KAJIAN ISLAMI
Karbala dan Robeknya Kesadaran Komunal
Oleh: Khusnul Yaqin
Ada masyarakat yang hancur bukan karena tidak punya masjid. Ada umat yang runtuh bukan karena tidak lagi membaca doa. Ada komunitas yang kalah bukan karena musuhnya lebih banyak, tetapi karena di dalam dirinya telah hilang kesadaran komunal: kesadaran tentang siapa pemimpinnya, ke mana arah sejarahnya, dan untuk apa ia hidup sebagai jamaah.
Di sinilah Pierre Bourdieu membantu kita membaca tragedi sosial umat. Masyarakat, kata Bourdieu, tidak bergerak hanya oleh ide. Ia bergerak oleh struktur, oleh habitus, oleh modal sosial, modal budaya, modal simbolik, dan modal ekonomi yang membentuk cara manusia melihat dunia.
Orang bisa mendengar kebenaran, tetapi habitusnya telah dilatih untuk takut. Orang bisa mengenal Imam, tetapi struktur sosialnya telah mengajarinya untuk tunduk kepada istana. Orang bisa menangis mendengar nama Ahlul Bait, tetapi modal simbolik di ruang publik telah direbut oleh para penguasa yang menjadikan agama sebagai stempel kekuasaan.
Maka, ketika Imam Husain ditinggalkan, yang terjadi bukan sekadar pengkhianatan personal orang-orang Kufah. Yang terjadi adalah kehancuran struktur kesadaran. Imamah telah dipreteli dari ruang sosial. Ahlul Bait masih dicintai sebagai keluarga Nabi, tetapi tidak lagi ditaati sebagai poros kepemimpinan komunal yang ilahiah.
Mereka dihormati sebagai kenangan, tetapi tidak diikuti sebagai petunjuk. Mereka disebut dalam shalawat, tetapi tidak dijadikan pusat keberanian perlawanan politik secara komunal. Inilah kemenangan paling licik dari proyek politik anti-Ahlul Bait: bukan membunuh cinta secara langsung, tetapi mengubah cinta menjadi nostalgia yang tidak berdaya.
Dalam bahasa Bourdieu, musuh-musuh Ahlul Bait berhasil menguasai medan sosial. Mereka menentukan siapa yang disebut sah, siapa yang disebut pemberontak, siapa yang disebut khalifah, siapa yang disebut pengacau. Mereka menguasai mimbar, baitulmal, jabatan, pedang, jaringan kabilah, dan bahasa agama.
Ketika modal simbolik telah direbut, orang banyak tidak lagi melihat kenyataan sebagaimana adanya. Mereka melihat melalui kacamata yang dipasang oleh kekuasaan. Husain, cucu Nabi, diperlakukan sebagai ancaman politik. Yazid, simbol kemerosotan moral, diperlakukan sebagai pemilik otoritas negara. Di titik ini, masyarakat bukan hanya tertindas; masyarakat telah dibuat salah melihat.
Karena itu, Karbala bukan hanya tragedi darah. Karbala adalah tragedi kesadaran. Umat masih mengelilingi Ka‘bah, tetapi kehilangan Ka‘bah yang hidup. Mereka menjaga batu, tetapi meninggalkan manusia suci yang menjadi penjaga makna batu itu. Mereka memuliakan bangunan, tetapi mengabaikan Imam yang membawa ruh kenabian.
Karena itu, ungkapan “Ka‘bah yang hidup” dapat dipahami sebagai bahasa batin para pecinta Ahlul Bait: bahwa pusat tauhid bukan hanya arah tubuh dalam shalat, tetapi juga arah jiwa dalam kehidupan komunal. Ka‘bah adalah kiblat jasad; Imam adalah kiblat kesadaran komunal.
Imam Husain sendiri memahami bahwa persoalan umat bukan sekadar pergantian penguasa. Dalam wasiatnya kepada Muhammad al-Hanafiyyah, beliau berkata:
وَإِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشِرًا وَلَا بَطِرًا، وَلَا مُفْسِدًا وَلَا ظَالِمًا، وَإِنَّمَا خَرَجْتُ لِطَلَبِ الْإِصْلَاحِ فِي أُمَّةِ جَدِّي، أُرِيدُ أَنْ آمُرَ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَسِيرَ بِسِيرَةِ جَدِّي وَأَبِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ.
“Aku tidak keluar karena kesombongan, bukan karena keangkuhan, bukan untuk membuat kerusakan, dan bukan untuk berbuat zalim. Aku keluar hanya untuk mencari perbaikan pada umat kakekku. Aku hendak memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, serta berjalan di atas jalan kakekku dan ayahku, Ali bin Abi Thalib.”
Kalimat ini bukan sekadar manifesto politik. Ia adalah diagnosis sosiologis. Imam Husain tidak berkata, “Aku keluar untuk merebut kekuasaan.” Beliau berkata, “Aku keluar untuk islah.” Perbaikan. Artinya, ada yang rusak dalam tubuh umat. Ada kesadaran komunal yang berantakan.
Ada struktur sosial yang menyimpang. Ada makruf yang telah dibuat tampak mungkar, dan ada mungkar yang dibungkus pakaian makruf. Ketika masyarakat sampai pada tahap itu, yang dibutuhkan bukan sekadar nasihat moral. Yang dibutuhkan adalah kebangkitan kesadaran komunal.
Di sinilah Antonio Gramsci menjadi penting. Gramsci berbicara tentang intelektual organik: manusia-manusia yang lahir dari rahim masyarakat, memahami penderitaannya, berbicara dengan bahasanya, lalu membangun kesadaran baru dari dalam.
Intelektual organik bukan sekadar orang pintar. Ia adalah penyambung antara gagasan dan kehidupan. Ia tidak hanya mengutip kitab; ia mengubah pengetahuan menjadi gerakan. Ia tidak hanya berdiri di podium; ia hadir di tengah luka umat.
Dalam sejarah Ahlul Bait, Imam Husain adalah pemimpin ilahiah yang membongkar hegemoni palsu. Tetapi setelah Karbala, tugas menjahit kembali kesadaran komunal itu diteruskan oleh Imam Ali Zainul Abidin. Tubuh beliau sakit di Karbala, tetapi jiwanya menjadi rumah bagi masa depan.
Pedang telah membunuh para syuhada, tetapi tidak mampu membunuh memori. Dari tangan suci Imam Sajjad, Karbala tidak berhenti sebagai peristiwa. Ia berubah menjadi kesadaran. Ia berubah menjadi doa, tangisan, ziarah, pendidikan ruhani, dan pembentukan kembali komunitas Ahlul Bait.
Imam Ali Zainul Abidin tidak membangun komunitas dengan teriakan politik yang mudah dipadamkan. Beliau membangun komunitas melalui bahasa yang lebih halus tetapi lebih abadi: doa. Sahifah Sajjadiyyah bukan hanya kitab munajat; ia adalah sekolah kesadaran. Di dalamnya, manusia diajari kembali mengenal Tuhan, mengenal diri, mengenal dosa sosial, mengenal tanggung jawab, mengenal fakir miskin, mengenal tetangga, mengenal orang tua, mengenal anak, mengenal musuh, bahkan mengenal alam.
Doa-doa Imam Sajjad adalah pedagogi ruhani untuk membentuk habitus baru. Bila kekuasaan Umayyah membentuk manusia takut, Imam Sajjad membentuk manusia sadar. Bila istana membangun kepatuhan kepada tirani, Imam Sajjad membangun kepatuhan kepada Allah. Bila propaganda mencabut umat dari Ahlul Bait, Imam Sajjad menanam kembali cinta itu ke dalam jaringan batin umat.
Inilah pertemuan Bourdieu dan Gramsci dalam cahaya Karbala. Bourdieu mengingatkan bahwa kesadaran tidak cukup dibangun dengan ide, karena manusia hidup dalam struktur dan habitus.
Gramsci mengingatkan bahwa struktur hegemonik hanya bisa dilawan dengan intelektual organik yang membentuk kesadaran tandingan. Ahlul Bait telah memberi contoh paling agung: Imam Husain membongkar kepalsuan hegemoni Yazid dengan darah; Imam Sajjad membangun kembali kesadaran umat dengan doa, akhlak, tangisan, dan pendidikan ruhani.
Maka komunitas Ahlul Bait hari ini harus belajar. Komunitas bisa dihancurkan bukan hanya dengan larangan, intimidasi, atau kekerasan. Komunitas bisa dihancurkan dengan cara yang lebih halus: memutus jaringan kepercayaan, memecah jamaah menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling curiga, menjadikan tokoh-tokohnya saling bersaing, mengubah majelis menjadi panggung ego, mengubah ilmu menjadi hiasan, dan mengubah cinta kepada Imam Husain menjadi ritual tanpa keberanian sosial dan kesadaran komunal.
Kesadaran komunal Ahlul Bait tidak akan lahir hanya dari banyaknya acara. Ia lahir dari habitus bersama: saling percaya, saling menjaga, saling mendidik, saling menanggung beban, dan saling mengingatkan di bawah panji Imamah. Ia lahir dari modal sosial yang kuat: jaringan jamaah, jaringan ekonomi, kader muda, ibu-ibu yang bergerak, guru-guru yang membimbing, dermawan yang ikhlas, penulis yang menjernihkan, dan pemimpin yang tidak meminta disembah serta kahadiran ormas dalam lahir dan batin jamaah.
Ia lahir dari intelektual organik: orang-orang yang mampu menerjemahkan Karbala menjadi kerja sosial-ekonomi, menerjemahkan doa menjadi pendidikan, menerjemahkan ziarah menjadi solidaritas, dan menerjemahkan tangisan menjadi keberpihakan kepada kaum tertindas.
Sebab Husain tidak ditinggalkan oleh orang-orang yang tidak mengenal agama. Husain ditinggalkan oleh masyarakat yang agama formalnya masih ada, tetapi kesadaran Imamahnya telah dirampas. Mereka masih tahu Ka‘bah, tetapi kehilangan kiblat hidup. Mereka masih mengenal doa, tetapi kehilangan keberanian. Mereka masih mendengar nama Nabi, tetapi tidak lagi sanggup berdiri bersama cucunya.
Karena itu, tugas komunitas Ahlul Bait bukan hanya memperbanyak peringatan Asyura. Tugasnya adalah membangun manusia Asyura. Manusia yang tahu bahwa menangis untuk Husain berarti menolak menjadi bagian dari struktur yang menelantarkan Husain.
Manusia yang tahu bahwa mencintai Ahlul Bait berarti membangun kesadaran bersama di bawah bimbingan mereka. Manusia yang tahu bahwa Imamah bukan sekadar doktrin teologis, tetapi poros kesadaran komunal dan pembebasan sosial.
Karbala mengajarkan bahwa ketika kesadaran komunal robek, Imam bisa ditinggalkan sendirian di padang sejarah. Tetapi Karbala juga mengajarkan bahwa kesadaran yang robek bisa dijahit kembali. Darah Husain menjadi benang merahnya. Doa Imam Sajjad menjadi jarumnya.
Dan komunitas Ahlul Bait hari ini harus menjadi kain sosial yang siap dijahit ulang: agar cinta tidak berhenti sebagai air mata, agar majelis tidak berhenti sebagai kerumunan, dan agar umat tidak lagi mengelilingi simbol yang diam sambil meninggalkan Imam yang hidup dalam nurani semesta.
KAJIAN ISLAMI
Arsitek Jiwa
Oleh: Sulhan Yusuf
“Sekotah utusan-Nya dan para penerusnya, diutus oleh-Nya untuk membangun jiwa manusia. Bukan raganya.” (Tajali Daeng Litere, 23102024)
Ikhtiar membangun dunia, agaknya patut diawali dengan membangun manusia. Dan, upaya membangun manusia selalu bermula dari pekerjaan paling sunyi: menata jiwanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebab, dari lapik ini, sekotah peradaban memperoleh arah, makna, dan kemuliaannya.
Pijakan minda demikian, bukanlah menafikan tubuh manusia, melainkan mengingatkan ihwal pangkal segala pembangunan. Sebelum rumah ditegakkan, terlebih dahulu pondasinya dipastikan kukuh. Sebelum peradaban menjulang, batin manusialah yang mula-mula mesti ditata.
Begitulah penabalan Daeng Litere itu tersaji, bagai mata air mengalir tenang di sela bebatuan. Tiada menghentak, tetapi perlahan meresap ke dalam kesadaran. Sepintas, ujar tersebut seolah mempertentangkan jiwa dan raga.
Diksi sekotah pada aforisme tersebut mengandung keluasan makna. Ia tidak hanya menunjuk para utusan Tuhan, tetapi juga mereka yang meneruskan jejak pengabdian para utusan itu: para guru, ulama, pendidik, pemikir, hingga siapa pun yang menyalakan pelita kesadaran di tengah kehidupan.
Mereka mungkin berbeda zaman, berlainan bahasa, serta menempuh beraneka jalan. Namun, simpul pengabdiannya tetap sama: membangunkan jiwa manusia, agar menemukan arah keberadaannya.
Kehayatan kiwari justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Kemajuan lebih sering diukur melalui apa yang tampak. Gedung menjulang menjadi lambang keberhasilan. Jalan raya membelah pegunungan. Teknologi melampaui batas-batas yang dahulu sulit dibayangkan.
Angka-angka pertumbuhan dipuja sebagai penanda kemajuan. Semua itu tentu bernilai. Namun, acap kali perhatian berhenti pada bangunan luar, sementara bangunan batin dibiarkan retak tanpa sempat diperbaiki.
Padahal, sejarah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Peradaban megah, belum tentu dihuni manusia luhur. Kota dapat berkembang demikian pesat, tetapi kejujuran justru meranggas. Ilmu pengetahuan terus melesat, sementara nurani tertatih mengikuti. Kemajuan lahiriah akhirnya kehilangan arah, ketika tidak lagi ditopang oleh kejernihan jiwa.
Barangkali sebab itulah para utusan Tuhan tidak pertama-tama datang membawa rancangan kota, tata niaga, ataupun teknologi. Mereka hadir membawa pandangan hidup; menyalakan kesadaran ihwal benar-salah, adil-zalim, dan cinta-benci. Dari sanalah ruang paling sunyi dalam diri manusia mulai dibangun—tempat segala keputusan bermula sebelum menjelma tindakan.
Sesarinya, jiwa menjadi semacam mata air. Bila bening, aliran yang keluar pun cenderung jernih. Sebaliknya, apabila hulunya telah keruh, sukar mengharapkan air mengalir tetap bersih. Laku manusia bergerak dari dalam menuju ke luar. Tangan hanya mengerjakan apa yang terlebih dahulu diputuskan oleh batin.
Dalam kehidupan sehari-hari, gejala itu mudah ditemukan. Dua orang dapat memiliki pengetahuan yang sama, tetapi melahirkan tindakan berbeda. Dua pemimpin memegang kewenangan serupa, tetapi meninggalkan warisan yang bertolak belakang. Yang membedakan bukan semata kecakapan, melainkan kualitas jiwa yang mengarahkan kecakapannya.
Di sinilah pembangunan memperoleh makna lebih utuh. Membangun manusia bukan sekadar menghadirkan kenyamanan fisik, melainkan juga menumbuhkan kejujuran, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Nilai-nilai semacam itu tidak dapat dicetak oleh mesin, dibeli di pasar, ataupun diwariskan melalui kekuasaan. Ia bertunas melalui pendidikan batin yang panjang.
Daeng Litere seakan menginterupsi, keruntuhan besar acap tidak bermula dari robohnya bangunan, melainkan dari rapuhnya jiwa. Tatkala kerakusan memperoleh takhta, hukum mudah diperjualbelikan. Kala kesombongan menjadi kebiasaan, ilmu berubah menjadi alat penindasan. Ketika hati kehilangan rasa malu, kemajuan justru menyediakan sarana lebih canggih untuk melakukan kerusakan.
Sebaliknya, jiwa yang tertata mampu melahirkan peradaban lapang. Orang-orang saling percaya bukan semata karena aturan, tetapi karena kesadaran. Keadilan tumbuh bukan hanya akibat pengawasan, melainkan lantaran hati enggan berbuat zalim. Pada poros inilah, akhlak menjadi lapik bagi kehidupan bersama.
Pendakuan Daeng Litere juga mengandung kritik halus terhadap cara manusia menilai keberhasilan. Acap kali orang lebih mudah mengagumi bangunan menjulang daripada karakter yang bertumbuh.
Padahal, sebuah gedung dapat selesai dalam hitungan tahun, sementara membangun kejujuran memerlukan perjalanan seumur hidup. Yang pertama mudah dipotret, sedangkan yang kedua hanya dapat dirasakan melalui laku.
Nisbi diri pun kembali memperoleh tempatnya. Para utusan Tuhan tidak meninggalkan kemegahan, sebagai ukuran utama keberhasilannya. Mereka lebih dahulu meninggalkan manusia-manusia yang berubah. Dari satu jiwa yang tercerahkan, lahir keluarga lebih teduh. Dari keluarga yang teduh, tumbuh masyarakat lebih beradab. Perubahan besar acap bermula dari simpul-simpul kecil, bekerja dalam kesunyian.
Barangkali karena itulah, para penerus para utusan tidak pernah selesai menjalankan tugasnya. Selama manusia masih memerlukan kejernihan, sepanjang hati masih dapat dikeruhkan oleh keserakahan, sebentang batin masih mungkin disesatkan oleh keangkuhan, pekerjaan membangun jiwa akan selalu menemukan panggilannya. Ia bukan proyek yang mengenal garis akhir, melainkan safari panjang lintas generasi.
Dus, aforisme Daeng Litere tersebut tidak sedang memisahkan jiwa dari raga. Tubuh tetap memerlukan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan. Akan tetapi, semua itu akan kehilangan arah, bila batin yang mengendalikannya dibiarkan gersang. Raga memberi manusia kemampuan hidup, sedangkan jiwa memberinya alasan mengapa hidup mesti dijalani.
Pucuknya, bangunan paling kukuh bukanlah tembok menjulang, melainkan jiwa yang sanggup menopang peradaban. Tatkala jiwa berdiri tegak, badan, masyarakat, bahkan sejarah akan menemukan arah bertumbuhnya sendiri.
Artikel ini sudah pernah dimuat di paraminda.com
KAJIAN ISLAMI
Kematian yang Menggerakkan
Oleh: Khusnul Yaqin
Di sebuah sudut Karbala, berabad-abad silam, sejarah mencatat sebuah ironi yang karib: sebuah kekalahan fisik yang menjelma menjadi kemenangan spiritual yang abadi. Ketika kepala Hussein bin Ali dipisahkan dari jasadnya, para jagal di bawah panji Yazid mengira mereka telah selesai. Mereka keliru. Kematian di padang gersang itu tidak menutup buku; ia justru membuka sebuah mata air perlawanan yang tak kunjung kering.
Sejarah kaum tertindas (mustadh’afin) selalu ditulis dengan tinta yang ganjil. Di sana, kematian bukanlah akhir dari sebuah teks, melainkan tanda seru yang menggerakkan garis-garis baru.
Maka, ketika kita menyaksikan lautan manusia yang menyemut dalam prosesi pemakaman panjang pekan ini–di mana jutaan rakyat Iran tumpah ke jalan-jalan Teheran, memadati ruang dengan ratapan dan kepalan tangan–kita sedang melihat repetisi dari arsitektur teologis yang intim itu.
Washington dan Tel Aviv, dengan segala kalkulasi geopolitik dan presisi serangan udaranya yang mengakhiri hidup sang Pemimpin Agung pada Februari lalu, kerap gagal membaca apa yang tak kasat mata: bahwa dalam tubuh Republik Islam, politik tak pernah berdiri sendiri tanpa jubah mistisisme dan gelora memori syahadah.
Bagi Gedung Putih, sanksi ekonomi, tuduhan korupsi, dan tekanan militer adalah instrumen untuk meruntuhkan legitimasi sebuah rezim. Namun, di bawah payung Wilayatul Faqih–konsep yang dianyam oleh Imam Khomeini dan dilanjutkan dengan asketisme yang paripurna oleh Sayyid Ali Khamenei–kekuasaan tidak diukur dari sekadar angka pertumbuhan, melainkan dari sejauh mana sebuah bangsa mampu bertahan dalam kesendirian yang bermartabat. Kematian tragis sang pemimpin akibat hantaman bom justru menjadi proklamasi bahwa kesederhanaan hidup sang marja’ lebih perkasa ketimbang armada laut musuh.
Kehadiran puluhan juta manusia serta para tamu negara di tengah kepungan krisis adalah sebuah jawaban yang benderang. Ia meruntuhkan narasi Barat yang menganggap rakyat Iran hidup dalam paksaan. Ada cinta yang kolosal di sana, sebuah ikatan purba antara yang memimpin dan yang dipimpin, yang dipupuk oleh karakter manusia Persia: tangguh, puitis, dan memiliki ingatan historis yang panjang atas setiap kezaliman. Kemenangan Iran hari ini atas kepungan AS dan sekutunya bukanlah kalkulasi material semata, melainkan buah dari keteguhan spiritual konsep wilayatul faqih.
Amerika dan para sekutunya di kawasan sering kali terjebak dalam kesombongan hegemonik. Mereka mengira, dengan melenyapkan sebuah figur secara fisik, gerakan akan lumpuh dan perlawanan akan bungkam. Mereka lupa, dalam kosmologi perlawanan Syiah, martir (syahid) adalah benih yang paling subur.
Kematian seorang ulama yang tawakalnya total tidak akan menghentikan mesin perlawanan.
Justru, dari titik nadir kematian itu, sebuah energi baru diledakkan. Gerakan *Wilayatul Faqih* menantang apa yang mereka sebut sebagai kezaliman global bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan keyakinan bahwa darah yang tertumpah akan meningkatkan militansi gerakan hingga seribu persen dari hari ini.
Pada akhirnya, sejarah Syiah Iran adalah sejarah tentang bagaimana kematian dirayakan bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai sebuah transisi menuju keabadian gerakan. Melalui kepergian Sayyid Ali Khamenei, tirai belum diturunkan. Di Teheran hari-hari ini, kematian tidak pernah bungkam. Ia bicara, ia berteriak, dan ia menggerakkan.
KAJIAN ISLAMI
Di Balik Asyura: Cinta yang Membangun Peradaban?
Oleh: Irfanesa
Setiap tahun, pada momen Asyura, jalanan kota-kota Iran dipenuhi lautan manusia yang tumpah ruah. Mereka bukan sekadar peziarah duka, melainkan pecinta yang merayakan kesetiaan pada Al-Husein. Sebagai negara dengan populasi pengikut Syiah terbesar di dunia, fenomena ini adalah pemandangan yang lumrah.
Di belahan dunia lain, terutama di Indonesia—tempat sentimen terhadap Syiah seringkali tinggi—komunitas ini lebih suka menamai dirinya sebagai Pecinta Ahlulbait. Syarat menjadi pengikut, sebagaimana sering mereka kutip, sederhana: taat kepada Ahlulbait, sesuai perintah Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 59.
Ayat itu menyerukan ketaatan kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri—sebuah rantai otoritas yang dalam keyakinan Syiah merujuk pada para Imam maksum dari keluarga Nabi, sebuah jalur valid dan integrasi otoritas yang tak terputus dari Tuhan hingga manusia.
Namun, di sinilah persoalannya: cukupkah menjadi sekadar pecinta, atau bahkan pengikut yang tulus, untuk membentuk tatanan masyarakat yang adil? Pertanyaan ini mendesak diajukan. Sebab, secara faktual, menjadi seorang Syiah—dalam arti pengikut setia Ali dan keluarganya—belum tentu mampu menciptakan peradaban yang dicita-citakan Rasulullah dan Ahlulbait-nya.
Mayoritas pengikut Ahlulbait, sadar atau tidak, masih terlena dalam anggapan bahwa menjadi Syiah sudah cukup untuk menata kehidupan. Rasa turut bersedih atas kemalangan keluarga Nabi dan berbahagia atas kebahagiaan mereka dianggap sebagai kompas yang telah membuat hidup terarah dan mapan. Padahal, jika kita menengok kriteria Syiah sejati yang diajarkan Imam Ja’far ash-Shadiq, standarnya luar biasa berat.
Bayangkan, dari 10.000 manusia, seorang pengikut Ahlulbait dituntut untuk menjadi yang terbaik. Dalam riwayat al-Kafi, Imam ash-Shadiq bahkan secara tajam menggambarkan bahwa Syiah sejati bukanlah yang sekadar mencintai Ali secara lisan, melainkan mereka yang paling wara’, paling zuhud, dan paling teguh dalam amal; sehingga di antara banyak pengaku, hanya segelintir yang benar-benar layak menyandang gelar itu.
Secara matematis, perbandingan ini sangat sulit menjadi kenyataan jika dikaitkan dengan kehidupan kita sebagai manusia biasa. Di sini, kecintaan harus bermetamorfosis: ia bukan lagi klaim pribadi, melainkan napas yang tumbuh dalam setiap tarikan hidup. Sebab, level penyaksian kita atas kebenaran—cara pandang, sikap, hingga tindakan—sangat bergantung pada sejauh mana kedalaman cinta itu tertanam.
Lalu, andai kita berhasil menjadi “yang terbaik di antara 10.000 orang” itu, cukupkah itu untuk membangun peradaban unggul? Sejarawan Arnold Toynbee melalui konsep creative minority-nya mungkin akan membenarkan optimisme itu. Dalam A Study of History, Toynbee berpendapat bahwa peradaban besar lahir dari respons kreatif segelintir minoritas yang visioner terhadap tantangan zaman.
Namun, apakah kita bisa sepenuhnya bergantung pada minoritas sekecil itu? Realitas sosial kita, terutama di Indonesia, memaksa kita untuk ragu. Kemungkaran merajalela dari tingkat RT hingga pusat kekuasaan. Korupsi, penyelewengan, dan ketidakadilan bukan lagi fenomena luar biasa, melainkan telah mencapai level pemakluman massal. Dalam masyarakat yang dikuasai oligarki—penyakit kronis negara dunia ketiga—bisikan minoritas kreatif akan dengan mudah ditelan oleh gemuruh kuasa kapital dan politik yang busuk.
Imam Khomeini, dalam magnum opusnya Hukum Islam: Pemerintahan Faqih, melontarkan diagnosis yang tajam: negara dunia ketiga harus melakukan revolusi. Sebab, jika ia memilih jalan demokrasi, ia akan dikendalikan oleh oligarki; jika ia terjebak dalam monarki, ia akan dicekik oleh dinasti yang menghianati keadilan dan kemanusiaan universal. Maka, revolusi adalah keniscayaan bagi bangsa yang ingin merdeka dan berdaulat sebagai prasyarat tegaknya keadilan.
Dengan lensa ini, kembali ke pertanyaan semula: apakah menjadi pecinta yang turut menangisi kemartiran Al-Husein di Karbala sudah cukup? Apakah menjadikannya teladan moral pribadi sudah memadai? Populasi manusia dengan kriteria pecinta Ahlulbait mungkin sudah mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan, yang tersebar di seluruh dunia. Namun, kenyataan pahitnya, hanya bangsa Iran di era pasca-revolusi yang hari ini mampu berdiri melawan hegemoni tirani global.
Fakta ini mengusik logika: bukankah Iran di masa Rezim Syah juga penduduk yang mayoritas pengikut Al-Husein? Lantas, apa yang secara fundamental membedakan Iran yang tunduk di bawah boneka Barat itu dengan Iran yang kini menjadi simbol perlawanan? Jika perbedaannya hanya pada semangat kecintaan dan kesetiaan pada Al-Husein, proposisi itu terlalu rapuh.
Di sinilah letak variabel yang selama ini kerap luput dari perhatian: wilayatul faqih. Tepat ketika Imam Mahdi memasuki kegaiban kubro, ia meninggalkan pesan penting melalui wakilnya yang terakhir di muka bumi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Syaikh ath-Thusi dalam Kitab al-Ghaybah, Imam Mahdi bersabda, “Adapun tentang peristiwa yang akan terjadi, maka kembalikanlah kepada para perawi hadis kami (para faqih), karena mereka adalah hujjahku atas kamu dan aku adalah hujjah Allah.”
Maksudnya jelas: kesetiaan kepada Ahlulbait belum cukup sampai manusia dengan sadar mengikatkan diri pada sistem kepemimpinan para faqih yang adil, terutama dalam konteks kegaiban Imam Zaman. Gagasan inilah yang berhasil dirumuskan dan diwujudkan oleh Imam Khomeini pada tahun 1979 dalam bentuk negara Islam yang dipimpin oleh Wali Faqih.
Inilah unsur pembeda mutakhir yang paling tegas: Iran sebelum revolusi adalah negeri pecinta Al-Husein yang terpecah, tunduk pada sistem taghut; Iran setelah revolusi adalah negeri pecinta yang bergerak dalam bingkai otoritas ilahiah yang hidup dan membumi. Jadi, menjadi Syiah adalah modal spiritual yang amat penting.
Namun, secara sosiologis, untuk menciptakan perubahan sosial dan membangun peradaban yang adil, tidak ada jalan lain kecuali kesiapan kita untuk menjadi bagian dari gerakan sebuah sistem yang kokoh: wilayatul faqih. Dunia tidak hanya membutuhkan pecinta yang pasif. Ia membutuhkan kecintaan yang berbuah gerakan, karena setiap cinta sejati niscaya menuntut pengorbanan. Wallahu A’lam.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
News12 bulan ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah
