Connect with us

OPINI

Filsafat Ekonomi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei

Published

on

20250726 130324

Oleh: Erwin Lessy

Mengembalikan Ekonomi sebagai Jalan Menuju Keadilan dan Peradaban

Ketika berbicara tentang ekonomi, hampir seluruh teori modern memulai pembahasannya dengan persoalan yang sama, yakni bagaimana meningkatkan pertumbuhan, memperbesar keuntungan, menciptakan efisiensi, atau memperluas pasar. Perdebatan kemudian berkembang mengenai siapa yang paling tepat mengatur proses tersebut. Kaum kapitalis percaya bahwa pasar yang bebas merupakan jalan terbaik menuju kemakmuran, sementara kaum sosialis meyakini bahwa negara harus mengambil peran utama agar distribusi kekayaan berlangsung lebih adil.

Namun Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengajukan pertanyaan yang sama sekali berbeda. Beliau tidak memulai pembahasan dari pasar, negara, modal, atau bahkan pertumbuhan ekonomi. Beliau memulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yakni untuk apa manusia membangun ekonomi?

Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya mengubah seluruh arah pembahasan ekonomi.

Menurut Khamenei, kesalahan terbesar ekonomi modern bukanlah karena terlalu banyak menggunakan matematika atau statistik, tapi karena kehilangan orientasi filosofisnya. Ekonomi modern cenderung memandang manusia sebagai makhluk yang tujuan utamanya adalah memenuhi kebutuhan material. Dalam kapitalisme, manusia dipahami sebagai individu rasional yang mengejar kepentingan dan keuntungan pribadinya. Dalam sosialisme, manusia lebih dipahami sebagai bagian dari kelas sosial yang harus memperjuangkan distribusi kekayaan yang lebih merata. Meskipun berbeda dalam mekanisme, keduanya tetap menempatkan ekonomi sebagai pusat kehidupan manusia.

Di sinilah Khamenei menawarkan perspektif yang berbeda.

Menurut beliau, manusia bukanlah makhluk yang hidup demi ekonomi. Manusia adalah makhluk spiritual, intelektual, moral, sosial, sekaligus ekonomi. Ekonomi hanyalah salah satu instrumen yang memungkinkan manusia menjalankan misi yang lebih besar sebagai khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu, keberhasilan suatu sistem ekonomi tidak cukup diukur dari besarnya pertumbuhan, tingginya investasi, atau meningkatnya konsumsi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah sistem ekonomi tersebut mampu membentuk manusia yang lebih bermartabat, lebih adil, lebih mandiri, dan lebih dekat kepada tujuan penciptaannya?

Dari titik inilah filsafat ekonomi Khamenei dibangun.

Tauhid menjadi fondasi seluruh bangunan pemikirannya. Tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, tetapi paradigma dalam memahami realitas. Jika seluruh alam semesta pada hakikatnya adalah milik Allah, maka manusia bukanlah pemilik mutlak kekayaan, melainkan penerima amanah untuk mengelolanya. Kepemilikan pribadi tetap diakui, tetapi tidak pernah bersifat absolut. Setiap kekayaan selalu mengandung tanggung jawab sosial dan moral. Dengan demikian, hak milik tidak dipahami sebagai kebebasan tanpa batas, tapi sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat dan Tuhan.

Pandangan ini melahirkan ukuran keberhasilan ekonomi yang berbeda. Khamenei tidak menolak pertumbuhan ekonomi, bahkan beliau berulang kali menekankan pentingnya produktivitas, investasi, dan kemajuan teknologi. Namun semua itu bukan tujuan akhir. Pertumbuhan yang menghasilkan ketimpangan, melemahkan solidaritas sosial, mendorong konsumerisme, atau menciptakan ketergantungan ekonomi kepada pihak lain, menurut beliau, justru menunjukkan kegagalan pembangunan.

Karena itu, keadilan menjadi pusat orientasi ekonomi. Tetapi keadilan yang dimaksud bukanlah pemerataan yang menghilangkan kreativitas individu ataupun kebebasan berusaha. Keadilan berarti menciptakan struktur ekonomi yang membuka kesempatan secara luas, melindungi kelompok yang lemah, mencegah monopoli kekayaan, dan memastikan bahwa aktivitas ekonomi benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Ekonomi Resisten: Kemandirian sebagai Jalan Kebebasan

Konsep yang paling dikenal dari pemikiran ekonomi Khamenei adalah Resistance Economy atau Ekonomi Resisten. Sayangnya, konsep ini sering dipersempit sebagai strategi menghadapi sanksi ekonomi terhadap Iran. Padahal, apabila dibaca secara utuh dari pidato dan dokumen kebijakannya, Ekonomi Resisten merupakan sebuah filsafat tentang kemandirian bangsa.

Menurut Khamenei, bangsa yang menggantungkan kehidupan ekonominya kepada kekuatan eksternal akan kehilangan kebebasan menentukan masa depannya sendiri. Ketergantungan ekonomi lambat laun akan berubah menjadi ketergantungan politik, budaya, bahkan cara berpikir. Karena itu, masyarakat harus memiliki kemampuan bertahan bukan dengan cara menutup diri dari dunia, tapi dengan memperkuat fondasi internalnya.

Ekonomi Resisten bukan berarti anti-perdagangan internasional ataupun anti-globalisasi. Sebaliknya, Khamenei mendorong interaksi dengan dunia luar, tetapi dari posisi yang kuat dan bermartabat. Sebuah bangsa harus mampu memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri, mengembangkan inovasi, memanfaatkan sumber daya domestik secara optimal, serta menjadikan tekanan eksternal sebagai pendorong kreativitas, bukan sebagai alasan untuk menyerah.

Dengan demikian, inti Ekonomi Resisten bukanlah “bertahan dari sanksi”, tapi membangun masyarakat yang memiliki daya tahan, kepercayaan diri, dan kedaulatan ekonomi.

Ekonomi Berbasis Produksi: Kekayaan Tidak Diciptakan oleh Uang, tetapi oleh Karya

Salah satu kritik paling tajam Khamenei terhadap ekonomi modern adalah dominasi sektor finansial yang semakin menjauh dari kegiatan produksi nyata.

Beliau berulang kali menegaskan bahwa kemakmuran tidak lahir dari perputaran uang semata. Kekayaan sejati diciptakan ketika masyarakat mampu menghasilkan barang, mengembangkan teknologi, membangun industri, memperkuat pertanian, dan menciptakan inovasi. Karena itu, produksi dipandang sebagai fondasi utama ekonomi nasional.

Pandangan ini menarik karena menggeser cara kita memandang kekayaan. Dalam banyak sistem ekonomi modern, pertumbuhan sektor keuangan sering dianggap sebagai indikator keberhasilan. Namun Khamenei mengingatkan bahwa apabila uang terus berputar tanpa diikuti peningkatan kapasitas produksi, maka ekonomi menjadi rapuh dan rentan terhadap krisis.

Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang menghasilkan nilai tambah nyata melalui kerja, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan produktivitas. Dalam perspektif ini, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat dan bagian dari pembangunan peradaban.

Ekonomi Berbasis Ilmu Pengetahuan (Knowledge-Based Economy): Pengetahuan sebagai Modal Terbesar Bangsa

Berbeda dengan banyak pemikir ekonomi Islam yang lebih menekankan distribusi kekayaan, Khamenei memberikan perhatian besar pada ilmu pengetahuan sebagai sumber utama kemajuan ekonomi.

Beliau berulang kali menegaskan bahwa kekayaan alam tidak pernah cukup untuk menjamin kemajuan suatu bangsa. Negara yang kaya sumber daya dapat tetap tertinggal apabila tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, negara yang miskin sumber daya dapat menjadi maju apabila berhasil membangun tradisi riset, inovasi, dan pendidikan.

Karena itu, investasi terbesar menurut Khamenei bukanlah investasi pada komoditas, melainkan investasi pada manusia. Universitas, lembaga penelitian, industri berbasis teknologi, dan generasi muda dipandang sebagai aset strategis yang menentukan masa depan ekonomi. Dalam perspektif ini, ilmu pengetahuan bukan sekadar instrumen akademik, tetapi menjadi kekuatan produktif yang mengubah struktur ekonomi bangsa.

Ekonomi sebagai Pilar Peradaban Islam Baru

Semua konsep tersebut akhirnya bermuara pada gagasan terbesar Khamenei, yaitu New Islamic Civilization atau Peradaban Islam Baru.

Inilah yang membedakan beliau dari banyak ekonom modern. Khamenei tidak pernah berbicara tentang ekonomi sebagai tujuan akhir pembangunan. Ekonomi hanyalah satu pilar dari sebuah proyek besar membangun peradaban.

Menurut beliau, sebuah peradaban tidak lahir hanya karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Peradaban lahir ketika ilmu pengetahuan berkembang, keadilan ditegakkan, budaya diperkaya, moral dijaga, pemerintahan berjalan amanah, dan ekonomi menjadi sarana untuk memuliakan manusia.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui angka-angka statistik. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah ekonomi tersebut berhasil melahirkan manusia yang lebih berilmu, lebih mandiri, lebih berintegritas, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama.

Pada titik inilah filsafat ekonomi Khamenei menghadirkan perspektif yang menyegarkan. Beliau tidak mengajak dunia meninggalkan pasar, menolak kepemilikan pribadi, atau memusuhi keuntungan. Yang beliau lakukan adalah menggeser orientasi ekonomi. Pasar tetap diperlukan, keuntungan tetap dihargai, inovasi tetap didorong, tetapi semuanya ditempatkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu membangun manusia dan peradaban.

Mungkin inilah kontribusi terbesar filsafat ekonomi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bagi pemikiran ekonomi kontemporer. Ketika banyak teori ekonomi sibuk memperdebatkan bagaimana membagi kekayaan atau memperbesar pertumbuhan, beliau mengajak kita kembali kepada pertanyaan yang hampir terlupakan: untuk apa manusia membangun ekonomi?

Selama pertanyaan ini diabaikan, pertumbuhan mudah berubah menjadi keserakahan, efisiensi menjadi eksploitasi, dan kemajuan material kehilangan arah moralnya. Sebaliknya, ketika ekonomi dipahami sebagai amanah untuk memuliakan manusia dan membangun peradaban, maka kekayaan tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan menjadi jalan menuju masyarakat yang adil, mandiri, bermartabat, dan berkeadaban.

Referensi Utama

Sumber Primer

  1. Khamenei, Ali. An Outline of Islamic Thought in the Qur’an. Islamic Thoughts Foundation.
  2. Khamenei, Ali. Resistance Economy: Policy Statements (dokumen kebijakan resmi).
  3. Khamenei, Ali. Kumpulan pidato resmi di https://english.khamenei.ir (khusus tema Economy, Production, Justice, Knowledge-Based Economy, dan New Islamic Civilization).

Literatur Pendukung

  • Baqir al-Shadr, Iqtisaduna (Our Economics).
  • Murtadha Muthahhari, Society and History.
  • Hamid Algar (ed.), berbagai studi mengenai pemikiran politik dan sosial Revolusi Islam Iran.
  • Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought.
  • Artikel-artikel akademik mengenai Resistance Economy dan pembangunan ekonomi Iran dalam jurnal seperti Digest of Middle East Studies, World Scientific Studies in Political Science, dan publikasi universitas di Iran.
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KAJIAN ISLAMI

‎Syahid

Published

on

By

ChatGPT Image 8 Sep 2026 19.54.07

Oleh: ‎Khusnul Yaqin

‎Syahid adalah anugerah. Tidak semua orang mendapatkannya. Kompetisinya sangat ketat—jika kata “kompetisi” boleh digunakan untuk sebuah jalan yang sepenuhnya berada dalam kemurahan Allah.

‎Syahid bukan semata-mata kematian. Ia justru kehidupan dalam pengertian yang paling hakiki: immortal. Jika kesyahidan dapat dikejar, ia harus dikejar. Jika dapat dipersiapkan, diri harus dipersiapkan. Namun, pada akhirnya, manusia hanya mampu mengetuk pintunya. Allah Yang Maha Pengasihlah yang menentukan siapa yang diizinkan masuk.

‎Di Karbala, kita melihat bagaimana para sahabat Imam Husain a.s. tidak menjadi syuhada secara tiba-tiba. Mereka adalah manusia-manusia yang sejak awal kehidupannya memupuk kecintaan kepada kebenaran. Setiap kesetiaan kecil, setiap keberanian menolak kebatilan, dan setiap pengorbanan untuk membela yang benar seolah menjadi anak tangga yang mengantarkan mereka menuju Asyura.

‎Karena itu, Imam Husain a.s. mengetahui orang-orang yang telah memiliki kesiapan batin untuk menjemput kesyahidan. Dalam perjalanan menuju Karbala, beliau terus mendekati seorang musafir yang kelak akan membantunya. Orang itu pada mulanya selalu berusaha menghindar. Barangkali ia mengetahui bahwa berjumpa dengan Imam Husain berarti berjumpa dengan sebuah pilihan yang tidak ringan: mempertahankan seluruh dunianya atau meninggalkan semuanya demi kebenaran.

‎Namun, setelah Imam Husain a.s. berbicara kepadanya—setelah tabir dunia disingkapkan dan makna kesyahidan diterangkan—orang itu berubah. Ia meninggalkan dunianya. Ia memilih bergabung bersama Al-Husain. Ia tidak lagi bertanya berapa lama akan hidup, tetapi untuk apa hidup yang masih tersisa.

‎Di situlah kita memahami bahwa syahid adalah anugerah yang mahal. Bukan karena Allah membatasi kasih sayang-Nya, melainkan karena tidak semua manusia bersedia menyiapkan dirinya. Banyak orang ingin memperoleh kemuliaan seorang syahid, tetapi belum tentu bersedia menjalani kehidupan seorang calon syahid: mencintai kebenaran, melawan kezaliman, menundukkan ego, meninggalkan kenyamanan, dan tidak memperjualbelikan keyakinan.

‎Al-Qur’an menegaskan:

‎وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

‎“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhannya dan memperoleh rezeki.”
‎(QS Ali ‘Imran [3]: 169)

‎Perhatikanlah kalimatnya: وَلَا تَحْسَبَنَّ—jangan sekali-kali engkau mengira. Bukan sekadar “jangan berkata”. Bahkan prasangka bahwa mereka telah mati pun dibantah oleh Allah.

‎Tidak. Mereka tidak mati.

‎بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

‎Mereka hidup di sisi Tuhannya. Mereka mendapatkan rezeki. Itulah immortal dalam pengertian yang sesungguhnya. Tubuh mereka mungkin telah meninggalkan alam materi, tetapi keberadaan mereka tidak berhenti. Dalam perenungan spiritual, kehidupan mereka melampaui batas-batas yang kita kenal: alam materi, alam barzakh, dan alam-alam lain yang hanya diketahui oleh Allah. Mereka telah memasuki kehidupan yang tidak lagi dapat dijangkau oleh ukuran biologis manusia.

‎Lalu, apakah yang masih dapat diancamkan kepada orang seperti itu?

‎Ancaman bekerja dengan cara menanamkan ketakutan: takut kehilangan jabatan, harta, rumah, keluarga, kebebasan, bahkan kehidupan. Akan tetapi, pada diri seseorang yang telah dianugerahi kesiapan menuju syahid, ancaman itu kehilangan tempat untuk tumbuh. Apa yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti justru mempertebal kerinduannya. Apa yang dimaksudkan untuk membuatnya mundur justru mempercepat langkahnya.

‎Ancaman akhirnya menjadi nihil.

‎Hari ini kita melihat Amerika melancarkan berbagai bentuk tekanan terhadap Iran: verbal, ekonomi, politik, sosial, fisik, dan bentuk-bentuk lainnya. Akan tetapi, Iran tidak serta-merta mati atau hancur berantakan. Tekanan itu justru menghidupkan kembali kesadaran yang telah lama tumbuh dalam sejarahnya: bahwa kehidupan tidak selesai oleh kematian dan perjuangan tidak berhenti ketika seorang pejuang gugur.

‎بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

‎Di Iran, antara mereka yang telah syahid dan mereka yang sedang mempersiapkan diri menuju kesyahidan seolah terdapat konektivitas spiritual yang sangat kuat. Yang telah gugur tidak dipandang sebagai masa lalu. Mereka tetap hadir dalam ingatan, doa, keberanian, dan arah perjuangan orang-orang yang masih hidup. Darah para syuhada tidak membeku di tanah. Ia mengalir menjadi kesadaran.

‎Mungkin itulah yang tidak dipahami oleh para pengancam. Mereka menghitung jumlah senjata, kekuatan ekonomi, jaringan politik, dan besarnya sanksi. Mereka menghitung semuanya—kecuali satu: manusia yang tidak lagi takut mati karena telah menemukan alasan yang benar untuk hidup.

‎Orang seperti itu tidak bisa dikalahkan.

‎Ancaman terhadap orang yang telah mengenal syahid bukan hanya kehilangan kekuatannya. Ancaman itu dapat berbalik kepada orang yang mengucapkannya. Sebab, ketika yang diancam tidak lagi takut, seluruh bangunan kekuasaan si pengancam mulai kehilangan wibawa. Senjatanya masih ada, tetapi taringnya telah tanggal. Suaranya masih keras, tetapi gema ketakutannya kembali menghantam dirinya sendiri.

‎Pada akhirnya, yang menghancurkan seorang pengancam bukan semata-mata kekuatan lawannya. Ia dihancurkan oleh kesombongannya sendiri: oleh keyakinannya bahwa setiap manusia dapat ditundukkan dengan rasa takut.

‎Karbala telah membantah keyakinan itu.

‎Imam Husain a.s. dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa ada manusia yang tidak dapat dibeli, tidak dapat ditakut-takuti, dan tidak dapat dikalahkan oleh kematian. Sebab, bagi mereka, kematian di jalan Allah bukanlah akhir kehidupan. Ia justru adalah pintu menuju kehidupan yang lebih tinggi.

‎Syahid memang anugerah. Kita tidak dapat mengklaimnya. Kita tidak berhak merasa telah pantas menerimanya. Kita hanya dapat mempersiapkan diri: mencintai kebenaran, membela mereka yang tertindas, membersihkan hati, dan tidak berkompromi dengan kezaliman.

‎Selebihnya adalah rahasia kasih sayang Allah.

‎Barangkali pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: “Apakah saya akan mati sebagai syahid?”

‎Pertanyaannya justru lebih senyap dan lebih menggetarkan: “Sudahkah saya hidup sebagaimana seseorang yang pantas dianugerahi kesyahidan?”

Continue Reading

OPINI

Setan Besar Mengajar Perdamaian di Kampus

Published

on

By

Kampus dan Amrerika Israel

Oleh: Iskandar Mateus Maubere

‎Ada ironi yang kadang-kadang terlalu sempurna untuk disebut ironi. Ia seperti lelucon yang kehilangan kemampuan membuat kita tertawa.

‎Seseorang menulis di Twitter: Iran kini menjadi salah satu negara yang paling dikagumi di dunia. Pada saat yang sama, Israel menjadi negara yang paling dibenci, dan Amerika menyusul di nomor dua.

‎Mungkin sebuah survei bisa diperdebatkan. Angka bisa diperiksa. Metode bisa ditanyakan. Tetapi ada sesuatu yang lebih panjang daripada angka: ingatan manusia.

‎Dan ingatan itu rupanya sedang menumpuk.

‎Orang mengingat Palestina. Orang mengingat Israel. Orang mengingat sebuah negara Zionis yang sejak berdirinya terus menjadi sumber kerusakan di Timur Tengah, dan jejaknya bahkan melampaui Timur Tengah.

‎Lalu orang mengingat Amerika.

‎Amerika berada di belakang Israel, membackup hampir seluruh tindakannya. Tetapi Amerika juga mempunyai daftar perbuatannya sendiri. Hiroshima dan Nagasaki belum hilang dari sejarah. Vietnam belum hilang. Irak belum hilang.

‎Dunia masih ingat bagaimana Irak diserang dengan cerita tentang senjata pemusnah massal. Perang datang. Negara dihancurkan. Saddam jatuh. Tetapi senjata pemusnah massal yang menjadi alasan itu ternyata tidak terbukti.

‎Belakangan kita menyaksikan Maduro diculik. Kita juga menyaksikan bagaimana Amerika bertindak terhadap Iran, bahkan sampai membunuh pemimpin spiritual tanpa sandaran hukum internasional yang disepakati.

‎Semua itu mengendap.

‎Sejarah ternyata mempunyai memori. Mungkin ia lambat, tetapi ia tidak selalu pelupa.

‎Karena itu, kalau hari ini masyarakat dunia kemudian melihat Amerika dan Israel sebagai negara yang terus-menerus membuat keonaran, sesungguhnya penilaian itu tidak lahir kemarin sore. Ia merupakan akumulasi pengalaman panjang.

‎Yang menarik justru terjadi di sini, di negeri kita.

‎Beberapa universitas Indonesia masih memandang Amerika seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Bahkan ada universitas yang membuat kerja sama dengan Amerika dalam perkara perdamaian agama dan perdamaian dunia.

‎Di sinilah kita bertemu sebuah absurditas.

‎Bayangkan: kita mendirikan laboratorium perdamaian bersama sebuah negara yang politik luar negerinya ugal-ugalan.

‎Mungkin besok kita perlu belajar kesederhanaan kepada orang yang gemar bermewah-mewah. Atau belajar menjaga kambing kepada harimau. Tentu saja harimau mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang kambing.

‎Amerika mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang perdamaian, terutama karena ia berkali-kali berurusan dengan perang.

‎Kalau hendak menghabisi sebuah negara, ia lakukan. Kalau hendak mengembargo, ia lakukan. Kalau hendak mengambil presidennya, ia lakukan. Kalau hendak membunuh pemimpin spiritual suatu negara, ia lakukan. Hukum internasional seperti baru dicari setelah tindakan selesai dilakukan.

‎Lalu kita mengundangnya untuk berbicara tentang perdamaian.

‎Barangkali masalahnya bukan Amerika.

‎Masalahnya justru ada pada cara berpikir sebagian kaum intelektual kita.

‎Universitas seharusnya menjadi tempat orang mempertanyakan kekuasaan, bukan tempat kekuasaan memperoleh kosmetik akademik. Kampus semestinya bertanya: perdamaian macam apakah yang sedang kita pelajari? Perdamaian menurut siapa? Dan siapa yang mempunyai hak menentukan bahwa sebuah bom disebut keamanan, sebuah embargo disebut diplomasi, dan penghancuran sebuah negeri disebut penegakan ketertiban?

‎Ada sesuatu yang kacau ketika kaum intelektual kehilangan keberanian untuk membaca sejarah karena terlalu terpesona kepada kekuasaan.

‎Amerika masih dibayangkan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Amerika masih dipandang sebagai negara yang baik-baik saja. Nama besarnya, universitasnya, teknologinya, uangnya, dan jaringan internasionalnya membuat kita kadang-kadang lupa memeriksa apa yang dilakukan politik luar negerinya.

‎Kita terpukau kepada lampu di ruang tamu dan lupa melihat apa yang berlangsung di halaman belakang.

‎Imam Khomeini sejak lama menggunakan istilah yang keras untuk Amerika: Setan Besar.

‎Ungkapan itu bukan bahasa diplomasi. Memang bukan itu maksudnya. Ia merupakan sebuah cara untuk menunjukkan watak kekuasaan yang merasa mempunyai hak menentukan nasib bangsa lain: siapa boleh hidup tenang, siapa harus diembargo, siapa harus diserang, dan siapa pemimpinnya yang boleh disingkirkan.

‎Maka menjadi ganjil apabila universitas, tempat akal sehat seharusnya dipelihara, justru tidak cukup kritis terhadap kenyataan itu.

‎Lebih ganjil lagi jika kerja sama itu diberi nama: perdamaian.

‎Sebab perdamaian bukan seminar. Perdamaian bukan papan nama laboratorium. Perdamaian juga bukan foto bersama setelah penandatanganan memorandum kerja sama.

‎Perdamaian pertama-tama adalah keberanian untuk tidak menindas manusia lain.

‎Dan mungkin karena itulah pernyataan Imam Khomeini seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi universitas-universitas di seluruh dunia: jangan sampai institusi yang dibangun untuk mencari kebenaran justru bekerja sama dengan kekuatan yang sejarah politik luar negerinya dipenuhi penindasan.

‎Ada saatnya sebuah universitas harus memilih.

‎Bukan antara Timur dan Barat.

‎Bukan antara Iran dan Amerika.

‎Tetapi antara kekuasaan dan nurani.

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

‎Imajinasi Perlawanan Menurut Ahlul Bait

Published

on

By

perlawanan ahlulbait

Oleh: ‎Khusnul Yaqin

‎Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan, menurut Einstein, terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul dunia dan segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui.

‎Barangkali sebuah peradaban memang tidak hanya dibangun oleh apa yang diketahui manusia. Ia juga dibangun oleh apa yang berani dibayangkannya.

‎Imajinasi mendahului kenyataan. Manusia membayangkan terbang sebelum pesawat dibuat. Ia membayangkan berjalan di bulan jauh sebelum jejak kaki manusia tertinggal di sana. Dan manusia membayangkan sebuah dunia yang adil, mungkin jauh sebelum dunia bersedia menjadi adil.

‎Dalam tradisi Ahlul Bait, ada imajinasi semacam itu: imajinasi perlawanan terhadap kezaliman.

‎Ada satu perbedaan yang cukup mendasar antara cara tradisi Ahlul Bait memandang kekuasaan dan cara sebagian tradisi politik membaca ketaatan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, kekuasaan tidak dengan sendirinya memperoleh kesucian hanya karena seseorang berhasil menduduki singgasana. Kekuasaan harus ditimbang dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri: keadilan.

‎Karena itu, dalam teologi Imamiyah, Imamah bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah kepemimpinan yang berakar pada Rasulullah dan diteruskan melalui Ahlul Bait. Para Imam diyakini memiliki ismah, yakni keterpeliharaan dari dosa dan kezaliman.

‎Dari sini sejarah politik Islam dibaca dengan cara yang berbeda. Keberhasilan merebut kekuasaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memperoleh legitimasi moral untuk memimpin.

‎Sejarah memang mempunyai ironi yang getir. Mereka yang menang dapat menulis hukum tentang kewajiban menaati pemenang. Mereka yang menguasai mimbar dapat menentukan bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang kekuasaan. Pada suatu masa, stabilitas bahkan dapat diberi nama “ketaatan”, sementara perlawanan terhadap kezaliman dinamai “fitnah”.

‎Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang sulit dibungkam: jika setiap penguasa harus ditaati hanya karena ia telah menjadi penguasa, untuk apakah Husain meninggalkan Madinah dan akhirnya berdiri berhadapan dengan kekuasaan Yazid?

‎Di sinilah Asyura memperoleh makna yang melampaui sebuah peristiwa sejarah.

‎Husain tidak memperoleh kerajaan. Ia bahkan kehilangan hampir segala sesuatu yang secara duniawi dapat disebut kemenangan. Tetapi justru dari kekalahan itulah muncul sebuah kemenangan lain: manusia diperlihatkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada keselamatan pribadi, yakni menolak memberikan legitimasi moral kepada kezaliman.

‎Menariknya, imajinasi perlawanan dalam tradisi Ahlul Bait tidak berhenti pada kehidupan manusia.

‎Dalam Ziyarat Asyura terdapat doa:

‎واساله ان يبلغني المقام المحمود لكم عند الله وان يرزقني طلب ثاري مع امام هدى ظاهر ناطق بالحق منكم

‎Artinya:

‎”Aku memohon kepada Nya agar menyampaikanku kepada kedudukan terpuji kalian di sisi Allah dan menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntut tegaknya keadilan bersama seorang Imam pemberi petunjuk dari kalian, yang tampil dan menyuarakan kebenaran.”

‎Tetapi imajinasi itu bergerak lebih jauh.

‎Seorang pengikut Ahlul Bait bahkan diajarkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa ketika Imam Mahdi hadir, dirinya sudah tidak berada di dunia. Tubuhnya telah dikuburkan. Namanya mungkin sudah dilupakan manusia. Generasi demi generasi telah berganti.

‎Namun keberpihakannya kepada keadilan belum selesai.

‎Dalam Dua al Ahd terdapat ungkapan yang sangat kuat dan indah:

‎اللهم ان حال بيني وبينه الموت الذي جعلته على عبادك حتما مقضيا فاخرجني من قبري مؤتزرا كفني شاهرا سيفي مجردا قناتي ملبيا دعوة الداعي في الحاضر والبادي

‎Artinya:

‎”Ya Allah, apabila antara aku dan dia terhalang oleh kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai kepastian bagi hamba hamba Mu, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan kain kafanku terikat pada tubuhku, pedangku terhunus, tombakku terangkat, sambil memenuhi panggilan sang penyeru, baik di kota maupun di padang terbuka.”

‎Betapa jauh imajinasi itu bergerak.

‎Kubur, dalam doa tersebut, bukan batas terakhir keberpihakan.

‎Kematian bahkan tidak cukup kuat untuk membuat seseorang berkata: urusan keadilan bukan lagi urusanku.

‎Tentu saja bahasa pedang dan tombak dalam doa itu berada dalam konteks kehadiran Imam Mahdi. Ia bukan pemberian izin kepada setiap orang untuk menentukan sendiri siapa yang boleh diperangi, apalagi pembenaran bagi kekerasan yang lahir dari kemarahan pribadi. Yang menarik justru struktur kesadarannya: seorang manusia diminta memunyai keberpihakan kepada keadilan yang bahkan lebih panjang daripada usianya sendiri.

‎Di sini kita menemukan sesuatu yang mungkin jarang dibicarakan ketika membahas perlawanan.

‎Perlawanan bukan pertama tama persoalan senjata.

‎Ia adalah persoalan imajinasi.

‎Sebelum sebuah kezaliman dapat dilawan, seseorang harus terlebih dahulu mampu membayangkan dunia tanpa kezaliman. Sebelum manusia berani mengatakan tidak kepada penindasan, ia harus percaya bahwa keadaan yang sedang berlangsung bukan satu satunya dunia yang mungkin.

‎Karena itu Karbala bukan sekadar tempat.

‎Karbala adalah sebuah kemungkinan.

‎Kemungkinan bahwa seseorang dapat kalah tetapi tidak menyerah. Dapat terbunuh tetapi tidak ditundukkan. Dapat kehilangan tubuhnya tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang hidup selama berabad abad.

‎Dan Imam Mahdi, dalam imajinasi Ahlul Bait, menjadi horizon dari kemungkinan itu: sebuah dunia ketika keadilan tidak lagi hanya menjadi doa orang orang yang kalah.

‎Mungkin itulah sebabnya menunggu Imam Mahdi tidak selayaknya dipahami sebagai menunggu dengan pasif.

‎Menunggu adalah mempersiapkan keberpihakan.

‎Hari ini mungkin kita tidak membawa pedang. Bentuk kezaliman pun tidak selalu datang dengan pasukan berkuda. Ia dapat hadir dalam hukum yang tidak adil, kekuasaan yang sewenang wenang, kemiskinan yang sengaja dipelihara, suara yang dibungkam, atau manusia yang diperlakukan seolah tidak mempunyai martabat.

‎Maka imajinasi perlawanan Ahlul Bait menjadi sangat sederhana sekaligus sangat radikal: jangan pernah berdamai dengan kezaliman hanya karena kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Jangan  juga bertekuk lutut di depan penguasa penindas yang hanya karena kamu sedirian. Imajinasi perlawanan tetap harus diwujudkan.

‎Dan doa itu membawa gagasan tersebut sampai ke batas yang hampir tak terbayangkan.

‎Jika aku masih hidup ketika keadilan memanggil, aku ingin berada di sana.

‎Jika aku telah berada di dalam kubur ketika Imam Mahdi datang, dan Allah menghendaki aku kembali, keluarkan aku dari kuburku.

‎Bukan karena aku mencintai peperangan.

‎Bukan karena aku menginginkan kekuasaan.

‎Tetapi karena aku tidak ingin menjadi penonton ketika keadilan akhirnya datang.

‎Einstein benar bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan memberi tahu kita bagaimana dunia ini bekerja.

‎Tetapi imajinasi membuat manusia bertanya:

‎haruskah dunia selalu seperti ini?

‎Karbala menjawabnya dengan darah.

‎Dan doa kepada Imam Mahdi menjawabnya dengan sebuah harapan yang bahkan tidak mau dikalahkan oleh kematian.

Continue Reading

Trending