OPINI
Epos Al-Husain di Sela Ingatan
Tim Media DPW ABI Sulsel
Ingatan ibarat gudang sunyi, tempat segala kesan disimpan dan dibiarkan menetap. Di dalamnya terserak fragmen-fragmen kehidupan—termasuk yang kelam dan getir—yang tak sepatutnya diabaikan. Sebab dari potongan-potongan itulah terbentang jejak yang dapat ditelusuri kembali, menjadi napak tilas yang memugar kenangan dan menghidupkan kembali apa yang nyaris terhapus oleh waktu.
Manusia adalah makhluk yang mengenang. Itulah mengapa manusia membuat monumen, misalnya, sebagai usaha merawat ingatan. Sebab ingatan seperti debu: selaur mikro-materi yang tak berhingga, namun mudah melayang tertiup, hingga buyar. Dan mengenang adalah cara terbaik mengabadikan ingatan. Agar ia tetap stabil dan solid, dan tak tertimbun oleh debu masa. Sebab ia akan menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi.
Seperti ingatan tentang kematian tragis Cucu Rasulullah Saw, Imam Husain bin Ali as, keluarga, dan sahabatnya di Padang tandus Karbala. Kisah kepahlawanan yang tak selayaknya hilang dari ingatan umat manusia. Sebab banyak nilai-nilai yang seharusnya menjadi menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi umat manusia dalam kisah tersebut.
Meski pada akhirnya, Imam Husain as bersama para pengikut setianya syahid di tanah Karbala, dibantai oleh pasukan Dinasti Umayyah dalam pertempuran tak seimbang atas perintah Yazid, penguasa zalim yang haus legitimasi. Tapi di situlah kisah ini menjadi epos yang menyejarah, dan sangat perlu mengabadi dalam relung ingatan umat manusia. Sebab di sana, ada heroisme dari manusia suci yang bikin takjub dan mengundang air mata.
Ketika seluruh sahabat, saudara, dan anak-anaknya telah mati syahid, tak ada niat untuk menyerah atas nama kebenaran dan agama kakeknya. Di antara terik matahari dan tajamnya kerikil-kerikil panas, Imam Husain tetap bertarung tanpa pertolongan, dengan keadaan lapar dan haus. Hingga seluruh tubuhnya dipenuhi luka tombak, anak panah, dan sabetan pedang.
Akhirnya, tubuh mulia itu telah lemah tak berdaya, dipenuhi luka dan darah perjuangan. Umar bin Sa’d, yang hatinya telah beku oleh ambisi, menginginkan akhir bagi Imam Husain as. Ia memerintahkan Syabats, Sinan, dan Khula untuk mencabut nyawa beliau. Namun, bahkan di tengah kekejaman, masih tersisa setitik gentar dan iba dalam dada mereka: tak sanggup mengakhiri hidup Cucu tercinta Rasulullah Saw.
Hingga muncullah seorang makhluk pongah, keji, dan terlaknat, Syimr bin Dzil Jausyan. Ia tanpa ragu duduk di atas dada Imam Husain. Dengan tangan berlumur dosa dan hati yang membatu, ia memenggal kepala manusia mulia itu. Imam Husain pun gugur sebagai syahid: seorang pahlawan suci yang darahnya menjadi tinta sejarah.

Foto: Wikipedia
Begitu mengguncangnya peristiwa itu, hingga bumi berguncang, langit menghitam, dan cahaya Timur maupun Barat meredup dalam kabut duka. Bahkan para malaikat pun menangis, menyaksikan jatuhnya sang pemilik jiwa yang paling bersih, demi menegakkan kebenaran yang tak bisa dibeli oleh kekuasaan mana pun. Tragis dan muram. Kematian yang sunyi.
Tapi di balik tragedi kemanusiaan terparah dalam sejarah itu, sekali lagi ditegaskan, ada banyak nilai yang perlu diabadikan dalam gudang ingatan agar ia tak buyar ditempa zaman. Tentang pengorbanan, kehormatan, kesetiaan, usaha menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan, atau tentang nilai herosieme Al-Husain saat berhadapan dengan tirani.
Alquran telah memerintahkan untuk selalu mengenang orang-orang yang dimuliakan, agar kita bisa memetik hikmah di setiap jalinan kisah dan keutuhan pribadinya. Seperti ketika Allah meminta Nabi Muhammad Saw untuk menceritakan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Idris karena ada nilai kejujuran yang dapat dipelajari dari pribadi mereka (Q.S Maryam: 41, Maryam: 56-57).
Di sisi lain, Karbala menjadi saksi, bahwa Imam Husain dan para pengikut setianya memiliki sejuta kemuliaan yang sangat perlu dipelajari dan diikuti. Bukankah menjadi sangat pantas, mereka menjadi fragmen bersejarah yang tersimpan rapi dalam gudang ingatan umat manusia sebagai sosok teladang yang inspiring?
Tapi ingatan tak hanya sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi semata. Ia juga bisa memantik perasaan manusia. Seperti ketika kita kembali mengenang peristiwa sedih dan menggembirakan, selalu ada momen di mana jiwa kita ikut larung dalam kesedihan atau kegembiraan tersebut. Jika peristiwa biasa dapat memacu perasaan kita, bagaimana dengan saat kita mengenang peristiwa memilukan yang dialami Imam Husain?
Sayyid Moustafa Qazwini mengatakan, menangisi Imam Husain as dinilai sebagai pendekatan diri kepada Allah Swt, karena tragedi Imam Husain as sangat berkaitan erat dengan pengorbanan agung yang beliau tanggung deritanya demi Allah Swt.
Ini merupakan pengingatan dari Allah Swt dan riwayat dari Rasulullah saw yang, karena mengetahui nasib cucunya, menangis saat kelahiran Imam Husain as, ketika masa kanak-kanak yang suka bermain-main, dan pada saat-saat terakhir menjelang beliau wafat.
Namun, tentu ada sisi lain yang juga sangat penting disimak berkaitan dengan kekuatan perasaan. Sensibilitas dapat tumbuh di tengah-tengah meluapnya perasaan itu. Orang-orang yeng memiliki sensibilitas yang tinggi akan mudah peka dan empati terhadap orang lain yang kesusahan, yang tertindas, yang terzalimi.
Kesedihan kita terhadap ketertindasan yang dialami Imam Husain dan pengikut setianya, mestinya diterjemahkan dalam bentuk sensibilitas sosial tersebut. Menangisi Imam Husain tak hanya untuk mempertebal rasa cinta dan mendapatkan keberkahan individual, namun ikut terpacu untuk selalu peka terhadap orang-orang yang terzalimi, dan bersama-sama dengan mereka untuk melawan penindasan, sebagaimana kesungguhan Imam Husain meruntuhkan tirani.
Murtadha Muthahhari, ulama besar mazhab Syiah, memandang bahwa derasnya penekanan para Imam suci atas tangisan bagi Imam Husain as bukan semata luapan duka, melainkan pancaran kesadaran yang hendak menanamkan ruh kebangkitan, semangat kebebasan, dan api perlawanan terhadap kezaliman agar tak pernah padam ditelan zaman.
Dalam pandangannya, seruan para Imam itu telah menjadi bara yang menyulut gerakan-gerakan perlawanan, menyalakan revolusi di pelbagai masa, dan menjadikan nama Imam Husain as sebagai panji agung bagi mereka yang bangkit melawan keangkaramurkaan. Maka ingatlah Al-Husain. Kenanglah tragedi Karbala. Jadikan sebagai sumber pengetahuan, inspirasi, dan sebagai teologi pembebasan.
KAJIAN ISLAMI
Longmarch Husaini
Oleh: Khusnul Yaqin
Kita hidup pada zaman yang kenyang informasi, tetapi lapar tafsir. Informasi bertebaran seperti hujan pada musim penghujan; siapa pun dapat memungutnya. Yang langka justru kemampuan membaca maknanya. Sebab informasi tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia lahir dari ruang, waktu, sejarah, dan pengalaman manusia tertentu. Ketika dicabut dari konteksnya, ia berubah menjadi slogan. Dan slogan, betapapun terdengar suci, dapat kehilangan ruhnya.
Orang-orang tua di Nusantara telah lama mengingatkan kita dengan sebuah peribahasa sederhana: lain lubuk, lain ikannya. Kalimat itu bukan sekadar petuah tentang alam, melainkan sebuah filsafat sosial. Setiap habitat melahirkan cara hidupnya sendiri. Setiap masyarakat memiliki sejarah, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Maka, kebijaksanaan bukanlah menyalin bentuk, melainkan menangkap jiwa yang menghidupinya.
Di sinilah kita sering tergelincir. Kita lebih mudah meniru bentuk daripada memahami makna.
Lihatlah longmarch Arba’in di Irak. Jutaan manusia berjalan dari Najaf menuju Karbala. Bagi yang melihatnya dari kejauhan, mungkin yang tampak hanyalah lautan manusia yang berjalan kaki. Namun sesungguhnya mereka tidak sedang berjalan menuju sebuah kota. Mereka sedang berjalan menuju sebuah ingatan; menuju makam Imam Husain; menuju sebuah peristiwa sejarah yang menjadi simbol penolakan terhadap tirani.
Karena itu, longmarch Arba’in memiliki konteks yang tidak dapat dipindahkan begitu saja. Tujuannya jelas: Karbala. Yang diziarahi jelas: Imam Husain. Yang dihidupkan adalah memori sejarah perlawanan dan cinta Husaini yang hidup di tanah itu.
Menyalin bentuknya di Indonesia tanpa menghadirkan konteksnya justru berisiko menghilangkan maknanya. Di Indonesia tidak ada Karbala. Tidak ada makam Imam Husain yang menjadi tujuan perjalanan itu. Maka pertanyaan yang layak diajukan bukanlah, “Bagaimana kita meniru longmarch itu?” Melainkan, “Apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan oleh perjalanan itu?”
Imam Husain sendiri telah menjawabnya dalam wasiatnya yang masyhur:
إِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشِرًا وَلَا بَطِرًا وَلَا مُفْسِدًا وَلَا ظَالِمًا، وَإِنَّمَا خَرَجْتُ لِطَلَبِ الْإِصْلَاحِ فِي أُمَّةِ جَدِّي، أُرِيدُ أَنْ آمُرَ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ..
”Sesungguhnya aku tidak keluar karena kesombongan, bukan karena keangkuhan, bukan untuk membuat kerusakan, dan bukan pula untuk berbuat zalim. Aku keluar semata-mata untuk melakukan perbaikan (islah) pada umat kakekku. Aku ingin menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar…”
Kalimat itu jauh lebih penting daripada bentuk perjalanan itu sendiri. Sebab inti Arba’in bukanlah berjalan kaki, melainkan melanjutkan proyek islah–proyek memperbaiki masyarakat.
Di titik inilah Indonesia memiliki Karbalanya sendiri.
Karbala kita adalah kemiskinan yang masih menganga, anak-anak yang putus sekolah, nelayan yang kehilangan lautnya, petani yang kehilangan tanahnya, buruh yang kehilangan kepastian hidup, dan mereka yang setiap hari harus memilih antara makan atau berobat. Mereka adalah wajah kaum mustadh’afin yang sejak awal menjadi pusat perhatian para nabi.
Paulo Freire mengingatkan bahwa pembebasan bukanlah memberi sedekah yang membuat orang terus bergantung, melainkan membangun kesadaran agar manusia mampu membebaskan dirinya. Antonio Gramsci menyebutnya sebagai perjuangan membangun hegemoni tandingan melalui masyarakat sipil. James C. Scott menunjukkan bahwa rakyat kecil memiliki cara-cara sehari-hari untuk mempertahankan martabatnya meski sering luput dari sorotan sejarah. Ali Syariati bahkan membaca Karbala sebagai simbol abadi perlawanan kaum tertindas terhadap struktur penindasan.
Tanpa kecerdikan membaca kenyataan, kesadaran untuk melawan mudah sekali dipatahkan. Kekuasaan hampir tak pernah datang hanya dengan pedang; ia lebih sering hadir melalui tafsir yang dipinjam dari mimbar. Agama dijadikan selimut bagi kepentingan politik, sementara ketidakadilan dipoles seolah-olah sebagai kepatuhan.
Begitulah yang diperlihatkan Bani Umayyah pada masa Imam Husain dan para Imam Ahlul Bait berikutnya: penindasan tidak selalu bekerja dengan kekerasan, tetapi juga dengan bahasa yang terdengar saleh, seperti longmarch arbain, puasa, shalat dll you name it.
Semua pemikiran itu bertemu pada satu titik: gerakan rakyat memperoleh maknanya bukan dari ritual yang diulang, melainkan dari keberpihakannya kepada manusia yang lemah.
Karena itu, Arba’in di Indonesia semestinya tidak berhenti pada romantisme berjalan kaki. Jika semangat Husain adalah memperbaiki umat, maka setiap langkah menuju fakir miskin, anak yatim, nelayan, petani, buruh, penyandang disabilitas, dan mereka yang tersisih dari pembangunan adalah langkah menuju cita-cita Husain.
Hari ini mungkin kita memulainya dengan membagikan sembako. Itu baik. Tetapi sembako tidak boleh menjadi tujuan akhir. Tahun depan gerakan itu harus tumbuh menjadi sesuatu yang lebih membebaskan: pendampingan usaha, koperasi komunitas, dana bergulir tanpa riba, beasiswa anak-anak miskin, pelatihan keterampilan, klinik kesehatan rakyat, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dari karitas menuju pemberdayaan; dari bantuan menuju kemandirian.
Barangkali di situlah makna Arba’in menemukan tanahnya di Indonesia. Bukan dengan memindahkan jalan Najaf ke Makassar, Medan, Surabaya, atau Jakarta, melainkan dengan memindahkan semangat Husain ke dalam denyut kehidupan masyarakat yang membutuhkan.
Karbala bukan hanya nama sebuah tempat. Ia adalah nama bagi setiap ruang tempat manusia memilih berpihak kepada keadilan. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah longmarch yang sesungguhnya: perjalanan panjang dari ego menuju empati, dari seremoni menuju transformasi, dari meniru bentuk menuju menghidupkan makna.
OPINI
Dari Kapital ke Ayat Kosmos
Oleh: Khusnul Yaqin
Barangkali sejarah modern bukanlah sejarah kemenangan manusia atas alam. Ia hanyalah sejarah tentang satu kesalahpahaman yang berlangsung terlalu lama.
Kesalahpahaman itu sederhana.
Manusia mengira bumi adalah benda.
Maka gunung berubah menjadi angka dalam laporan investasi. Sungai dan danau menjadi jalur pembuangan limbah. Laut menjadi ruang produksi. Hutan menjadi kubikasi kayu. Bahkan udara perlahan diperdagangkan dalam bursa karbon, seolah-olah langit pun dapat dimiliki.
Kapitalisme tidak lahir dari kerakusan semata. Ia lahir dari sebuah cara memandang.
Di Barat, sejak Descartes memisahkan subjek dan objek, manusia perlahan berdiri sendirian. Di hadapannya terbentang alam yang bisu. Alam kehilangan suara. Kehilangan wajah. Kehilangan kesuciannya. Ia berubah menjadi “yang lain”, sesuatu yang berada di luar manusia dan karena itu boleh ditaklukkan.
Mungkin sejak saat itulah tragedi dimulai.
Mazhab Frankfurt membaca tragedi itu dengan ketajaman yang nyaris menyakitkan.
Mereka menyaksikan bahwa Pencerahan–yang dahulu dijanjikan sebagai pembebasan–diam-diam berubah menjadi mesin dominasi. Rasio tidak lagi mencari kebijaksanaan. Ia mencari efisiensi. Perguruan tinggi tidak lagi bertanya apa yang benar, melainkan apa yang berguna atau disebut dengan istilah yang kurang tepat, “berdampak”. Teknologi tidak lagi memperluas kemanusiaan, tetapi memperbesar kemampuan manusia menguasai dan mengeruk dunia.
Herbert Marcuse berdiri di tengah kegelisahan itu.
Ia melihat manusia modern telah menjadi makhluk berdimensi tunggal. Bukan karena ia kehilangan kecerdasan, melainkan karena ia kehilangan bentang kesadaran. Yang tersisa hanyalah kalkulasi. Semua diukur menurut produktivitas, keuntungan, dan fungsi. Bahkan kebahagiaan pun diproduksi seperti barang pabrik.
Lalu alam?
Alam hanyalah bahan baku.
Marcuse benar.
Tetapi barangkali belum selesai.
Sebab kritik Marcuse masih berangkat dari satu asumsi yang tak banyak dipersoalkan: manusia tetap menjadi pusat cerita. Yang hendak dibebaskan adalah manusia dari sistem yang menindasnya. Alam memperoleh tempat karena ia ikut ditindas bersama manusia.
Namun, bagaimana jika persoalannya bukan itu?
Bagaimana jika manusia bukan tokoh utama dalam kisah semesta?
Barangkali di sinilah Timur menawarkan sebuah kalimat yang tidak pernah benar-benar lahir dalam filsafat modern.
Alam bukan objek.
Alam adalah ayat.
Satu kata itu mengubah seluruh bangunan pemikiran.
Ayat tidak dapat diperlakukan seperti batu. Ia dibaca. Ia direnungi. Ia mengandung makna yang melampaui dirinya sendiri. Sebatang pohon tidak berhenti sebagai batang kayu. Seekor ikan tidak berhenti sebagai protein. Sebuah danau tidak berhenti sebagai cekungan air.
Semuanya adalah bahasa.
Mungkin inilah yang luput dari modernitas.
Ia berhasil menguasai tata bahasa alam, tetapi kehilangan kemampuan mendengar apa yang sedang diucapkan alam.
Padahal setiap spesies yang punah sesungguhnya adalah satu kalimat yang dihapus dari kitab penciptaan.
Setiap sungai dan danau yang tercemar adalah satu paragraf yang disobek.
Setiap terumbu karang yang memutih adalah satu halaman yang terbakar.
Di laboratorium, kita menyebutnya biomarker.
Aktivitas enzim berubah.
Sel mengalami stres oksidatif.
DNA mengalami kerusakan.
Embrio gagal berkembang.
Sains menyebut semuanya sebagai data.
Tetapi mungkinkah semua itu sesungguhnya adalah jeritan?
Mungkin biomarker bukan sekadar respon biologis.
Ia adalah bahasa penderitaan yang diterjemahkan ke dalam angka.
Angka-angka itu sebenarnya sedang memanggil manusia agar berhenti mengeksploitasi
Tetapi manusia modern hanya mendengar bahasa keuntungan.
Di titik ini kita bisa melihat bahwa dialektika Barat memerlukan satu langkah lagi.
Frankfurt School berhasil menunjukkan bagaimana kapitalisme mengubah alam menjadi komoditas.
Namun ia belum bertanya mengapa manusia begitu mudah mengubah alam menjadi komoditas.
Jawabannya mungkin tidak berada di pasar.
Tidak pula di negara.
Melainkan di kedalaman jiwa.
Manusia mulai merusak bumi sejak ia berhenti melihat bumi sebagai sesuatu yang suci.
Ketika alam kehilangan dimensi transendennya, eksploitasi menjadi masuk akal.
Ketika langit berhenti menjadi tanda, ia berubah menjadi ruang kosong.
Ketika laut berhenti menjadi amanah, ia berubah menjadi lokasi tambang.
Ketika pohon berhenti menjadi tasbih, ia berubah menjadi inventaris perusahaan.
Di situlah kita bisa melihat perlunya sebuah lompatan.
Bukan lompatan teknologi.
Bukan pula lompatan ekonomi hijau.
Melainkan lompatan ontologis.
Kta bisa menyebutnya Ekologi Transenden.
Ekologi ini tidak memulai pertanyaannya dari “bagaimana menyelamatkan alam.”
Ia bertanya lebih dahulu, “siapakah alam?”
Pertanyaan itu tampak sederhana.
Padahal seluruh arah peradaban bergantung kepadanya.
Jika alam hanyalah materi, maka seluruh etika lingkungan hanyalah strategi pengelolaan sumber daya.
Tetapi jika alam adalah manifestasi keberadaan, bahkan ayat-ayat yang terus memantulkan cahaya Sang Pencipta, maka hubungan manusia dengan alam berubah menjadi hubungan moral, spiritual, sekaligus ontologis.
Manusia tidak lagi berdiri sebagai penguasa.
Ia hanyalah satu simpul kecil dalam jaringan kehidupan yang jauh lebih tua daripada dirinya.
Kapitalisme mengajarkan kepemilikan.
Marcuse mengajarkan pembebasan.
Ekologi Transenden mengajarkan kerendahan hati.
Barangkali itulah kata yang paling hilang dalam peradaban modern.
Kerendahan hati di hadapan bumi.
Kerendahan hati di hadapan sungai.
Kerendahan hati di hadapan seekor ikan kecil yang selama jutaan tahun menjaga keseimbangan danau, jauh sebelum manusia belajar menyebut dirinya beradab.
Sebab sesungguhnya yang sedang menunggu untuk diselamatkan bukan hanya hutan, bukan hanya laut, bukan pula atmosfer.
Yang sedang menunggu untuk dipulihkan adalah cara manusia memandang seluruh keberadaan.
Dan mungkin, ketika cara pandang itu berubah, bumi tidak lagi menjadi wilayah yang hendak kita kuasai.
Ia kembali menjadi rumah yang kita hormati.
Dan rumah, sejak awal, tidak pernah dibangun untuk ditaklukkan.
Ia dibangun agar kehidupan dapat berteduh.
KAJIAN ISLAMI
Ziarah Arbain Husaini dan Kematian Ego
Oleh: Khusnul Yaqin
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وآله:
مَنْ زَارَ قَبْرَ وَلَدِي الْحُسَيْنِ بَعْدَ وَفَاتِي كُنْتُ أَنَا أَخُذُ بِيَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأُنَجِّيهِ مِنْ أَهْوَالِهَا.
”Barang siapa menziarahi makam putraku Husain setelah wafatku, maka aku sendiri akan memegang tangannya pada Hari Kiamat dan menyelamatkannya dari kedahsyatan-kedahsyatan Hari Kiamat.”
Setiap musim Arba’in, jutaan manusia berjalan menuju Karbala. Di tengah dunia yang semakin percaya bahwa manusia diukur dari apa yang dimilikinya, perjalanan itu justru memperlihatkan pemandangan yang sebaliknya. Orang-orang berlomba memberikan makan kepada orang yang tidak dikenalnya. Rumah-rumah dibuka tanpa bertanya identitas tamunya. Air, obat, tempat tidur, kendaraan, bahkan tenaga diberikan tanpa harga dan tanpa kuitansi.
Antropolog Prancis Marcel Mauss, melalui karya klasik The Gift, menjelaskan bahwa pemberian bukanlah sekadar perpindahan barang dari satu tangan ke tangan lain. Pemberian adalah mekanisme yang membangun ikatan sosial, kepercayaan, dan rasa saling memiliki. Suatu masyarakat menjadi kokoh bukan hanya karena kontrak-kontrak ekonomi, melainkan karena kesediaan anggotanya memberi tanpa menjadikan keuntungan sebagai ukuran utama.
Namun Arba’in melangkah lebih jauh daripada yang dijelaskan Mauss. Jika dalam banyak masyarakat pemberian melahirkan kewajiban untuk membalas, maka di jalan menuju Karbala pemberian justru dibebaskan dari harapan balasan. Tuan rumah merasa terhormat ketika tamunya menerima hidangannya. Pelayan merasa beruntung ketika peziarah bersedia beristirahat di tendanya. Yang dicari bukan pengembalian, melainkan keberkahan karena telah menjadi bagian kecil dari perjalanan menuju Husain.
Barangkali, hanya di jalan menuju Husain kita menyaksikan sebuah ekonomi yang tidak digerakkan oleh keuntungan, melainkan oleh cinta.
Fenomena itu sering dijelaskan sebagai tradisi keagamaan. Padahal, jika direnungkan lebih jauh, ia sesungguhnya adalah kritik paling paling tajam terhadap peradaban modern yang menjadikan manusia sebagai pusat segala-galanya. Dunia hari ini dibangun di atas satu kata yang sangat sederhana: aku. Aku ingin lebih kaya. Aku ingin lebih terkenal. Aku ingin lebih aman. Bahkan ibadah pun, tanpa disadari, kadang berubah menjadi cara untuk memperbesar “aku” yang religius.
Karbala datang dengan bahasa yang berbeda.
Ketika Imam Husain meninggalkan Madinah menuju Karbala, beliau tidak sedang memperjuangkan dirinya. Beliau tidak sedang mencari kekuasaan yang hilang, apalagi membangun dinasti baru. Kalimat beliau begitu jernih: “Aku keluar hanya untuk melakukan perbaikan terhadap umat kakekku.”
(Innama kharajtu li thalabi al-ishlaḥ fī ummati jaddī).
Di sinilah Ali Syariati membaca Karbala bukan sebagai kisah duka, melainkan revolusi kesadaran. Menurutnya, pertarungan yang sesungguhnya bukan hanya antara Husain dan Yazid, tetapi antara Islam Muhammadi, yang menjadikan manusia pelayan kebenaran, dan Islam Umayyah, yang menjadikan agama sebagai pelayan kekuasaan. Pada saat yang sama, pertarungan itu juga berlangsung di dalam diri setiap manusia: antara ego yang ingin memiliki dunia dan jiwa yang ingin mengabdi kepada Allah.
Husain memilih yang kedua.
Karena itu, yang gugur di Karbala bukan hanya tubuh seorang cucu Nabi. Yang seharusnya gugur bersama darah beliau adalah ego manusia. Sebab selama ego masih menjadi pusat kehidupan, manusia akan selalu menemukan alasan untuk membenarkan ketidakadilan. Demi jabatan. Demi kenyamanan. Demi keluarga. Demi kekayaan. Demi dirinya sendiri.
Mungkin karena itulah Rasulullah saw. menjanjikan akan memegang tangan para peziarah Husain pada Hari Kiamat. Hadis itu tidak semata-mata menjanjikan keselamatan bagi orang yang datang ke sebuah makam. Ia mengandung isyarat bahwa orang yang benar-benar menziarahi Husain adalah orang yang sedang belajar berjalan meninggalkan dirinya sendiri.
Ukuran ziarah bukanlah berapa kali seseorang sampai di Karbala, melainkan berapa banyak ego yang ia tinggalkan di sepanjang jalan.
Di sinilah budaya filantropi Arba’in memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemurahan hati. Ribuan mawkib yang setiap tahun menghabiskan seluruh tabungannya untuk melayani peziarah bukan sedang melakukan transaksi dengan manusia. Mereka sedang mendidik dirinya sendiri agar tidak diperbudak oleh harta.
Dalam logika ekonomi modern, kekayaan adalah sesuatu yang dikumpulkan. Dalam logika Karbala, kekayaan menemukan kemuliaannya justru ketika dilepaskan.
Tidak mengherankan apabila pada musim Arba’in kita menyaksikan orang miskin berlomba memberi makan orang lain yang mungkin secara ekonomi lebih mampu daripada dirinya. Yang sedang diperebutkan bukan keuntungan materi, melainkan kesempatan untuk mengalahkan ego.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, Arba’in menghadirkan sebuah peradaban alternatif: peradaban pemberian. Tidak ada iklan. Tidak ada sponsor yang dipasang di sepanjang jalan. Tidak ada laporan laba rugi. Tidak ada kontrak. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa manusia menjadi lebih manusia ketika ia hidup untuk orang lain.
Karena itu, mungkin sudah saatnya makna ziarah kita perlu diperluas. Tidak semua orang diberi kesempatan berjalan menuju Karbala. Banyak pecinta Imam Husain yang hanya mampu menatap kubah emas itu melalui layar telepon genggam. Mereka tidak kekurangan cinta, tetapi kekurangan biaya.
Bagi mereka yang Allah lapangkan rezekinya, membantu seorang pecinta Husain agar dapat menziarahi beliau sesungguhnya merupakan perpanjangan dari ruh Karbala itu sendiri. Sebab ketika seseorang mengorbankan hartanya agar saudaranya dapat memenuhi panggilan Husain, pada saat itu ia sedang melakukan ziarah yang lain: ziarah keluar dari dirinya sendiri untuk bergabung dengan Husain.
Mungkin di situlah letak rahasia mengapa perjalanan menuju Husain tidak pernah selesai di Karbala. Jalan itu sesungguhnya berakhir di dalam hati manusia. Setiap kali seseorang lebih memilih kepentingan umat daripada kepentingan dirinya, setiap kali ia rela menyerahkan hartanya demi mengangkat beban saudaranya, setiap kali ia membela yang lemah tanpa menghitung untung-rugi, pada saat itulah ia sedang melanjutkan perjalanan Husaini.
Sebab Karbala bukan sekadar tempat. Ia adalah cara manusia memandang kehidupan. Dan Arba’in bukan sekadar ziarah tahunan. Ia adalah latihan panjang untuk mematikan ego, agar yang hidup di dalam diri kita bukan lagi “aku”, melainkan cita-cita besar Islam Muhammadi: menghadirkan rahmat, keadilan, dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah
