Connect with us

OPINI

Fatimah binti Maimun: Pemimpin Rombongan Intelektual dalam Jejak Awal Islam di Gresik

Published

on

Makam Fatimah binti Maimun Gresik petilasan Islam tertua di Indonesia

Oleh: Khusnul Yaqin

‎Kehadiran Islam di tanah Jawa seringkali dipahami melalui narasi besar abad ke-15 dan ke-16, terutama melalui figur-figur Wali Songo. Namun, jauh sebelum itu, sejarah telah menyisakan satu jejak sunyi namun tegas–jejak seorang perempuan yang berdiri sendiri di tengah kekosongan sumber: Fatimah binti Maimun.

Dalam keterbatasan bukti yang tersedia, ia bukan sekadar individu yang tercatat, melainkan satu-satunya figur yang secara empiris dapat diidentifikasi sebagai representasi komunitas Muslim awal di Jawa abad ke-11.

‎Fatimah binti Maimun bin Hibatullah, yang wafat pada tahun 475 H/1082 M di Leran, Gresik, meninggalkan sebuah bukti historis yang tidak terbantahkan: batu nisan berinskripsi Arab yang mencolok dan berbeda dibandingkan kuburan lain di sekitarnya. Raja Nusantara pada waktu itu adalah Sri Maharaja Samarotsaha (1050-an yang berpusat di Kediri).

Dalam studi epigrafi Islam awal di Nusantara, keberadaan nisan seperti ini bukanlah fenomena biasa. Ia menandaskan status sosial, intelektual, dan spiritual yang tinggi dalam komunitasnya. Lebih dari itu, struktur kompleks pemakamannya memperlihatkan adanya perlakuan khusus–suatu bentuk penghormatan yang secara implisit mengindikasikan posisi sentralnya.

‎Menariknya, di sekitar makam Fatimah terdapat kuburan-kuburan lain yang diyakini sebagai milik intelektual muslim kelompok Fatimah, yang dalam batu nisannya terulis dari kalangan sayyid. Namun, makam-makam tersebut tidak menunjukkan tingkat artikulasi simbolik dan monumentalitas seperti yang tampak pada makam Fatimah.

Dalam konteks ini, perbedaan tersebut tidak dapat dipahami sebagai kebetulan arkeologis semata, melainkan sebagai representasi struktur sosial komunitas yang menempatkan Fatimah pada posisi yang lebih tinggi, sebagai pemimpin.

‎Di sinilah pentingnya membaca sejarah secara jujur terhadap bukti yang ada. Dalam kondisi di mana tidak ditemukan nama lain yang terdokumentasi, serta tidak terdapat bukti figur laki-laki yang memiliki posisi lebih dominan, maka secara rasional-empiris, Fatimah adalah figur terpenting dalam komunitas tersebut.

Penolakan terhadap kesimpulan ini sering kali bukan karena kekurangan data, tetapi karena keberlanjutan bias epistemologis—terutama bias gender–yang secara implisit–menolak kemungkinan perempuan sebagai pusat otoritas dalam sejarah Islam awal.

‎Padahal, jika kita merujuk pada kosmologi kepemimpinan dalam Islam, keberadaan suatu kelompok–terlebih kelompok diaspora intelektual religius–hampir mustahil tanpa struktur kepemimpinan.

Dalam konteks ini, asumsi bahwa kelompok Muslim awal di Leran tidak memiliki pemimpin adalah asumsi yang lemah secara logika historis. Sebaliknya, jika kita mengakui bahwa kelompok tersebut memiliki struktur, maka pertanyaan selanjutnya adalah: siapa yang memimpin?

‎Jawaban paling jujur terhadap pertanyaan ini harus kembali kepada bukti. Dan bukti itu menunjuk pada Fatimah. Ia bukan hanya satu-satunya yang tercatat, tetapi juga satu-satunya yang ditandai secara simbolik sebagai figur penting. Maka, kesimpulan bahwa Fatimah merupakan pemimpin rombongan intelektual tersebut bukanlah spekulasi, melainkan konsekuensi logis dari pembacaan data yang konsisten.

‎Lebih jauh, jika ditelusuri dalam konteks global, periode abad ke-10 hingga ke-11 merupakan masa di mana jaringan intelektual Islam berkembang melalui mobilitas tinggi–melintasi Persia, India, hingga Asia Tenggara.

Dalam konteks ini, sangat mungkin bahwa Fatimah merupakan bagian dari rombongan intelektual Muslim yang melakukan perjalanan panjang, bukan sekadar sebagai migran ekonomi, tetapi sebagai pembawa pengetahuan dan nilai-nilai keislaman. Perjalanan ini bukan sekadar geografis, tetapi juga epistemologis–sebuah safari intelektual yang menghubungkan pusat-pusat peradaban Islam dengan pinggiran dunia maritim.

‎Dengan demikian, kehadiran Fatimah di Gresik tidak dapat direduksi sebagai anomali atau kebetulan sejarah. Ia adalah titik temu antara jaringan intelektual global dan ruang lokal Jawa. Dalam dirinya, kita melihat kemungkinan yang selama ini terpinggirkan dalam narasi besar sejarah: bahwa perempuan tidak hanya hadir, tetapi juga memimpin.

‎keberadaan Fatimah sebagai pemimpin di wilayah Gresik yang merupakan salah satu pusat perdagangan pada waktu itu, tidak menjadi problem karena Jawa secara kebudayaan tidal pernah menolak kepemiminan perempuan. Kita bisa mengingat bahwa di Jawa sudah ada pemimpin perempuan jauh sebelum Fatimah datang ke Gresik, yaitu ratu Shima (674 – 695 M) .

‎Kesimpulan ini sekaligus menggugurkan asumsi bahwa persoalan gender dalam kepemimpinan Islam adalah isu modern. Justru, dalam fase paling awal interaksi Islam dengan Nusantara, kita menemukan bukti bahwa perempuan dapat berada di posisi tertinggi dalam struktur komunitas intelektual dan religius. Fatimah binti Maimun bukan hanya simbol kehadiran Islam, tetapi juga simbol otoritas perempuan dalam sejarah Islam awal di Jawa yang diakomodasi oleh kosmologi Jawa yang tidak pernah bias gender.

‎Sejarah seringkali tidak memberi kita banyak suara. Namun ketika ia hanya menyisakan satu nama, maka nama itu harus dibaca dengan serius. Dan dalam keheningan abad ke-11, nama itu adalah Fatimah.

‎Sebagai penutup, penting ditegaskan bahwa pada saat sebagian dunia Barat masih berada dalam horizon sosial yang membatasi peran perempuan dalam ruang publik, peradaban Islam–baik di Persia, Arab, maupun jaringan maritim yang menjangkau Nusantara–telah menunjukkan dinamika yang lebih terbuka terhadap kepemimpinan perempuan.

Jejak Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik bersama ingatan historis tentang figur seperti Ratu Shima, menjadi penanda bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah anomali, melainkan bagian dari kemungkinan yang diakui dalam lanskap sosial-budaya yang lebih luas.

Dengan demikian, sejarah awal Islam di Nusantara tidak hanya berbicara tentang penyebaran agama, tetapi juga tentang horizon peradaban yang sejak dini telah memberi ruang bagi perempuan untuk hadir–bahkan memimpin–dalam struktur intelektual dan sosialnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Setan Besar Mengajar Perdamaian di Kampus

Published

on

By

Kampus dan Amrerika Israel

Oleh: Iskandar Mateus Maubere

‎Ada ironi yang kadang-kadang terlalu sempurna untuk disebut ironi. Ia seperti lelucon yang kehilangan kemampuan membuat kita tertawa.

‎Seseorang menulis di Twitter: Iran kini menjadi salah satu negara yang paling dikagumi di dunia. Pada saat yang sama, Israel menjadi negara yang paling dibenci, dan Amerika menyusul di nomor dua.

‎Mungkin sebuah survei bisa diperdebatkan. Angka bisa diperiksa. Metode bisa ditanyakan. Tetapi ada sesuatu yang lebih panjang daripada angka: ingatan manusia.

‎Dan ingatan itu rupanya sedang menumpuk.

‎Orang mengingat Palestina. Orang mengingat Israel. Orang mengingat sebuah negara Zionis yang sejak berdirinya terus menjadi sumber kerusakan di Timur Tengah, dan jejaknya bahkan melampaui Timur Tengah.

‎Lalu orang mengingat Amerika.

‎Amerika berada di belakang Israel, membackup hampir seluruh tindakannya. Tetapi Amerika juga mempunyai daftar perbuatannya sendiri. Hiroshima dan Nagasaki belum hilang dari sejarah. Vietnam belum hilang. Irak belum hilang.

‎Dunia masih ingat bagaimana Irak diserang dengan cerita tentang senjata pemusnah massal. Perang datang. Negara dihancurkan. Saddam jatuh. Tetapi senjata pemusnah massal yang menjadi alasan itu ternyata tidak terbukti.

‎Belakangan kita menyaksikan Maduro diculik. Kita juga menyaksikan bagaimana Amerika bertindak terhadap Iran, bahkan sampai membunuh pemimpin spiritual tanpa sandaran hukum internasional yang disepakati.

‎Semua itu mengendap.

‎Sejarah ternyata mempunyai memori. Mungkin ia lambat, tetapi ia tidak selalu pelupa.

‎Karena itu, kalau hari ini masyarakat dunia kemudian melihat Amerika dan Israel sebagai negara yang terus-menerus membuat keonaran, sesungguhnya penilaian itu tidak lahir kemarin sore. Ia merupakan akumulasi pengalaman panjang.

‎Yang menarik justru terjadi di sini, di negeri kita.

‎Beberapa universitas Indonesia masih memandang Amerika seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Bahkan ada universitas yang membuat kerja sama dengan Amerika dalam perkara perdamaian agama dan perdamaian dunia.

‎Di sinilah kita bertemu sebuah absurditas.

‎Bayangkan: kita mendirikan laboratorium perdamaian bersama sebuah negara yang politik luar negerinya ugal-ugalan.

‎Mungkin besok kita perlu belajar kesederhanaan kepada orang yang gemar bermewah-mewah. Atau belajar menjaga kambing kepada harimau. Tentu saja harimau mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang kambing.

‎Amerika mempunyai pengalaman yang sangat luas tentang perdamaian, terutama karena ia berkali-kali berurusan dengan perang.

‎Kalau hendak menghabisi sebuah negara, ia lakukan. Kalau hendak mengembargo, ia lakukan. Kalau hendak mengambil presidennya, ia lakukan. Kalau hendak membunuh pemimpin spiritual suatu negara, ia lakukan. Hukum internasional seperti baru dicari setelah tindakan selesai dilakukan.

‎Lalu kita mengundangnya untuk berbicara tentang perdamaian.

‎Barangkali masalahnya bukan Amerika.

‎Masalahnya justru ada pada cara berpikir sebagian kaum intelektual kita.

‎Universitas seharusnya menjadi tempat orang mempertanyakan kekuasaan, bukan tempat kekuasaan memperoleh kosmetik akademik. Kampus semestinya bertanya: perdamaian macam apakah yang sedang kita pelajari? Perdamaian menurut siapa? Dan siapa yang mempunyai hak menentukan bahwa sebuah bom disebut keamanan, sebuah embargo disebut diplomasi, dan penghancuran sebuah negeri disebut penegakan ketertiban?

‎Ada sesuatu yang kacau ketika kaum intelektual kehilangan keberanian untuk membaca sejarah karena terlalu terpesona kepada kekuasaan.

‎Amerika masih dibayangkan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Amerika masih dipandang sebagai negara yang baik-baik saja. Nama besarnya, universitasnya, teknologinya, uangnya, dan jaringan internasionalnya membuat kita kadang-kadang lupa memeriksa apa yang dilakukan politik luar negerinya.

‎Kita terpukau kepada lampu di ruang tamu dan lupa melihat apa yang berlangsung di halaman belakang.

‎Imam Khomeini sejak lama menggunakan istilah yang keras untuk Amerika: Setan Besar.

‎Ungkapan itu bukan bahasa diplomasi. Memang bukan itu maksudnya. Ia merupakan sebuah cara untuk menunjukkan watak kekuasaan yang merasa mempunyai hak menentukan nasib bangsa lain: siapa boleh hidup tenang, siapa harus diembargo, siapa harus diserang, dan siapa pemimpinnya yang boleh disingkirkan.

‎Maka menjadi ganjil apabila universitas, tempat akal sehat seharusnya dipelihara, justru tidak cukup kritis terhadap kenyataan itu.

‎Lebih ganjil lagi jika kerja sama itu diberi nama: perdamaian.

‎Sebab perdamaian bukan seminar. Perdamaian bukan papan nama laboratorium. Perdamaian juga bukan foto bersama setelah penandatanganan memorandum kerja sama.

‎Perdamaian pertama-tama adalah keberanian untuk tidak menindas manusia lain.

‎Dan mungkin karena itulah pernyataan Imam Khomeini seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi universitas-universitas di seluruh dunia: jangan sampai institusi yang dibangun untuk mencari kebenaran justru bekerja sama dengan kekuatan yang sejarah politik luar negerinya dipenuhi penindasan.

‎Ada saatnya sebuah universitas harus memilih.

‎Bukan antara Timur dan Barat.

‎Bukan antara Iran dan Amerika.

‎Tetapi antara kekuasaan dan nurani.

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

‎Imajinasi Perlawanan Menurut Ahlul Bait

Published

on

By

perlawanan ahlulbait

Oleh: ‎Khusnul Yaqin

‎Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan, menurut Einstein, terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul dunia dan segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui.

‎Barangkali sebuah peradaban memang tidak hanya dibangun oleh apa yang diketahui manusia. Ia juga dibangun oleh apa yang berani dibayangkannya.

‎Imajinasi mendahului kenyataan. Manusia membayangkan terbang sebelum pesawat dibuat. Ia membayangkan berjalan di bulan jauh sebelum jejak kaki manusia tertinggal di sana. Dan manusia membayangkan sebuah dunia yang adil, mungkin jauh sebelum dunia bersedia menjadi adil.

‎Dalam tradisi Ahlul Bait, ada imajinasi semacam itu: imajinasi perlawanan terhadap kezaliman.

‎Ada satu perbedaan yang cukup mendasar antara cara tradisi Ahlul Bait memandang kekuasaan dan cara sebagian tradisi politik membaca ketaatan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, kekuasaan tidak dengan sendirinya memperoleh kesucian hanya karena seseorang berhasil menduduki singgasana. Kekuasaan harus ditimbang dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri: keadilan.

‎Karena itu, dalam teologi Imamiyah, Imamah bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah kepemimpinan yang berakar pada Rasulullah dan diteruskan melalui Ahlul Bait. Para Imam diyakini memiliki ismah, yakni keterpeliharaan dari dosa dan kezaliman.

‎Dari sini sejarah politik Islam dibaca dengan cara yang berbeda. Keberhasilan merebut kekuasaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memperoleh legitimasi moral untuk memimpin.

‎Sejarah memang mempunyai ironi yang getir. Mereka yang menang dapat menulis hukum tentang kewajiban menaati pemenang. Mereka yang menguasai mimbar dapat menentukan bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang kekuasaan. Pada suatu masa, stabilitas bahkan dapat diberi nama “ketaatan”, sementara perlawanan terhadap kezaliman dinamai “fitnah”.

‎Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang sulit dibungkam: jika setiap penguasa harus ditaati hanya karena ia telah menjadi penguasa, untuk apakah Husain meninggalkan Madinah dan akhirnya berdiri berhadapan dengan kekuasaan Yazid?

‎Di sinilah Asyura memperoleh makna yang melampaui sebuah peristiwa sejarah.

‎Husain tidak memperoleh kerajaan. Ia bahkan kehilangan hampir segala sesuatu yang secara duniawi dapat disebut kemenangan. Tetapi justru dari kekalahan itulah muncul sebuah kemenangan lain: manusia diperlihatkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada keselamatan pribadi, yakni menolak memberikan legitimasi moral kepada kezaliman.

‎Menariknya, imajinasi perlawanan dalam tradisi Ahlul Bait tidak berhenti pada kehidupan manusia.

‎Dalam Ziyarat Asyura terdapat doa:

‎واساله ان يبلغني المقام المحمود لكم عند الله وان يرزقني طلب ثاري مع امام هدى ظاهر ناطق بالحق منكم

‎Artinya:

‎”Aku memohon kepada Nya agar menyampaikanku kepada kedudukan terpuji kalian di sisi Allah dan menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntut tegaknya keadilan bersama seorang Imam pemberi petunjuk dari kalian, yang tampil dan menyuarakan kebenaran.”

‎Tetapi imajinasi itu bergerak lebih jauh.

‎Seorang pengikut Ahlul Bait bahkan diajarkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa ketika Imam Mahdi hadir, dirinya sudah tidak berada di dunia. Tubuhnya telah dikuburkan. Namanya mungkin sudah dilupakan manusia. Generasi demi generasi telah berganti.

‎Namun keberpihakannya kepada keadilan belum selesai.

‎Dalam Dua al Ahd terdapat ungkapan yang sangat kuat dan indah:

‎اللهم ان حال بيني وبينه الموت الذي جعلته على عبادك حتما مقضيا فاخرجني من قبري مؤتزرا كفني شاهرا سيفي مجردا قناتي ملبيا دعوة الداعي في الحاضر والبادي

‎Artinya:

‎”Ya Allah, apabila antara aku dan dia terhalang oleh kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai kepastian bagi hamba hamba Mu, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan kain kafanku terikat pada tubuhku, pedangku terhunus, tombakku terangkat, sambil memenuhi panggilan sang penyeru, baik di kota maupun di padang terbuka.”

‎Betapa jauh imajinasi itu bergerak.

‎Kubur, dalam doa tersebut, bukan batas terakhir keberpihakan.

‎Kematian bahkan tidak cukup kuat untuk membuat seseorang berkata: urusan keadilan bukan lagi urusanku.

‎Tentu saja bahasa pedang dan tombak dalam doa itu berada dalam konteks kehadiran Imam Mahdi. Ia bukan pemberian izin kepada setiap orang untuk menentukan sendiri siapa yang boleh diperangi, apalagi pembenaran bagi kekerasan yang lahir dari kemarahan pribadi. Yang menarik justru struktur kesadarannya: seorang manusia diminta memunyai keberpihakan kepada keadilan yang bahkan lebih panjang daripada usianya sendiri.

‎Di sini kita menemukan sesuatu yang mungkin jarang dibicarakan ketika membahas perlawanan.

‎Perlawanan bukan pertama tama persoalan senjata.

‎Ia adalah persoalan imajinasi.

‎Sebelum sebuah kezaliman dapat dilawan, seseorang harus terlebih dahulu mampu membayangkan dunia tanpa kezaliman. Sebelum manusia berani mengatakan tidak kepada penindasan, ia harus percaya bahwa keadaan yang sedang berlangsung bukan satu satunya dunia yang mungkin.

‎Karena itu Karbala bukan sekadar tempat.

‎Karbala adalah sebuah kemungkinan.

‎Kemungkinan bahwa seseorang dapat kalah tetapi tidak menyerah. Dapat terbunuh tetapi tidak ditundukkan. Dapat kehilangan tubuhnya tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang hidup selama berabad abad.

‎Dan Imam Mahdi, dalam imajinasi Ahlul Bait, menjadi horizon dari kemungkinan itu: sebuah dunia ketika keadilan tidak lagi hanya menjadi doa orang orang yang kalah.

‎Mungkin itulah sebabnya menunggu Imam Mahdi tidak selayaknya dipahami sebagai menunggu dengan pasif.

‎Menunggu adalah mempersiapkan keberpihakan.

‎Hari ini mungkin kita tidak membawa pedang. Bentuk kezaliman pun tidak selalu datang dengan pasukan berkuda. Ia dapat hadir dalam hukum yang tidak adil, kekuasaan yang sewenang wenang, kemiskinan yang sengaja dipelihara, suara yang dibungkam, atau manusia yang diperlakukan seolah tidak mempunyai martabat.

‎Maka imajinasi perlawanan Ahlul Bait menjadi sangat sederhana sekaligus sangat radikal: jangan pernah berdamai dengan kezaliman hanya karena kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Jangan  juga bertekuk lutut di depan penguasa penindas yang hanya karena kamu sedirian. Imajinasi perlawanan tetap harus diwujudkan.

‎Dan doa itu membawa gagasan tersebut sampai ke batas yang hampir tak terbayangkan.

‎Jika aku masih hidup ketika keadilan memanggil, aku ingin berada di sana.

‎Jika aku telah berada di dalam kubur ketika Imam Mahdi datang, dan Allah menghendaki aku kembali, keluarkan aku dari kuburku.

‎Bukan karena aku mencintai peperangan.

‎Bukan karena aku menginginkan kekuasaan.

‎Tetapi karena aku tidak ingin menjadi penonton ketika keadilan akhirnya datang.

‎Einstein benar bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan memberi tahu kita bagaimana dunia ini bekerja.

‎Tetapi imajinasi membuat manusia bertanya:

‎haruskah dunia selalu seperti ini?

‎Karbala menjawabnya dengan darah.

‎Dan doa kepada Imam Mahdi menjawabnya dengan sebuah harapan yang bahkan tidak mau dikalahkan oleh kematian.

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

Saat Gelombang Menemukan Laut

Published

on

By

doa

Oleh: ‎Khusnul Yaqin

‎Ada sebuah doa yang dimulai dengan permintaan yang ganjil. Ia tak meminta kekayaan. Tak meminta umur panjang. Bahkan tak meminta agar penderitaan segera disingkirkan.

‎Ia meminta untuk ditenggelamkan.

‎رب أدخلني في لجة بحر أحديتك وطمطام يم وحدانيتك

‎Rabbi adkhilni fi lujjati bahri ahadiyyatika wa tamtami yammi wahdaniyyatika.

‎“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu dan ke keluasan bergelombang lautan Wahdaniyyah-Mu.”

‎ Kata yang paling menggugah di doa itu adalah adkhilni: masukkanlah aku.

‎Bukan: ajarilah aku tentang laut. Bukan: tunjukkan kepadaku di mana laut berada.

‎Tapi: masukkan aku ke dalamnya.

‎Ada jarak yang jauh antara mengetahui laut dan tenggelam di dalam laut. Kita bisa membaca buku oseanografi, mengetahui salinitas, pH, oksigen, arus, kedalaman, dan pasang surutnya. Tetapi pengetahuan itu tidak membuat tubuh kita basah. Ada saat ketika pengetahuan berhenti menjadi informasi dan berubah menjadi pengalaman.

‎Mungkin doa itu berbicara tentang saat tersebut.

‎Dalam metafisika Ibn Arabi, dunia yang kita huni adalah dunia yang banyak. Di sini ada “aku” dan “engkau”, miskin dan kaya, manusia dan pohon, kelahiran dan kematian. Kita memberi nama kepada semuanya agar dunia bisa dimengerti.

‎Dan nama memang diperlukan.

‎Tetapi nama juga bisa menjadi hijab.

‎Sebab ketika kita mengatakan “pohon”, kita mudah mengira pohon selesai sebagai pohon. Ketika kita mengatakan “manusia”, kita mengira manusia berdiri dengan kekuatannya sendiri. Kita melihat benda-benda sebagai pulau-pulau yang terpisah, masing-masing memiliki keberadaannya sendiri.

‎Ibn Arabi menawarkan cara melihat yang lain.

‎Alam adalah tajalli.

‎Ia bukan Tuhan. Tetapi ia juga bukan sesuatu yang mempunyai wujud mandiri di hadapan Tuhan. Pada alam, Nama-Nama Ilahi menampakkan jejaknya.

‎Kehidupan mengingatkan kita kepada al-Hayy.

‎Pengetahuan kepada al-Alim.

‎Kasih sayang kepada al-Rahman.

‎Keindahan kepada al-Jamil.

‎Yang banyak itu tidak hilang. Tetapi di balik yang banyak terdapat Yang Satu.

‎Mungkin karena itu doa tersebut berbicara tentang laut.

‎Laut mempunyai gelombang yang tak terhitung. Yang satu tinggi, yang lain rendah. Yang satu pecah di karang, yang lain mati perlahan di pasir.

‎Kita memberi nama kepada setiap gelombang.

‎Tetapi laut tidak pernah menjadi banyak karena gelombangnya banyak.

‎Di sinilah Wahdaniyyah dapat dipahami.

‎Ada Nama-Nama yang berbeda, sifat yang berbeda, dan tajalli yang berbeda. Tetapi al-musamma wahid: Yang dinamai tetap Satu.

‎Problem manusia bukan karena ia melihat gelombang. Problem bermula ketika ia lupa bahwa gelombang adalah laut.

‎Kita melihat seorang yang pandai, lalu mengira kepandaian itu sepenuhnya miliknya. Kita melihat seseorang berkuasa, lalu menganggap kekuasaan bersumber dari dirinya. Kita melihat kecantikan, kekayaan, kehidupan, dan keberhasilan–dan berhenti di sana.

‎Kita terpukau oleh gelombang.

‎Kita lupa kepada laut.

‎Maka kalimat “masukkanlah aku ke dalam lautan Wahdaniyyah-Mu” dapat dibaca sebagai permohonan untuk dibebaskan dari cara pandang yang terpecah itu.

‎Bukan agar keragaman dimusnahkan.

‎Justru agar keragaman dilihat dalam kesatuan.

‎Tetapi doa itu membawa kita lebih jauh.

‎Ia menyebut:

‎لجة بحر أحديتك

‎“Kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu.”

‎Di sini perjalanan menjadi lebih hening.

‎Dalam tradisi metafisika Ibn Arabi, Ahadiyyah menunjuk kepada keesaan yang begitu mutlak sehingga bahkan diferensiasi Nama-Nama tak lagi dapat menjadi ukuran bagi Dzat.

‎Kita mengenal Allah sebagai al-Rahman. Tetapi “Yang Maha Pengasih” mengandung sebuah relasi dengan yang menerima kasih.

‎Kita mengenal-Nya sebagai al-Alim. Tetapi “Yang Maha Mengetahui” menghadirkan relasi dengan yang diketahui.

‎Kita mengenal-Nya sebagai al-Khaliq. Tetapi “Yang Maha Mencipta” kita pahami dalam relasinya dengan ciptaan.

‎Pada Ahadiyyah, semua kategori itu mencapai batas.

‎Bukan karena Nama-Nama Ilahi tidak benar.

‎Tetapi karena Dzat selalu lebih luas daripada bahasa yang mencoba menangkap-Nya.

‎Barangkali itulah sebabnya doa menggunakan kata lujjah: kedalaman laut.

‎Di permukaan, kita masih melihat pantai. Kita masih mengetahui timur dan barat. Kita masih dapat menunjuk: di sana daratan, di sini laut.

‎Tetapi semakin jauh seseorang masuk ke tengah samudra, garis-garis itu menghilang.

‎Pada suatu kedalaman, bahkan cahaya mulai berkurang.

‎Dan mungkin pengetahuan tentang Tuhan juga mempunyai paradoks seperti itu: semakin seseorang mengenal-Nya, semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya tak pernah sanggup mengepung-Nya.

‎Kita mulai perjalanan dengan banyak kata.

‎Kita sampai pada kedalaman tertentu dengan keheningan.

‎Tetapi masih ada satu kata yang belum selesai: aku.

‎Ketika seseorang berdoa, “Tuhanku, masukkanlah aku,” masih ada dua kutub.

‎Aku.

‎Dan Engkau.

‎Ada yang meminta dan Yang diminta. Ada pencari dan Yang dicari.

‎Lalu apa yang terjadi ketika perjalanan semakin dalam?

‎Ibn Arabi berbicara tentang fana.

‎Istilah ini mudah disalahpahami. Fana bukan berarti manusia berubah menjadi Tuhan. Gelombang tidak menjadi samudra dalam arti bahwa batas ontologis antara Khalik dan makhluk tiba-tiba lenyap.

‎Yang runtuh adalah sesuatu yang jauh lebih dekat kepada kita:

‎klaim bahwa “aku” mempunyai keberadaan yang mandiri.

‎Kita terbiasa mengatakan:

‎hartaku.

‎ilmuku.

‎kekuasaanku.

‎tubuhku.

‎bahkan: hidupku.

‎Kata “ku” itu kecil, tetapi diam-diam ia membangun sebuah kerajaan.

‎Esoteris Islam datang untuk menggugat kerajaan tersebut.

‎Aku ada–tetapi keberadaanku bukan dariku.

‎Aku mengetahui–tetapi kemampuan mengetahui bukan ciptaanku.

‎Aku hidup–tetapi aku tidak pernah memutuskan sendiri agar jantung pertama kali berdenyut.

‎Maka perjalanan itu perlahan bergerak:

‎Aku ada.

‎Kemudian:

‎Aku ada karena Allah.

‎Lebih dalam:

‎Aku ada dengan Allah–bi Allah.

‎Dan akhirnya:

‎Tidak ada kemandirian bagiku.

‎Yang lenyap bukan manusia.

‎Yang lenyap adalah kesombongan metafisisnya.

‎Tetapi perjalanan mistik tidak selesai di sana.

‎Setelah fana ada baqa.

‎Sang penyelam kembali ke permukaan.

‎Dunia masih seperti kemarin. Pasar tetap ramai. Orang masih jatuh cinta dan bertengkar. Ada anak yang lahir pagi ini dan seseorang yang dimakamkan sore nanti.

‎Gelombang tetap banyak.

‎Tetapi mata sang musafir telah berubah.

‎Dahulu ia melihat yang banyak dan mencari Yang Satu di belakangnya.

‎Kini ia melihat yang banyak tanpa kehilangan Yang Satu.

‎Ia bisa melihat kasih seorang ibu dan teringat al-Rahman. Melihat kecerdasan seorang ilmuwan dan teringat al-Alim. Melihat bunga yang mekar dan menemukan jejak al-Jamil.

‎Ia tidak menyembah gelombang.

‎Tetapi ia juga tidak membenci gelombang.

‎Sebab melalui gelombang itulah laut memperlihatkan geraknya.

‎Barangkali inilah paradoks indah yang tersembunyi dalam awal doa Qamus di atas:

‎Pada awal perjalanan kita melihat banyak wujud dan mencari Yang Satu. Pada akhir perjalanan kita tetap melihat yang banyak, tetapi tidak lagi melihat satu pun sebagai wujud yang berdiri sendiri dari-Nya.

‎Maka ketika seseorang berbisik,

‎رب أدخلني في لجة بحر أحديتك

‎“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu,”

‎ia sebenarnya tidak meminta dibawa ke suatu tempat.

‎Allah tidak jauh.

‎Samudra itu tidak berada di balik galaksi.

‎Yang diminta adalah tersingkapnya sebuah hijab: cara kita memandang keberadaan.

‎Sebab mungkin perjalanan terjauh manusia bukan perjalanan dari bumi menuju Tuhan.

‎Melainkan perjalanan dari “aku” yang merasa berdiri sendiri menuju kesadaran bahwa sejak awal ia tak pernah berdiri tanpa-Nya.

‎Yang berubah bukan Allah.

‎Yang berubah adalah mata yang memandang wujud.

‎Dan ketika mata itu berubah, gelombang tetap gelombang, laut tetap laut—tetapi kita akhirnya tahu mengapa keduanya tak pernah benar-benar dapat dipisahkan.

Continue Reading

Trending