KEGIATAN ABI
Musda II DPD ABI Gowa, Jeneponto, dan Bulukumba Dorong Transformasi Jemaah Menuju Organisasi Modern
ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Musyawarah Daerah (Musda) II DPD ABI Gowa, Jeneponto, dan Bulukumba pada Ahad, 24 Mei 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Dari Paguyuban Menuju Peradaban Organisasi; Menyelaraskan Gerakan Daerah Menuju Visi ABI yang Berkelanjutan.”
Kegiatan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WITA di Sekretariat DPW ABI Sulsel, Jl. Batuaraya 5 Lorong 4, Makassar. Musyawarah diikuti oleh utusan daerah Gowa dan Jeneponto secara langsung, sementara peserta dari Kabupaten Bulukumba mengikuti kegiatan secara daring.
Dalam sambutannya, Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Imran Latif, menjelaskan bahwa komunitas Ahlulbait di Sulawesi Selatan memiliki akar sejarah yang panjang, bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia menyebut salah satu Qadi Kesultanan Gowa, Syech Jalaluddin Al Aidit, sebagai tokoh pengikut Ahlulbait yang turut menyebarkan ajaran Ahlulbait di tanah Sulawesi.
Menurutnya, komunitas Ahlulbait di Sulawesi Selatan selama ini banyak tumbuh dari ruang-ruang paguyuban dan komunitas intelektual. Karena itu, ABI memandang penting adanya transformasi tradisi gerakan menuju kultur organisasi yang lebih tertata dan berkelanjutan.
“Sudah saatnya kita bergerak dari tradisi paguyuban menuju peradaban organisasi. Kita harus terbiasa bekerja di bawah aturan organisasi, dengan tata administratif yang tertib dan terukur,” ujar Imran dalam sambutannya.
Musyawarah daerah ini juga menjadi ruang konsolidasi antar daerah untuk menyelaraskan arah gerakan organisasi dengan visi besar ABI secara nasional, khususnya dalam penguatan tata kelola organisasi, kaderisasi, dan pengembangan gerakan sosial-keumatan di daerah.
Kegiatan ditutup dengan sambutan Wakil Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Ahmad Syawqi. Dalam pesannya, ia menyebut para pengikut Ahlulbait sebagai orang-orang yang kembali atau bertaubat, yakni mereka yang kembali mengikuti itrah Rasulullah SAW yang suci dengan berupaya menyelaraskan diri terhadap ajaran-ajarannya.
“Pengikut Ahlulbait adalah mereka yang kembali kepada jalan keluarga suci Rasulullah, dengan terus berusaha memperbaiki diri dan menyelaraskan hidupnya dengan nilai-nilai ajaran tersebut,” ungkapnya.
Musyawarah Daerah II kemudian ditutup dengan pembacaan Doa Faraj secara bersama-sama, sebagai doa dan harapan bagi zuhurnya Imam Mahdi afs.
Laporan: Irfan Nesa
KEGIATAN ABI
DPW ABI Sulsel Luncurkan E-Commerce Berbasis Komunitas, Perkuat Ekosistem Ekonomi Jamaah
ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Provinsi Sulawesi Selatan resmi meluncurkan aplikasi e-commerce berbasis komunitas pada Ahad (12/7/2026) di Sekretariat DPW ABI Sulsel, Jalan Batua Raya Lorong 4, Makassar.
Peluncuran ini dihadiri puluhan pelaku UMKM dan non-UMKM dari kalangan jamaah Ahlulbait sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang saling menguatkan di lingkungan komunitas.
Momentum peluncuran aplikasi tersebut dipilih sebagai penutup rangkaian kunjungan Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia di Sulawesi Selatan.
Sebelumnya, DPP melaksanakan pendalaman kualitatif atas hasil Survei Pemberdayaan Ekonomi ABI Tahun 2025, sementara peluncuran aplikasi ini menjadi wujud nyata bagaimana hasil-hasil kajian mulai diterjemahkan ke dalam program yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh jamaah.
Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Dr. Imran Latif, menjelaskan bahwa lahirnya platform digital tersebut berangkat dari kebutuhan mendesak untuk menghadirkan solusi pemberdayaan ekonomi di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Menariknya, gagasan pengembangan aplikasi baru diputuskan hanya beberapa hari sebelumnya dalam rapat bulanan DPW ABI Sulsel.
Alih-alih menunggu seluruh kajian selesai dilakukan, DPW memilih menggunakan pendekatan try and error, yakni membangun, menguji, mengevaluasi, lalu menyempurnakan aplikasi secara bertahap berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan.
“Sering kali kita terlalu lama berhenti pada tahap perencanaan. Padahal kondisi ekonomi masyarakat hari ini menuntut langkah yang cepat. Jika ada kekurangan, kita evaluasi sambil berjalan. Yang terpenting adalah memulai dan terus menyempurnakan,” ujar Dr. Imran.
Menurutnya, selama ini paradigma bisnis lebih banyak berorientasi pada demand side, yakni menghitung daya beli, kecenderungan pasar, serta permintaan konsumen. Padahal, aspek produksi justru menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi.
“Selama ini paradigma bisnis kita cenderung melihat persoalan dari sisi demand side; menghitung daya beli, kecenderungan pasar, dan permintaan konsumen. Padahal kita juga harus mulai memperkuat sisi produksi, bagaimana rantai pasok dibangun, biaya produksi dibuat efisien, dan bagaimana komunitas mampu menciptakan pasarnya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa konsep pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas menjadi sangat relevan bagi jamaah Ahlulbait karena tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga membangun sebuah ekosistem ekonomi yang saling menopang.
“Kalau komunitas kita mampu saling menjadi produsen sekaligus konsumen, maka akan terbentuk ekosistem ekonomi yang saling menguatkan. Inilah semangat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, Ali Reza Baraqbah atau yang akrab disapa Sayyid Ali Reza.
Menurutnya, model yang dikembangkan DPW ABI Sulsel menawarkan pendekatan yang lebih sederhana, efisien, dan mudah direplikasi dibandingkan pengembangan platform serupa yang selama ini dirancang di tingkat pusat.
Ia mengungkapkan bahwa DPP ABI sebenarnya telah mengembangkan program dengan tujuan yang sama. Namun dalam prosesnya, pengembangannya membutuhkan biaya yang relatif besar.
Sebaliknya, model berbasis web yang dikembangkan DPW ABI Sulsel dinilai lebih ringan dari sisi investasi, tetapi tetap mampu menjawab kebutuhan organisasi di daerah.
“Model ini sangat menarik karena biaya pengembangannya jauh lebih ringan, tetapi tetap fungsional. Saya melihat ini berpotensi menjadi prototipe yang dapat kita tawarkan kepada seluruh DPW dan DPD ABI di Indonesia, khususnya bagi daerah yang jumlah penggunanya masih di bawah seribu akun,” ungkapnya.
Sementara itu, pengembang aplikasi, Syamsu Alam, yang juga merupakan Ketua Program Studi Bisnis Digital Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan akan terus disempurnakan.
Salah satu fitur yang tengah dipersiapkan adalah layanan kurir berbasis komunitas. Fitur ini diharapkan dapat memberdayakan jamaah yang memiliki waktu luang untuk memperoleh tambahan pendapatan melalui layanan pengantaran ketika terdapat pesanan yang masuk melalui aplikasi.
“Aplikasi ini memang masih dalam tahap pengembangan. Masih banyak fitur yang akan terus kami sempurnakan. Dalam waktu dekat kami menargetkan hadirnya fitur kurir berbasis komunitas, sehingga jamaah yang memiliki waktu luang juga dapat memperoleh tambahan pendapatan dari layanan pengantaran,” jelas Syamsu Alam.
Sebagai penutup kegiatan, panitia melakukan simulasi penggunaan aplikasi mulai dari proses pencarian produk UMKM, pemesanan, hingga pembayaran (payment). Simulasi berlangsung lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang hadir.
Salah seorang pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan optimismenya terhadap kehadiran platform digital ini. Menurutnya, aplikasi tersebut berpotensi membuka pasar baru bagi produk-produk jamaah sekaligus memperkuat transaksi ekonomi di lingkungan komunitas.
“Kami berharap aplikasi ini segera berjalan optimal. Nantinya kami juga akan menyesuaikan harga produk dengan skema biaya layanan (fee) yang disepakati bersama pengelola, sehingga sistemnya tetap sehat bagi pelaku usaha maupun pengelola aplikasi,” ujarnya.
Peluncuran aplikasi e-commerce ini menjadi langkah awal DPW ABI Sulawesi Selatan dalam membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga pada penguatan jejaring usaha, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penciptaan pasar internal yang berkelanjutan.
Ke depan, platform ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM, konsumen, hingga mitra distribusi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi jamaah Ahlulbait.
Masyarakat, khususnya pelaku usaha dan jamaah Ahlulbait, kini dapat mulai mengakses platform tersebut melalui gaddekita.com. Sebagai aplikasi e-commerce berbasis web, GaddeKita dirancang agar mudah diakses tanpa perlu mengunduh aplikasi, sehingga dapat digunakan melalui berbagai perangkat untuk mempromosikan produk, memperluas jejaring pemasaran, serta memperkuat transaksi ekonomi di lingkungan komunitas.
Kontributor: Irfanesa
KEGIATAN ABI
Bangun Kemandirian Ekonomi Komunitas, DPP ABI Serap Pengalaman PANDU dan Muslimah ABI Sulse
ABI Sulsel— Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia (ABI) melakukan rangkaian kunjungan dan dialog strategis di Sulawesi Selatan yang difasilitasi oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ABI Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (10/7). Kegiatan ini menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus menyusun arah penguatan program pemberdayaan ekonomi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Rombongan DPP dipimpin oleh Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi, *Ali Reza Baraqbah* atau yang akrab disapa Sayyid Ali Reza, didampingi Wakil Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi, *Hilmi Dhiya Ulhaq*. Dalam kunjungan tersebut, keduanya berdiskusi bersama pengurus Pimpinan Wilayah (Pimwil) PANDU ABI Sulawesi Selatan dan Pimwil Muslimah Ahlulbait Indonesia Sulawesi Selatan.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Erna Sudirman, Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi Muslimah ABI Sulawesi Selatan, difokuskan pada pemetaan tantangan sekaligus penggalian praktik-praktik terbaik yang telah dijalankan di daerah.
DPP memaparkan arah kebijakan pemberdayaan ekonomi organisasi, sekaligus meminta pandangan dan pengalaman dari PANDU maupun Muslimah mengenai program-program yang dinilai paling mendesak dan relevan untuk dikembangkan.
Dalam pemaparannya, Sayyid Ali Reza mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI pada tahun 2025, persoalan terbesar yang dihadapi masyarakat dalam upaya pemberdayaan ekonomi masih didominasi oleh keterbatasan akses terhadap permodalan.
“Sekitar 80 persen persoalan pemberdayaan ekonomi yang kami temukan bermuara pada masalah permodalan. Karena itu, program yang kita rancang harus mampu membuka akses pembiayaan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Erna membagikan pengalaman panjangnya sebagai pelaku usaha di bidang konstruksi. Ia menjelaskan berbagai strategi praktis yang selama ini diterapkan dalam memperoleh dukungan pembiayaan usaha, mulai dari pemanfaatan fasilitas perbankan hingga berbagai skema pembiayaan yang tersedia di Pegadaian. Pengalaman tersebut menjadi bahan diskusi yang dinilai sangat aplikatif karena berangkat dari praktik lapangan yang telah terbukti dijalankan.
Selain membahas penguatan ekonomi keluarga dan pelaku usaha, forum juga secara khusus mendiskusikan kondisi organisasi kepemudaan ABI. Ketua Pimwil PANDU ABI Sulawesi Selatan, Andi Atikah Permata Mahdiyah P, menyampaikan evaluasi secara terbuka mengenai tantangan yang dihadapi organisasinya.
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak pemuda Ahlulbait yang belum memiliki ketertarikan untuk bergabung ke dalam PANDU karena belum melihat manfaat maupun dampak nyata dari keberadaan organisasi. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya sumber daya manusia yang aktif, sehingga berbagai program yang telah direncanakan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) belum dapat dijalankan secara optimal.
Menanggapi hal tersebut, Hilmi Dhiya Ulhaq mendorong PANDU agar mulai membangun model pemberdayaan ekonomi yang tidak hanya mampu menopang pembiayaan organisasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi para anggotanya.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pembentukan lembaga kursus yang dikelola secara profesional oleh PANDU, khususnya untuk mempersiapkan calon mahasiswa menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi maupun memperoleh berbagai program beasiswa.
Selain menjadi ruang pengabdian pemuda, program tersebut juga dinilai berpotensi menjadi unit usaha sosial yang dapat memperkuat kemandirian finansial organisasi sekaligus meningkatkan daya tarik PANDU di kalangan generasi muda.
Diskusi berlangsung hangat selama kurang lebih tiga jam. Berbagai pengalaman, kritik, dan gagasan yang muncul menjadi bekal penting dalam penyusunan program pemberdayaan ekonomi ABI ke depan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan komunitas. Pertemuan kemudian ditutup dengan makan malam bersama dalam suasana penuh keakraban, sebagai simbol penguatan sinergi antara DPP, DPW, serta organisasi otonom ABI dalam mewujudkan ekosistem pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
KEGIATAN ABI
Majelis Pengajian Mutiara Resmi Dimulai, Hadirkan Ruang Belajar Al-Qur’an dan Penguatan Keagamaan bagi Masyarakat
ABI Sulsel— Dewan Pengurus Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Yayasan Simpul Panrita Dua Belas menggelar pertemuan perdana Majelis Pengajian Mutiara (Majelis Untuk Tahsin, Iqra, dan Ragam Agama) pada Senin (22/6/2026) di Sekretariat DPW ABI Sulawesi Selatan, Jalan Batua Raya 5 Lorong 4, Makassar.
Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00 hingga 17.30 WITA tersebut diikuti oleh ibu-ibu yang berdomisili di sekitar area sekretariat sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan di lingkungan masyarakat.
Pelaksanaan Majelis Pengajian Mutiara merupakan salah satu bentuk kontribusi sosial-keagamaan yang bertujuan menyediakan ruang belajar yang terbuka, ramah, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui program ini, peserta diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memperbaiki bacaan melalui pembelajaran tahsin, serta memperkaya wawasan keagamaan melalui berbagai materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pertemuan perdana diawali dengan pembukaan dan perkenalan program kepada peserta. Selanjutnya, kegiatan difokuskan pada pembelajaran dasar membaca Al-Qur’an dan tahsin yang disampaikan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing peserta. Pendekatan yang digunakan menekankan suasana belajar yang nyaman dan tidak menghakimi sehingga setiap peserta dapat mengikuti proses pembelajaran dengan percaya diri.
Pengajar Majelis Pengajian Mutiara, Hj. Asnimihram, menyampaikan bahwa keberadaan majelis ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat, khususnya kaum ibu, untuk terus meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an sekaligus memperkuat fondasi keagamaan dalam keluarga.
“Belajar Al-Qur’an adalah proses yang tidak mengenal usia. Melalui Majelis Pengajian Mutiara, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang hangat dan terbuka, tempat setiap orang dapat memperbaiki bacaannya, menambah pengetahuan agama, serta saling menguatkan dalam kebaikan. Kami berharap majelis ini menjadi langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” ujar Hj. Asnimihram.
Sementara itu, salah seorang peserta, Hj. Andi Norma, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran majelis pengajian di lingkungan tempat tinggal memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman agama.
“Kami merasa senang karena ada wadah belajar seperti ini di sekitar lingkungan kami. Banyak di antara kami yang masih ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an tetapi sering merasa tidak memiliki kesempatan atau tempat yang tepat. Di sini suasananya sangat nyaman dan membuat kami lebih bersemangat untuk belajar bersama,” tuturnya.
Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat jelas. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, mencatat materi yang disampaikan, serta aktif berinteraksi dengan pengajar. Beberapa peserta juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an dan praktik ibadah sehari-hari.
Suasana majelis berlangsung khidmat namun tetap hangat dan komunikatif. Semangat kebersamaan tampak dalam interaksi antar peserta yang saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Tidak sedikit peserta yang mengungkapkan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin sehingga proses belajar dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Kehadiran ibu-ibu dari lingkungan sekitar sekretariat menciptakan ruang silaturahmi yang positif, sekaligus memperkuat budaya belajar dan saling berbagi pengetahuan keagamaan dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
Bagi DPW ABI Sulawesi Selatan, pelaksanaan pertemuan perdana Majelis Pengajian Mutiara yang bertepatan dengan hari keenam bulan Muharram 1448 Hijriah memiliki makna tersendiri. Bulan Muharram dipandang sebagai momentum untuk memperkuat refleksi spiritual, memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai keagamaan, serta menumbuhkan semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri.
Dalam pandangan DPW ABI Sulawesi Selatan, salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari bulan Muharram adalah pentingnya menjaga integritas, kejujuran, keberanian dalam mempertahankan kebenaran, serta kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam keteladanan Imam Husain as yang hingga kini dikenang sebagai figur yang teguh memegang prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai universal tersebut dinilai tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern, terutama dalam membangun keluarga, lingkungan sosial, dan generasi yang berakhlak mulia.
Meski demikian, penyelenggaraan Majelis Pengajian Mutiara tetap difokuskan pada tujuan utamanya, yakni menghadirkan ruang pembelajaran Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan umat melalui pendidikan dan pembinaan spiritual yang berkelanjutan.
Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal dari rangkaian kegiatan yang direncanakan berlangsung secara rutin. DPW ABI Sulawesi Selatan bersama Yayasan Simpul Panrita Dua Belas berharap Majelis Pengajian Mutiara dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar serta mendorong lahirnya lingkungan yang lebih religius, harmonis, dan berkeadaban.
Pada akhirnya, semangat Muharram yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan moral, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus menumbuhkan budaya belajar, memperkuat akhlak, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, beradab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
News12 bulan ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah




