Connect with us

KOMUNITAS

Bedah Buku “Mengapa Saya Mengikuti Ali” di Jeneponto

Published

on

IMG 20260621 WA0001

ABI Sulsel— Suasana Minggu sore, 21 Juni 2026, di Warkop “Diresapi Kopi” Jeneponto, terasa berbeda dari biasanya. Di antara aroma kopi dan percakapan para pengunjung, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul untuk mengikuti bedah buku “Mengapa Saya Mengikuti Ali” karya H. Lexi Mailowa Budiman.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktur Balla Kopi Institut, Maggalatung, ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan tokoh agama untuk mendiskusikan isi buku yang mengisahkan perjalanan intelektual dan spiritual seorang keturunan Tionghoa dalam menemukan jalan pemikiran yang diyakininya melalui sosok Imam Ali bin Abi Thalib.

Dalam pengantarnya, Maggalatung menyampaikan bahwa diskusi literasi tidak boleh hanya berlangsung di ruang-ruang akademik yang eksklusif. Warung kopi, menurutnya, harus menjadi ruang publik tempat masyarakat bertemu, bertukar pikiran, dan memperbincangkan gagasan-gagasan besar yang menyangkut kehidupan bersama.

Diskusi diawali oleh Prof. Khusnul yang mengawali paparannya dengan sebuah refleksi spiritual.

“Kehadiran kita di tempat ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah bentuk kecintaan Imam Ali kepada kita semua sehingga kita dipertemukan dalam majelis ini,” ujarnya.

Menurut Prof. Khusnul, ilmu pengetahuan tidak semestinya hanya beredar di kampus dan universitas. Masyarakat juga berhak memperoleh akses terhadap diskusi-diskusi yang mencerahkan, termasuk melalui forum-forum sederhana seperti yang berlangsung di Warkop Diresapi Kopi.

Ia menjelaskan bahwa salah satu keunikan buku karya H. Lexi Mailowa Budiman terletak pada latar belakang penulisnya yang berasal dari keluarga multikultural dan multiagama. Dalam keluarganya terdapat penganut Islam, Kristen, Konghucu, dan lainnya. Ia sendiri adalah seorang muallaf (Islam). Dari latar belakang itulah lahir sebuah pencarian panjang terhadap kebenaran.

Menurut Prof. Khusnul, buku tersebut pada mulanya merupakan catatan-catatan harian penulis yang merekam kegelisahannya setelah memeluk Islam. Ia menyaksikan umat Islam yang terpecah dalam berbagai kelompok, saling menyalahkan, bahkan saling menyesatkan.
“Ada yang bertahlil, ada yang membid’ahkan. Ada yang menganggap dirinya paling benar, sementara yang lain dianggap sesat. Dari kegelisahan itulah Pak Lexi melakukan penelusuran panjang,” jelasnya.

Salah satu kalimat yang menurut Prof. Khusnul menjadi inti dari buku tersebut adalah ungkapan penulis: “Saya menolak mewarisi tanpa memeriksa.”

Kalimat itu menggambarkan keberanian seorang pencari kebenaran yang tidak menerima begitu saja warisan pemikiran tanpa melakukan penelitian dan verifikasi terhadap sumber-sumber yang dianggap kredibel.

Dalam paparannya, Prof. Khusnul juga menyoroti sosok Imam Ali sebagai figur yang sangat dekat dengan rakyat kecil. Menurutnya, keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas merupakan salah satu karakter utama Imam Ali yang kemudian juga tercermin dalam perjuangan para tokoh besar Islam, termasuk Imam Khomeini.

“Ia memimpin revolusi besar, tetapi hidup sederhana dan lebih dekat kepada kaum mustadhafin,” ujarnya.

Prof. Khusnul juga mengingatkan bahwa sebagian besar sanad keilmuan para penyebar Islam di Nusantara memiliki mata rantai yang tersambung kepada Imam Ali bin Abi Thalib, meskipun banyak manuskrip sejarah yang hilang atau berpindah tangan pada masa kolonial.

Paparan berikutnya disampaikan oleh Hasanuddin Malewa dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan. Ia menilai perjalanan intelektual yang ditulis Lexi Mailowa memiliki kemiripan dengan pengalaman spiritual yang dikisahkan dalam buku “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” karya Muhammad at-Tijani as-Samawi.

Menurut Hasanuddin, mengikuti Ali bukan berarti sekadar mengidolakan atau memfanatikkan seseorang. Mengikuti Ali berarti mengikuti jalan kebenaran yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAWW kepada umatnya.

Ia menjelaskan konsep wasi dalam tradisi Islam, yakni sosok yang menerima amanah untuk melanjutkan dan menjaga risalah kenabian. Dalam pandangannya, Imam Ali merupakan wasi Rasulullah sebagaimana para nabi terdahulu juga memiliki penerus yang menjaga ajaran mereka.

Hasanuddin juga mengulas berbagai peristiwa penting yang menunjukkan keberanian Imam Ali dalam sejarah Islam, mulai dari Perang Uhud, Khandaq hingga Khaibar.

“Ali bukan hanya simbol ilmu pengetahuan dan spiritualitas, tetapi juga simbol keberanian dalam membela kebenaran,” katanya.

Sementara itu, Sayyid Jalil Fattah Tuang Liu dari ABI Jeneponto menyampaikan kesan emosionalnya terhadap buku tersebut.

“Saat melihat judul buku ini, saya ingin memeluk penulisnya. Karena saya adalah darah Ali,” ujarnya yang disambut senyum oleh peserta karena beliau dikenal sebagai seorang Sayyid keturunan Rasulullah.

Menurutnya, buku ini sesungguhnya berbicara tentang cinta, kedamaian, dan keteladanan. Ia menggambarkan Imam Ali sebagai sosok yang memadukan keberanian dan kebijaksanaan dalam satu pribadi.

Sebagai ilustrasi, Sayyid Jalil mengisahkan peristiwa ketika Imam Ali berhasil menjatuhkan lawannya dalam peperangan. Namun ketika lawan tersebut meludahinya, Imam Ali justru menahan diri dan mengurungkan niat untuk membunuhnya saat itu juga.

“Ali khawatir jika tindakannya didorong oleh kemarahan pribadi, bukan demi menegakkan kebenaran,” tuturnya.

Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan musuh, melainkan mengalahkan hawa nafsu dalam diri sendiri.

IMG 20260621 WA0002

Dari Ahlul Bait hingga Peristiwa Ghadir Khum

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian paling menarik dalam bedah buku tersebut. Berbagai pertanyaan diajukan peserta, mulai dari konsep Ahlul Bait, kondisi sosial Arab sebelum Islam, hingga persoalan kepemimpinan umat setelah wafatnya Rasulullah SAWW.

Menjawab pertanyaan tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait, narasumber menjelaskan bahwa istilah tersebut secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Ahzab ayat 33 yang menyebutkan bahwa Allah berkehendak menghilangkan segala noda dari Ahlul Bait dan menyucikan mereka sesuci-sucinya.

Menurut Hasanuddin, untuk memahami siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat tersebut, para ulama merujuk kepada sejumlah hadis, salah satunya Hadis Ahlul Kisa atau Hadis Selimut. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW mengumpulkan lima orang di bawah satu selimut, yaitu Rasulullah SAW sendiri, Imam Ali bin Abi Thalib, Sayidah Fatimah Az-Zahra, Imam Hasan, dan Imam Husain. Rasulullah kemudian berdoa agar mereka mendapatkan limpahan rahmat dan kesucian dari Allah SWT.

Karena itu, lima sosok tersebut dikenal sebagai Ahlul Kisa dan menempati posisi yang sangat istimewa dalam sejarah Islam. Narasumber menjelaskan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait bukan sekadar persoalan hubungan keluarga dengan Nabi, tetapi juga karena keteladanan moral, ilmu, dan pengorbanan yang mereka tunjukkan dalam menjaga ajaran Islam.

Pertanyaan lain yang mengemuka adalah mengenai kondisi sosial masyarakat Arab sebelum kelahiran Rasulullah SAW.

Prof. Khusnul menjelaskan bahwa Makkah pada masa itu sebenarnya merupakan kota yang maju dan menjadi pusat perdagangan penting di Jazirah Arab. Karena itu, istilah “jahiliah” yang sering digunakan untuk menggambarkan periode tersebut tidak berarti masyarakat Arab ketika itu bodoh atau tidak berpendidikan.

Yang dimaksud dengan jahiliah adalah kondisi moral dan spiritual masyarakat yang berada pada titik kemerosotan. Praktik-praktik ketidakadilan berlangsung secara luas, seperti peperangan antarsuku yang berkepanjangan, perbudakan, eksploitasi kelompok lemah, serta tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap sebagai aib keluarga.

Narasumber juga menjelaskan bahwa sejumlah kelompok Yahudi pada masa itu telah mengenal berbagai nubuat tentang akan datangnya seorang nabi akhir zaman. Dalam sejumlah riwayat sejarah disebutkan bahwa mereka menantikan kemunculan sosok tersebut. Namun sebagian dari mereka berharap nabi yang dijanjikan itu berasal dari garis keturunan Bani Israil, bukan dari keturunan Nabi Ismail AS.

Karena itu, menurut Prof Khusnul, keluarga Bani Hasyim yang kelak menjadi tempat kelahiran Rasulullah SAWW telah menghadapi berbagai tekanan dan ancaman bahkan sebelum Nabi Muhammad lahir.

Pertanyaan yang kemudian memancing diskusi lebih panjang adalah mengenai siapa yang seharusnya menjadi penerus Rasulullah SAW setelah beliau wafat.

Menanggapi hal itu, Prof mengajukan pertanyaan reflektif kepada peserta.

“Kalau seseorang ketua sebuah organisasi dan mengetahui bahwa masa kepemimpinannya akan segera berakhir, apakah ia akan meninggalkan umatnya tanpa memberikan petunjuk tentang siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan?”

Dari pertanyaan tersebut, narasumber kemudian menjelaskan peristiwa Ghadir Khum, sebuah lokasi yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Menurut berbagai riwayat sejarah Islam, peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah SAW menyelesaikan Haji Wada atau haji perpisahan.

Di hadapan ribuan jamaah haji yang sedang dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW menghentikan rombongan dan menyampaikan sebuah khutbah. Dalam khutbah tersebut beliau mengangkat tangan Imam Ali bin Abi Thalib dan menyampaikan pernyataan yang sangat terkenal:

“Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya (pemimpin, pelindung atau yang memiliki otoritas atas dirinya), maka Ali adalah mawlanya.”

Menurut narasumber, peristiwa ini dipahami oleh banyak kalangan sebagai deklarasi penting mengenai kedudukan dan kepemimpinan Imam Ali setelah Rasulullah SAW. Karena itu, Ghadir Khum memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Islam, terutama dalam tradisi yang meyakini bahwa Rasulullah SAWW telah memberikan penegasan mengenai peran Ali sebagai penerus kepemimpinan umat.

Meski demikian, narasumber juga menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna dan implikasi politik dari peristiwa tersebut. Perbedaan itulah yang kemudian berkembang menjadi salah satu tema besar dalam diskursus sejarah dan pemikiran Islam hingga hari ini.

Diskusi berlangsung hangat dan penuh penghormatan terhadap perbedaan pandangan. Para peserta tampak antusias mengikuti penjelasan para narasumber yang tidak hanya mengulas aspek sejarah, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya membaca, meneliti, dan mengkaji sumber-sumber Islam secara mendalam sebelum mengambil kesimpulan.

Diskusi berlangsung hangat hingga menjelang magrib. Para peserta tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga memperbincangkan pentingnya membangun tradisi berpikir kritis, budaya membaca, dan keberanian melakukan pencarian intelektual secara jujur.

Bedah buku ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar diskusi literasi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan gagasan, ruang berbagi pengalaman spiritual, sekaligus pengingat bahwa pencarian terhadap kebenaran selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya, meneliti, dan membuka diri terhadap pengetahuan.

Di tengah secangkir kopi yang perlahan mendingin, percakapan tentang Ali bin Abi Thalib sore itu meninggalkan kesan yang hangat: bahwa sosok yang hidup lebih dari empat belas abad lalu itu masih terus menginspirasi manusia untuk mencari jalan keadilan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KOMUNITAS

Politik Identitas dan Warisan Psikologis Kolonialisme: Mengulik Pemikiran Frantz Fanon

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 05 10 at 22.22.52

ABI Sulsel— Kajian Seri Pascakolonial yang digelar LDSI Al-Muntazhar kembali berlanjut dengan pembahasan pemikiran tokoh pascakolonial Frantz Fanon. Pada seri pertama tersebut, pemateri Muhajir MA membedah bagaimana kolonialisme membentuk dan mewarisi bentuk-bentuk psikologi dan cara berpikir masyarakat jajahan. Dalam hal ini, praktik kolonial tidak hanya bekerja melalui penjajahan wilayah dan ekonomi saja.

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat LDSI Al-Muntazhar, Batua Raya 5, Kota Makassar pada Minggu (10/5/2026) itu diikuti mahasiswa dan aktivis dari berbagai kampus. Diskusi berlangsung interaktif dengan pembahasan mengenai psikologi penjajahan dan pembentukan subjektivitas.

Dalam pemaparannya, Muhajir menjelaskan bahwa Frantz Fanon merupakan salah satu pemikir paling penting dalam membaca dampak psikologis kolonialisme. Menurutnya, Fanon tidak hanya melihat kolonialisme sebagai persoalan politik dan ekonomi. Ia juga sebagai sistem besar yang menghancurkan identitas manusia dari dalam.

“Fanon adalah psikiater yang merawat korban penyiksaan kolonial di Aljazair sekaligus aktivis Front Pembebasan Nasional atau FLN. Karena itu, ia melihat langsung bagaimana kolonialisme bekerja di dalam jiwa manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengalaman Fanon sebagai psikiater membuatnya mampu membaca bagaimana penjajahan membentuk rasa rendah diri dan alienasi pada masyarakat terjajah. Sementara keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan Aljazair membuat pemikirannya dekat dengan realitas rakyat.

Muhajir mengatakan, Frantz Fanon memandang kolonialisme sebagai proses “kolonisasi pikiran”, yaitu ketika penjajah memaksakan budaya, nilai, dan cara pandang mereka kepada masyarakat jajahan hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang lebih unggul dan modern.

Karena itu, menurut Muhajir, kolonialisme tidak cukup ditinjau dari perspektif penjajahan wilayah atau kekuatan militer belaka. Ia juga bekerja secara lebih halus melalui mekanisme ketidaksadaran masyarakat yang dijajah.

Salah satu cara penjajah mempertahankan dominasinya melalui wacana atau diskursus. Wacana tersebut terus diproduksi sehingga membentuk anggapan bahwa budaya penjajah lebih maju, sedangkan budaya masyarakat jajahan dianggap rendah dan tertinggal.

“Wacana itu kemudian hadir dalam berbagai bentuk praktik sosial, seperti pendidikan, media, budaya populer, hingga kebiasaan hidup sehari-hari. Dalam kajian pascakolonial, kondisi ini disebut sebagai praktik diskursif yang efektif membentuk pengetahuan, kesadaran, dan kondisi psikologis masyarakat,” ujarnya.

Akibatnya, masyarakat yang dijajah mulai melihat dirinya melalui sudut pandang penjajah (tatapan kolonial) dan pelan demi pelan menganggap budaya dan identitas sendiri sebagai sesuatu yang rendah. Fanon menyebut kondisi ini sebagai kompleks inferioritas.

“Penjajah secara terus menerus, berangsur-angsur, pelan tapi pasti, menanamkan keyakinan bahwa budaya mereka primitif dan tidak beradab. Lama-kelamaan masyarakat terjajah mempercayai itu,” jelasnya.

Menurut Muhajir, gagasan tersebut dibahas Fanon dalam karya monumentalnya, Black Skin, White Masks. Dalam buku itu, Fanon menjelaskan bagaimana masyarakat kulit hitam yang menanggung warisan psikologis kompleks inferioritas dipaksa hidup di dunia yang didominasi nilai-nilai kulit putih.

kompleks inferioritas tersebut membuat banyak individu jajahan akhirnya berusaha meniru penjajah, mulai dari bahasa, perilaku, hingga gaya hidup, sebagai upaya untuk mendapatkan pengakuan sosial. Namun, alih-alih diakui dalam komunitas penjajah, upaya tersebut malah melahirkan krisis identitas dan kebencian terhadap diri sendiri.

Muhajir juga menyoroti bagaimana Fanon membaca rasisme sebagai sesuatu yang diproduksi secara sistematis melalui pendidikan dan budaya populer. Ia mencontohkan kisah-kisah seperti Tarzan maupun Mickey Mouse yang menurut Fanon ikut menanamkan citra superioritas kulit putih kepada anak-anak di negara jajahan.

“Anak-anak jajahan akhirnya mengidentifikasi diri dengan tokoh pahlawan kulit putih, sementara identitas mereka sendiri dipandang buruk atau tertinggal,” katanya.

Inti dari pemikiran Frantz Fanon adalah proses keluar dari alienasi kolonial (disalienation). Semacam upaya melepaskan diri dari rasa inferioritas dan citra diri negatif yang ditanamkan kolonialisme.

“Bagi Fanon, pembebasan bukan soal kemerdekaan politik saja. Pembebasan harus juga memuat agenda pemulihan martabat, kesadaran, dan kemampuan masyarakat terjajah untuk mendefinisikan dirinya sendiri. Proses ini melibatkan transformasi psikologis, budaya, dan politik secara bersamaan, agar masyarakat pascakolonial dapat membangun subjektivitas baru di luar standar kolonial,” jelas Muhajir.

Continue Reading

KOMUNITAS

LDSI Al-Muntazhar Kaji Pascakolonialisme, Bahas Pengaruh AS hingga Narasi Islam Modern

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 05 09 at 14.26.22

ABI Sulsel— Amerika Serikat dinilai mulai kehilangan dominasinya dalam percaturan geopolitik Timur Tengah. Situasi ini dibaca sebagian kalangan sebagai gejala melemahnya proyek kolonialisme modern yang selama ini menopang berbagai konflik dan intervensi di kawasan tersebut.

Menangkap momentum itu, LDSI Al-Muntazhar menggelar Diskusi Seri Pascakolonial untuk membedah bagaimana kolonialisme bekerja bukan hanya melalui penjajahan fisik, tetapi juga lewat produksi pengetahuan dan pembentukan cara berpikir masyarakat. Diskusi ini berlangsung selama dua pekan, setiap Sabtu-Minggu, pada 9–10 dan 16–17 Mei 2026, di Sekretariat LDSI Al-Muntazhar, Batua Raya 5, Kota Makassar.

Kegiatan tersebut diikuti belasan mahasiswa dan aktivis dari berbagai kampus serta komunitas di Makassar. Forum berlangsung dalam suasana dialogis dengan pembahasan yang banyak menyoroti relasi kuasa, sejarah, hingga konstruksi identitas umat Islam modern.

Dewan Pendiri LDSI Al-Muntazhar, Ahmad Syawqi, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa wacana pascakolonial penting digunakan untuk membaca ulang sejarah Islam yang selama ini dianggap final dan diterima begitu saja.

“Terutama kaum muda Islam, penting untuk menelaah kembali sejarah Islam menggunakan pascakolonial sebagai alat analisis,” ujar Ahmad Syawqi yang akrab disapa Kak Uki.

Menurutnya, banyak narasi sejarah Islam dibentuk oleh kepentingan dinasti maupun kekuasaan tertentu di masa lalu, lalu diwariskan tanpa proses kritik yang memadai kepada generasi Muslim hari ini.

Sementara itu, Ketua Umum LDSI Al-Muntazhar, Irfan, menjelaskan bahwa kelas tersebut dirancang secara berseri dan akan terus berlanjut pada tema-tema berikutnya.

“Kajian ini berseri, artinya kelas ini akan berlanjut pada seri-seri berikutnya. Kami berharap antusiasme peserta tetap terjaga, karena kami juga menyiapkan apresiasi bagi tiga peserta terbaik,” ujarnya dalam sambutan pada Sabtu, 9 Mei 2026.

Pada sesi pengantar, Pdt. Dr. Diks Pasande menekankan pentingnya filsafat sebagai fondasi berpikir kritis. Menurutnya, kemampuan filosofis dibutuhkan untuk mendekonstruksi narasi besar yang selama ini membentuk cara masyarakat memahami sejarah, agama, dan kekuasaan.

Ia menjelaskan bahwa pengetahuan tidak pernah lahir secara netral, melainkan diproduksi dalam struktur relasi kuasa tertentu. Karena itu, pendekatan pascakolonial dianggap relevan untuk membaca bagaimana sebuah narasi dibangun, dipertahankan, dan direproduksi dalam kehidupan sosial.

Kontributor: Irfan Nesa

Continue Reading

News

IHB Gelar Spiritual Kognitif Camp, Perkuat Keseimbangan Intelektual dan Spiritual Peserta

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 05 02 at 12.09.44

ABI Sulsel— IHB (Islam Harapan Bangsa) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan pendidikan berbasis nilai dengan menggelar program Spiritual Kognitif Camp. Kegiatan ini dilaksanakan pada 10 Januari 2026 di Pondok Santri Putra IHB, Perumahan Danu Alam Pendidikan.

Program yang berlangsung selama 10 hari tersebut diikuti sekitar 30 peserta, yang merupakan alumni short course logika dari sejumlah perguruan tinggi di Makassar. Selama pelaksanaan, peserta mendapatkan pembinaan intensif melalui pelatihan serta forum diskusi kelompok (FGD).

Kegiatan ini dirancang untuk membentuk keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual peserta. Materi yang diberikan mencakup kajian logika, epistemologi, hingga epistemologi agama sebagai landasan berpikir kritis sekaligus reflektif.

Salah satu pemateri, Dr. Hisbullah, S.H., M.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penguatan aspek kognitif, tetapi juga pembinaan spiritual.

“Tujuan diselenggarakannya Spiritual Kognitif Camp ini bukan hanya untuk membina kecerdasan kognitif, tetapi juga sebagai upaya pembinaan spiritual peserta melalui materi logika, epistemologi, dan epistemologi agama,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, IHB berharap para peserta mampu mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis dengan kedalaman spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor: Masriah

Continue Reading

Trending