OPINI
Memaknai Arbain: Spiritualitas, Solidaritas, dan Perlawanan
Tim Media DPW ABI Sulsel
Arbain adalah peringatan keagamaan umat Syiah yang jatuh pada 40 hari setelah tragedi Karbala. Pada hari ini, lautan manusia dari berbagai penjuru dunia mengalir menuju makam Imam Husain bin Ali as di Karbala. Mereka berkumpul dalam sebuah ziarah akbar atas nama cinta tanpa pamrih kepada cucu Nabi Muhammad Saw tersebut. Perjalanan ini tentu tak mudah.
Ratusan kilometer harus dilalui oleh puluhan juta jiwa menuju tanah suci, tempat darah kesyahidan tertumpah dan bara cinta yang tak pernah padam, bahkan setelah lebih dari 1300 tahun berlalu sejak cucu Nabi itu gugur di padang Karbala. Ziarah panjang itu adalah laku batin yang menandai keterikatan eksistensial pada Jalan Husaini. Olehnya itu, ia mengandung makna spiritualitas yang dalam dan menyentuh dimensi paling hakiki dari keberagamaan.
Seperti yang diungkapkan oleh Ayatullah Reza Ramezani, ziarah, khususnya ziarah Arbain, bukan sekadar tradisi keagamaan, namun juga laku tauhid. Dalam ajaran Ahlulbait, ziarah mengandung pelajaran besar tentang keesaan Tuhan, kehidupan setelah mati, dan spiritualitas yang bertanggung jawab. Sayangnya, tidak sedikit yang mencemooh aktivitas ziarah karena dianggap sebagai bentuk syirik.
Padahal, menurut Ayatullah Ramezani, justru sebaliknya: ziarah adalah perlawanan terhadap syirik. Karena mengarahkan manusia kepada Tuhan melalui keteladanan Imam Ma’sum. Sebab, seorang peziarah idealnya mencerminkan sosok yang diziarahi dalam keyakinan dan perilaku. Dengan begitu, ziarah menjadi proses transformasi diri menuju kesempurnaan spiritual dan moral. Arbain, dalam konteks ini, adalah manifestasi kecintaan kepada Imam Husain yang membangkitkan keberanian, kesetiaan, dan semangat pengorbanan.
Spiritualitas dalam ziarah bukanlah spiritualitas yang melarikan diri dari tanggung jawab seperti dalam sebagian tradisi Timur atau spiritualitas sekuler ala Barat. Sebaliknya, ini adalah spiritualitas yang rasional, epik, penuh semangat perjuangan, dan berlandaskan wahyu. Ziarah menjadi sarana pembentukan peradaban Islam yang luhur yang berisi kebebasan, kehormatan, dan keadilan.
Namun, Arbain tentu tak cukup hanya dimaknai sebagai laku spiritualitas. Ia juga adalah jalan Al-Husain yang menolak tunduk pada tirani, yang menolak dijinakkan oleh logika kekuasaan yang menindas. Itulah sebabnya, Arbain dapat— dan seharusnya bisa— menjelma menjadi ikrar perlawanan yang paling lantang terhadap segala bentuk kezaliman. Karena itu, kita berharap dentum langkah para peziarah yang membanjiri Karbala di musim Arbain tahun ini menggema ke seluruh penjuru dunia. Sebab inilah pertemuan terbesar umat manusia di zaman kontemporer.
Sebuah momen agung yang layak dijadikan penegasan bagi perlawanan terhadap kezaliman Zionisme maupun berbagai bentuk kolonialisme lainnya, sekaligus menjadi seruan global untuk membela Palestina dan siapa pun kaum mustadhafin yang tertindas. Dalam lanskap dunia hari ini, Arbain dapat membangkitkan kembali semangat melawan kolonialisme Barat yang kini menyaru dalam wajah demokrasi semu, imperialisme budaya, dan kekerasan struktural. Di tengah arus dominasi itulah, Husainisme dapat tampil sebagai bahasa moral yang kokoh.
Bahwa spirit Al-Husain dapat menjadi simbol perlawanan yang menolak tunduk pada kekuatan adidaya seperti Amerika dan Israel, yang terus menindas bangsa-bangsa lemah, terutama rakyat Palestina. Maka, ziarah ke Karbala tidak harus berhenti sebagai ritus spiritual belaka, namun juga deklarasi politik tanpa suara: bahwa umat yang mencintai Al-Husain tidak akan pernah tunduk pada logika kekuasaan yang zalim.
Selain itu, Arbain juga adalah momentum yang sangat indah saat melihat puluhan juta orang berjalan dengan harapan dan cinta. Dan dalam Arbain, harapan dan cinta itu menemukan bentuknya: ratusan kilometer dilalui, tubuh didera lelah, namun langkah tak pernah surut. Mereka benar-benar meneladani Al-Husain dengan pengorbanan nyata demi keberkahan yang tak ternilai harganya. Di sepanjang jalan menuju Karbala, kita juga akan menjumpai para pelayan peziarah: jiwa-jiwa tulus yang berdiri tanpa bayaran dan tanpa mengharap balasan.
Mereka menyambut siapa pun yang lewat dengan senyum dan suguhan, sebagai bentuk pengabdian suci. Dalam ritus Arbain yang terus berlangsung dari tahun ke tahun, jutaan peziarah Syiah melakukan perjalanan panjang menuju makam Al-Husain. Namun, mereka tidak sendiri. Peziarah juga datang dari kalangan Ahlusunnah, bahkan dari komunitas non-Muslim di berbagai penjuru dunia. Di momen inilah, para pelayan merasa terhormat dapat menyuguhkan makanan dan minuman kepada siapa saja, tanpa membedakan Syiah, Sunni, atau non-Muslim.
Dalam semangat inilah, Arbain menghapus semua sekat bangsa, kasta, agama, dan warna kulit. Semuanya larut dalam satu identitas: pecinta Al-Husain. Maka tak heran jika Arbain mampu melampaui sekat-sekat identitas, menjelma menjadi ruang ukhuwah insaniyah yang tulus, serta spiritualitas yang tak mengenal paspor.
Menurut Seyyed Masoom Bagherpour, salah satu tujuan penting dari Arbain adalah menenangkan hati dan memperkuat semangat persaudaraan di antara masyarakat, bahkan seluruh umat manusia yang mencintai kebebasan. Cinta kepada Imam Husain menghimpun berbagai kepentingan makhluk dalam satu arah, mengubah keberagaman menjadi kesatuan, dan perbedaan menjadi persahabatan.
Dalam arti ini, Arbain sejatinya membawa transformasi sosial. Masyarakat yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba berubah menjadi komunitas cinta dan pelayanan. Mereka saling membantu, saling menyemangati, dan saling menguatkan. Inilah sebabnya, cinta kepada Al-Husain menciptakan sebuah keajaiban moral yang tak bisa ditakar dengan angka atau logika statistik. Ia hadir dalam bentuk keramahan yang melimpah, toleransi yang menembus batas, dan cinta yang mengalir bening: tanpa syarat dan tanpa pamrih.
OPINI
Setan Besar Mengajar Perdamaian di Kampus
Oleh: Iskandar Mateus Maubere
Ada ironi yang kadang-kadang terlalu sempurna untuk disebut ironi. Ia seperti lelucon yang kehilangan kemampuan membuat kita tertawa.
Seseorang menulis di Twitter: Iran kini menjadi salah satu negara yang paling dikagumi di dunia. Pada saat yang sama, Israel menjadi negara yang paling dibenci, dan Amerika menyusul di nomor dua.
Mungkin sebuah survei bisa diperdebatkan. Angka bisa diperiksa. Metode bisa ditanyakan. Tetapi ada sesuatu yang lebih panjang daripada angka: ingatan manusia.
Dan ingatan itu rupanya sedang menumpuk.
Orang mengingat Palestina. Orang mengingat Israel. Orang mengingat sebuah negara Zionis yang sejak berdirinya terus menjadi sumber kerusakan di Timur Tengah, dan jejaknya bahkan melampaui Timur Tengah.
Lalu orang mengingat Amerika.
Amerika berada di belakang Israel, membackup hampir seluruh tindakannya. Tetapi Amerika juga mempunyai daftar perbuatannya sendiri. Hiroshima dan Nagasaki belum hilang dari sejarah. Vietnam belum hilang. Irak belum hilang.
Dunia masih ingat bagaimana Irak diserang dengan cerita tentang senjata pemusnah massal. Perang datang. Negara dihancurkan. Saddam jatuh. Tetapi senjata pemusnah massal yang menjadi alasan itu ternyata tidak terbukti.
Belakangan kita menyaksikan Maduro diculik. Kita juga menyaksikan bagaimana Amerika bertindak terhadap Iran, bahkan sampai membunuh pemimpin spiritual tanpa sandaran hukum internasional yang disepakati.
Semua itu mengendap.
Sejarah ternyata mempunyai memori. Mungkin ia lambat, tetapi ia tidak selalu pelupa.
Karena itu, kalau hari ini masyarakat dunia kemudian melihat Amerika dan Israel sebagai negara yang terus-menerus membuat keonaran, sesungguhnya penilaian itu tidak lahir kemarin sore. Ia merupakan akumulasi pengalaman panjang.
Yang menarik justru terjadi di sini, di negeri kita.
Beberapa universitas Indonesia masih memandang Amerika seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Bahkan ada universitas yang membuat kerja sama dengan Amerika dalam perkara perdamaian agama dan perdamaian dunia.
Di sinilah kita bertemu sebuah absurditas.
Bayangkan: kita mendirikan laboratorium perdamaian bersama sebuah negara yang politik luar negerinya ugal-ugalan.
Mungkin besok kita perlu belajar kesederhanaan kepada orang yang gemar bermewah-mewah. Atau belajar menjaga kambing kepada harimau. Tentu saja harimau mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang kambing.
Amerika mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang perdamaian, terutama karena ia berkali-kali berurusan dengan perang.
Kalau hendak menghabisi sebuah negara, ia lakukan. Kalau hendak mengembargo, ia lakukan. Kalau hendak mengambil presidennya, ia lakukan. Kalau hendak membunuh pemimpin spiritual suatu negara, ia lakukan. Hukum internasional seperti baru dicari setelah tindakan selesai dilakukan.
Lalu kita mengundangnya untuk berbicara tentang perdamaian.
Barangkali masalahnya bukan Amerika.
Masalahnya justru ada pada cara berpikir sebagian kaum intelektual kita.
Universitas seharusnya menjadi tempat orang mempertanyakan kekuasaan, bukan tempat kekuasaan memperoleh kosmetik akademik. Kampus semestinya bertanya: perdamaian macam apakah yang sedang kita pelajari? Perdamaian menurut siapa? Dan siapa yang mempunyai hak menentukan bahwa sebuah bom disebut keamanan, sebuah embargo disebut diplomasi, dan penghancuran sebuah negeri disebut penegakan ketertiban?
Ada sesuatu yang kacau ketika kaum intelektual kehilangan keberanian untuk membaca sejarah karena terlalu terpesona kepada kekuasaan.
Amerika masih dibayangkan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Amerika masih dipandang sebagai negara yang baik-baik saja. Nama besarnya, universitasnya, teknologinya, uangnya, dan jaringan internasionalnya membuat kita kadang-kadang lupa memeriksa apa yang dilakukan politik luar negerinya.
Kita terpukau kepada lampu di ruang tamu dan lupa melihat apa yang berlangsung di halaman belakang.
Imam Khomeini sejak lama menggunakan istilah yang keras untuk Amerika: Setan Besar.
Ungkapan itu bukan bahasa diplomasi. Memang bukan itu maksudnya. Ia merupakan sebuah cara untuk menunjukkan watak kekuasaan yang merasa mempunyai hak menentukan nasib bangsa lain: siapa boleh hidup tenang, siapa harus diembargo, siapa harus diserang, dan siapa pemimpinnya yang boleh disingkirkan.
Maka menjadi ganjil apabila universitas, tempat akal sehat seharusnya dipelihara, justru tidak cukup kritis terhadap kenyataan itu.
Lebih ganjil lagi jika kerja sama itu diberi nama: perdamaian.
Sebab perdamaian bukan seminar. Perdamaian bukan papan nama laboratorium. Perdamaian juga bukan foto bersama setelah penandatanganan memorandum kerja sama.
Perdamaian pertama-tama adalah keberanian untuk tidak menindas manusia lain.
Dan mungkin karena itulah pernyataan Imam Khomeini seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi universitas-universitas di seluruh dunia: jangan sampai institusi yang dibangun untuk mencari kebenaran justru bekerja sama dengan kekuatan yang sejarah politik luar negerinya dipenuhi penindasan.
Ada saatnya sebuah universitas harus memilih.
Bukan antara Timur dan Barat.
Bukan antara Iran dan Amerika.
Tetapi antara kekuasaan dan nurani.
KAJIAN ISLAMI
Imajinasi Perlawanan Menurut Ahlul Bait
Oleh: Khusnul Yaqin
Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan, menurut Einstein, terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul dunia dan segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui.
Barangkali sebuah peradaban memang tidak hanya dibangun oleh apa yang diketahui manusia. Ia juga dibangun oleh apa yang berani dibayangkannya.
Imajinasi mendahului kenyataan. Manusia membayangkan terbang sebelum pesawat dibuat. Ia membayangkan berjalan di bulan jauh sebelum jejak kaki manusia tertinggal di sana. Dan manusia membayangkan sebuah dunia yang adil, mungkin jauh sebelum dunia bersedia menjadi adil.
Dalam tradisi Ahlul Bait, ada imajinasi semacam itu: imajinasi perlawanan terhadap kezaliman.
Ada satu perbedaan yang cukup mendasar antara cara tradisi Ahlul Bait memandang kekuasaan dan cara sebagian tradisi politik membaca ketaatan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, kekuasaan tidak dengan sendirinya memperoleh kesucian hanya karena seseorang berhasil menduduki singgasana. Kekuasaan harus ditimbang dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri: keadilan.
Karena itu, dalam teologi Imamiyah, Imamah bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah kepemimpinan yang berakar pada Rasulullah dan diteruskan melalui Ahlul Bait. Para Imam diyakini memiliki ismah, yakni keterpeliharaan dari dosa dan kezaliman.
Dari sini sejarah politik Islam dibaca dengan cara yang berbeda. Keberhasilan merebut kekuasaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memperoleh legitimasi moral untuk memimpin.
Sejarah memang mempunyai ironi yang getir. Mereka yang menang dapat menulis hukum tentang kewajiban menaati pemenang. Mereka yang menguasai mimbar dapat menentukan bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang kekuasaan. Pada suatu masa, stabilitas bahkan dapat diberi nama “ketaatan”, sementara perlawanan terhadap kezaliman dinamai “fitnah”.
Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang sulit dibungkam: jika setiap penguasa harus ditaati hanya karena ia telah menjadi penguasa, untuk apakah Husain meninggalkan Madinah dan akhirnya berdiri berhadapan dengan kekuasaan Yazid?
Di sinilah Asyura memperoleh makna yang melampaui sebuah peristiwa sejarah.
Husain tidak memperoleh kerajaan. Ia bahkan kehilangan hampir segala sesuatu yang secara duniawi dapat disebut kemenangan. Tetapi justru dari kekalahan itulah muncul sebuah kemenangan lain: manusia diperlihatkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada keselamatan pribadi, yakni menolak memberikan legitimasi moral kepada kezaliman.
Menariknya, imajinasi perlawanan dalam tradisi Ahlul Bait tidak berhenti pada kehidupan manusia.
Dalam Ziyarat Asyura terdapat doa:
واساله ان يبلغني المقام المحمود لكم عند الله وان يرزقني طلب ثاري مع امام هدى ظاهر ناطق بالحق منكم
Artinya:
”Aku memohon kepada Nya agar menyampaikanku kepada kedudukan terpuji kalian di sisi Allah dan menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntut tegaknya keadilan bersama seorang Imam pemberi petunjuk dari kalian, yang tampil dan menyuarakan kebenaran.”
Tetapi imajinasi itu bergerak lebih jauh.
Seorang pengikut Ahlul Bait bahkan diajarkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa ketika Imam Mahdi hadir, dirinya sudah tidak berada di dunia. Tubuhnya telah dikuburkan. Namanya mungkin sudah dilupakan manusia. Generasi demi generasi telah berganti.
Namun keberpihakannya kepada keadilan belum selesai.
Dalam Dua al Ahd terdapat ungkapan yang sangat kuat dan indah:
اللهم ان حال بيني وبينه الموت الذي جعلته على عبادك حتما مقضيا فاخرجني من قبري مؤتزرا كفني شاهرا سيفي مجردا قناتي ملبيا دعوة الداعي في الحاضر والبادي
Artinya:
”Ya Allah, apabila antara aku dan dia terhalang oleh kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai kepastian bagi hamba hamba Mu, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan kain kafanku terikat pada tubuhku, pedangku terhunus, tombakku terangkat, sambil memenuhi panggilan sang penyeru, baik di kota maupun di padang terbuka.”
Betapa jauh imajinasi itu bergerak.
Kubur, dalam doa tersebut, bukan batas terakhir keberpihakan.
Kematian bahkan tidak cukup kuat untuk membuat seseorang berkata: urusan keadilan bukan lagi urusanku.
Tentu saja bahasa pedang dan tombak dalam doa itu berada dalam konteks kehadiran Imam Mahdi. Ia bukan pemberian izin kepada setiap orang untuk menentukan sendiri siapa yang boleh diperangi, apalagi pembenaran bagi kekerasan yang lahir dari kemarahan pribadi. Yang menarik justru struktur kesadarannya: seorang manusia diminta memunyai keberpihakan kepada keadilan yang bahkan lebih panjang daripada usianya sendiri.
Di sini kita menemukan sesuatu yang mungkin jarang dibicarakan ketika membahas perlawanan.
Perlawanan bukan pertama tama persoalan senjata.
Ia adalah persoalan imajinasi.
Sebelum sebuah kezaliman dapat dilawan, seseorang harus terlebih dahulu mampu membayangkan dunia tanpa kezaliman. Sebelum manusia berani mengatakan tidak kepada penindasan, ia harus percaya bahwa keadaan yang sedang berlangsung bukan satu satunya dunia yang mungkin.
Karena itu Karbala bukan sekadar tempat.
Karbala adalah sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa seseorang dapat kalah tetapi tidak menyerah. Dapat terbunuh tetapi tidak ditundukkan. Dapat kehilangan tubuhnya tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang hidup selama berabad abad.
Dan Imam Mahdi, dalam imajinasi Ahlul Bait, menjadi horizon dari kemungkinan itu: sebuah dunia ketika keadilan tidak lagi hanya menjadi doa orang orang yang kalah.
Mungkin itulah sebabnya menunggu Imam Mahdi tidak selayaknya dipahami sebagai menunggu dengan pasif.
Menunggu adalah mempersiapkan keberpihakan.
Hari ini mungkin kita tidak membawa pedang. Bentuk kezaliman pun tidak selalu datang dengan pasukan berkuda. Ia dapat hadir dalam hukum yang tidak adil, kekuasaan yang sewenang wenang, kemiskinan yang sengaja dipelihara, suara yang dibungkam, atau manusia yang diperlakukan seolah tidak mempunyai martabat.
Maka imajinasi perlawanan Ahlul Bait menjadi sangat sederhana sekaligus sangat radikal: jangan pernah berdamai dengan kezaliman hanya karena kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Jangan juga bertekuk lutut di depan penguasa penindas yang hanya karena kamu sedirian. Imajinasi perlawanan tetap harus diwujudkan.
Dan doa itu membawa gagasan tersebut sampai ke batas yang hampir tak terbayangkan.
Jika aku masih hidup ketika keadilan memanggil, aku ingin berada di sana.
Jika aku telah berada di dalam kubur ketika Imam Mahdi datang, dan Allah menghendaki aku kembali, keluarkan aku dari kuburku.
Bukan karena aku mencintai peperangan.
Bukan karena aku menginginkan kekuasaan.
Tetapi karena aku tidak ingin menjadi penonton ketika keadilan akhirnya datang.
Einstein benar bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan memberi tahu kita bagaimana dunia ini bekerja.
Tetapi imajinasi membuat manusia bertanya:
haruskah dunia selalu seperti ini?
Karbala menjawabnya dengan darah.
Dan doa kepada Imam Mahdi menjawabnya dengan sebuah harapan yang bahkan tidak mau dikalahkan oleh kematian.
KAJIAN ISLAMI
Saat Gelombang Menemukan Laut
Oleh: Khusnul Yaqin
Ada sebuah doa yang dimulai dengan permintaan yang ganjil. Ia tak meminta kekayaan. Tak meminta umur panjang. Bahkan tak meminta agar penderitaan segera disingkirkan.
Ia meminta untuk ditenggelamkan.
رب أدخلني في لجة بحر أحديتك وطمطام يم وحدانيتك
Rabbi adkhilni fi lujjati bahri ahadiyyatika wa tamtami yammi wahdaniyyatika.
“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu dan ke keluasan bergelombang lautan Wahdaniyyah-Mu.”
Kata yang paling menggugah di doa itu adalah adkhilni: masukkanlah aku.
Bukan: ajarilah aku tentang laut. Bukan: tunjukkan kepadaku di mana laut berada.
Tapi: masukkan aku ke dalamnya.
Ada jarak yang jauh antara mengetahui laut dan tenggelam di dalam laut. Kita bisa membaca buku oseanografi, mengetahui salinitas, pH, oksigen, arus, kedalaman, dan pasang surutnya. Tetapi pengetahuan itu tidak membuat tubuh kita basah. Ada saat ketika pengetahuan berhenti menjadi informasi dan berubah menjadi pengalaman.
Mungkin doa itu berbicara tentang saat tersebut.
Dalam metafisika Ibn Arabi, dunia yang kita huni adalah dunia yang banyak. Di sini ada “aku” dan “engkau”, miskin dan kaya, manusia dan pohon, kelahiran dan kematian. Kita memberi nama kepada semuanya agar dunia bisa dimengerti.
Dan nama memang diperlukan.
Tetapi nama juga bisa menjadi hijab.
Sebab ketika kita mengatakan “pohon”, kita mudah mengira pohon selesai sebagai pohon. Ketika kita mengatakan “manusia”, kita mengira manusia berdiri dengan kekuatannya sendiri. Kita melihat benda-benda sebagai pulau-pulau yang terpisah, masing-masing memiliki keberadaannya sendiri.
Ibn Arabi menawarkan cara melihat yang lain.
Alam adalah tajalli.
Ia bukan Tuhan. Tetapi ia juga bukan sesuatu yang mempunyai wujud mandiri di hadapan Tuhan. Pada alam, Nama-Nama Ilahi menampakkan jejaknya.
Kehidupan mengingatkan kita kepada al-Hayy.
Pengetahuan kepada al-Alim.
Kasih sayang kepada al-Rahman.
Keindahan kepada al-Jamil.
Yang banyak itu tidak hilang. Tetapi di balik yang banyak terdapat Yang Satu.
Mungkin karena itu doa tersebut berbicara tentang laut.
Laut mempunyai gelombang yang tak terhitung. Yang satu tinggi, yang lain rendah. Yang satu pecah di karang, yang lain mati perlahan di pasir.
Kita memberi nama kepada setiap gelombang.
Tetapi laut tidak pernah menjadi banyak karena gelombangnya banyak.
Di sinilah Wahdaniyyah dapat dipahami.
Ada Nama-Nama yang berbeda, sifat yang berbeda, dan tajalli yang berbeda. Tetapi al-musamma wahid: Yang dinamai tetap Satu.
Problem manusia bukan karena ia melihat gelombang. Problem bermula ketika ia lupa bahwa gelombang adalah laut.
Kita melihat seorang yang pandai, lalu mengira kepandaian itu sepenuhnya miliknya. Kita melihat seseorang berkuasa, lalu menganggap kekuasaan bersumber dari dirinya. Kita melihat kecantikan, kekayaan, kehidupan, dan keberhasilan–dan berhenti di sana.
Kita terpukau oleh gelombang.
Kita lupa kepada laut.
Maka kalimat “masukkanlah aku ke dalam lautan Wahdaniyyah-Mu” dapat dibaca sebagai permohonan untuk dibebaskan dari cara pandang yang terpecah itu.
Bukan agar keragaman dimusnahkan.
Justru agar keragaman dilihat dalam kesatuan.
Tetapi doa itu membawa kita lebih jauh.
Ia menyebut:
لجة بحر أحديتك
“Kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu.”
Di sini perjalanan menjadi lebih hening.
Dalam tradisi metafisika Ibn Arabi, Ahadiyyah menunjuk kepada keesaan yang begitu mutlak sehingga bahkan diferensiasi Nama-Nama tak lagi dapat menjadi ukuran bagi Dzat.
Kita mengenal Allah sebagai al-Rahman. Tetapi “Yang Maha Pengasih” mengandung sebuah relasi dengan yang menerima kasih.
Kita mengenal-Nya sebagai al-Alim. Tetapi “Yang Maha Mengetahui” menghadirkan relasi dengan yang diketahui.
Kita mengenal-Nya sebagai al-Khaliq. Tetapi “Yang Maha Mencipta” kita pahami dalam relasinya dengan ciptaan.
Pada Ahadiyyah, semua kategori itu mencapai batas.
Bukan karena Nama-Nama Ilahi tidak benar.
Tetapi karena Dzat selalu lebih luas daripada bahasa yang mencoba menangkap-Nya.
Barangkali itulah sebabnya doa menggunakan kata lujjah: kedalaman laut.
Di permukaan, kita masih melihat pantai. Kita masih mengetahui timur dan barat. Kita masih dapat menunjuk: di sana daratan, di sini laut.
Tetapi semakin jauh seseorang masuk ke tengah samudra, garis-garis itu menghilang.
Pada suatu kedalaman, bahkan cahaya mulai berkurang.
Dan mungkin pengetahuan tentang Tuhan juga mempunyai paradoks seperti itu: semakin seseorang mengenal-Nya, semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya tak pernah sanggup mengepung-Nya.
Kita mulai perjalanan dengan banyak kata.
Kita sampai pada kedalaman tertentu dengan keheningan.
Tetapi masih ada satu kata yang belum selesai: aku.
Ketika seseorang berdoa, “Tuhanku, masukkanlah aku,” masih ada dua kutub.
Aku.
Dan Engkau.
Ada yang meminta dan Yang diminta. Ada pencari dan Yang dicari.
Lalu apa yang terjadi ketika perjalanan semakin dalam?
Ibn Arabi berbicara tentang fana.
Istilah ini mudah disalahpahami. Fana bukan berarti manusia berubah menjadi Tuhan. Gelombang tidak menjadi samudra dalam arti bahwa batas ontologis antara Khalik dan makhluk tiba-tiba lenyap.
Yang runtuh adalah sesuatu yang jauh lebih dekat kepada kita:
klaim bahwa “aku” mempunyai keberadaan yang mandiri.
Kita terbiasa mengatakan:
hartaku.
ilmuku.
kekuasaanku.
tubuhku.
bahkan: hidupku.
Kata “ku” itu kecil, tetapi diam-diam ia membangun sebuah kerajaan.
Esoteris Islam datang untuk menggugat kerajaan tersebut.
Aku ada–tetapi keberadaanku bukan dariku.
Aku mengetahui–tetapi kemampuan mengetahui bukan ciptaanku.
Aku hidup–tetapi aku tidak pernah memutuskan sendiri agar jantung pertama kali berdenyut.
Maka perjalanan itu perlahan bergerak:
Aku ada.
Kemudian:
Aku ada karena Allah.
Lebih dalam:
Aku ada dengan Allah–bi Allah.
Dan akhirnya:
Tidak ada kemandirian bagiku.
Yang lenyap bukan manusia.
Yang lenyap adalah kesombongan metafisisnya.
Tetapi perjalanan mistik tidak selesai di sana.
Setelah fana ada baqa.
Sang penyelam kembali ke permukaan.
Dunia masih seperti kemarin. Pasar tetap ramai. Orang masih jatuh cinta dan bertengkar. Ada anak yang lahir pagi ini dan seseorang yang dimakamkan sore nanti.
Gelombang tetap banyak.
Tetapi mata sang musafir telah berubah.
Dahulu ia melihat yang banyak dan mencari Yang Satu di belakangnya.
Kini ia melihat yang banyak tanpa kehilangan Yang Satu.
Ia bisa melihat kasih seorang ibu dan teringat al-Rahman. Melihat kecerdasan seorang ilmuwan dan teringat al-Alim. Melihat bunga yang mekar dan menemukan jejak al-Jamil.
Ia tidak menyembah gelombang.
Tetapi ia juga tidak membenci gelombang.
Sebab melalui gelombang itulah laut memperlihatkan geraknya.
Barangkali inilah paradoks indah yang tersembunyi dalam awal doa Qamus di atas:
Pada awal perjalanan kita melihat banyak wujud dan mencari Yang Satu. Pada akhir perjalanan kita tetap melihat yang banyak, tetapi tidak lagi melihat satu pun sebagai wujud yang berdiri sendiri dari-Nya.
Maka ketika seseorang berbisik,
رب أدخلني في لجة بحر أحديتك
“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu,”
ia sebenarnya tidak meminta dibawa ke suatu tempat.
Allah tidak jauh.
Samudra itu tidak berada di balik galaksi.
Yang diminta adalah tersingkapnya sebuah hijab: cara kita memandang keberadaan.
Sebab mungkin perjalanan terjauh manusia bukan perjalanan dari bumi menuju Tuhan.
Melainkan perjalanan dari “aku” yang merasa berdiri sendiri menuju kesadaran bahwa sejak awal ia tak pernah berdiri tanpa-Nya.
Yang berubah bukan Allah.
Yang berubah adalah mata yang memandang wujud.
Dan ketika mata itu berubah, gelombang tetap gelombang, laut tetap laut—tetapi kita akhirnya tahu mengapa keduanya tak pernah benar-benar dapat dipisahkan.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah
