Pengajar Majelis Pengajian Mutiara, Hj. Asnimihram, menyampaikan bahwa keberadaan majelis ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat, khususnya kaum ibu, untuk terus meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an sekaligus memperkuat fondasi keagamaan dalam keluarga.

“Belajar Al-Qur’an adalah proses yang tidak mengenal usia. Melalui Majelis Pengajian Mutiara, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang hangat dan terbuka, tempat setiap orang dapat memperbaiki bacaannya, menambah pengetahuan agama, serta saling menguatkan dalam kebaikan. Kami berharap majelis ini menjadi langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” ujar Hj. Asnimihram.

Sementara itu, salah seorang peserta, Hj. Andi Norma, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran majelis pengajian di lingkungan tempat tinggal memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman agama.

“Kami merasa senang karena ada wadah belajar seperti ini di sekitar lingkungan kami. Banyak di antara kami yang masih ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an tetapi sering merasa tidak memiliki kesempatan atau tempat yang tepat. Di sini suasananya sangat nyaman dan membuat kami lebih bersemangat untuk belajar bersama,” tuturnya.

Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat jelas. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, mencatat materi yang disampaikan, serta aktif berinteraksi dengan pengajar. Beberapa peserta juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an dan praktik ibadah sehari-hari.

Suasana majelis berlangsung khidmat namun tetap hangat dan komunikatif. Semangat kebersamaan tampak dalam interaksi antar peserta yang saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Tidak sedikit peserta yang mengungkapkan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin sehingga proses belajar dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Kehadiran ibu-ibu dari lingkungan sekitar sekretariat menciptakan ruang silaturahmi yang positif, sekaligus memperkuat budaya belajar dan saling berbagi pengetahuan keagamaan dalam suasana yang penuh kekeluargaan.

Bagi DPW ABI Sulawesi Selatan, pelaksanaan pertemuan perdana Majelis Pengajian Mutiara yang bertepatan dengan hari keenam bulan Muharram 1448 Hijriah memiliki makna tersendiri. Bulan Muharram dipandang sebagai momentum untuk memperkuat refleksi spiritual, memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai keagamaan, serta menumbuhkan semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri.

Dalam pandangan DPW ABI Sulawesi Selatan, salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari bulan Muharram adalah pentingnya menjaga integritas, kejujuran, keberanian dalam mempertahankan kebenaran, serta kepedulian terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam keteladanan Imam Husain as yang hingga kini dikenang sebagai figur yang teguh memegang prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai universal tersebut dinilai tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern, terutama dalam membangun keluarga, lingkungan sosial, dan generasi yang berakhlak mulia.

Meski demikian, penyelenggaraan Majelis Pengajian Mutiara tetap difokuskan pada tujuan utamanya, yakni menghadirkan ruang pembelajaran Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan umat melalui pendidikan dan pembinaan spiritual yang berkelanjutan.

Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal dari rangkaian kegiatan yang direncanakan berlangsung secara rutin. DPW ABI Sulawesi Selatan bersama Yayasan Simpul Panrita Dua Belas berharap Majelis Pengajian Mutiara dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar serta mendorong lahirnya lingkungan yang lebih religius, harmonis, dan berkeadaban.

Pada akhirnya, semangat Muharram yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan moral, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus menumbuhkan budaya belajar, memperkuat akhlak, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, beradab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Continue Reading

Trending