KEGIATAN ABI
DPW ABI Sulsel Siapkan Pelatihan Jurnalistik, Media Sosial, dan AI
ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia ( ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) akan menggelar Pelatihan Dasar Jurnalistik: Fondasi Penulisan Berita, Pembuatan Konten Media Sosial, dan Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) pada 1 hingga 3 Mei 2026 mendatang.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, pukul 13.00 hingga 17.00 WITA, bertempat di Sekretariat LDSI Almuntazhar, Jalan Batua Raya 5 Lorong 4.
Pelatihan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman yang lengkap dan luas kepada peserta terkait teknik penulisan berita yang baik dan benar.
Kegiatan ini sekaligus membekali keterampilan produksi konten media sosial serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam praktik jurnalistik pada peserta. Kegiatan ini terbuka untuk umum dengan prioritas peserta dari kalangan komunitas, yayasan, maupun organisasi.
Setiap lembaga diperkenankan mengirimkan 2 hingga 3 orang perwakilan. Kuota peserta sangat terbatas, maksimal hanya 20 orang. Bagi yang tertarik untuk mendaftar bisa klik di sini: formulir pendaftaran.
Adapun materi yang akan disajikan mencakup tiga bidang utama: penulisan berita, integrasi AI dalam jurnalistik, dan pembuatan konten media sosial.
Pada sesi penulisan berita, peserta akan diperkenalkan pada dasar-dasar jurnalisme, mulai dari pengertian, fungsi pers, hingga peran media dalam masyarakat. Selain itu, materi juga akan mengulas tentang opini publik dan bagaimana media berpengaruh dalam pembentukannya.
Peserta juga akan dibekali teknik penulisan berita, termasuk nilai berita (news values), struktur penulisan dengan pendekatan 5W+1H dan piramida terbalik, hingga penggunaan bahasa jurnalistik yang efektif. Sesi ini akan dilengkapi dengan praktik langsung melalui observasi sederhana, wawancara, penulisan berita, serta proses editing dan evaluasi.
Untuk materi integrasi AI, peserta akan mempelajari perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam dunia media, termasuk penggunaannya dalam riset, penyusunan draft, hingga proses penyuntingan berita.
Peserta akan dilatih menggunakan AI secara praktis, seperti menyusun prompt yang efektif, merangkum informasi, membuat kerangka berita, hingga melakukan verifikasi hasil AI secara manual untuk memastikan akurasi.
Pada sesi praktik, peserta akan melakukan simulasi pengolahan data mentah menjadi berita dengan bantuan AI, serta membandingkan hasil penulisan manual dengan hasil berbasis AI.
Selain itu, pelatihan ini juga menghadirkan materi pembuatan konten media sosial. Peserta akan dikenalkan pada karakteristik berbagai platform, perilaku audiens, serta strategi konten yang efektif.
Materi lanjutan mencakup perencanaan konten, teknik storytelling, penulisan naskah video, hingga copywriting untuk caption. Peserta juga akan mempelajari teknik produksi konten menggunakan ponsel, termasuk pengambilan gambar, pencahayaan, serta editing video pendek seperti Reels dan TikTok.
Pada tahap akhir, peserta akan dibekali strategi publikasi, optimasi konten, serta cara membaca data performa seperti reach, engagement, dan insight lainnya.
KEGIATAN ABI
Di Bawah Cahaya Ramadan, ABI Sulsel Menyemai Kebahagiaan untuk Anak Yatim dan Dhuafa
ABI Sulsel— Sore itu, suasana di Jalan Sungai Tangka No 37, Makassar, terasa berbeda. Anak-anak yatim duduk rapi, sebagian tersenyum malu, sebagian lain saling berbisik menanti waktu berbuka.
Di tempat itulah DPW Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) yang didukung Dana Mustadhafin menggelar buka puasa bersama bertajuk “Seribu Berkah Ramadan Se Kota Makassar 1447 H”, Minggu (1/3/2026).
Kegiatan itu bukan sekadar agenda seremonial Ramadan. ABI Sulsel menjadikannya sebagai ruang berbagi dengan anak yatim dan dhuafa, sekaligus momentum memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Acara diawali dengan lantunan shalawat yang mengalun khidmat, dilanjutkan tausiyah Ramadan oleh Ustadz Dr. H. Andi Erwin Baharuddin, Lc., M.A. Usai tausiyah, anak-anak disuguhkan penampilan seni berupa narasi kisah sahabat Nabi.
Momentum tersebut menghadirkan suasana religius yang hangat namun tetap membumi. Agar kebersamaan tak terasa kaku, panitia menghadirkan sesi kuis dan ice breaking yang membuat anak-anak tampak lebih cair.
Tawa mereka pecah sesekali, mencairkan suasana jelang azan Magrib. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemberian bingkisan dan santunan kepada anak-anak panti asuhan.
Ketua DPW ABI Sulsel, Imran Latief, menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memanfaatkan Ramadan untuk menghadirkan kemaslahatan nyata.
“Jadi ini kan kegiatan berbagi bersama memanfaatkan momentum Ramadan yang dilaksanakan oleh ABI, salah satu ormas Islam yang agak minoritas ya karena secara mazhab dia berorientasi pada mazhab Ahlulbait atau mazhab Syiah,” ujarnya.
Sebagai organisasi yang berada pada posisi minoritas, ia mengakui ABI kerap dipersepsikan melalui stigma yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, kelompok minoritas di Indonesia sering kali dipandang melalui narasi yang tidak utuh dan dibangun dari sudut pandang pihak luar, sehingga memunculkan kesalahpahaman.
Karena itu, ia menilai pendekatan terbaik bukanlah perdebatan panjang, melainkan aksi sosial yang langsung dirasakan manfaatnya.
“Jadi bukan melalui konsep-konsep apologetik atau debat argumentatif yang bisa saja memperkeruh suasana, tetapi kita mau kalau kata Nabi khairukum anfa’ukum linnas, sebaik-baik kita yang memberi manfaat,” jelas Imran.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut mengandung berbagai nilai amal.
“Selain ini kan ada dengan acara ini kan sebenarnya ada banyak amal di sini. Yang pertama menyantuni anak yatim, memberi makan orang berpuasa, dan yang di atas itu semua idkhalus surur, apa namanya memasukkan kebahagiaan,” tuturnya.
Imran menggambarkan, bantuan materi yang diberikan mungkin terlihat kecil secara nominal, seperti Rp20.000 atau Rp50.000. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin biasa saja.
Namun bagi anak-anak yatim yang menerima, bantuan tersebut menghadirkan kebahagiaan besar di tengah keterbatasan yang mereka alami. Senyum yang merekah dari wajah mereka, menurutnya, menjadi nilai yang tak terukur.
Sekitar 400 hingga 500 anak yatim dari berbagai panti asuhan di Makassar hadir dalam kegiatan itu, di luar para pengurus. ABI Sulsel memfokuskan penerima santunan pada anak-anak usia 6 hingga 13 tahun, yakni mereka yang masih berada di bangku sekolah, maksimal setingkat kelas 2 SMP atau kelas 8.
Di penghujung acara, bukan hanya paket bingkisan yang terbagi, tetapi juga rasa kebersamaan yang mengendap pelan di ruang sederhana itu. Sebuah upaya kecil menghadirkan kebahagiaan di bulan yang diyakini penuh berkah.
KEGIATAN ABI
Sambut Ramadan, Muslimah ABI Gowa-MISS Gelar Ramadhan Smart Character
ABI Sulsel— Dalam rangka menyambut dan meraih keberkahan bulan suci Ramadan, Pimpinan Cabang Muslimah ABI Gowa bekerja sama dengan Makassar Islamic Sunday School (MISS) menggelar kegiatan bertajuk Ramadhan Smart Character.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk Pesantren Ramadan yang berlangsung selama dua hari. Acara tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 21 Februari 2026 hingga Minggu, 22 Februari 2026, bertempat di Jolin Hotel, Jalan Pengayoman No. 7, Makassar.
Sebanyak 49 anak tercatat sebagai peserta dalam kegiatan yang berfokus pada penguatan karakter dan pemahaman keislaman tersebut. Beragam materi disiapkan untuk membekali peserta dengan wawasan keagamaan dan keterampilan penunjang lainnya.
Pada sesi Aqidah yang mencakup pembahasan Tauhid, Nubuwwah, dan Imamah, materi disampaikan oleh Ustaz Sultan Nur. Ustaz Ismail dg Naba membawakan materi Logika for Teens, sementara Ustaz Syahrir mengangkat tema Building Courage and Self Identity in Today’s Youth.
Materi Fiqih disampaikan oleh Ustaz Sunaryati. Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan literasi melalui sesi Smart Reading for Smart Generation dengan tema “Indahnya Membaca, Amazingnya Menulis” yang dibawakan oleh Muhajir.
Ketua Pimpinan Wilayah Muslimah Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan, Inna Amalia, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program Pesantren Ramadhan yang dikemas dalam konsep Ramadhan Smart Character.
“Tujuannya untuk memberikan pemahaman keagamaan dan ilmu lainnya yang bermanfaat bagi anak-anak, seperti logika, literasi dan self confident atau pendidikan karakter termasuk literasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi bekal penting bagi para peserta dalam menyongsong masa depan. Output yang ingin diraih, kata dia, adalah agar anak-anak dapat memperkuat ilmu keagamaan sekaligus menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya.
“Anak-anak diharapkan dapat tumbuh sebagai generasi Muhammadi yang berilmu, beriman dan berakhlak,” pungkasnya.
KEGIATAN ABI
ABI Sulsel Petakan 5 Sektor Unggulan, Siap Bangun Ekonomi Berbasis Komunitas
ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pemetaan Potensi Ekonomi ABI Sulsel” di Sekretariat LDSI Al Muntazar, Makassar, Sabtu (14/2/2026).
Kegiatan ini dihadiri sejumlah pengurus dan pelaku usaha jamaah secara luring, serta sekitar 20 peserta lainnya secara daring. Ketua DPW ABI Sulsel, Imran Latief, membuka acara dengan menekankan pentingnya menindaklanjuti hasil survei ekonomi yang telah dilakukan sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa pengembangan ekonomi jemaah harus disesuaikan dengan nuansa, karakteristik, serta kondisi iklim dan sosial ekonomi di Sulsel agar strategi yang dirumuskan kontekstual dan aplikatif.
FGD dipandu oleh Syamsu Alam selaku fasilitator. Dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya pemetaan potensi ekonomi berbasis komunitas (jemaah) sebagai fondasi pengembangan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan berorientasi sosial. ABI, kata dia, sedang memulai langkah strategis untuk mengembangkan komunitas secara lebih saintifik dan terukur.
Untuk menguatkan semangat perubahan, fasilitator mengutip pernyataan Mahatma Gandhi tentang dinamika gagasan baru: “First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win.” Kutipan tersebut menggambarkan bahwa setiap inisiatif baru kerap melalui fase diragukan hingga akhirnya diterima.
Lima sektor potensial
Berdasarkan hasil survei pemetaan ekonomi yang sebelumnya dipaparkan secara virtual oleh perwakilan DPP ABI, teridentifikasi lima sektor potensial di Sulsel. Pertama, sektor pendidikan. Bidang ini muncul paling konsisten dengan jumlah profesional terbesar dan skor potensi tinggi di berbagai kabupaten/kota seperti Makassar, Gowa, Wajo, Parepare, Bone, dan Pinrang.
Pendidikan dinilai bukan sekadar sektor pendukung. Ia juga adalah tulang punggung pembangunan modal manusia daerah. Olehnya itu, pengembangan ekonomi berbasis pendidikan seperti kursus vokasi dan pelatihan UMKM, dipandang perlu untuk mendorong peningkatan sektor lain.
Kedua, sektor pertanian dan perkebunan terintegrasi. Di tengah dominasi sektor jasa secara nasional, pertanian di Sulsel tetap relevan dengan basis pelaku usaha yang kuat, khususnya di Pinrang, Soppeng, Bone, Luwu Utara, dan Takalar.
Meski skor potensinya tidak selalu tertinggi, daya sebar wilayah dan kesinambungan ekonomi lokal menjadi kekuatan utama. Peningkatan rantai nilai melalui pengolahan pascapanen, penguatan branding, dan distribusi menjadi prioritas pengembangan.
Ketiga, sektor perikanan dan kelautan. Sektor ini menjadi pembeda struktural Sulsel dibanding rata-rata nasional. Wilayah pesisir seperti Bone, Maros, dan Pangkep menunjukkan potensi besar dengan kombinasi sumber daya alam dan peluang pasar eksternal. Industrialisasi ringan, seperti penyediaan cold storage, pengolahan hasil laut, dan penguatan koperasi nelayan modern, diusulkan sebagai arah kebijakan.
Keempat, sektor kesehatan dan layanan sosial. Sektor ini memiliki skor potensi tinggi pada kelompok profesional, bahkan melampaui rata-rata nasional di beberapa daerah seperti Gowa, Bone, dan Barru. Penyebaran layanan kesehatan yang tidak lagi terpusat di kota besar membuka peluang pengembangan klinik komunitas berbasis kewirausahaan sosial.
Kelima, sektor jasa profesional strategis, meliputi keuangan, akuntansi, hukum, dan teknologi informasi. Meski jumlah pelaku belum sebesar rata-rata nasional, skor potensinya cukup tinggi di Makassar, Parepare, dan Maros. Sulsel dinilai berpeluang menjadi hub jasa profesional di kawasan Indonesia Timur melalui inkubasi profesional dan penguatan layanan digital.
Berbagi pengalaman dan catatan kritis
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta membagikan pandangan dan pengalaman usaha. Santi menekankan konsep “The Power of Kepepet” sebagai dorongan untuk berinovasi di tengah tekanan.
Ia menilai modal integritas, kejujuran, dan daya tahan lebih utama dibandingkan modal finansial semata. Ia juga mendorong model afiliasi komunitas untuk memperkuat jaringan usaha, dengan tahapan eksekusi, belajar, dan peningkatan kapasitas (upgrade).
Baihaqi membagikan pengalaman kegagalannya dalam berusaha sejak 2013 akibat tidak mampu membaca data supply–demand secara tepat. Dari pengalaman tersebut, ia merekomendasikan pembangunan rantai nilai berbasis komunitas serta penggunaan hasil survei awal sebagai baseline untuk pemetaan ekonomi yang lebih detail.
Akbar berpandangan bahwa aktivitas bisnis harus menjadi bagian dari gerakan ideologis komunitas. Ia menyoroti pentingnya integritas, komitmen, kemauan, dan modal ekonomi dalam membangun usaha berbasis jamaah.
Sementara itu, Fahmi selaku pelaku ekspor kopi sejak 2008, menekankan pentingnya kualitas produk, standardisasi pertanian, serta kepercayaan dalam bisnis ekspor. Ia juga mendorong integrasi hulu-hilir melalui pengembangan coffee shop produksi sendiri.
DPW ABI melalui salah satu pengurusnya mendorong agenda sharing session rutin antar pelaku usaha jamaah, termasuk berbagi kisah sukses dan kegagalan. Di sisi lain, Makmur mengingatkan pentingnya menciptakan suasana diskusi yang santai dan terbuka agar proses pemetaan berjalan efektif.
Roadmap dan komitmen lanjutan
Ketua DPW ABI Sulsel bersama Ketua Departemen Ekonomi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan agenda sekali jalan, melainkan berpotensi berlanjut lintas periode kepengurusan.
Sebagai tindak lanjut, forum merumuskan sejumlah rencana, antara lain penyusunan roadmap dan peta data jamaah yang lebih detail, pemetaan unit usaha berbasis komunitas, perancangan integrasi rantai pasok (supply chain), serta program pendampingan dan pelatihan untuk pengembangan digital talent dan penguatan manajemen usaha komunitas.
FGD ditutup dengan komitmen bersama untuk melanjutkan pemetaan potensi ekonomi jamaah secara lebih sistematis dan membangun kolaborasi lintas komunitas guna mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis nilai dan solidaritas.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News9 bulan ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI9 bulan ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
News9 bulan ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
KAJIAN ISLAMI11 bulan ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah





