KAJIAN ISLAMI
Ziarah Arbain Husaini dan Kematian Ego
Oleh: Khusnul Yaqin
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وآله:
مَنْ زَارَ قَبْرَ وَلَدِي الْحُسَيْنِ بَعْدَ وَفَاتِي كُنْتُ أَنَا أَخُذُ بِيَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأُنَجِّيهِ مِنْ أَهْوَالِهَا.
”Barang siapa menziarahi makam putraku Husain setelah wafatku, maka aku sendiri akan memegang tangannya pada Hari Kiamat dan menyelamatkannya dari kedahsyatan-kedahsyatan Hari Kiamat.”
Setiap musim Arba’in, jutaan manusia berjalan menuju Karbala. Di tengah dunia yang semakin percaya bahwa manusia diukur dari apa yang dimilikinya, perjalanan itu justru memperlihatkan pemandangan yang sebaliknya. Orang-orang berlomba memberikan makan kepada orang yang tidak dikenalnya. Rumah-rumah dibuka tanpa bertanya identitas tamunya. Air, obat, tempat tidur, kendaraan, bahkan tenaga diberikan tanpa harga dan tanpa kuitansi.
Antropolog Prancis Marcel Mauss, melalui karya klasik The Gift, menjelaskan bahwa pemberian bukanlah sekadar perpindahan barang dari satu tangan ke tangan lain. Pemberian adalah mekanisme yang membangun ikatan sosial, kepercayaan, dan rasa saling memiliki. Suatu masyarakat menjadi kokoh bukan hanya karena kontrak-kontrak ekonomi, melainkan karena kesediaan anggotanya memberi tanpa menjadikan keuntungan sebagai ukuran utama.
Namun Arba’in melangkah lebih jauh daripada yang dijelaskan Mauss. Jika dalam banyak masyarakat pemberian melahirkan kewajiban untuk membalas, maka di jalan menuju Karbala pemberian justru dibebaskan dari harapan balasan. Tuan rumah merasa terhormat ketika tamunya menerima hidangannya. Pelayan merasa beruntung ketika peziarah bersedia beristirahat di tendanya. Yang dicari bukan pengembalian, melainkan keberkahan karena telah menjadi bagian kecil dari perjalanan menuju Husain.
Barangkali, hanya di jalan menuju Husain kita menyaksikan sebuah ekonomi yang tidak digerakkan oleh keuntungan, melainkan oleh cinta.
Fenomena itu sering dijelaskan sebagai tradisi keagamaan. Padahal, jika direnungkan lebih jauh, ia sesungguhnya adalah kritik paling paling tajam terhadap peradaban modern yang menjadikan manusia sebagai pusat segala-galanya. Dunia hari ini dibangun di atas satu kata yang sangat sederhana: aku. Aku ingin lebih kaya. Aku ingin lebih terkenal. Aku ingin lebih aman. Bahkan ibadah pun, tanpa disadari, kadang berubah menjadi cara untuk memperbesar “aku” yang religius.
Karbala datang dengan bahasa yang berbeda.
Ketika Imam Husain meninggalkan Madinah menuju Karbala, beliau tidak sedang memperjuangkan dirinya. Beliau tidak sedang mencari kekuasaan yang hilang, apalagi membangun dinasti baru. Kalimat beliau begitu jernih: “Aku keluar hanya untuk melakukan perbaikan terhadap umat kakekku.”
(Innama kharajtu li thalabi al-ishlaḥ fī ummati jaddī).
Di sinilah Ali Syariati membaca Karbala bukan sebagai kisah duka, melainkan revolusi kesadaran. Menurutnya, pertarungan yang sesungguhnya bukan hanya antara Husain dan Yazid, tetapi antara Islam Muhammadi, yang menjadikan manusia pelayan kebenaran, dan Islam Umayyah, yang menjadikan agama sebagai pelayan kekuasaan. Pada saat yang sama, pertarungan itu juga berlangsung di dalam diri setiap manusia: antara ego yang ingin memiliki dunia dan jiwa yang ingin mengabdi kepada Allah.
Husain memilih yang kedua.
Karena itu, yang gugur di Karbala bukan hanya tubuh seorang cucu Nabi. Yang seharusnya gugur bersama darah beliau adalah ego manusia. Sebab selama ego masih menjadi pusat kehidupan, manusia akan selalu menemukan alasan untuk membenarkan ketidakadilan. Demi jabatan. Demi kenyamanan. Demi keluarga. Demi kekayaan. Demi dirinya sendiri.
Mungkin karena itulah Rasulullah saw. menjanjikan akan memegang tangan para peziarah Husain pada Hari Kiamat. Hadis itu tidak semata-mata menjanjikan keselamatan bagi orang yang datang ke sebuah makam. Ia mengandung isyarat bahwa orang yang benar-benar menziarahi Husain adalah orang yang sedang belajar berjalan meninggalkan dirinya sendiri.
Ukuran ziarah bukanlah berapa kali seseorang sampai di Karbala, melainkan berapa banyak ego yang ia tinggalkan di sepanjang jalan.
Di sinilah budaya filantropi Arba’in memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemurahan hati. Ribuan mawkib yang setiap tahun menghabiskan seluruh tabungannya untuk melayani peziarah bukan sedang melakukan transaksi dengan manusia. Mereka sedang mendidik dirinya sendiri agar tidak diperbudak oleh harta.
Dalam logika ekonomi modern, kekayaan adalah sesuatu yang dikumpulkan. Dalam logika Karbala, kekayaan menemukan kemuliaannya justru ketika dilepaskan.
Tidak mengherankan apabila pada musim Arba’in kita menyaksikan orang miskin berlomba memberi makan orang lain yang mungkin secara ekonomi lebih mampu daripada dirinya. Yang sedang diperebutkan bukan keuntungan materi, melainkan kesempatan untuk mengalahkan ego.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, Arba’in menghadirkan sebuah peradaban alternatif: peradaban pemberian. Tidak ada iklan. Tidak ada sponsor yang dipasang di sepanjang jalan. Tidak ada laporan laba rugi. Tidak ada kontrak. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa manusia menjadi lebih manusia ketika ia hidup untuk orang lain.
Karena itu, mungkin sudah saatnya makna ziarah kita perlu diperluas. Tidak semua orang diberi kesempatan berjalan menuju Karbala. Banyak pecinta Imam Husain yang hanya mampu menatap kubah emas itu melalui layar telepon genggam. Mereka tidak kekurangan cinta, tetapi kekurangan biaya.
Bagi mereka yang Allah lapangkan rezekinya, membantu seorang pecinta Husain agar dapat menziarahi beliau sesungguhnya merupakan perpanjangan dari ruh Karbala itu sendiri. Sebab ketika seseorang mengorbankan hartanya agar saudaranya dapat memenuhi panggilan Husain, pada saat itu ia sedang melakukan ziarah yang lain: ziarah keluar dari dirinya sendiri untuk bergabung dengan Husain.
Mungkin di situlah letak rahasia mengapa perjalanan menuju Husain tidak pernah selesai di Karbala. Jalan itu sesungguhnya berakhir di dalam hati manusia. Setiap kali seseorang lebih memilih kepentingan umat daripada kepentingan dirinya, setiap kali ia rela menyerahkan hartanya demi mengangkat beban saudaranya, setiap kali ia membela yang lemah tanpa menghitung untung-rugi, pada saat itulah ia sedang melanjutkan perjalanan Husaini.
Sebab Karbala bukan sekadar tempat. Ia adalah cara manusia memandang kehidupan. Dan Arba’in bukan sekadar ziarah tahunan. Ia adalah latihan panjang untuk mematikan ego, agar yang hidup di dalam diri kita bukan lagi “aku”, melainkan cita-cita besar Islam Muhammadi: menghadirkan rahmat, keadilan, dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
KAJIAN ISLAMI
Syahid
Oleh: Khusnul Yaqin
Syahid adalah anugerah. Tidak semua orang mendapatkannya. Kompetisinya sangat ketat—jika kata “kompetisi” boleh digunakan untuk sebuah jalan yang sepenuhnya berada dalam kemurahan Allah.
Syahid bukan semata-mata kematian. Ia justru kehidupan dalam pengertian yang paling hakiki: immortal. Jika kesyahidan dapat dikejar, ia harus dikejar. Jika dapat dipersiapkan, diri harus dipersiapkan. Namun, pada akhirnya, manusia hanya mampu mengetuk pintunya. Allah Yang Maha Pengasihlah yang menentukan siapa yang diizinkan masuk.
Di Karbala, kita melihat bagaimana para sahabat Imam Husain a.s. tidak menjadi syuhada secara tiba-tiba. Mereka adalah manusia-manusia yang sejak awal kehidupannya memupuk kecintaan kepada kebenaran. Setiap kesetiaan kecil, setiap keberanian menolak kebatilan, dan setiap pengorbanan untuk membela yang benar seolah menjadi anak tangga yang mengantarkan mereka menuju Asyura.
Karena itu, Imam Husain a.s. mengetahui orang-orang yang telah memiliki kesiapan batin untuk menjemput kesyahidan. Dalam perjalanan menuju Karbala, beliau terus mendekati seorang musafir yang kelak akan membantunya. Orang itu pada mulanya selalu berusaha menghindar. Barangkali ia mengetahui bahwa berjumpa dengan Imam Husain berarti berjumpa dengan sebuah pilihan yang tidak ringan: mempertahankan seluruh dunianya atau meninggalkan semuanya demi kebenaran.
Namun, setelah Imam Husain a.s. berbicara kepadanya—setelah tabir dunia disingkapkan dan makna kesyahidan diterangkan—orang itu berubah. Ia meninggalkan dunianya. Ia memilih bergabung bersama Al-Husain. Ia tidak lagi bertanya berapa lama akan hidup, tetapi untuk apa hidup yang masih tersisa.
Di situlah kita memahami bahwa syahid adalah anugerah yang mahal. Bukan karena Allah membatasi kasih sayang-Nya, melainkan karena tidak semua manusia bersedia menyiapkan dirinya. Banyak orang ingin memperoleh kemuliaan seorang syahid, tetapi belum tentu bersedia menjalani kehidupan seorang calon syahid: mencintai kebenaran, melawan kezaliman, menundukkan ego, meninggalkan kenyamanan, dan tidak memperjualbelikan keyakinan.
Al-Qur’an menegaskan:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhannya dan memperoleh rezeki.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 169)
Perhatikanlah kalimatnya: وَلَا تَحْسَبَنَّ—jangan sekali-kali engkau mengira. Bukan sekadar “jangan berkata”. Bahkan prasangka bahwa mereka telah mati pun dibantah oleh Allah.
Tidak. Mereka tidak mati.
بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Mereka hidup di sisi Tuhannya. Mereka mendapatkan rezeki. Itulah immortal dalam pengertian yang sesungguhnya. Tubuh mereka mungkin telah meninggalkan alam materi, tetapi keberadaan mereka tidak berhenti. Dalam perenungan spiritual, kehidupan mereka melampaui batas-batas yang kita kenal: alam materi, alam barzakh, dan alam-alam lain yang hanya diketahui oleh Allah. Mereka telah memasuki kehidupan yang tidak lagi dapat dijangkau oleh ukuran biologis manusia.
Lalu, apakah yang masih dapat diancamkan kepada orang seperti itu?
Ancaman bekerja dengan cara menanamkan ketakutan: takut kehilangan jabatan, harta, rumah, keluarga, kebebasan, bahkan kehidupan. Akan tetapi, pada diri seseorang yang telah dianugerahi kesiapan menuju syahid, ancaman itu kehilangan tempat untuk tumbuh. Apa yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti justru mempertebal kerinduannya. Apa yang dimaksudkan untuk membuatnya mundur justru mempercepat langkahnya.
Ancaman akhirnya menjadi nihil.
Hari ini kita melihat Amerika melancarkan berbagai bentuk tekanan terhadap Iran: verbal, ekonomi, politik, sosial, fisik, dan bentuk-bentuk lainnya. Akan tetapi, Iran tidak serta-merta mati atau hancur berantakan. Tekanan itu justru menghidupkan kembali kesadaran yang telah lama tumbuh dalam sejarahnya: bahwa kehidupan tidak selesai oleh kematian dan perjuangan tidak berhenti ketika seorang pejuang gugur.
بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Di Iran, antara mereka yang telah syahid dan mereka yang sedang mempersiapkan diri menuju kesyahidan seolah terdapat konektivitas spiritual yang sangat kuat. Yang telah gugur tidak dipandang sebagai masa lalu. Mereka tetap hadir dalam ingatan, doa, keberanian, dan arah perjuangan orang-orang yang masih hidup. Darah para syuhada tidak membeku di tanah. Ia mengalir menjadi kesadaran.
Mungkin itulah yang tidak dipahami oleh para pengancam. Mereka menghitung jumlah senjata, kekuatan ekonomi, jaringan politik, dan besarnya sanksi. Mereka menghitung semuanya—kecuali satu: manusia yang tidak lagi takut mati karena telah menemukan alasan yang benar untuk hidup.
Orang seperti itu tidak bisa dikalahkan.
Ancaman terhadap orang yang telah mengenal syahid bukan hanya kehilangan kekuatannya. Ancaman itu dapat berbalik kepada orang yang mengucapkannya. Sebab, ketika yang diancam tidak lagi takut, seluruh bangunan kekuasaan si pengancam mulai kehilangan wibawa. Senjatanya masih ada, tetapi taringnya telah tanggal. Suaranya masih keras, tetapi gema ketakutannya kembali menghantam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, yang menghancurkan seorang pengancam bukan semata-mata kekuatan lawannya. Ia dihancurkan oleh kesombongannya sendiri: oleh keyakinannya bahwa setiap manusia dapat ditundukkan dengan rasa takut.
Karbala telah membantah keyakinan itu.
Imam Husain a.s. dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa ada manusia yang tidak dapat dibeli, tidak dapat ditakut-takuti, dan tidak dapat dikalahkan oleh kematian. Sebab, bagi mereka, kematian di jalan Allah bukanlah akhir kehidupan. Ia justru adalah pintu menuju kehidupan yang lebih tinggi.
Syahid memang anugerah. Kita tidak dapat mengklaimnya. Kita tidak berhak merasa telah pantas menerimanya. Kita hanya dapat mempersiapkan diri: mencintai kebenaran, membela mereka yang tertindas, membersihkan hati, dan tidak berkompromi dengan kezaliman.
Selebihnya adalah rahasia kasih sayang Allah.
Barangkali pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: “Apakah saya akan mati sebagai syahid?”
Pertanyaannya justru lebih senyap dan lebih menggetarkan: “Sudahkah saya hidup sebagaimana seseorang yang pantas dianugerahi kesyahidan?”
KAJIAN ISLAMI
Imajinasi Perlawanan Menurut Ahlul Bait
Oleh: Khusnul Yaqin
Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan, menurut Einstein, terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul dunia dan segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui.
Barangkali sebuah peradaban memang tidak hanya dibangun oleh apa yang diketahui manusia. Ia juga dibangun oleh apa yang berani dibayangkannya.
Imajinasi mendahului kenyataan. Manusia membayangkan terbang sebelum pesawat dibuat. Ia membayangkan berjalan di bulan jauh sebelum jejak kaki manusia tertinggal di sana. Dan manusia membayangkan sebuah dunia yang adil, mungkin jauh sebelum dunia bersedia menjadi adil.
Dalam tradisi Ahlul Bait, ada imajinasi semacam itu: imajinasi perlawanan terhadap kezaliman.
Ada satu perbedaan yang cukup mendasar antara cara tradisi Ahlul Bait memandang kekuasaan dan cara sebagian tradisi politik membaca ketaatan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, kekuasaan tidak dengan sendirinya memperoleh kesucian hanya karena seseorang berhasil menduduki singgasana. Kekuasaan harus ditimbang dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri: keadilan.
Karena itu, dalam teologi Imamiyah, Imamah bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah kepemimpinan yang berakar pada Rasulullah dan diteruskan melalui Ahlul Bait. Para Imam diyakini memiliki ismah, yakni keterpeliharaan dari dosa dan kezaliman.
Dari sini sejarah politik Islam dibaca dengan cara yang berbeda. Keberhasilan merebut kekuasaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memperoleh legitimasi moral untuk memimpin.
Sejarah memang mempunyai ironi yang getir. Mereka yang menang dapat menulis hukum tentang kewajiban menaati pemenang. Mereka yang menguasai mimbar dapat menentukan bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang kekuasaan. Pada suatu masa, stabilitas bahkan dapat diberi nama “ketaatan”, sementara perlawanan terhadap kezaliman dinamai “fitnah”.
Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang sulit dibungkam: jika setiap penguasa harus ditaati hanya karena ia telah menjadi penguasa, untuk apakah Husain meninggalkan Madinah dan akhirnya berdiri berhadapan dengan kekuasaan Yazid?
Di sinilah Asyura memperoleh makna yang melampaui sebuah peristiwa sejarah.
Husain tidak memperoleh kerajaan. Ia bahkan kehilangan hampir segala sesuatu yang secara duniawi dapat disebut kemenangan. Tetapi justru dari kekalahan itulah muncul sebuah kemenangan lain: manusia diperlihatkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada keselamatan pribadi, yakni menolak memberikan legitimasi moral kepada kezaliman.
Menariknya, imajinasi perlawanan dalam tradisi Ahlul Bait tidak berhenti pada kehidupan manusia.
Dalam Ziyarat Asyura terdapat doa:
واساله ان يبلغني المقام المحمود لكم عند الله وان يرزقني طلب ثاري مع امام هدى ظاهر ناطق بالحق منكم
Artinya:
”Aku memohon kepada Nya agar menyampaikanku kepada kedudukan terpuji kalian di sisi Allah dan menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntut tegaknya keadilan bersama seorang Imam pemberi petunjuk dari kalian, yang tampil dan menyuarakan kebenaran.”
Tetapi imajinasi itu bergerak lebih jauh.
Seorang pengikut Ahlul Bait bahkan diajarkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa ketika Imam Mahdi hadir, dirinya sudah tidak berada di dunia. Tubuhnya telah dikuburkan. Namanya mungkin sudah dilupakan manusia. Generasi demi generasi telah berganti.
Namun keberpihakannya kepada keadilan belum selesai.
Dalam Dua al Ahd terdapat ungkapan yang sangat kuat dan indah:
اللهم ان حال بيني وبينه الموت الذي جعلته على عبادك حتما مقضيا فاخرجني من قبري مؤتزرا كفني شاهرا سيفي مجردا قناتي ملبيا دعوة الداعي في الحاضر والبادي
Artinya:
”Ya Allah, apabila antara aku dan dia terhalang oleh kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai kepastian bagi hamba hamba Mu, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan kain kafanku terikat pada tubuhku, pedangku terhunus, tombakku terangkat, sambil memenuhi panggilan sang penyeru, baik di kota maupun di padang terbuka.”
Betapa jauh imajinasi itu bergerak.
Kubur, dalam doa tersebut, bukan batas terakhir keberpihakan.
Kematian bahkan tidak cukup kuat untuk membuat seseorang berkata: urusan keadilan bukan lagi urusanku.
Tentu saja bahasa pedang dan tombak dalam doa itu berada dalam konteks kehadiran Imam Mahdi. Ia bukan pemberian izin kepada setiap orang untuk menentukan sendiri siapa yang boleh diperangi, apalagi pembenaran bagi kekerasan yang lahir dari kemarahan pribadi. Yang menarik justru struktur kesadarannya: seorang manusia diminta memunyai keberpihakan kepada keadilan yang bahkan lebih panjang daripada usianya sendiri.
Di sini kita menemukan sesuatu yang mungkin jarang dibicarakan ketika membahas perlawanan.
Perlawanan bukan pertama tama persoalan senjata.
Ia adalah persoalan imajinasi.
Sebelum sebuah kezaliman dapat dilawan, seseorang harus terlebih dahulu mampu membayangkan dunia tanpa kezaliman. Sebelum manusia berani mengatakan tidak kepada penindasan, ia harus percaya bahwa keadaan yang sedang berlangsung bukan satu satunya dunia yang mungkin.
Karena itu Karbala bukan sekadar tempat.
Karbala adalah sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa seseorang dapat kalah tetapi tidak menyerah. Dapat terbunuh tetapi tidak ditundukkan. Dapat kehilangan tubuhnya tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang hidup selama berabad abad.
Dan Imam Mahdi, dalam imajinasi Ahlul Bait, menjadi horizon dari kemungkinan itu: sebuah dunia ketika keadilan tidak lagi hanya menjadi doa orang orang yang kalah.
Mungkin itulah sebabnya menunggu Imam Mahdi tidak selayaknya dipahami sebagai menunggu dengan pasif.
Menunggu adalah mempersiapkan keberpihakan.
Hari ini mungkin kita tidak membawa pedang. Bentuk kezaliman pun tidak selalu datang dengan pasukan berkuda. Ia dapat hadir dalam hukum yang tidak adil, kekuasaan yang sewenang wenang, kemiskinan yang sengaja dipelihara, suara yang dibungkam, atau manusia yang diperlakukan seolah tidak mempunyai martabat.
Maka imajinasi perlawanan Ahlul Bait menjadi sangat sederhana sekaligus sangat radikal: jangan pernah berdamai dengan kezaliman hanya karena kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Jangan juga bertekuk lutut di depan penguasa penindas yang hanya karena kamu sedirian. Imajinasi perlawanan tetap harus diwujudkan.
Dan doa itu membawa gagasan tersebut sampai ke batas yang hampir tak terbayangkan.
Jika aku masih hidup ketika keadilan memanggil, aku ingin berada di sana.
Jika aku telah berada di dalam kubur ketika Imam Mahdi datang, dan Allah menghendaki aku kembali, keluarkan aku dari kuburku.
Bukan karena aku mencintai peperangan.
Bukan karena aku menginginkan kekuasaan.
Tetapi karena aku tidak ingin menjadi penonton ketika keadilan akhirnya datang.
Einstein benar bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan memberi tahu kita bagaimana dunia ini bekerja.
Tetapi imajinasi membuat manusia bertanya:
haruskah dunia selalu seperti ini?
Karbala menjawabnya dengan darah.
Dan doa kepada Imam Mahdi menjawabnya dengan sebuah harapan yang bahkan tidak mau dikalahkan oleh kematian.
KAJIAN ISLAMI
Saat Gelombang Menemukan Laut
Oleh: Khusnul Yaqin
Ada sebuah doa yang dimulai dengan permintaan yang ganjil. Ia tak meminta kekayaan. Tak meminta umur panjang. Bahkan tak meminta agar penderitaan segera disingkirkan.
Ia meminta untuk ditenggelamkan.
رب أدخلني في لجة بحر أحديتك وطمطام يم وحدانيتك
Rabbi adkhilni fi lujjati bahri ahadiyyatika wa tamtami yammi wahdaniyyatika.
“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu dan ke keluasan bergelombang lautan Wahdaniyyah-Mu.”
Kata yang paling menggugah di doa itu adalah adkhilni: masukkanlah aku.
Bukan: ajarilah aku tentang laut. Bukan: tunjukkan kepadaku di mana laut berada.
Tapi: masukkan aku ke dalamnya.
Ada jarak yang jauh antara mengetahui laut dan tenggelam di dalam laut. Kita bisa membaca buku oseanografi, mengetahui salinitas, pH, oksigen, arus, kedalaman, dan pasang surutnya. Tetapi pengetahuan itu tidak membuat tubuh kita basah. Ada saat ketika pengetahuan berhenti menjadi informasi dan berubah menjadi pengalaman.
Mungkin doa itu berbicara tentang saat tersebut.
Dalam metafisika Ibn Arabi, dunia yang kita huni adalah dunia yang banyak. Di sini ada “aku” dan “engkau”, miskin dan kaya, manusia dan pohon, kelahiran dan kematian. Kita memberi nama kepada semuanya agar dunia bisa dimengerti.
Dan nama memang diperlukan.
Tetapi nama juga bisa menjadi hijab.
Sebab ketika kita mengatakan “pohon”, kita mudah mengira pohon selesai sebagai pohon. Ketika kita mengatakan “manusia”, kita mengira manusia berdiri dengan kekuatannya sendiri. Kita melihat benda-benda sebagai pulau-pulau yang terpisah, masing-masing memiliki keberadaannya sendiri.
Ibn Arabi menawarkan cara melihat yang lain.
Alam adalah tajalli.
Ia bukan Tuhan. Tetapi ia juga bukan sesuatu yang mempunyai wujud mandiri di hadapan Tuhan. Pada alam, Nama-Nama Ilahi menampakkan jejaknya.
Kehidupan mengingatkan kita kepada al-Hayy.
Pengetahuan kepada al-Alim.
Kasih sayang kepada al-Rahman.
Keindahan kepada al-Jamil.
Yang banyak itu tidak hilang. Tetapi di balik yang banyak terdapat Yang Satu.
Mungkin karena itu doa tersebut berbicara tentang laut.
Laut mempunyai gelombang yang tak terhitung. Yang satu tinggi, yang lain rendah. Yang satu pecah di karang, yang lain mati perlahan di pasir.
Kita memberi nama kepada setiap gelombang.
Tetapi laut tidak pernah menjadi banyak karena gelombangnya banyak.
Di sinilah Wahdaniyyah dapat dipahami.
Ada Nama-Nama yang berbeda, sifat yang berbeda, dan tajalli yang berbeda. Tetapi al-musamma wahid: Yang dinamai tetap Satu.
Problem manusia bukan karena ia melihat gelombang. Problem bermula ketika ia lupa bahwa gelombang adalah laut.
Kita melihat seorang yang pandai, lalu mengira kepandaian itu sepenuhnya miliknya. Kita melihat seseorang berkuasa, lalu menganggap kekuasaan bersumber dari dirinya. Kita melihat kecantikan, kekayaan, kehidupan, dan keberhasilan–dan berhenti di sana.
Kita terpukau oleh gelombang.
Kita lupa kepada laut.
Maka kalimat “masukkanlah aku ke dalam lautan Wahdaniyyah-Mu” dapat dibaca sebagai permohonan untuk dibebaskan dari cara pandang yang terpecah itu.
Bukan agar keragaman dimusnahkan.
Justru agar keragaman dilihat dalam kesatuan.
Tetapi doa itu membawa kita lebih jauh.
Ia menyebut:
لجة بحر أحديتك
“Kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu.”
Di sini perjalanan menjadi lebih hening.
Dalam tradisi metafisika Ibn Arabi, Ahadiyyah menunjuk kepada keesaan yang begitu mutlak sehingga bahkan diferensiasi Nama-Nama tak lagi dapat menjadi ukuran bagi Dzat.
Kita mengenal Allah sebagai al-Rahman. Tetapi “Yang Maha Pengasih” mengandung sebuah relasi dengan yang menerima kasih.
Kita mengenal-Nya sebagai al-Alim. Tetapi “Yang Maha Mengetahui” menghadirkan relasi dengan yang diketahui.
Kita mengenal-Nya sebagai al-Khaliq. Tetapi “Yang Maha Mencipta” kita pahami dalam relasinya dengan ciptaan.
Pada Ahadiyyah, semua kategori itu mencapai batas.
Bukan karena Nama-Nama Ilahi tidak benar.
Tetapi karena Dzat selalu lebih luas daripada bahasa yang mencoba menangkap-Nya.
Barangkali itulah sebabnya doa menggunakan kata lujjah: kedalaman laut.
Di permukaan, kita masih melihat pantai. Kita masih mengetahui timur dan barat. Kita masih dapat menunjuk: di sana daratan, di sini laut.
Tetapi semakin jauh seseorang masuk ke tengah samudra, garis-garis itu menghilang.
Pada suatu kedalaman, bahkan cahaya mulai berkurang.
Dan mungkin pengetahuan tentang Tuhan juga mempunyai paradoks seperti itu: semakin seseorang mengenal-Nya, semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya tak pernah sanggup mengepung-Nya.
Kita mulai perjalanan dengan banyak kata.
Kita sampai pada kedalaman tertentu dengan keheningan.
Tetapi masih ada satu kata yang belum selesai: aku.
Ketika seseorang berdoa, “Tuhanku, masukkanlah aku,” masih ada dua kutub.
Aku.
Dan Engkau.
Ada yang meminta dan Yang diminta. Ada pencari dan Yang dicari.
Lalu apa yang terjadi ketika perjalanan semakin dalam?
Ibn Arabi berbicara tentang fana.
Istilah ini mudah disalahpahami. Fana bukan berarti manusia berubah menjadi Tuhan. Gelombang tidak menjadi samudra dalam arti bahwa batas ontologis antara Khalik dan makhluk tiba-tiba lenyap.
Yang runtuh adalah sesuatu yang jauh lebih dekat kepada kita:
klaim bahwa “aku” mempunyai keberadaan yang mandiri.
Kita terbiasa mengatakan:
hartaku.
ilmuku.
kekuasaanku.
tubuhku.
bahkan: hidupku.
Kata “ku” itu kecil, tetapi diam-diam ia membangun sebuah kerajaan.
Esoteris Islam datang untuk menggugat kerajaan tersebut.
Aku ada–tetapi keberadaanku bukan dariku.
Aku mengetahui–tetapi kemampuan mengetahui bukan ciptaanku.
Aku hidup–tetapi aku tidak pernah memutuskan sendiri agar jantung pertama kali berdenyut.
Maka perjalanan itu perlahan bergerak:
Aku ada.
Kemudian:
Aku ada karena Allah.
Lebih dalam:
Aku ada dengan Allah–bi Allah.
Dan akhirnya:
Tidak ada kemandirian bagiku.
Yang lenyap bukan manusia.
Yang lenyap adalah kesombongan metafisisnya.
Tetapi perjalanan mistik tidak selesai di sana.
Setelah fana ada baqa.
Sang penyelam kembali ke permukaan.
Dunia masih seperti kemarin. Pasar tetap ramai. Orang masih jatuh cinta dan bertengkar. Ada anak yang lahir pagi ini dan seseorang yang dimakamkan sore nanti.
Gelombang tetap banyak.
Tetapi mata sang musafir telah berubah.
Dahulu ia melihat yang banyak dan mencari Yang Satu di belakangnya.
Kini ia melihat yang banyak tanpa kehilangan Yang Satu.
Ia bisa melihat kasih seorang ibu dan teringat al-Rahman. Melihat kecerdasan seorang ilmuwan dan teringat al-Alim. Melihat bunga yang mekar dan menemukan jejak al-Jamil.
Ia tidak menyembah gelombang.
Tetapi ia juga tidak membenci gelombang.
Sebab melalui gelombang itulah laut memperlihatkan geraknya.
Barangkali inilah paradoks indah yang tersembunyi dalam awal doa Qamus di atas:
Pada awal perjalanan kita melihat banyak wujud dan mencari Yang Satu. Pada akhir perjalanan kita tetap melihat yang banyak, tetapi tidak lagi melihat satu pun sebagai wujud yang berdiri sendiri dari-Nya.
Maka ketika seseorang berbisik,
رب أدخلني في لجة بحر أحديتك
“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu,”
ia sebenarnya tidak meminta dibawa ke suatu tempat.
Allah tidak jauh.
Samudra itu tidak berada di balik galaksi.
Yang diminta adalah tersingkapnya sebuah hijab: cara kita memandang keberadaan.
Sebab mungkin perjalanan terjauh manusia bukan perjalanan dari bumi menuju Tuhan.
Melainkan perjalanan dari “aku” yang merasa berdiri sendiri menuju kesadaran bahwa sejak awal ia tak pernah berdiri tanpa-Nya.
Yang berubah bukan Allah.
Yang berubah adalah mata yang memandang wujud.
Dan ketika mata itu berubah, gelombang tetap gelombang, laut tetap laut—tetapi kita akhirnya tahu mengapa keduanya tak pernah benar-benar dapat dipisahkan.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
SALAT1 tahun ago
Apa Itu Sholat Wahsyah? Nama-Nama Salat dan Makna di Baliknya
