Connect with us

OPINI

Kader Mahdawiyah Bukanlah Sekadar Aktivis Biasa

Published

on

Kader Mahdawiyah

Kader Mahdawiyah bukanlah sekadar aktivis biasa. Ia adalah jiwa yang ditempa oleh cinta kepada kebenaran dan keyakinan kepada hari kemenangan yang dijanjikan.

Ia tidak sekadar bergerak karena jadwal organisasi, tapi karena panggilan ilahi yang membisikkan bahwa dunia ini sedang menanti hadirnya manusia-manusia setia yang menyiapkan jalan bagi keadilan sejati.

Menjadi kader Mahdawiyah berarti hidup dalam kesadaran sejarah, bahwa hidup ini bukan hanya tentang tugas hari ini, tapi tentang peran besar dalam skenario ilahiah yang belum selesai.

Dunia tengah terluka, dan seorang kader Mahdawiyah tidak menunggu mukjizat dari langit, tapi bekerja dalam diam untuk menyembuhkan luka bumi.

Ia menyalakan lentera di tengah gelapnya zaman, bukan karena ingin dilihat, tapi karena tahu jalan ini terlalu berharga untuk dibiarkan padam.

Kader Mahdawiyah tidak mudah lelah oleh rutinitas organisasi, karena ia tahu bahwa setiap langkah kecil, setiap lembar laporan, setiap diskusi sunyi, adalah bagian dari jihad intelektual dan spiritual.

Ia mungkin tak disambut tepuk tangan, tapi yakin bahwa pekerjaannya tercatat dalam catatan langit yang lebih tinggi dari semua panggung dunia.

Ia belajar mencintai keheningan, karena di sanalah hatinya berdialog dengan Tuhannya. Ia kuat, bukan karena tidak rapuh, tapi karena tahu untuk siapa dan untuk apa ia bertahan.

Ia hadir bukan untuk mengejar status sosial, tapi untuk menyiapkan diri menjadi tentara kebaikan di zaman yang kehilangan arah.

Ia mendidik dirinya dalam kesabaran, dalam akhlak, dalam keilmuan, dan dalam cinta yang melampaui batas kefanatikan. Ia bisa jadi tak terkenal, tapi namanya harum di hadapan langit.

Ia tak butuh banyak bicara tentang keadilan, karena seluruh hidupnya adalah upaya mewujudkannya.

Kader Mahdawiyah adalah mereka yang hatinya menatap masa depan dengan keyakinan, tapi kakinya kokoh mengabdi hari ini.

Ia tidak hanya menunggu kedatangan Imam yang dijanjikan, tapi menjadikan dirinya layak untuk disapa olehnya.

“Jadilah seperti bumi yang disiapkan untuk tumbuhnya keadilan… sabar ditimpa hujan, kokoh diinjak zaman, dan setia pada matahari yang belum terbit.”

[Erwin]

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Epos Al-Husain di Sela Ingatan

Published

on

By

Pahlawan Terang di Senja

Tim Media DPW ABI Sulsel

Ingatan ibarat gudang sunyi, tempat segala kesan disimpan dan dibiarkan menetap. Di dalamnya terserak fragmen-fragmen kehidupan—termasuk yang kelam dan getir—yang tak sepatutnya diabaikan. Sebab dari potongan-potongan itulah terbentang jejak yang dapat ditelusuri kembali, menjadi napak tilas yang memugar kenangan dan menghidupkan kembali apa yang nyaris terhapus oleh waktu.

Manusia adalah makhluk yang mengenang. Itulah mengapa manusia membuat monumen, misalnya, sebagai usaha merawat ingatan. Sebab ingatan seperti debu: selaur mikro-materi yang tak berhingga, namun mudah melayang tertiup, hingga buyar. Dan mengenang adalah cara terbaik mengabadikan ingatan. Agar ia tetap stabil dan solid, dan tak tertimbun oleh debu masa. Sebab ia  akan menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi.

Seperti ingatan tentang kematian tragis Cucu Rasulullah Saw, Imam Husain bin Ali as, keluarga, dan sahabatnya di Padang tandus Karbala. Kisah kepahlawanan yang tak selayaknya hilang dari ingatan umat manusia. Sebab banyak nilai-nilai yang seharusnya menjadi menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi  bagi umat manusia dalam kisah tersebut.

Meski pada akhirnya, Imam Husain as bersama para pengikut setianya syahid di tanah Karbala, dibantai oleh pasukan Dinasti Umayyah dalam pertempuran tak seimbang atas perintah Yazid, penguasa zalim yang haus legitimasi. Tapi di situlah kisah ini menjadi epos yang menyejarah, dan sangat perlu mengabadi dalam relung ingatan umat manusia. Sebab di sana, ada heroisme dari manusia suci yang bikin takjub dan mengundang air mata.

Ketika seluruh sahabat, saudara, dan anak-anaknya telah mati syahid, tak ada niat untuk menyerah atas nama kebenaran dan agama kakeknya.  Di antara terik matahari dan tajamnya kerikil-kerikil panas, Imam Husain tetap bertarung tanpa pertolongan, dengan keadaan lapar dan haus. Hingga seluruh tubuhnya dipenuhi luka tombak, anak panah, dan sabetan pedang.

Akhirnya, tubuh mulia itu telah lemah tak berdaya, dipenuhi luka dan darah perjuangan. Umar bin Sa’d, yang hatinya telah beku oleh ambisi, menginginkan akhir bagi Imam Husain as. Ia memerintahkan Syabats, Sinan, dan Khula untuk mencabut nyawa beliau. Namun, bahkan di tengah kekejaman, masih tersisa setitik gentar dan iba dalam dada mereka: tak sanggup mengakhiri hidup Cucu tercinta Rasulullah Saw.

Hingga muncullah seorang makhluk pongah, keji, dan terlaknat, Syimr bin Dzil Jausyan. Ia tanpa ragu duduk di atas dada Imam Husain. Dengan tangan berlumur dosa dan hati yang membatu, ia memenggal kepala manusia mulia itu. Imam Husain pun gugur sebagai syahid: seorang pahlawan suci yang darahnya menjadi tinta sejarah.

Battle of Karbala Without written version

Foto: Wikipedia

Begitu mengguncangnya peristiwa itu, hingga bumi berguncang, langit menghitam, dan cahaya Timur maupun Barat meredup dalam kabut duka. Bahkan para malaikat pun menangis, menyaksikan jatuhnya sang pemilik jiwa yang paling bersih, demi menegakkan kebenaran yang tak bisa dibeli oleh kekuasaan mana pun. Tragis dan muram. Kematian yang sunyi.

Tapi di balik tragedi kemanusiaan terparah dalam sejarah itu, sekali lagi ditegaskan, ada banyak nilai yang perlu diabadikan dalam gudang ingatan agar ia tak buyar ditempa zaman.  Tentang pengorbanan, kehormatan, kesetiaan, usaha menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan, atau tentang nilai herosieme Al-Husain saat berhadapan dengan tirani.

Alquran telah memerintahkan untuk selalu mengenang  orang-orang yang dimuliakan, agar kita bisa memetik hikmah di setiap jalinan kisah dan keutuhan pribadinya. Seperti ketika Allah meminta Nabi Muhammad Saw untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Idris karena ada nilai kejujuran yang dapat dipelajari dari pribadi mereka (Q.S  Maryam: 41, Maryam: 56-57).

Di sisi lain, Karbala menjadi saksi, bahwa Imam Husain dan para pengikut setianya memiliki sejuta kemuliaan yang sangat perlu dipelajari dan diikuti. Bukankah menjadi sangat pantas, mereka  menjadi fragmen bersejarah yang tersimpan rapi dalam gudang ingatan umat manusia sebagai sosok teladang yang inspiring?

Tapi ingatan tak hanya sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi semata. Ia juga bisa memantik perasaan manusia. Seperti ketika kita kembali mengenang peristiwa sedih dan menggembirakan, selalu ada momen di mana jiwa kita ikut larung dalam kesedihan atau kegembiraan tersebut. Jika peristiwa biasa dapat memacu perasaan kita, bagaimana dengan saat kita mengenang peristiwa memilukan yang dialami Imam Husain?

Sayyid Moustafa Qazwini mengatakan, menangisi Imam Husain as dinilai sebagai pendekatan diri kepada Allah Swt, karena tragedi Imam Husain as sangat berkaitan erat dengan pengorbanan agung yang beliau tanggung deritanya demi Allah Swt.

Ini merupakan pengingatan dari Allah Swt dan riwayat dari Rasulullah saw yang, karena mengetahui nasib cucunya, menangis saat kelahiran Imam Husain as, ketika masa kanak-kanak yang suka bermain-main, dan pada saat-saat terakhir menjelang beliau wafat.

Namun, tentu ada sisi lain yang juga sangat penting disimak berkaitan dengan kekuatan perasaan. Sensibilitas dapat tumbuh di tengah-tengah meluapnya perasaan itu.  Orang-orang yeng memiliki sensibilitas yang tinggi akan mudah peka dan empati terhadap orang lain yang kesusahan, yang tertindas, yang terzalimi.

Kesedihan kita terhadap ketertindasan yang dialami Imam Husain dan pengikut setianya, mestinya diterjemahkan dalam bentuk sensibilitas sosial tersebut. Menangisi Imam Husain tak hanya untuk mempertebal rasa cinta dan mendapatkan keberkahan individual, namun ikut terpacu untuk selalu peka terhadap orang-orang yang terzalimi, dan bersama-sama dengan mereka untuk melawan penindasan, sebagaimana kesungguhan Imam Husain meruntuhkan tirani.

Murtadha Muthahhari, ulama besar mazhab Syiah, memandang bahwa derasnya penekanan para Imam suci atas tangisan bagi Imam Husain as bukan semata luapan duka, melainkan pancaran kesadaran yang hendak menanamkan ruh kebangkitan, semangat kebebasan, dan api perlawanan terhadap kezaliman agar tak pernah padam ditelan zaman.

Dalam pandangannya, seruan para Imam itu telah menjadi bara yang menyulut gerakan-gerakan perlawanan, menyalakan revolusi di pelbagai masa, dan menjadikan nama Imam Husain as sebagai panji agung bagi mereka yang bangkit melawan keangkaramurkaan. Maka ingatlah Al-Husain. Kenanglah tragedi Karbala. Jadikan sebagai sumber pengetahuan, inspirasi, dan sebagai teologi pembebasan.

Continue Reading

OPINI

Memaknai Arbain: Spiritualitas, Solidaritas, dan Perlawanan

Published

on

By

149fa886 2c71 4211 922a 3f9d684bf039

Tim Media DPW ABI Sulsel

Arbain adalah peringatan keagamaan umat Syiah yang jatuh pada 40 hari setelah tragedi Karbala. Pada hari ini, lautan manusia dari berbagai penjuru dunia mengalir menuju makam Imam Husain bin Ali as di Karbala. Mereka berkumpul dalam sebuah ziarah akbar atas nama cinta tanpa pamrih kepada cucu Nabi Muhammad Saw tersebut. Perjalanan ini tentu tak mudah.

Ratusan kilometer harus dilalui oleh puluhan juta jiwa menuju tanah suci, tempat darah kesyahidan tertumpah dan bara cinta yang tak pernah padam, bahkan setelah lebih dari 1300 tahun berlalu sejak cucu Nabi itu gugur di padang Karbala. Ziarah panjang itu adalah laku batin yang menandai keterikatan eksistensial pada Jalan Husaini. Olehnya itu, ia mengandung makna spiritualitas yang dalam dan menyentuh dimensi paling hakiki dari keberagamaan.

Seperti yang diungkapkan oleh Ayatullah Reza Ramezani, ziarah, khususnya ziarah Arbain, bukan sekadar tradisi keagamaan, namun juga laku tauhid. Dalam ajaran Ahlulbait, ziarah mengandung pelajaran besar tentang keesaan Tuhan, kehidupan setelah mati, dan spiritualitas yang bertanggung jawab. Sayangnya, tidak sedikit yang mencemooh aktivitas ziarah karena dianggap sebagai bentuk syirik.

Padahal, menurut Ayatullah Ramezani, justru sebaliknya: ziarah adalah perlawanan terhadap syirik. Karena mengarahkan manusia kepada Tuhan melalui keteladanan Imam Ma’sum. Sebab, seorang peziarah idealnya mencerminkan sosok yang diziarahi dalam keyakinan dan perilaku. Dengan begitu, ziarah menjadi proses transformasi diri menuju kesempurnaan spiritual dan moral. Arbain, dalam konteks ini, adalah manifestasi kecintaan kepada Imam Husain yang membangkitkan keberanian, kesetiaan, dan semangat pengorbanan.

Spiritualitas dalam ziarah bukanlah spiritualitas yang melarikan diri dari tanggung jawab seperti dalam sebagian tradisi Timur atau spiritualitas sekuler ala Barat. Sebaliknya, ini adalah spiritualitas yang rasional, epik, penuh semangat perjuangan, dan berlandaskan wahyu. Ziarah menjadi sarana pembentukan peradaban Islam yang luhur yang berisi kebebasan, kehormatan, dan keadilan.

Namun, Arbain tentu tak cukup hanya dimaknai sebagai laku spiritualitas. Ia juga adalah jalan Al-Husain yang menolak tunduk pada tirani, yang menolak dijinakkan oleh logika kekuasaan yang menindas. Itulah sebabnya, Arbain dapat— dan seharusnya bisa— menjelma menjadi ikrar perlawanan yang paling lantang terhadap segala bentuk kezaliman. Karena itu, kita berharap dentum langkah para peziarah yang membanjiri Karbala di musim Arbain tahun ini menggema ke seluruh penjuru dunia. Sebab inilah pertemuan terbesar umat manusia di zaman kontemporer.

Sebuah momen agung yang layak dijadikan penegasan bagi perlawanan terhadap kezaliman Zionisme maupun berbagai bentuk kolonialisme lainnya, sekaligus menjadi seruan global untuk membela Palestina dan siapa pun kaum mustadhafin yang tertindas. Dalam lanskap dunia hari ini, Arbain dapat membangkitkan kembali semangat melawan kolonialisme Barat yang kini menyaru dalam wajah demokrasi semu, imperialisme budaya, dan kekerasan struktural. Di tengah arus dominasi itulah, Husainisme dapat tampil sebagai bahasa moral yang kokoh.

Bahwa spirit Al-Husain dapat menjadi simbol perlawanan yang menolak tunduk pada kekuatan adidaya seperti Amerika dan Israel, yang terus menindas bangsa-bangsa lemah, terutama rakyat Palestina. Maka, ziarah ke Karbala tidak harus berhenti sebagai ritus spiritual belaka, namun juga deklarasi politik tanpa suara: bahwa umat yang mencintai Al-Husain tidak akan pernah tunduk pada logika kekuasaan yang zalim.

Selain itu, Arbain juga adalah momentum yang sangat indah saat melihat puluhan juta orang berjalan dengan harapan dan cinta. Dan dalam Arbain, harapan dan cinta itu menemukan bentuknya: ratusan kilometer dilalui, tubuh didera lelah, namun langkah tak pernah surut. Mereka benar-benar meneladani Al-Husain dengan pengorbanan nyata demi keberkahan yang tak ternilai harganya. Di sepanjang jalan menuju Karbala, kita juga akan menjumpai para pelayan peziarah: jiwa-jiwa tulus yang berdiri tanpa bayaran dan tanpa mengharap balasan.

Mereka menyambut siapa pun yang lewat dengan senyum dan suguhan, sebagai bentuk pengabdian suci. Dalam ritus Arbain yang terus berlangsung dari tahun ke tahun, jutaan peziarah Syiah melakukan perjalanan panjang menuju makam Al-Husain. Namun, mereka tidak sendiri. Peziarah juga datang dari kalangan Ahlusunnah, bahkan dari komunitas non-Muslim di berbagai penjuru dunia. Di momen inilah, para pelayan merasa terhormat dapat menyuguhkan makanan dan minuman kepada siapa saja, tanpa membedakan Syiah, Sunni, atau non-Muslim.

Dalam semangat inilah, Arbain menghapus semua sekat bangsa, kasta, agama, dan warna kulit. Semuanya larut dalam satu identitas: pecinta Al-Husain. Maka tak heran jika Arbain mampu melampaui sekat-sekat identitas, menjelma menjadi ruang ukhuwah insaniyah yang tulus, serta spiritualitas yang tak mengenal paspor.

Menurut Seyyed Masoom Bagherpour, salah satu tujuan penting dari Arbain adalah menenangkan hati dan memperkuat semangat persaudaraan di antara masyarakat, bahkan seluruh umat manusia yang mencintai kebebasan. Cinta kepada Imam Husain menghimpun berbagai kepentingan makhluk dalam satu arah, mengubah keberagaman menjadi kesatuan, dan perbedaan menjadi persahabatan.

Dalam arti ini, Arbain sejatinya membawa transformasi sosial. Masyarakat yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba berubah menjadi komunitas cinta dan pelayanan. Mereka saling membantu, saling menyemangati, dan saling menguatkan. Inilah sebabnya, cinta kepada Al-Husain menciptakan sebuah keajaiban moral yang tak bisa ditakar dengan angka atau logika statistik. Ia hadir dalam bentuk keramahan yang melimpah, toleransi yang menembus batas, dan cinta yang mengalir bening: tanpa syarat dan tanpa pamrih.

Continue Reading

OPINI

Reaktualisasi Taqiyah dan Jalan Khidmat Kader di Ambang Fajar Kebenaran

Published

on

By

IMG 20250722 WA0011

Oleh: Erwin Lessy (Ketua Departemen Kaderisasi DPW ABI Sulsel)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”
(QS. An-Nashr: 1–3)

Untuk kita semua para Kader khususnya yang baru saja menyelesaikan Pendidikan Tingkat Dasar, pertanyaannya kini bukan lagi, apa yang kita pelajari? Tapi, apakah kita siap untuk menjadi bagian dari ayat ini?

Jika hari itu benar-benar datang, yakni hari di mana manusia berbondong-bondong datang pada kebenaran, pada cahaya Ahlulbait, pada poros keadilan sejati, apakah jiwa kita telah cukup teduh untuk membimbing, bukan menghakimi? Apakah kita telah memiliki kedalaman untuk memeluk, bukan sekadar menjelaskan?

Kita hidup di zaman yang kian terbuka, ketika tirai-tirai sejarah mulai tersingkap, ketika nama-nama suci yang dulu disembunyikan mulai disebut dengan rasa rindu. Tapi ingatlah bahwa ketika kebenaran mulai muncul ke permukaan, tantangan justru tidak berkurang, melainkan berubah bentuk.

Di tengah gelombang informasi, taqiyah bukan lagi hanya soal menjaga diri dari bahaya. Taqiyah adalah seni menjaga kesucian misi, agar cahaya tidak dipaksakan kepada mata yang belum siap. Taqiyah adalah hikmah para pencinta, yang lebih memilih menunda bicara demi menjaga keutuhan pesan.

Taqiyah yang kita pahami di pelatihan bukanlah kelemahan, melainkan sebuah kepekaan spiritual, kesanggupan untuk bersabar demi tegaknya sesuatu yang lebih besar. Dan kita semua, para kader, kini memikul amanah itu.

Kelulusan ini bukan tanda bahwa kita telah selesai. Ini adalah pintu pertama dari jalan panjang khidmat, yakni jalan yang sunyi, tapi penuh cahaya. Kita bukan sekadar pembawa pengetahuan. Kita adalah penjaga arah, pemikul harapan, dan penyambung cahaya dari generasi ke generasi.

Maka, mari kita tanamkan dalam hati bahwa tugas kita bukan hanya menyampaikan kebenaran, tapi menyiapkan dunia agar bisa menerimanya. Dan untuk itu, dibutuhkan lebih dari sekadar keberanian tapi juga dibutuhkan cinta, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.

Berbahagialah kita semua hari ini, karena telah memulai langkah di jalan yang mulia. Tapi bersiaplah juga, karena jalan khidmat tak mengenal jeda bagi mereka yang mencintai dengan tulus.

Semoga kita semua menjadi kader yang bukan hanya paham, tapi juga tangguh dalam diam, kuat dalam kesabaran, dan lembut dalam khidmat. Karena dunia sedang berubah, dan cahaya kebenaran sedang mencari penjemputnya. Dan semoga salah satu di antara kita, adalah penjemput itu.

Continue Reading

Trending