KAJIAN ISLAMI
Tiga Etape Gerakan Husaini
Oleh: Khusnul Yaqin
Karbala sering dipahami sebagai sebuah tragedi. Padahal, jika kita melihatnya lebih dalam, Karbala bukan hanya peristiwa kesyahidan. Karbala adalah sebuah madrasah pergerakan. Di dalamnya tersimpan pelajaran tentang bagaimana sebuah gerakan dibangun, diuji, dan diwariskan melintasi zaman. Karbala mengajarkan bahwa perjuangan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia memiliki etape-etape yang harus dilalui agar tetap hidup dan relevan sepanjang sejarah.
Etape pertama adalah etape partisipasi.
Sejak meninggalkan Madinah hingga menuju Kufah, Imam Husain a.s. tidak menempuh jalan seorang diri. Beliau mengajak manusia untuk terlibat dalam sebuah gerakan moral. Ajakan itu ditujukan kepada berbagai lapisan masyarakat: para sahabat, pemuka kabilah, peziarah, musafir, bahkan orang-orang yang baru ditemuinya di tengah perjalanan.
Yang menarik, Imam Husain tidak mengajak manusia kepada kekuasaan. Beliau tidak menjanjikan kemenangan politik, jabatan, ataupun harta. Beliau mengajak manusia untuk ikut serta dalam membela kebenaran. Karena itu, partisipasi dalam gerakan Husaini bukanlah partisipasi yang lahir dari kepentingan, melainkan dari kesadaran.
Setiap gerakan yang ingin bertahan harus dimulai dari partisipasi. Tidak ada perubahan yang dapat diwujudkan oleh seorang tokoh sendirian. Bahkan seorang Imam yang maksum sekalipun tetap mengajak masyarakat untuk terlibat. Ini adalah pelajaran besar bagi kita. Sering kali seseorang merasa mampu mengubah dunia seorang diri. Karbala mengajarkan sebaliknya: perubahan selalu membutuhkan keterlibatan kolektif.
Namun partisipasi saja tidak cukup.
Karena itu muncul etape kedua, yaitu etape koreksi, evaluasi, dan pengujian gerakan.
Inilah salah satu bagian paling menarik dalam sejarah Karbala. Pada malam Asyura, Imam Husain mengumpulkan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Beliau tidak meminta baiat baru. Beliau tidak menuntut loyalitas tanpa syarat. Sebaliknya, beliau justru membuka ruang evaluasi yang seluas-luasnya.
Beliau membebaskan para pengikutnya dari baiat. Beliau mempersilakan siapa saja untuk pergi. Seolah-olah Imam sedang berkata kepada mereka: “Periksalah kembali dirimu. Periksalah aku. Periksalah jalan yang sedang kita tempuh.”
Di sinilah kematangan sebuah gerakan diuji.
Banyak gerakan runtuh karena para pemimpinnya tidak mau dikoreksi. Mereka menganggap dirinya selalu benar. Kritik dianggap ancaman. Pertanyaan dianggap pembangkangan. Akibatnya, gerakan kehilangan kemampuan untuk memperbaiki diri.
Sebaliknya, ada pula gerakan yang gagal karena para pengikutnya tidak cukup matang dan cerdas untuk melakukan evaluasi. Mereka mengikuti tanpa memahami. Mereka mendukung tanpa menganalisis. Ketika badai datang, mereka mudah goyah karena fondasi intelektual dan spiritualnya rapuh.
Ketika pemimpinnya dikritik, mereka seolah-olah merasa dunia telah runtuh. Pemimpin diikuti tanpa evaluasi empiris, tanpa pertimbangan akal dan nurani, sehingga kepengikutan yang lahir adalah kepengikutan yang kehilangan daya kritis. Orang-orang seperti ini tampak membela pemimpinnya, padahal sesungguhnya mereka sedang membela kebodohan dan kenaifan mereka sendiri.
Karbala mengajarkan keseimbangan yang luar biasa. Pemimpin harus siap dievaluasi, sementara pengikut harus memiliki keberanian dan kematangan untuk melakukan penilaian secara jujur. Sebuah gerakan hanya akan bertahan apabila mampu melakukan kritik terhadap dirinya sendiri.
Setelah partisipasi dan evaluasi, muncullah etape ketiga, yaitu etape visi dan kelestarian gerakan.
Ketika Imam Husain berdiri sendirian di Karbala dan mengucapkan seruan yang mengguncang sejarah, “Hal min nashirin yanshuruna?” — “Adakah penolong yang akan menolong kami?” — seruan itu sesungguhnya tidak terbatas pada hari Asyura.
Secara lahiriah, tidak ada lagi pasukan yang dapat menyelamatkan beliau. Namun secara batiniah, seruan itu diarahkan kepada seluruh generasi manusia.
Permintaan pertolongan itu melampaui ruang dan waktu. Ia menjadi panggilan abadi bagi siapa saja yang mendengar kisah Karbala. Setiap kali kezaliman muncul, seruan itu terdengar kembali. Setiap kali kebenaran ditindas, seruan itu kembali menggema.
Dalam perspektif ini, Karbala bukanlah akhir. Karbala adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Gerakan Husaini terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga mencapai puncak penyempurnaannya di tangan Imam Mahdi a.s.
Karena itu, kemenangan Husain tidak terletak pada kemenangan militer, tetapi pada keberhasilan menjaga kesinambungan visi perjuangan. Musuh-musuhnya berhasil membunuh tubuhnya, tetapi gagal mematikan pesannya.
Dari sinilah kita belajar bahwa sebuah gerakan yang kokoh harus dibangun di atas tiga fondasi: partisipasi yang luas, evaluasi yang jujur, dan visi jangka panjang yang melampaui usia para pelakunya.
Inilah salah satu inspirasi terbesar dari Madrasah Karbala. Sebuah gerakan tidak cukup hanya mengajak manusia untuk bergabung. Ia juga harus mampu mengoreksi dirinya sendiri, lalu menyiapkan jalan agar nilai-nilai yang diperjuangkannya tetap hidup dari zaman ke zaman. Dan mungkin karena itulah Karbala tidak pernah menjadi masa lalu. Ia terus hidup sebagai gerakan kesadaran yang selalu menemukan relevansinya dalam setiap generasi.
KAJIAN ISLAMI
Longmarch Husaini
Oleh: Khusnul Yaqin
Kita hidup pada zaman yang kenyang informasi, tetapi lapar tafsir. Informasi bertebaran seperti hujan pada musim penghujan; siapa pun dapat memungutnya. Yang langka justru kemampuan membaca maknanya. Sebab informasi tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia lahir dari ruang, waktu, sejarah, dan pengalaman manusia tertentu. Ketika dicabut dari konteksnya, ia berubah menjadi slogan. Dan slogan, betapapun terdengar suci, dapat kehilangan ruhnya.
Orang-orang tua di Nusantara telah lama mengingatkan kita dengan sebuah peribahasa sederhana: lain lubuk, lain ikannya. Kalimat itu bukan sekadar petuah tentang alam, melainkan sebuah filsafat sosial. Setiap habitat melahirkan cara hidupnya sendiri. Setiap masyarakat memiliki sejarah, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Maka, kebijaksanaan bukanlah menyalin bentuk, melainkan menangkap jiwa yang menghidupinya.
Di sinilah kita sering tergelincir. Kita lebih mudah meniru bentuk daripada memahami makna.
Lihatlah longmarch Arba’in di Irak. Jutaan manusia berjalan dari Najaf menuju Karbala. Bagi yang melihatnya dari kejauhan, mungkin yang tampak hanyalah lautan manusia yang berjalan kaki. Namun sesungguhnya mereka tidak sedang berjalan menuju sebuah kota. Mereka sedang berjalan menuju sebuah ingatan; menuju makam Imam Husain; menuju sebuah peristiwa sejarah yang menjadi simbol penolakan terhadap tirani.
Karena itu, longmarch Arba’in memiliki konteks yang tidak dapat dipindahkan begitu saja. Tujuannya jelas: Karbala. Yang diziarahi jelas: Imam Husain. Yang dihidupkan adalah memori sejarah perlawanan dan cinta Husaini yang hidup di tanah itu.
Menyalin bentuknya di Indonesia tanpa menghadirkan konteksnya justru berisiko menghilangkan maknanya. Di Indonesia tidak ada Karbala. Tidak ada makam Imam Husain yang menjadi tujuan perjalanan itu. Maka pertanyaan yang layak diajukan bukanlah, “Bagaimana kita meniru longmarch itu?” Melainkan, “Apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan oleh perjalanan itu?”
Imam Husain sendiri telah menjawabnya dalam wasiatnya yang masyhur:
إِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشِرًا وَلَا بَطِرًا وَلَا مُفْسِدًا وَلَا ظَالِمًا، وَإِنَّمَا خَرَجْتُ لِطَلَبِ الْإِصْلَاحِ فِي أُمَّةِ جَدِّي، أُرِيدُ أَنْ آمُرَ بِالْمَعْرُوفِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ..
”Sesungguhnya aku tidak keluar karena kesombongan, bukan karena keangkuhan, bukan untuk membuat kerusakan, dan bukan pula untuk berbuat zalim. Aku keluar semata-mata untuk melakukan perbaikan (islah) pada umat kakekku. Aku ingin menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar…”
Kalimat itu jauh lebih penting daripada bentuk perjalanan itu sendiri. Sebab inti Arba’in bukanlah berjalan kaki, melainkan melanjutkan proyek islah–proyek memperbaiki masyarakat.
Di titik inilah Indonesia memiliki Karbalanya sendiri.
Karbala kita adalah kemiskinan yang masih menganga, anak-anak yang putus sekolah, nelayan yang kehilangan lautnya, petani yang kehilangan tanahnya, buruh yang kehilangan kepastian hidup, dan mereka yang setiap hari harus memilih antara makan atau berobat. Mereka adalah wajah kaum mustadh’afin yang sejak awal menjadi pusat perhatian para nabi.
Paulo Freire mengingatkan bahwa pembebasan bukanlah memberi sedekah yang membuat orang terus bergantung, melainkan membangun kesadaran agar manusia mampu membebaskan dirinya. Antonio Gramsci menyebutnya sebagai perjuangan membangun hegemoni tandingan melalui masyarakat sipil. James C. Scott menunjukkan bahwa rakyat kecil memiliki cara-cara sehari-hari untuk mempertahankan martabatnya meski sering luput dari sorotan sejarah. Ali Syariati bahkan membaca Karbala sebagai simbol abadi perlawanan kaum tertindas terhadap struktur penindasan.
Tanpa kecerdikan membaca kenyataan, kesadaran untuk melawan mudah sekali dipatahkan. Kekuasaan hampir tak pernah datang hanya dengan pedang; ia lebih sering hadir melalui tafsir yang dipinjam dari mimbar. Agama dijadikan selimut bagi kepentingan politik, sementara ketidakadilan dipoles seolah-olah sebagai kepatuhan.
Begitulah yang diperlihatkan Bani Umayyah pada masa Imam Husain dan para Imam Ahlul Bait berikutnya: penindasan tidak selalu bekerja dengan kekerasan, tetapi juga dengan bahasa yang terdengar saleh, seperti longmarch arbain, puasa, shalat dll you name it.
Semua pemikiran itu bertemu pada satu titik: gerakan rakyat memperoleh maknanya bukan dari ritual yang diulang, melainkan dari keberpihakannya kepada manusia yang lemah.
Karena itu, Arba’in di Indonesia semestinya tidak berhenti pada romantisme berjalan kaki. Jika semangat Husain adalah memperbaiki umat, maka setiap langkah menuju fakir miskin, anak yatim, nelayan, petani, buruh, penyandang disabilitas, dan mereka yang tersisih dari pembangunan adalah langkah menuju cita-cita Husain.
Hari ini mungkin kita memulainya dengan membagikan sembako. Itu baik. Tetapi sembako tidak boleh menjadi tujuan akhir. Tahun depan gerakan itu harus tumbuh menjadi sesuatu yang lebih membebaskan: pendampingan usaha, koperasi komunitas, dana bergulir tanpa riba, beasiswa anak-anak miskin, pelatihan keterampilan, klinik kesehatan rakyat, pemberdayaan perempuan, hingga penguatan ekonomi lokal. Dari karitas menuju pemberdayaan; dari bantuan menuju kemandirian.
Barangkali di situlah makna Arba’in menemukan tanahnya di Indonesia. Bukan dengan memindahkan jalan Najaf ke Makassar, Medan, Surabaya, atau Jakarta, melainkan dengan memindahkan semangat Husain ke dalam denyut kehidupan masyarakat yang membutuhkan.
Karbala bukan hanya nama sebuah tempat. Ia adalah nama bagi setiap ruang tempat manusia memilih berpihak kepada keadilan. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah longmarch yang sesungguhnya: perjalanan panjang dari ego menuju empati, dari seremoni menuju transformasi, dari meniru bentuk menuju menghidupkan makna.
KAJIAN ISLAMI
Ziarah Arbain Husaini dan Kematian Ego
Oleh: Khusnul Yaqin
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وآله:
مَنْ زَارَ قَبْرَ وَلَدِي الْحُسَيْنِ بَعْدَ وَفَاتِي كُنْتُ أَنَا أَخُذُ بِيَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأُنَجِّيهِ مِنْ أَهْوَالِهَا.
”Barang siapa menziarahi makam putraku Husain setelah wafatku, maka aku sendiri akan memegang tangannya pada Hari Kiamat dan menyelamatkannya dari kedahsyatan-kedahsyatan Hari Kiamat.”
Setiap musim Arba’in, jutaan manusia berjalan menuju Karbala. Di tengah dunia yang semakin percaya bahwa manusia diukur dari apa yang dimilikinya, perjalanan itu justru memperlihatkan pemandangan yang sebaliknya. Orang-orang berlomba memberikan makan kepada orang yang tidak dikenalnya. Rumah-rumah dibuka tanpa bertanya identitas tamunya. Air, obat, tempat tidur, kendaraan, bahkan tenaga diberikan tanpa harga dan tanpa kuitansi.
Antropolog Prancis Marcel Mauss, melalui karya klasik The Gift, menjelaskan bahwa pemberian bukanlah sekadar perpindahan barang dari satu tangan ke tangan lain. Pemberian adalah mekanisme yang membangun ikatan sosial, kepercayaan, dan rasa saling memiliki. Suatu masyarakat menjadi kokoh bukan hanya karena kontrak-kontrak ekonomi, melainkan karena kesediaan anggotanya memberi tanpa menjadikan keuntungan sebagai ukuran utama.
Namun Arba’in melangkah lebih jauh daripada yang dijelaskan Mauss. Jika dalam banyak masyarakat pemberian melahirkan kewajiban untuk membalas, maka di jalan menuju Karbala pemberian justru dibebaskan dari harapan balasan. Tuan rumah merasa terhormat ketika tamunya menerima hidangannya. Pelayan merasa beruntung ketika peziarah bersedia beristirahat di tendanya. Yang dicari bukan pengembalian, melainkan keberkahan karena telah menjadi bagian kecil dari perjalanan menuju Husain.
Barangkali, hanya di jalan menuju Husain kita menyaksikan sebuah ekonomi yang tidak digerakkan oleh keuntungan, melainkan oleh cinta.
Fenomena itu sering dijelaskan sebagai tradisi keagamaan. Padahal, jika direnungkan lebih jauh, ia sesungguhnya adalah kritik paling paling tajam terhadap peradaban modern yang menjadikan manusia sebagai pusat segala-galanya. Dunia hari ini dibangun di atas satu kata yang sangat sederhana: aku. Aku ingin lebih kaya. Aku ingin lebih terkenal. Aku ingin lebih aman. Bahkan ibadah pun, tanpa disadari, kadang berubah menjadi cara untuk memperbesar “aku” yang religius.
Karbala datang dengan bahasa yang berbeda.
Ketika Imam Husain meninggalkan Madinah menuju Karbala, beliau tidak sedang memperjuangkan dirinya. Beliau tidak sedang mencari kekuasaan yang hilang, apalagi membangun dinasti baru. Kalimat beliau begitu jernih: “Aku keluar hanya untuk melakukan perbaikan terhadap umat kakekku.”
(Innama kharajtu li thalabi al-ishlaḥ fī ummati jaddī).
Di sinilah Ali Syariati membaca Karbala bukan sebagai kisah duka, melainkan revolusi kesadaran. Menurutnya, pertarungan yang sesungguhnya bukan hanya antara Husain dan Yazid, tetapi antara Islam Muhammadi, yang menjadikan manusia pelayan kebenaran, dan Islam Umayyah, yang menjadikan agama sebagai pelayan kekuasaan. Pada saat yang sama, pertarungan itu juga berlangsung di dalam diri setiap manusia: antara ego yang ingin memiliki dunia dan jiwa yang ingin mengabdi kepada Allah.
Husain memilih yang kedua.
Karena itu, yang gugur di Karbala bukan hanya tubuh seorang cucu Nabi. Yang seharusnya gugur bersama darah beliau adalah ego manusia. Sebab selama ego masih menjadi pusat kehidupan, manusia akan selalu menemukan alasan untuk membenarkan ketidakadilan. Demi jabatan. Demi kenyamanan. Demi keluarga. Demi kekayaan. Demi dirinya sendiri.
Mungkin karena itulah Rasulullah saw. menjanjikan akan memegang tangan para peziarah Husain pada Hari Kiamat. Hadis itu tidak semata-mata menjanjikan keselamatan bagi orang yang datang ke sebuah makam. Ia mengandung isyarat bahwa orang yang benar-benar menziarahi Husain adalah orang yang sedang belajar berjalan meninggalkan dirinya sendiri.
Ukuran ziarah bukanlah berapa kali seseorang sampai di Karbala, melainkan berapa banyak ego yang ia tinggalkan di sepanjang jalan.
Di sinilah budaya filantropi Arba’in memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemurahan hati. Ribuan mawkib yang setiap tahun menghabiskan seluruh tabungannya untuk melayani peziarah bukan sedang melakukan transaksi dengan manusia. Mereka sedang mendidik dirinya sendiri agar tidak diperbudak oleh harta.
Dalam logika ekonomi modern, kekayaan adalah sesuatu yang dikumpulkan. Dalam logika Karbala, kekayaan menemukan kemuliaannya justru ketika dilepaskan.
Tidak mengherankan apabila pada musim Arba’in kita menyaksikan orang miskin berlomba memberi makan orang lain yang mungkin secara ekonomi lebih mampu daripada dirinya. Yang sedang diperebutkan bukan keuntungan materi, melainkan kesempatan untuk mengalahkan ego.
Di tengah dunia yang semakin individualistik, Arba’in menghadirkan sebuah peradaban alternatif: peradaban pemberian. Tidak ada iklan. Tidak ada sponsor yang dipasang di sepanjang jalan. Tidak ada laporan laba rugi. Tidak ada kontrak. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa manusia menjadi lebih manusia ketika ia hidup untuk orang lain.
Karena itu, mungkin sudah saatnya makna ziarah kita perlu diperluas. Tidak semua orang diberi kesempatan berjalan menuju Karbala. Banyak pecinta Imam Husain yang hanya mampu menatap kubah emas itu melalui layar telepon genggam. Mereka tidak kekurangan cinta, tetapi kekurangan biaya.
Bagi mereka yang Allah lapangkan rezekinya, membantu seorang pecinta Husain agar dapat menziarahi beliau sesungguhnya merupakan perpanjangan dari ruh Karbala itu sendiri. Sebab ketika seseorang mengorbankan hartanya agar saudaranya dapat memenuhi panggilan Husain, pada saat itu ia sedang melakukan ziarah yang lain: ziarah keluar dari dirinya sendiri untuk bergabung dengan Husain.
Mungkin di situlah letak rahasia mengapa perjalanan menuju Husain tidak pernah selesai di Karbala. Jalan itu sesungguhnya berakhir di dalam hati manusia. Setiap kali seseorang lebih memilih kepentingan umat daripada kepentingan dirinya, setiap kali ia rela menyerahkan hartanya demi mengangkat beban saudaranya, setiap kali ia membela yang lemah tanpa menghitung untung-rugi, pada saat itulah ia sedang melanjutkan perjalanan Husaini.
Sebab Karbala bukan sekadar tempat. Ia adalah cara manusia memandang kehidupan. Dan Arba’in bukan sekadar ziarah tahunan. Ia adalah latihan panjang untuk mematikan ego, agar yang hidup di dalam diri kita bukan lagi “aku”, melainkan cita-cita besar Islam Muhammadi: menghadirkan rahmat, keadilan, dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia.
KAJIAN ISLAMI
Arsitek Jiwa
Oleh: Sulhan Yusuf
“Sekotah utusan-Nya dan para penerusnya, diutus oleh-Nya untuk membangun jiwa manusia. Bukan raganya.” (Tajali Daeng Litere, 23102024)
Ikhtiar membangun dunia, agaknya patut diawali dengan membangun manusia. Dan, upaya membangun manusia selalu bermula dari pekerjaan paling sunyi: menata jiwanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebab, dari lapik ini, sekotah peradaban memperoleh arah, makna, dan kemuliaannya.
Pijakan minda demikian, bukanlah menafikan tubuh manusia, melainkan mengingatkan ihwal pangkal segala pembangunan. Sebelum rumah ditegakkan, terlebih dahulu pondasinya dipastikan kukuh. Sebelum peradaban menjulang, batin manusialah yang mula-mula mesti ditata.
Begitulah penabalan Daeng Litere itu tersaji, bagai mata air mengalir tenang di sela bebatuan. Tiada menghentak, tetapi perlahan meresap ke dalam kesadaran. Sepintas, ujar tersebut seolah mempertentangkan jiwa dan raga.
Diksi sekotah pada aforisme tersebut mengandung keluasan makna. Ia tidak hanya menunjuk para utusan Tuhan, tetapi juga mereka yang meneruskan jejak pengabdian para utusan itu: para guru, ulama, pendidik, pemikir, hingga siapa pun yang menyalakan pelita kesadaran di tengah kehidupan.
Mereka mungkin berbeda zaman, berlainan bahasa, serta menempuh beraneka jalan. Namun, simpul pengabdiannya tetap sama: membangunkan jiwa manusia, agar menemukan arah keberadaannya.
Kehayatan kiwari justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Kemajuan lebih sering diukur melalui apa yang tampak. Gedung menjulang menjadi lambang keberhasilan. Jalan raya membelah pegunungan. Teknologi melampaui batas-batas yang dahulu sulit dibayangkan.
Angka-angka pertumbuhan dipuja sebagai penanda kemajuan. Semua itu tentu bernilai. Namun, acap kali perhatian berhenti pada bangunan luar, sementara bangunan batin dibiarkan retak tanpa sempat diperbaiki.
Padahal, sejarah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Peradaban megah, belum tentu dihuni manusia luhur. Kota dapat berkembang demikian pesat, tetapi kejujuran justru meranggas. Ilmu pengetahuan terus melesat, sementara nurani tertatih mengikuti. Kemajuan lahiriah akhirnya kehilangan arah, ketika tidak lagi ditopang oleh kejernihan jiwa.
Barangkali sebab itulah para utusan Tuhan tidak pertama-tama datang membawa rancangan kota, tata niaga, ataupun teknologi. Mereka hadir membawa pandangan hidup; menyalakan kesadaran ihwal benar-salah, adil-zalim, dan cinta-benci. Dari sanalah ruang paling sunyi dalam diri manusia mulai dibangun—tempat segala keputusan bermula sebelum menjelma tindakan.
Sesarinya, jiwa menjadi semacam mata air. Bila bening, aliran yang keluar pun cenderung jernih. Sebaliknya, apabila hulunya telah keruh, sukar mengharapkan air mengalir tetap bersih. Laku manusia bergerak dari dalam menuju ke luar. Tangan hanya mengerjakan apa yang terlebih dahulu diputuskan oleh batin.
Dalam kehidupan sehari-hari, gejala itu mudah ditemukan. Dua orang dapat memiliki pengetahuan yang sama, tetapi melahirkan tindakan berbeda. Dua pemimpin memegang kewenangan serupa, tetapi meninggalkan warisan yang bertolak belakang. Yang membedakan bukan semata kecakapan, melainkan kualitas jiwa yang mengarahkan kecakapannya.
Di sinilah pembangunan memperoleh makna lebih utuh. Membangun manusia bukan sekadar menghadirkan kenyamanan fisik, melainkan juga menumbuhkan kejujuran, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Nilai-nilai semacam itu tidak dapat dicetak oleh mesin, dibeli di pasar, ataupun diwariskan melalui kekuasaan. Ia bertunas melalui pendidikan batin yang panjang.
Daeng Litere seakan menginterupsi, keruntuhan besar acap tidak bermula dari robohnya bangunan, melainkan dari rapuhnya jiwa. Tatkala kerakusan memperoleh takhta, hukum mudah diperjualbelikan. Kala kesombongan menjadi kebiasaan, ilmu berubah menjadi alat penindasan. Ketika hati kehilangan rasa malu, kemajuan justru menyediakan sarana lebih canggih untuk melakukan kerusakan.
Sebaliknya, jiwa yang tertata mampu melahirkan peradaban lapang. Orang-orang saling percaya bukan semata karena aturan, tetapi karena kesadaran. Keadilan tumbuh bukan hanya akibat pengawasan, melainkan lantaran hati enggan berbuat zalim. Pada poros inilah, akhlak menjadi lapik bagi kehidupan bersama.
Pendakuan Daeng Litere juga mengandung kritik halus terhadap cara manusia menilai keberhasilan. Acap kali orang lebih mudah mengagumi bangunan menjulang daripada karakter yang bertumbuh.
Padahal, sebuah gedung dapat selesai dalam hitungan tahun, sementara membangun kejujuran memerlukan perjalanan seumur hidup. Yang pertama mudah dipotret, sedangkan yang kedua hanya dapat dirasakan melalui laku.
Nisbi diri pun kembali memperoleh tempatnya. Para utusan Tuhan tidak meninggalkan kemegahan, sebagai ukuran utama keberhasilannya. Mereka lebih dahulu meninggalkan manusia-manusia yang berubah. Dari satu jiwa yang tercerahkan, lahir keluarga lebih teduh. Dari keluarga yang teduh, tumbuh masyarakat lebih beradab. Perubahan besar acap bermula dari simpul-simpul kecil, bekerja dalam kesunyian.
Barangkali karena itulah, para penerus para utusan tidak pernah selesai menjalankan tugasnya. Selama manusia masih memerlukan kejernihan, sepanjang hati masih dapat dikeruhkan oleh keserakahan, sebentang batin masih mungkin disesatkan oleh keangkuhan, pekerjaan membangun jiwa akan selalu menemukan panggilannya. Ia bukan proyek yang mengenal garis akhir, melainkan safari panjang lintas generasi.
Dus, aforisme Daeng Litere tersebut tidak sedang memisahkan jiwa dari raga. Tubuh tetap memerlukan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan. Akan tetapi, semua itu akan kehilangan arah, bila batin yang mengendalikannya dibiarkan gersang. Raga memberi manusia kemampuan hidup, sedangkan jiwa memberinya alasan mengapa hidup mesti dijalani.
Pucuknya, bangunan paling kukuh bukanlah tembok menjulang, melainkan jiwa yang sanggup menopang peradaban. Tatkala jiwa berdiri tegak, badan, masyarakat, bahkan sejarah akan menemukan arah bertumbuhnya sendiri.
Artikel ini sudah pernah dimuat di paraminda.com
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah
