TOKOH
Imam Khomeini Terputus dari Makhluk, Terikat pada Allah
Imam Khomeini Terputus dari Makhluk, Terikat pada Allah
Di antara kepribadian Imam Khomeini adalah kuatnya keterikatan dan ketergantungan beliau pada Allah Swt. Beliau senantiasa menganjurkan orang lain untuk bersikap semacam itu. Imam Khomeini berpesan kepada anaknya, Sayyid Ahmad Khomeini, “Anakku! Berusahalah sekuat tenaga, agar hatimu terikat kuat kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa tak ada daya upaya melainkan seizin-Nya.”
Semasa mengajar di Hauzah Ilmiyah Qum, saat membuka pelajaran, beliau selalu membaca doa Sya’baniyah, doa yang biasa dibaca Imam Ali bin Abi Thalib as dan para imam lainnya. Petikan doa itu sebagai berikut:
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keterputusan sempurna (total) dari segala sesuatu selain-Mu. Terangilah penglihatan hati kami dengan cahaya penglihatan-Mu, sehingga pengihatan hati kami dapat merobek tirai cahaya dan sampai ke sumber keagungan. Ya Ilahi, dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad, karuniakanlah kami keterputusan sempurna dari segala sesuatu selain-Mu.”
Di tahun terakhir usianya, Imam Khomeini amat mencintai cucunya, Sayyid Ali, putra Sayyid Ahmad. Dalam riwayat disebutkan bahwa apabila seseorang berada di ambang kematian dan Malaikat Izrail berada di sampingnya untuk mencabut nyawanya, sementara orang itu memiliki kecintaan kuat terhadap sesuatu, maka pada saat-saat genting tersebut, setan akan hadir di sisinya dan berusaha keras lewat perantaraan sesuatu yang dicintainya itu untuk menyelewengkannya ke dalam kekafiran dan kesesatan.
Demi menjaga agar jangan sampai dipengaruhi setan, pada hari-hari terakhir usianya, Imam Khomeini memisahkan diri dari Sayyid Ali. Beliau mengeluarkannya dari kamar beliau, sehingga hati dan perhatiannya hanya tertuju semata-mata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Inilah makna nyata dari keterputusan sempurna dari selain Allah; terputus dari makhluk dan hanya terikat kepada Allah.
Muhammad Muhammadi, Cerita-Cerita Hikmah
OPINI
Pangeran Tanpa Istana
Oleh: Khusnul Yaqin
(Tulisan ini untuk mengenang wiladah Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei dan diinspirasi ceramah Datu Sri Muhammad Sabu)
***
Dalam sejarah panjang umat manusia, kekuasaan sering lahir dari kemewahan–istana megah, singgasana emas, dan legitimasi yang dibangun dari kekuatan material. Namun, sejarah juga diam-diam menyimpan pola lain yang lebih sunyi, lebih radikal: lahirnya para “pangeran tanpa istana”–mereka yang tidak mewarisi kemewahan, tetapi justru menumbangkan imperium dengan kesederhanaan, keteguhan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Salah satu figur kontemporer yang kerap dibaca dalam kerangka ini adalah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran yang lahir pada 19 April 1939. Ia bukan anak raja. Ia tidak tumbuh dalam lingkungan aristokrasi. Ia adalah putra seorang ulama sederhana, Sayyid Javad Khamenei, yang dikenal hidup dalam keterbatasan ekonomi meskipun memiliki garis keturunan sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
Kehidupan keluarga ini jauh dari gambaran elite religius yang mapan. Rumah mereka kecil, penghidupan serba terbatas, dan kemiskinan bukanlah fase sementara, melainkan pilihan hidup yang dijalani dengan kesadaran spiritual. Dalam banyak narasi biografis, disebutkan bahwa ayahnya sengaja menanamkan kesederhanaan sebagai disiplin eksistensial–sebuah latihan jiwa untuk tidak bergantung pada dunia. Di sini, kemiskinan tidak dimaknai sebagai kekurangan, tetapi sebagai pembebasan.
Bila ditarik dalam perspektif historis-geopolitik, pola ini bukanlah anomali. Ia justru berulang dalam momen-momen kritis peradaban. Dalam kisah klasik, Musa, seorang yang tumbuh di luar struktur kekuasaan dominan, tampil menantang Firaun–simbol absolut dari kekuasaan arogan. Musa bukan pangeran dalam arti politik, tetapi ia adalah “pangeran tanpa istana” dalam arti moral: seseorang yang memiliki legitimasi transenden, bukan material.
Sejarah kemudian mengulang dirinya dalam bentuk yang lebih nyata dan global. Muhammad bin Abdullah, seorang yatim dari padang pasir Hijaz, tanpa istana dan tanpa kekuatan militer awal, mengguncang struktur sosial-politik Jazirah Arab. Ia tidak hanya menumbangkan tatanan lama, tetapi juga melahirkan peradaban baru yang dalam beberapa abad menjelma menjadi imperium besar.
Namun, seperti hukum sejarah yang tak tertulis, setiap imperium yang lahir dari idealisme lambat laun berpotensi berubah menjadi kekuasaan yang arogan. Peradaban Islam klasik pun mengalami siklus ini. Ketika kekuasaan menjadi tujuan, bukan alat, ia mulai kehilangan ruhnya–dan di situlah fase kejatuhan dimulai.
Dari reruntuhan itu, sejarah global bergerak menuju dominasi Barat modern, yang mencapai puncaknya dalam bentuk hegemoni Amerika Serikat. Sebagai imperium kontemporer, Amerika tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga sistem keuangan, teknologi, dan narasi global. Namun, seperti imperium sebelumnya, ia tidak kebal terhadap hukum sejarah.
Yang menarik, tantangan terhadap imperium ini tidak selalu datang dari negara-negara kaya atau kekuatan militer konvensional. Justru, dalam banyak kasus, ia muncul dari figur-figur yang dapat disebut sebagai “pangeran tanpa istana.” Ruhollah Khomeini adalah contoh paling jelas. Seorang ulama yang hidup dalam pengasingan, tanpa kekuatan negara, tetapi mampu menggulingkan rezim monarki yang didukung kekuatan global.
Dalam kesinambungan itu, Ali Khamenei dapat dibaca sebagai figur yang melanjutkan tradisi tersebut. Ia bukan pemimpin yang dibentuk oleh kemewahan, melainkan oleh asketisme (zuhud) . Imam Syahid bukan produk sistem aristokrasi, melainkan hasil dari pendidikan spiritual yang keras. Dia lahir dari madrasah Karbala (karbun wa bala, baca duka nestapa). Dalam lanskap geopolitik, posisinya sering dilihat sebagai simbol resistensi terhadap hegemoni global.
Menariknya, narasi ini tidak berhenti pada satu generasi. Figur seperti Mojtaba Khamenei sering disebut dalam diskursus publik sebagai bagian dari kesinambungan tersebut–bukan sebagai pewaris kekuasaan dalam arti dinasti, tetapi sebagai bagian dari tradisi hidup sederhana yang menjadi basis legitimasi moral.
Dalam perspektif historian geopolitik, fenomena “pangeran tanpa istana” menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu ditentukan oleh akumulasi kapital atau teknologi. Ada dimensi lain yang lebih subtil tetapi lebih kuat: legitimasi moral, ketahanan spiritual, dan kemampuan membangun narasi perlawanan yang resonan dengan massa dan akar rumput.
Sejarah tampaknya memiliki cara unik untuk “mengoreksi” kesombongan imperium. Ia tidak selalu menggunakan kekuatan yang setara, tetapi justru menghadirkan kontras: kemewahan dilawan dengan kesederhanaan, kekuasaan dilawan dengan keyakinan, dan istana dilawan oleh mereka yang tidak pernah memilikinya.
Mungkin, di sinilah letak pelajaran terbesarnya. Bahwa dalam setiap zaman, selalu ada kemungkinan lahirnya figur-figur yang tidak terlihat dalam peta kekuasaan formal, tetapi memiliki potensi untuk mengubah arah sejarah. Mereka adalah para pangeran tanpa istana–yang tidak mewarisi dunia, tetapi justru menantangnya.
Dan sejarah, seperti yang telah berulang kali kita saksikan, sering kali berpihak kepada mereka, pangeran tanpa istana. Hari ini kita sedang menunggu tenggelammnya firaun zaman ini, amerika, dalam bimbingan pangeran tanpa istana.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News9 bulan ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI9 bulan ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
News9 bulan ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
KAJIAN ISLAMI11 bulan ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah