Connect with us

KEGIATAN ABI

Musda II DPD ABI Gowa, Jeneponto, dan Bulukumba Dorong Transformasi Jemaah Menuju Organisasi Modern

Published

on

IMG 20260524 WA0008

ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Musyawarah Daerah (Musda) II DPD ABI Gowa, Jeneponto, dan Bulukumba pada Ahad, 24 Mei 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Dari Paguyuban Menuju Peradaban Organisasi; Menyelaraskan Gerakan Daerah Menuju Visi ABI yang Berkelanjutan.”

Kegiatan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WITA di Sekretariat DPW ABI Sulsel, Jl. Batuaraya 5 Lorong 4, Makassar. Musyawarah diikuti oleh utusan daerah Gowa dan Jeneponto secara langsung, sementara peserta dari Kabupaten Bulukumba mengikuti kegiatan secara daring.

Dalam sambutannya, Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Imran Latif, menjelaskan bahwa komunitas Ahlulbait di Sulawesi Selatan memiliki akar sejarah yang panjang, bahkan jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia menyebut salah satu Qadi Kesultanan Gowa, Syech Jalaluddin Al Aidit, sebagai tokoh pengikut Ahlulbait yang turut menyebarkan ajaran Ahlulbait di tanah Sulawesi.

IMG 20260524 WA0011 1

Menurutnya, komunitas Ahlulbait di Sulawesi Selatan selama ini banyak tumbuh dari ruang-ruang paguyuban dan komunitas intelektual. Karena itu, ABI memandang penting adanya transformasi tradisi gerakan menuju kultur organisasi yang lebih tertata dan berkelanjutan.

“Sudah saatnya kita bergerak dari tradisi paguyuban menuju peradaban organisasi. Kita harus terbiasa bekerja di bawah aturan organisasi, dengan tata administratif yang tertib dan terukur,” ujar Imran dalam sambutannya.

Musyawarah daerah ini juga menjadi ruang konsolidasi antar daerah untuk menyelaraskan arah gerakan organisasi dengan visi besar ABI secara nasional, khususnya dalam penguatan tata kelola organisasi, kaderisasi, dan pengembangan gerakan sosial-keumatan di daerah.

IMG 20260524 WA0005

Kegiatan ditutup dengan sambutan Wakil Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Ahmad Syawqi. Dalam pesannya, ia menyebut para pengikut Ahlulbait sebagai orang-orang yang kembali atau bertaubat, yakni mereka yang kembali mengikuti itrah Rasulullah SAW yang suci dengan berupaya menyelaraskan diri terhadap ajaran-ajarannya.

“Pengikut Ahlulbait adalah mereka yang kembali kepada jalan keluarga suci Rasulullah, dengan terus berusaha memperbaiki diri dan menyelaraskan hidupnya dengan nilai-nilai ajaran tersebut,” ungkapnya.

Musyawarah Daerah II kemudian ditutup dengan pembacaan Doa Faraj secara bersama-sama, sebagai doa dan harapan bagi zuhurnya Imam Mahdi afs.

Laporan: Irfan Nesa

KEGIATAN ABI

ABI Sulsel Hadir untuk Masyarakat Terdampak Gempa Manggarai

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 08 25 at 16.51.00

ABI Sulsel— Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya kawasan Manggarai pada 15 Agustus 2026, menyita perhatian masyarakat luas. Di tengah kondisi tersebut, kepedulian dan semangat gotong royong terus bergerak dari berbagai elemen masyarakat.

Sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan, DPW Ahlulbait Indonesia (ABI) Provinsi Sulawesi Selatan turut bergerak menyalurkan bantuan kepada masyarakat Manggarai yang terdampak gempa.

Penyaluran bantuan dilaksanakan pada 25 Agustus 2026 dengan menggandeng Tokoh Pemuda Manggarai Timur sebagai mitra dalam pendistribusian bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Bantuan yang disalurkan berupa bahan pangan, beras, mi instan, serta pakaian untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Tokoh Pemuda Manggarai Timur, Sumarlin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada DPW ABI Sulsel atas kepedulian yang telah diberikan.

“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi DPW Ahlulbait Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan atas bantuan yang telah diberikan. Semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Manggarai yang terdampak,” ungkap Sumarlin.

WhatsApp Image 2026 08 25 at 16.51.01

Pada kesempatan yang sama, Ahmad Syawqi, Wakil Ketua DPW ABI Sulsel, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud nyata komitmen ABI untuk senantiasa hadir bersama masyarakat.

“Bantuan yang kami berikan mungkin tidak seberapa. Namun kami berharap kehadiran ini menjadi bukti bahwa DPW ABI Sulsel senantiasa hadir di tengah masyarakat. Kami ingin terus memberikan khidmat terbaik untuk masyarakat, terutama kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” ujar Ahmad Syawqi.

Bagi ABI Sulsel, kepedulian kemanusiaan tidak berhenti pada kata-kata. Ia harus diwujudkan melalui kehadiran, kepedulian, dan tindakan nyata. Musibah yang menimpa masyarakat di satu daerah adalah panggilan kemanusiaan bagi masyarakat di daerah lainnya untuk saling menguatkan.

Penyaluran bantuan ke Manggarai ini menjadi bagian dari ikhtiar ABI Sulsel untuk membangun kedekatan dengan masyarakat dan menghadirkan manfaat di tengah kehidupan sosial.

ABI Sulsel hadir bukan hanya untuk berbicara tentang kemanusiaan, tetapi untuk mengambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan. Bersama masyarakat, hadir untuk kemanusiaan, dan terus memberikan khidmat terbaik bagi sesama.

Continue Reading

KEGIATAN ABI

DPW ABI Sulsel Luncurkan E-Commerce Berbasis Komunitas, Perkuat Ekosistem Ekonomi Jamaah

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 07 12 at 12.39.11

ABI Sulsel— Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ahlulbait Indonesia (ABI) Provinsi Sulawesi Selatan resmi meluncurkan aplikasi e-commerce berbasis komunitas pada Ahad (12/7/2026) di Sekretariat DPW ABI Sulsel, Jalan Batua Raya Lorong 4, Makassar.

Peluncuran ini dihadiri puluhan pelaku UMKM dan non-UMKM dari kalangan jamaah Ahlulbait sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang saling menguatkan di lingkungan komunitas.

Momentum peluncuran aplikasi tersebut dipilih sebagai penutup rangkaian kunjungan Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia di Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, DPP melaksanakan pendalaman kualitatif atas hasil Survei Pemberdayaan Ekonomi ABI Tahun 2025, sementara peluncuran aplikasi ini menjadi wujud nyata bagaimana hasil-hasil kajian mulai diterjemahkan ke dalam program yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh jamaah.

Ketua DPW ABI Sulawesi Selatan, Dr. Imran Latif, menjelaskan bahwa lahirnya platform digital tersebut berangkat dari kebutuhan mendesak untuk menghadirkan solusi pemberdayaan ekonomi di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Menariknya, gagasan pengembangan aplikasi baru diputuskan hanya beberapa hari sebelumnya dalam rapat bulanan DPW ABI Sulsel.

Alih-alih menunggu seluruh kajian selesai dilakukan, DPW memilih menggunakan pendekatan try and error, yakni membangun, menguji, mengevaluasi, lalu menyempurnakan aplikasi secara bertahap berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan.

“Sering kali kita terlalu lama berhenti pada tahap perencanaan. Padahal kondisi ekonomi masyarakat hari ini menuntut langkah yang cepat. Jika ada kekurangan, kita evaluasi sambil berjalan. Yang terpenting adalah memulai dan terus menyempurnakan,” ujar Dr. Imran.

Menurutnya, selama ini paradigma bisnis lebih banyak berorientasi pada demand side, yakni menghitung daya beli, kecenderungan pasar, serta permintaan konsumen. Padahal, aspek produksi justru menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi.

WhatsApp Image 2026 07 12 at 12.38.48

“Selama ini paradigma bisnis kita cenderung melihat persoalan dari sisi demand side; menghitung daya beli, kecenderungan pasar, dan permintaan konsumen. Padahal kita juga harus mulai memperkuat sisi produksi, bagaimana rantai pasok dibangun, biaya produksi dibuat efisien, dan bagaimana komunitas mampu menciptakan pasarnya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsep pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas menjadi sangat relevan bagi jamaah Ahlulbait karena tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga membangun sebuah ekosistem ekonomi yang saling menopang.

“Kalau komunitas kita mampu saling menjadi produsen sekaligus konsumen, maka akan terbentuk ekosistem ekonomi yang saling menguatkan. Inilah semangat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang ingin kita bangun,” ujarnya.

Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI, Ali Reza Baraqbah atau yang akrab disapa Sayyid Ali Reza.

Menurutnya, model yang dikembangkan DPW ABI Sulsel menawarkan pendekatan yang lebih sederhana, efisien, dan mudah direplikasi dibandingkan pengembangan platform serupa yang selama ini dirancang di tingkat pusat.

Ia mengungkapkan bahwa DPP ABI sebenarnya telah mengembangkan program dengan tujuan yang sama. Namun dalam prosesnya, pengembangannya membutuhkan biaya yang relatif besar.

Sebaliknya, model berbasis web yang dikembangkan DPW ABI Sulsel dinilai lebih ringan dari sisi investasi, tetapi tetap mampu menjawab kebutuhan organisasi di daerah.

“Model ini sangat menarik karena biaya pengembangannya jauh lebih ringan, tetapi tetap fungsional. Saya melihat ini berpotensi menjadi prototipe yang dapat kita tawarkan kepada seluruh DPW dan DPD ABI di Indonesia, khususnya bagi daerah yang jumlah penggunanya masih di bawah seribu akun,” ungkapnya.

Sementara itu, pengembang aplikasi, Syamsu Alam, yang juga merupakan Ketua Program Studi Bisnis Digital Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Makassar, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan akan terus disempurnakan.

Salah satu fitur yang tengah dipersiapkan adalah layanan kurir berbasis komunitas. Fitur ini diharapkan dapat memberdayakan jamaah yang memiliki waktu luang untuk memperoleh tambahan pendapatan melalui layanan pengantaran ketika terdapat pesanan yang masuk melalui aplikasi.

“Aplikasi ini memang masih dalam tahap pengembangan. Masih banyak fitur yang akan terus kami sempurnakan. Dalam waktu dekat kami menargetkan hadirnya fitur kurir berbasis komunitas, sehingga jamaah yang memiliki waktu luang juga dapat memperoleh tambahan pendapatan dari layanan pengantaran,” jelas Syamsu Alam.

Sebagai penutup kegiatan, panitia melakukan simulasi penggunaan aplikasi mulai dari proses pencarian produk UMKM, pemesanan, hingga pembayaran (payment). Simulasi berlangsung lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang hadir.

Salah seorang pelaku UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut menyampaikan optimismenya terhadap kehadiran platform digital ini. Menurutnya, aplikasi tersebut berpotensi membuka pasar baru bagi produk-produk jamaah sekaligus memperkuat transaksi ekonomi di lingkungan komunitas.

“Kami berharap aplikasi ini segera berjalan optimal. Nantinya kami juga akan menyesuaikan harga produk dengan skema biaya layanan (fee) yang disepakati bersama pengelola, sehingga sistemnya tetap sehat bagi pelaku usaha maupun pengelola aplikasi,” ujarnya.

Peluncuran aplikasi e-commerce ini menjadi langkah awal DPW ABI Sulawesi Selatan dalam membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga pada penguatan jejaring usaha, pemberdayaan sumber daya manusia, serta penciptaan pasar internal yang berkelanjutan.

Ke depan, platform ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM, konsumen, hingga mitra distribusi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi jamaah Ahlulbait.

Masyarakat, khususnya pelaku usaha dan jamaah Ahlulbait, kini dapat mulai mengakses platform tersebut melalui gaddekita.com. Sebagai aplikasi e-commerce berbasis web, GaddeKita dirancang agar mudah diakses tanpa perlu mengunduh aplikasi, sehingga dapat digunakan melalui berbagai perangkat untuk mempromosikan produk, memperluas jejaring pemasaran, serta memperkuat transaksi ekonomi di lingkungan komunitas.

Kontributor: Irfanesa 

Continue Reading

KEGIATAN ABI

Bangun Kemandirian Ekonomi Komunitas, DPP ABI Serap Pengalaman PANDU dan Muslimah ABI Sulse

Published

on

By

WhatsApp Image 2026 07 11 at 13.38.09

ABI Sulsel— Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia (ABI) melakukan rangkaian kunjungan dan dialog strategis di Sulawesi Selatan yang difasilitasi oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ABI Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (10/7). Kegiatan ini menjadi ruang bertukar pengalaman sekaligus menyusun arah penguatan program pemberdayaan ekonomi yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Rombongan DPP dipimpin oleh Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi, *Ali Reza Baraqbah* atau yang akrab disapa Sayyid Ali Reza, didampingi Wakil Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi, *Hilmi Dhiya Ulhaq*. Dalam kunjungan tersebut, keduanya berdiskusi bersama pengurus Pimpinan Wilayah (Pimwil) PANDU ABI Sulawesi Selatan dan Pimwil Muslimah Ahlulbait Indonesia Sulawesi Selatan.

Pertemuan yang berlangsung di kediaman  Erna Sudirman, Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi Muslimah ABI Sulawesi Selatan, difokuskan pada pemetaan tantangan sekaligus penggalian praktik-praktik terbaik yang telah dijalankan di daerah.

DPP memaparkan arah kebijakan pemberdayaan ekonomi organisasi, sekaligus meminta pandangan dan pengalaman dari PANDU maupun Muslimah mengenai program-program yang dinilai paling mendesak dan relevan untuk dikembangkan.

Dalam pemaparannya, Sayyid Ali Reza mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI pada tahun 2025, persoalan terbesar yang dihadapi masyarakat dalam upaya pemberdayaan ekonomi masih didominasi oleh keterbatasan akses terhadap permodalan.

“Sekitar 80 persen persoalan pemberdayaan ekonomi yang kami temukan bermuara pada masalah permodalan. Karena itu, program yang kita rancang harus mampu membuka akses pembiayaan sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola usaha,” jelasnya.

WhatsApp Image 2026 07 11 at 13.38.09 1

Menanggapi hal tersebut,  Erna membagikan pengalaman panjangnya sebagai pelaku usaha di bidang konstruksi. Ia menjelaskan berbagai strategi praktis yang selama ini diterapkan dalam memperoleh dukungan pembiayaan usaha, mulai dari pemanfaatan fasilitas perbankan hingga berbagai skema pembiayaan yang tersedia di Pegadaian. Pengalaman tersebut menjadi bahan diskusi yang dinilai sangat aplikatif karena berangkat dari praktik lapangan yang telah terbukti dijalankan.

Selain membahas penguatan ekonomi keluarga dan pelaku usaha, forum juga secara khusus mendiskusikan kondisi organisasi kepemudaan ABI. Ketua Pimwil PANDU ABI Sulawesi Selatan, Andi Atikah Permata Mahdiyah P, menyampaikan evaluasi secara terbuka mengenai tantangan yang dihadapi organisasinya.

Menurutnya, hingga saat ini masih banyak pemuda Ahlulbait yang belum memiliki ketertarikan untuk bergabung ke dalam PANDU karena belum melihat manfaat maupun dampak nyata dari keberadaan organisasi. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya sumber daya manusia yang aktif, sehingga berbagai program yang telah direncanakan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) belum dapat dijalankan secara optimal.

Menanggapi hal tersebut, Hilmi Dhiya Ulhaq mendorong PANDU agar mulai membangun model pemberdayaan ekonomi yang tidak hanya mampu menopang pembiayaan organisasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi para anggotanya.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pembentukan lembaga kursus yang dikelola secara profesional oleh PANDU, khususnya untuk mempersiapkan calon mahasiswa menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi maupun memperoleh berbagai program beasiswa.

Selain menjadi ruang pengabdian pemuda, program tersebut juga dinilai berpotensi menjadi unit usaha sosial yang dapat memperkuat kemandirian finansial organisasi sekaligus meningkatkan daya tarik PANDU di kalangan generasi muda.

Diskusi berlangsung hangat selama kurang lebih tiga jam. Berbagai pengalaman, kritik, dan gagasan yang muncul menjadi bekal penting dalam penyusunan program pemberdayaan ekonomi ABI ke depan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan komunitas. Pertemuan kemudian ditutup dengan makan malam bersama dalam suasana penuh keakraban, sebagai simbol penguatan sinergi antara DPP, DPW, serta organisasi otonom ABI dalam mewujudkan ekosistem pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Continue Reading

Trending