Connect with us

News

Ayatullah Sistani Kecam Aksi Brutal Israel yang Sebabkan Kelaparan Massal di Gaza, Imbau Negara Islam Bertindak

Published

on

Ayatullah Sistani

ABI Sulsel— Perilaku brutal Zionis Israel yang secara ketat memblokade bantuan kemanusiaan hingga menyebabkan kelaparan massal di Gaza mendapat respons keras dari Ayatullah Sayyid Ali Husaini Sistani.

Ia mengecam keras tindakan kejam Israel tersebut karena telah membuat rakyat Palestina yang tertindas di Jalur Gaza mengalami kondisi kehidupan yang sangat memprihatinkan, khususnya akibat kekurangan bahan makanan secara parah.

Hal tersebut mengakibatkan kelaparan yang semakin meluas, yang tidak mengenal batas, bahkan menyerang anak-anak, orang sakit, dan lansia. Ayatullah Sistani menyerukan kepada negara-negara di dunia, khususnya negara-negara Arab dan Islam, agar tidak tinggal diam menyaksikan tragedi kemanusiaan besar ini terus berlangsung.

“Sebaliknya, mereka harus menggandakan upaya mereka untuk mengakhirinya dan menggunakan seluruh kemampuan mereka untuk memaksa rezim penjajah dan pendukungnya menyediakan akses pengiriman bahan makanan dan kebutuhan hidup lainnya bagi warga sipil tak berdosa sesegera mungkin,” tegasnya.

Sebagai catatan, dalam 24 jam terakhir, sembilan warga dilaporkan meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi, berdasarkan data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip dari Aljazeera.com. Dengan penambahan ini, total korban jiwa akibat kelaparan sejak dimulainya serangan Israel telah mencapai 122 orang.

Kondisi anak-anak menjadi sorotan utama dan mendesak, memperkuat kekhawatiran komunitas internasional terhadap memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Lembaga HAM Israel Tuding Negaranya Lakukan Genosida di Gaza: Dunia Harus Hentikan Kejahatan Ini!

Published

on

By

IMG 20250729 140612 134

ABI Sulsel— Dua organisasi hak asasi manusia (HAM) terkemuka asal Israel, B’Tselem dan Physicians for Human Rights-Israel (PHRI), secara terbuka menuduh pemerintah Israel menjalankan “rezim genosida” terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

Kedua lembaga ini menuntut aksi segera dari masyarakat internasional untuk menghentikan kehancuran sistematis yang disebut telah melampaui batas kemanusiaan. Seruan tersebut ditegaskan dalam laporan terbaru B’Tselem yang dirilis pada Senin, 28 Juli 2025.

“Pemeriksaan terhadap kebijakan Israel di Jalur Gaza dan dampak mengerikannya, beserta pernyataan para politisi senior dan komandan militer Israel tentang tujuan serangan tersebut, membawa kita pada kesimpulan tegas bahwa Israel mengambil tindakan terkoordinasi untuk secara sengaja menghancurkan masyarakat Palestina di Jalur Gaza,” begitu bunyi laporan tersebut.

B’Tselem, yang dikenal luas sebagai pengawas hak asasi manusia di wilayah pendudukan, menyajikan data statistik, testimoni langsung dari lapangan, dan dokumentasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh kampanye militer Israel.

Laporan ini  tidak hanya memaparkan penghancuran fisik yang mengerikan, tapi juga iklim politik yang ditandai oleh retorika genosida dari para pemimpin Israel dan percakapan publik yang mengarah pada normalisasi kekerasan ekstrem terhadap rakyat Palestina.

Direktur Eksekutif B’Tselem, Yuli Novak, menyatakan bahwa menyadari dirinya bagian dari masyarakat yang melakukan genosida adalah momen yang sangat menyakitkan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

“Namun sebagai warga Israel dan Palestina yang tinggal di sini dan menyaksikan kenyataan setiap hari, kami memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran sejelas mungkin: Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina. Genosida yang kami lakukan memiliki konteks,” lanjut Novak.

Menurut Yuli Novak, puluhan tahun keterpisahan dan proses dehumanisasi terhadap rakyat Palestina telah menciptakan kondisi yang memungkinkan genosida berlangsung.

Ia menegaskan bahwa nyawa rakyat Palestina, dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania, telah diperlakukan seolah tanpa nilai. Mereka dibiarkan kelaparan, dibunuh, dan diusir, sementara situasinya terus memburuk. Ia menyerukan kepada dunia agar segera menghentikan kejahatan yang sedang berlangsung ini.

Peringatan keras juga datang dari PHRI. Dalam dokumen analisis hukum-medis terbaru, organisasi ini menyimpulkan bahwa tindakan militer Israel terhadap Gaza memenuhi definisi genosida sebagaimana tertuang dalam Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida, yang secara ironis ditandatangani oleh Israel sendiri.

Laporan dari PHRI mengungkap bahwa terdapat pola penghancuran yang terencana dan sistematis terhadap infrastruktur vital di Gaza, terutama sistem layanan kesehatannya, yang menjadi penopang utama kelangsungan hidup warga sipil.

Dalam temuan mereka, serangan terhadap rumah sakit dilakukan secara langsung, bantuan medis dan proses evakuasi dihalangi, bahkan tenaga medis menjadi sasaran pembunuhan dan penangkapan.

PHRI menegaskan bahwa semua ini bukan dampak sampingan dari konflik bersenjata, melainkan bagian dari kebijakan yang sengaja dirancang untuk menyakiti dan melemahkan seluruh populasi Palestina.

Dr. Guy Shalev, Direktur Eksekutif PHRI, menilai bahwa penghancuran sistem kesehatan di Gaza dilakukan secara sengaja oleh Israel. Ia menegaskan bahwa apa yang terjadi di Gaza merupakan bentuk genosida yang harus dilawan.

Selama hampir dua tahun terakhir, menurutnya, serangan terhadap rumah sakit terus terjadi, pasien tidak diberi akses ke perawatan yang bisa menyelamatkan nyawa, dan bantuan kemanusiaan secara sistematis dihalangi. Ini mencerminkan pola penghancuran yang konsisten dan tidak bisa dianggap kebetulan.

“Adalah tugas kita sebagai tenaga medis, dan juga bagi rekan-rekan kita di Gaza yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan orang lain dalam kondisi yang mustahil, untuk menghadapi kebenaran dan melakukan segala yang kita bisa untuk melindungi mereka,” tegasnya.

Baik B’Tselem maupun PHRI tak segan menuding masyarakat internasional sebagai pihak yang turut bertanggung jawab atas berlangsungnya tragedi kemanusiaan ini. Dalam pernyataan bersama yang keras, mereka menyebut dunia telah menjadi “pendukung aktif atau pasif” dari kekerasan Israel.

Mereka menyerukan intervensi global berdasarkan seluruh perangkat hukum internasional yang ada untuk menghentikan kehancuran total terhadap rakyat Palestina. Dalam sejarah panjang konflik Israel-Palestina.

Mungkin inilah salah satu momen paling mencolok. Bukan karena datang dari luar, melainkan karena suara peringatan itu kini datang dari dalam negeri Israel sendiri.

Continue Reading

News

Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza

Published

on

By

DSC 5612 watermark lg

ABI Sulsel— Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, menyampaikan respons tegas terhadap aksi brutal Israel yang telah menyebabkan kematian dan kelaparan massal warga sipil di Jalur Gaza, Palestina.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan melalui akun X, Kemlu RI mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi yang semakin memburuk dan tidak manusiawi di Gaza, termasuk aksi pembunuhan brutal terhadap warga sipil.

“Ribuan warga Palestina kini terancam kelaparan akibat penolakan Israel terhadap bantuan kemanusiaan yang esensial,” tulis akun X resmi Kemlu RI.

Pemerintah Indonesia mendesak masyarakat internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk segera mengambil langkah konkret guna menghentikan agresi Israel serta menjamin akses bantuan kemanusiaan yang penuh, aman, dan berkelanjutan, termasuk melalui badan-badan PBB.

“Indonesia menyambut baik seruan sejumlah negara dan Uni Eropa agar Israel segera mencabut pembatasan bantuan, serta mendesak semua pihak untuk melindungi warga sipil dan mematuhi kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional,” lanjut pernyataan tersebut.

Continue Reading

News

Ayatullah Khamenei: Gerakan Militer dan Ilmiah Iran Akan Semakin Kuat dan Melesat

Published

on

By

20250726 130324

ABI Sulsel— Pada Kamis dan Jumat, bertepatan dengan hari ke-40 gugurnya sejumlah komandan militer dan ilmuwan Iran akibat serangan Israel pada 13 Juni lalu, berbagai upacara penghormatan digelar di seluruh Iran untuk mengenang pengorbanan mereka.

Dalam pesannya yang menandai peringatan 40 hari tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Seyyed Ali Khamenei menyampaikan pesan-pesan revolusioner yang menegaskan keteguhan dan arah masa depan Republik Islam Iran.

Salah satu poin penting yang ditekankan beliau adalah bahwa di masa depan akan terbukti bahwa kemajuan militer dan ilmiah Iran akan semakin melesat. Beliau menyampaikan bahwa hari ke-40 gugurnya para komandan militer dan ilmuwan terkemuka Iran merupakan momen duka besar bagi bangsa, akibat serangan keji rezim Zionis.

Ia menyebut nama-nama penting seperti Syahid Bagheri, Salami, Rashid, Hajizadeh, Shadmani, serta ilmuwan Tehranchi dan Abbasi sebagai sosok yang kehilangannya merupakan duka  yang berat.

Meski begitu, Khamenei menegaskan bahwa musuh gagal mencapai tujuannya, dan justru kemajuan militer dan ilmiah Iran akan semakin pesat di masa depan menuju cita-cita luhur.

“Namun, musuh yang bodoh dan berpandangan sempit tidak mencapai tujuannya. Masa depan akan membuktikan bahwa gerakan militer dan ilmiah, insya Allah, akan terus melaju lebih cepat dari sebelumnya menuju cita-cita luhur,” tegasnya.

Dalam pesan tersebut, Ayatollah Khamenei juga menyinggung soal keteguhan para syuhada yang dengan sadar memilih jalan jihad dan pengorbanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kehilangan ini, meski menyakitkan, memancarkan titik-titik cahaya harapan.

Ia menggarisbawahi bahwa tragedi tersebut justru memperlihatkan kekuatan batin dan ketahanan bangsa Iran dalam menghadapi ujian berat. Pertama, terlihat dari ketabahan, kesabaran, dan semangat kuat para penyintas.

Kedua, dari keteguhan dan stabilitas institusi-institusi yang pernah dipimpin oleh para syuhada, yang tetap melanjutkan perjuangan tanpa membiarkan pukulan ini menghambat laju kemajuan mereka.

Ketiga, dari ketangguhan luar biasa yang ditunjukkan oleh bangsa Iran secara keseluruhan, yang tercermin dalam persatuan nasional, kekuatan spiritual, serta tekad yang kokoh untuk terus berdiri teguh di garis depan perjuangan.

“Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa kita tidak boleh melalaikan kebenaran ini ataupun kewajiban yang ia bebankan kepada kita. Menjaga persatuan nasional adalah tanggung jawab setiap dari kita. Percepatan yang diperlukan dalam kemajuan ilmiah dan teknologi di segala bidang adalah tanggung jawab para ilmuwan dan kaum cendekia,” ujarnya.

Continue Reading

Trending