Connect with us

PERSPEKTIF ABI

Dari Karbala Menjemput Fajar

Published

on

Karbala Imam Husain

Oleh: Erwin Lessy

Karbala bukanlah duka yang usang. Karbala adalah panggilan yang menggelegar sepanjang zaman, teriakan Imam Husain as yang tak pernah padam, “Hal mimin nasirin yansuruna?”, adakah penolong yang akan menolong kami Pertanyaan itu tidak hanya bergema di padang pasir yang tandus pada tahun 61 Hijriah tapi terus berdentum di setiap sudut dunia yang tertindas, di setiap hati yang masih berdetak untuk kebenaran.

Dan kini, di tengah kecanggihan peradaban yang justru melahirkan bentuk-bentuk kezaliman baru, teriakan itu mengetuk pintu kesadaran kita dengan keras dan mendesak. Darah Husain as tidak sia-sia. Darah itu adalah sungai yang mengalir membasahi jiwa-jiwa yang haus akan keadilan. Dan kita semua, pecinta Ahlulbayt di mana pun berada, adalah penerus estafet suci yang harus terus berlari tanpa lelah.

Untuk memahami betapa beratnya estafet itu, mari kita kenang beberapa nama sosok yang berdiri di samping Imam Husain as di hari yang paling gelap itu. Mereka bukan sekadar nama dalam sejarah. Mereka adalah cermin karakter yang harus kita hidupkan dalam diri kita masing-masing.

Abbas bin Ali, saudara seayah Imam Husain as, yang dijuluki Abal Fadhl. Ketika pasukan Yazid memblokade akses ke air dan anak-anak kecil di kemah Ahlulbait menjerit kehausan, Abbas maju membawa kantong air. Ia berhasil mencapai sungai Efrat. Air ada di hadapannya, tidak ada larangan agama atau adat yang menghalanginya untuk minum, tapi ia tidak setetes pun meneguk.

Ia ingat bibir kering Imam Husain as dan anak-anak yang menangis di kemah. Ia memilih membawa air untuk mereka, bukan untuk dirinya sendiri. Musuh menawarinya jaminan aman jika ia meninggalkan Husain. Jawabannya menghantam: “Apakah aku harus meninggalkan Husain? Celaka kalian!” Abbas mengajarkan kita pengorbanan dan prioritas bahwa seorang mukmin sejati mendahulukan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri, bahwa keselamatan diri tidak ada artinya tanpa kesetiaan pada kebenaran dan komunitas.

Habib bin Muzhahir, sahabat setia Ali, Hasan, dan Husain as. Ia sudah berusia 75 tahun ketika bergabung dengan Imam Husain as di Karbala. Di usia yang sepantasnya beristirahat, ia memimpin sayap kiri pasukan Husain dan gugur sebagai syahid setelah menewaskan puluhan musuh. Habib adalah lambang konsistensi seumur hidup yang tidak pernah berubah, tidak pernah lelah berjuang, bahkan ketika tulang-tulangnya mulai rapuh. Ia mengingatkan kita bahwa kecintaan kepada Ahlulbayt bukan untuk anak muda saja. Perjuangan adalah panggilan sepanjang hayat, dari buaian hingga liang lahat.

Jaun bin Huwai, sahabat berkulit hitam dari Nubia, seorang mantan budak Kristen milik Abu Dzar Ghiffari yang kemudian dimerdekakan dan menjadi pengikut setia Ahlulbayt. Ketika Imam Husain as melarangnya maju ke medan perang pada hari Asyura, Jaun menjawab dengan suara membelah dada, “Demi Allah, aku tidak akan pernah berpisah darimu, sehingga darah hitam ini bercampur dengan darahmu.”

Ia syahid setelah membunuh 25 orang musuh, dan Imam Husain as datang ke sisinya, mendoakan: “Ya Allah, putihkanlah wajahnya dan harumkanlah baunya, dan kumpulkanlah ia bersama orang-orang baik.” Jaun mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari keturunan atau status sosial, tetapi dari ketulusan hati dan kesiapan berkorban untuk kebenaran. Di tengah masyarakat yang masih membeda-bedakan manusia, Jaun adalah protes hidup terhadap segala bentuk diskriminasi.

Abu Wahab Abdullah bin Umayr, seorang mantan Nasrani yang baru masuk Islam karena terinspirasi oleh Imam Husain as. Ia memohon kepada Imam agar diizinkan bergabung dalam pasukan melawan Yazid. Di medan Karbala, ia gugur sebagai syahid. Bahkan istrinya, Ummu Wahab, yang turut hadir, setelah melihat suaminya terbunuh, berlari ke arah jasadnya dan menolak pergi hingga ia pun dibunuh oleh pasukan Yazid. Abu Wahab adalah bukti bahwa iman tidak mengenal status “lama” atau “baru”.

Yang menentukan kemuliaan di sisi Allah adalah ketulusan, bukan lama waktu keislaman. Ia mengajarkan kita bahwa setiap saat adalah waktu yang tepat untuk memulai perjuangan, dan bahwa cinta kepada Ahlulbayt dapat melampaui batas-batas agama lama, suku, dan status sosial. Tidak ada kata terlambat untuk bergabung dalam barisan kebenaran.

Dan ada satu sosok yang mungkin paling mengguncang hati kita semua, Al-Hurr bin Yazid At-Tamimi. Ia adalah panglima pasukan Yazid yang ditugaskan untuk menghadang rombongan Imam Husain as di padang pasir yang tandus. Dengannya, Imam berdebat panjang tentang kebenaran dan keadilan. Al-Hurr adalah musuh yang paling dekat, yang paling siap menghujamkan pedang ke tubuh Imam. Namun di tengah malam yang sunyi, ia mendengar suara tangis anak-anak kecil di kemah Husain yang kehausan.

Tangisan itu menusuk kalbunya. Ia mulai bertanya kepada dirinya, kepada siapa ia akan berperang? Kepada cucu Rasulullah? Kepada kebenaran yang ia sendiri tahu di lubuk hatinya bahwa Yazid adalah batil? Dan pagi hari di hari Asyura, ketika barisan sudah siap bertempur, Al-Hurr melakukan sesuatu yang mengguncang langit. Ia melepas baju perang Yazid, mengalungkan pedangnya di leher, dan berlari ke arah Imam Husain as dengan tangis yang memecah keheningan.

Ia jatuh tersungkur di kaki Imam, meminta ampun, bertaubat, dan memohon untuk menjadi pasukan Husain. Dengan air mata yang deras, Imam Husain as menerimanya, dan Al-Hurr maju ke medan perang di pihak kebenaran menjadi syahid pertama dari pasukan Imam pada hari itu, dibunuh oleh orang-orang yang dahulu adalah saudara seperjuangannya sendiri.

Al-Hurr adalah simbol paling indah dari penerimaan hidayah, taubat, dan keberanian untuk berpaling dari kesalahan yang bahkan ada di titik paling ekstrem sekalipun. Ia mengajarkan kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk kembali ke jalan Allah, bahwa musuh terbesar sekalipun bisa menjadi wali Allah jika hatinya terbuka, dan bahwa kita semua harus selalu memberi ruang bagi siapa pun yang ingin bertaubat dan bergabung dalam barisan kebenaran.

Dan Zainab binti Ali as, sang Singa Wanita dari Karbala. Ia menyaksikan sendiri saudaranya Husain, kedua putranya, dan seluruh keluarganya dibantai di depannya. Namun ia tidak patah. Ia berdiri tegak di istana Yazid dan berpidato dengan keberanian yang mengguncang singgasana kezaliman, “Celaka kalian! Tahukah kalian bagian mana dari Rasulullah yang telah kalian potong?”

Zainab adalah ketabahan dan keberanian dalam menghadapi kehancuran dan bahwa setelah semua tampak hilang, perjuangan belum berakhir. Justru di situlah ia memulai pertempuran berikutnya yakni pertempuran menyampaikan kebenaran. Ia mengajarkan kita bahwa suara kebenaran tidak pernah padam, bahkan ketika semua kekuatan dunia tampak bersatu untuk membungkamnya.

Yazid hari ini tidak lagi berjubah kekhalifahan. Ia menjelma dalam sistem yang menghisap rakyat, dalam korupsi yang membusukkan negeri, dalam kebohongan yang menjadi kebenaran, dalam genosida di Palestina yang disaksikan dunia namun dibiarkan. Menghadapi semua ini, para syuhada Karbala mengajarkan satu hal yang tidak bisa ditawar bahwa *diam di tengah kezaliman adalah pengkhianatan.

Kita tidak mungkin menolong Husain as secara fisik saat ini. Tetapi kita bisa menolongnya dengan menjadi Abbas yang mendahulukan orang lain, Habib yang konsisten sepanjang hayat, Jaun yang membuktikan kemuliaan hati melampaui status, Abu Wahab yang membuktikan iman sejati tidak mengenal kata “terlambat”, Al-Hurr yang mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bahkan bagi yang paling tersesat sekalipun, dan Zainab yang tidak pernah menyerah menyuarakan kebenaran walaupun dalam keadaan paling hancur.

Imam Mahdi afs tidak akan datang untuk menjemput individu-individu yang lemah dan terpecah. Ia datang untuk memimpin sebuah umat yang telah terlatih, yang telah ditempa oleh karakter-karakter agung ini, yang tidak pernah menutup pintu bagi mereka yang ingin kembali, dan yang bersama-sama membangun benteng persaudaraan yang tak tergoyahkan. Setiap dari kita, entah kita bergabung dalam organisasi atau tidak, entah kita tua atau muda, kaya atau miskin, lama atau baru mengenal Ahlulbayt, kita semua adalah bagian dari pasukan besar yang dinanti, insya Allah.

Maka, wahai saudara-saudaraku pecinta Ahlulbayt, jangan biarkan Muharram berlalu begitu saja. Biarkan darah para syuhada Karbala mengalir dalam nadimu. Biarkan nama mereka menjadi kurikulum hidupmu. Kita adalah bagian dari napas panjang yang dimulai dari Karbala dan akan berakhir dengan kemenangan gemilang di tangan Imam Mahdi afs. Mari kita satukan langkah, satukan hati, dan satukan tekad. Karena fajar keadilan itu semakin dekat, dan kita, seluruh pecinta kebenaran di mana pun berada, adalah penjemputnya. Allahumma ‘ajjil li waliyyikal faraj. Aamiin.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OPINI

Reaktualisasi Taqiyah dan Jalan Khidmat Kader di Ambang Fajar Kebenaran

Published

on

By

IMG 20250722 WA0011

Oleh: Erwin Lessy (Ketua Departemen Kaderisasi DPW ABI Sulsel)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”
(QS. An-Nashr: 1–3)

Untuk kita semua para Kader khususnya yang baru saja menyelesaikan Pendidikan Tingkat Dasar, pertanyaannya kini bukan lagi, apa yang kita pelajari? Tapi, apakah kita siap untuk menjadi bagian dari ayat ini?

Jika hari itu benar-benar datang, yakni hari di mana manusia berbondong-bondong datang pada kebenaran, pada cahaya Ahlulbait, pada poros keadilan sejati, apakah jiwa kita telah cukup teduh untuk membimbing, bukan menghakimi? Apakah kita telah memiliki kedalaman untuk memeluk, bukan sekadar menjelaskan?

Kita hidup di zaman yang kian terbuka, ketika tirai-tirai sejarah mulai tersingkap, ketika nama-nama suci yang dulu disembunyikan mulai disebut dengan rasa rindu. Tapi ingatlah bahwa ketika kebenaran mulai muncul ke permukaan, tantangan justru tidak berkurang, melainkan berubah bentuk.

Di tengah gelombang informasi, taqiyah bukan lagi hanya soal menjaga diri dari bahaya. Taqiyah adalah seni menjaga kesucian misi, agar cahaya tidak dipaksakan kepada mata yang belum siap. Taqiyah adalah hikmah para pencinta, yang lebih memilih menunda bicara demi menjaga keutuhan pesan.

Taqiyah yang kita pahami di pelatihan bukanlah kelemahan, melainkan sebuah kepekaan spiritual, kesanggupan untuk bersabar demi tegaknya sesuatu yang lebih besar. Dan kita semua, para kader, kini memikul amanah itu.

Kelulusan ini bukan tanda bahwa kita telah selesai. Ini adalah pintu pertama dari jalan panjang khidmat, yakni jalan yang sunyi, tapi penuh cahaya. Kita bukan sekadar pembawa pengetahuan. Kita adalah penjaga arah, pemikul harapan, dan penyambung cahaya dari generasi ke generasi.

Maka, mari kita tanamkan dalam hati bahwa tugas kita bukan hanya menyampaikan kebenaran, tapi menyiapkan dunia agar bisa menerimanya. Dan untuk itu, dibutuhkan lebih dari sekadar keberanian tapi juga dibutuhkan cinta, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.

Berbahagialah kita semua hari ini, karena telah memulai langkah di jalan yang mulia. Tapi bersiaplah juga, karena jalan khidmat tak mengenal jeda bagi mereka yang mencintai dengan tulus.

Semoga kita semua menjadi kader yang bukan hanya paham, tapi juga tangguh dalam diam, kuat dalam kesabaran, dan lembut dalam khidmat. Karena dunia sedang berubah, dan cahaya kebenaran sedang mencari penjemputnya. Dan semoga salah satu di antara kita, adalah penjemput itu.

Continue Reading

KEGIATAN ABI

DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸

Published

on

By

DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA

DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA*DOA & AKSI SUNYI*

*INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA* 🇮🇩🇵🇸

_“Satu Lilin, Satu Harapan, Indonesia Bersatu untuk Palestina!”_

Ahad, 27 April 2025 | 19.00 WITA

Depan Monumen Mandala, Makassar

DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA

Rangkaian kegiatan:

• Doa lintas iman

• ⁠Silent act: duduk bersama & nyalakan lilin

• ⁠Formasi “GAZA”

• ⁠Panggung diam & puisi untuk Palestina

• ⁠Dokumentasi kolektif

 

📌 Dress code: Hitam + atribut Palestina

 

TOR: https://indonesia-palestina-rrjmfs0.gamma.site/

 

Link Pendaftaran Aksi:

https://bit.ly/AksiSunyiPalestina

*Terbuka untuk semua!

 

Mari hadir. Dalam sunyi, kita bersaksi.

Dalam gelap, kita nyalakan cahaya.

Untuk Palestina, kita takkan tinggal diam.

 

Narahubung:

081347410681 (Ayyub)

 

#IndonesiaUntukPalestina

#CelebesForPalestine

#RevivePalestine

#UnitedForPeace

#AliansiPerdamaian

Continue Reading

PERSPEKTIF ABI

Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia

Published

on

By

Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia

Continue Reading

Trending