KAJIAN ISLAMI
Saat Gelombang Menemukan Laut
Oleh: Khusnul Yaqin
Ada sebuah doa yang dimulai dengan permintaan yang ganjil. Ia tak meminta kekayaan. Tak meminta umur panjang. Bahkan tak meminta agar penderitaan segera disingkirkan.
Ia meminta untuk ditenggelamkan.
رب أدخلني في لجة بحر أحديتك وطمطام يم وحدانيتك
Rabbi adkhilni fi lujjati bahri ahadiyyatika wa tamtami yammi wahdaniyyatika.
“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu dan ke keluasan bergelombang lautan Wahdaniyyah-Mu.”
Kata yang paling menggugah di doa itu adalah adkhilni: masukkanlah aku.
Bukan: ajarilah aku tentang laut. Bukan: tunjukkan kepadaku di mana laut berada.
Tapi: masukkan aku ke dalamnya.
Ada jarak yang jauh antara mengetahui laut dan tenggelam di dalam laut. Kita bisa membaca buku oseanografi, mengetahui salinitas, pH, oksigen, arus, kedalaman, dan pasang surutnya. Tetapi pengetahuan itu tidak membuat tubuh kita basah. Ada saat ketika pengetahuan berhenti menjadi informasi dan berubah menjadi pengalaman.
Mungkin doa itu berbicara tentang saat tersebut.
Dalam metafisika Ibn Arabi, dunia yang kita huni adalah dunia yang banyak. Di sini ada “aku” dan “engkau”, miskin dan kaya, manusia dan pohon, kelahiran dan kematian. Kita memberi nama kepada semuanya agar dunia bisa dimengerti.
Dan nama memang diperlukan.
Tetapi nama juga bisa menjadi hijab.
Sebab ketika kita mengatakan “pohon”, kita mudah mengira pohon selesai sebagai pohon. Ketika kita mengatakan “manusia”, kita mengira manusia berdiri dengan kekuatannya sendiri. Kita melihat benda-benda sebagai pulau-pulau yang terpisah, masing-masing memiliki keberadaannya sendiri.
Ibn Arabi menawarkan cara melihat yang lain.
Alam adalah tajalli.
Ia bukan Tuhan. Tetapi ia juga bukan sesuatu yang mempunyai wujud mandiri di hadapan Tuhan. Pada alam, Nama-Nama Ilahi menampakkan jejaknya.
Kehidupan mengingatkan kita kepada al-Hayy.
Pengetahuan kepada al-Alim.
Kasih sayang kepada al-Rahman.
Keindahan kepada al-Jamil.
Yang banyak itu tidak hilang. Tetapi di balik yang banyak terdapat Yang Satu.
Mungkin karena itu doa tersebut berbicara tentang laut.
Laut mempunyai gelombang yang tak terhitung. Yang satu tinggi, yang lain rendah. Yang satu pecah di karang, yang lain mati perlahan di pasir.
Kita memberi nama kepada setiap gelombang.
Tetapi laut tidak pernah menjadi banyak karena gelombangnya banyak.
Di sinilah Wahdaniyyah dapat dipahami.
Ada Nama-Nama yang berbeda, sifat yang berbeda, dan tajalli yang berbeda. Tetapi al-musamma wahid: Yang dinamai tetap Satu.
Problem manusia bukan karena ia melihat gelombang. Problem bermula ketika ia lupa bahwa gelombang adalah laut.
Kita melihat seorang yang pandai, lalu mengira kepandaian itu sepenuhnya miliknya. Kita melihat seseorang berkuasa, lalu menganggap kekuasaan bersumber dari dirinya. Kita melihat kecantikan, kekayaan, kehidupan, dan keberhasilan–dan berhenti di sana.
Kita terpukau oleh gelombang.
Kita lupa kepada laut.
Maka kalimat “masukkanlah aku ke dalam lautan Wahdaniyyah-Mu” dapat dibaca sebagai permohonan untuk dibebaskan dari cara pandang yang terpecah itu.
Bukan agar keragaman dimusnahkan.
Justru agar keragaman dilihat dalam kesatuan.
Tetapi doa itu membawa kita lebih jauh.
Ia menyebut:
لجة بحر أحديتك
“Kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu.”
Di sini perjalanan menjadi lebih hening.
Dalam tradisi metafisika Ibn Arabi, Ahadiyyah menunjuk kepada keesaan yang begitu mutlak sehingga bahkan diferensiasi Nama-Nama tak lagi dapat menjadi ukuran bagi Dzat.
Kita mengenal Allah sebagai al-Rahman. Tetapi “Yang Maha Pengasih” mengandung sebuah relasi dengan yang menerima kasih.
Kita mengenal-Nya sebagai al-Alim. Tetapi “Yang Maha Mengetahui” menghadirkan relasi dengan yang diketahui.
Kita mengenal-Nya sebagai al-Khaliq. Tetapi “Yang Maha Mencipta” kita pahami dalam relasinya dengan ciptaan.
Pada Ahadiyyah, semua kategori itu mencapai batas.
Bukan karena Nama-Nama Ilahi tidak benar.
Tetapi karena Dzat selalu lebih luas daripada bahasa yang mencoba menangkap-Nya.
Barangkali itulah sebabnya doa menggunakan kata lujjah: kedalaman laut.
Di permukaan, kita masih melihat pantai. Kita masih mengetahui timur dan barat. Kita masih dapat menunjuk: di sana daratan, di sini laut.
Tetapi semakin jauh seseorang masuk ke tengah samudra, garis-garis itu menghilang.
Pada suatu kedalaman, bahkan cahaya mulai berkurang.
Dan mungkin pengetahuan tentang Tuhan juga mempunyai paradoks seperti itu: semakin seseorang mengenal-Nya, semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya tak pernah sanggup mengepung-Nya.
Kita mulai perjalanan dengan banyak kata.
Kita sampai pada kedalaman tertentu dengan keheningan.
Tetapi masih ada satu kata yang belum selesai: aku.
Ketika seseorang berdoa, “Tuhanku, masukkanlah aku,” masih ada dua kutub.
Aku.
Dan Engkau.
Ada yang meminta dan Yang diminta. Ada pencari dan Yang dicari.
Lalu apa yang terjadi ketika perjalanan semakin dalam?
Ibn Arabi berbicara tentang fana.
Istilah ini mudah disalahpahami. Fana bukan berarti manusia berubah menjadi Tuhan. Gelombang tidak menjadi samudra dalam arti bahwa batas ontologis antara Khalik dan makhluk tiba-tiba lenyap.
Yang runtuh adalah sesuatu yang jauh lebih dekat kepada kita:
klaim bahwa “aku” mempunyai keberadaan yang mandiri.
Kita terbiasa mengatakan:
hartaku.
ilmuku.
kekuasaanku.
tubuhku.
bahkan: hidupku.
Kata “ku” itu kecil, tetapi diam-diam ia membangun sebuah kerajaan.
Esoteris Islam datang untuk menggugat kerajaan tersebut.
Aku ada–tetapi keberadaanku bukan dariku.
Aku mengetahui–tetapi kemampuan mengetahui bukan ciptaanku.
Aku hidup–tetapi aku tidak pernah memutuskan sendiri agar jantung pertama kali berdenyut.
Maka perjalanan itu perlahan bergerak:
Aku ada.
Kemudian:
Aku ada karena Allah.
Lebih dalam:
Aku ada dengan Allah–bi Allah.
Dan akhirnya:
Tidak ada kemandirian bagiku.
Yang lenyap bukan manusia.
Yang lenyap adalah kesombongan metafisisnya.
Tetapi perjalanan mistik tidak selesai di sana.
Setelah fana ada baqa.
Sang penyelam kembali ke permukaan.
Dunia masih seperti kemarin. Pasar tetap ramai. Orang masih jatuh cinta dan bertengkar. Ada anak yang lahir pagi ini dan seseorang yang dimakamkan sore nanti.
Gelombang tetap banyak.
Tetapi mata sang musafir telah berubah.
Dahulu ia melihat yang banyak dan mencari Yang Satu di belakangnya.
Kini ia melihat yang banyak tanpa kehilangan Yang Satu.
Ia bisa melihat kasih seorang ibu dan teringat al-Rahman. Melihat kecerdasan seorang ilmuwan dan teringat al-Alim. Melihat bunga yang mekar dan menemukan jejak al-Jamil.
Ia tidak menyembah gelombang.
Tetapi ia juga tidak membenci gelombang.
Sebab melalui gelombang itulah laut memperlihatkan geraknya.
Barangkali inilah paradoks indah yang tersembunyi dalam awal doa Qamus di atas:
Pada awal perjalanan kita melihat banyak wujud dan mencari Yang Satu. Pada akhir perjalanan kita tetap melihat yang banyak, tetapi tidak lagi melihat satu pun sebagai wujud yang berdiri sendiri dari-Nya.
Maka ketika seseorang berbisik,
رب أدخلني في لجة بحر أحديتك
“Tuhanku, masukkanlah aku ke kedalaman samudra Ahadiyyah-Mu,”
ia sebenarnya tidak meminta dibawa ke suatu tempat.
Allah tidak jauh.
Samudra itu tidak berada di balik galaksi.
Yang diminta adalah tersingkapnya sebuah hijab: cara kita memandang keberadaan.
Sebab mungkin perjalanan terjauh manusia bukan perjalanan dari bumi menuju Tuhan.
Melainkan perjalanan dari “aku” yang merasa berdiri sendiri menuju kesadaran bahwa sejak awal ia tak pernah berdiri tanpa-Nya.
Yang berubah bukan Allah.
Yang berubah adalah mata yang memandang wujud.
Dan ketika mata itu berubah, gelombang tetap gelombang, laut tetap laut—tetapi kita akhirnya tahu mengapa keduanya tak pernah benar-benar dapat dipisahkan.
KAJIAN ISLAMI
Imajinasi Perlawanan Menurut Ahlul Bait
Oleh: Khusnul Yaqin
Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan, menurut Einstein, terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul dunia dan segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui.
Barangkali sebuah peradaban memang tidak hanya dibangun oleh apa yang diketahui manusia. Ia juga dibangun oleh apa yang berani dibayangkannya.
Imajinasi mendahului kenyataan. Manusia membayangkan terbang sebelum pesawat dibuat. Ia membayangkan berjalan di bulan jauh sebelum jejak kaki manusia tertinggal di sana. Dan manusia membayangkan sebuah dunia yang adil, mungkin jauh sebelum dunia bersedia menjadi adil.
Dalam tradisi Ahlul Bait, ada imajinasi semacam itu: imajinasi perlawanan terhadap kezaliman.
Ada satu perbedaan yang cukup mendasar antara cara tradisi Ahlul Bait memandang kekuasaan dan cara sebagian tradisi politik membaca ketaatan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, kekuasaan tidak dengan sendirinya memperoleh kesucian hanya karena seseorang berhasil menduduki singgasana. Kekuasaan harus ditimbang dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri: keadilan.
Karena itu, dalam teologi Imamiyah, Imamah bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah kepemimpinan yang berakar pada Rasulullah dan diteruskan melalui Ahlul Bait. Para Imam diyakini memiliki ismah, yakni keterpeliharaan dari dosa dan kezaliman.
Dari sini sejarah politik Islam dibaca dengan cara yang berbeda. Keberhasilan merebut kekuasaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memperoleh legitimasi moral untuk memimpin.
Sejarah memang mempunyai ironi yang getir. Mereka yang menang dapat menulis hukum tentang kewajiban menaati pemenang. Mereka yang menguasai mimbar dapat menentukan bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang kekuasaan. Pada suatu masa, stabilitas bahkan dapat diberi nama “ketaatan”, sementara perlawanan terhadap kezaliman dinamai “fitnah”.
Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang sulit dibungkam: jika setiap penguasa harus ditaati hanya karena ia telah menjadi penguasa, untuk apakah Husain meninggalkan Madinah dan akhirnya berdiri berhadapan dengan kekuasaan Yazid?
Di sinilah Asyura memperoleh makna yang melampaui sebuah peristiwa sejarah.
Husain tidak memperoleh kerajaan. Ia bahkan kehilangan hampir segala sesuatu yang secara duniawi dapat disebut kemenangan. Tetapi justru dari kekalahan itulah muncul sebuah kemenangan lain: manusia diperlihatkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada keselamatan pribadi, yakni menolak memberikan legitimasi moral kepada kezaliman.
Menariknya, imajinasi perlawanan dalam tradisi Ahlul Bait tidak berhenti pada kehidupan manusia.
Dalam Ziyarat Asyura terdapat doa:
واساله ان يبلغني المقام المحمود لكم عند الله وان يرزقني طلب ثاري مع امام هدى ظاهر ناطق بالحق منكم
Artinya:
”Aku memohon kepada Nya agar menyampaikanku kepada kedudukan terpuji kalian di sisi Allah dan menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntut tegaknya keadilan bersama seorang Imam pemberi petunjuk dari kalian, yang tampil dan menyuarakan kebenaran.”
Tetapi imajinasi itu bergerak lebih jauh.
Seorang pengikut Ahlul Bait bahkan diajarkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa ketika Imam Mahdi hadir, dirinya sudah tidak berada di dunia. Tubuhnya telah dikuburkan. Namanya mungkin sudah dilupakan manusia. Generasi demi generasi telah berganti.
Namun keberpihakannya kepada keadilan belum selesai.
Dalam Dua al Ahd terdapat ungkapan yang sangat kuat dan indah:
اللهم ان حال بيني وبينه الموت الذي جعلته على عبادك حتما مقضيا فاخرجني من قبري مؤتزرا كفني شاهرا سيفي مجردا قناتي ملبيا دعوة الداعي في الحاضر والبادي
Artinya:
”Ya Allah, apabila antara aku dan dia terhalang oleh kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai kepastian bagi hamba hamba Mu, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan kain kafanku terikat pada tubuhku, pedangku terhunus, tombakku terangkat, sambil memenuhi panggilan sang penyeru, baik di kota maupun di padang terbuka.”
Betapa jauh imajinasi itu bergerak.
Kubur, dalam doa tersebut, bukan batas terakhir keberpihakan.
Kematian bahkan tidak cukup kuat untuk membuat seseorang berkata: urusan keadilan bukan lagi urusanku.
Tentu saja bahasa pedang dan tombak dalam doa itu berada dalam konteks kehadiran Imam Mahdi. Ia bukan pemberian izin kepada setiap orang untuk menentukan sendiri siapa yang boleh diperangi, apalagi pembenaran bagi kekerasan yang lahir dari kemarahan pribadi. Yang menarik justru struktur kesadarannya: seorang manusia diminta memunyai keberpihakan kepada keadilan yang bahkan lebih panjang daripada usianya sendiri.
Di sini kita menemukan sesuatu yang mungkin jarang dibicarakan ketika membahas perlawanan.
Perlawanan bukan pertama tama persoalan senjata.
Ia adalah persoalan imajinasi.
Sebelum sebuah kezaliman dapat dilawan, seseorang harus terlebih dahulu mampu membayangkan dunia tanpa kezaliman. Sebelum manusia berani mengatakan tidak kepada penindasan, ia harus percaya bahwa keadaan yang sedang berlangsung bukan satu satunya dunia yang mungkin.
Karena itu Karbala bukan sekadar tempat.
Karbala adalah sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa seseorang dapat kalah tetapi tidak menyerah. Dapat terbunuh tetapi tidak ditundukkan. Dapat kehilangan tubuhnya tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang hidup selama berabad abad.
Dan Imam Mahdi, dalam imajinasi Ahlul Bait, menjadi horizon dari kemungkinan itu: sebuah dunia ketika keadilan tidak lagi hanya menjadi doa orang orang yang kalah.
Mungkin itulah sebabnya menunggu Imam Mahdi tidak selayaknya dipahami sebagai menunggu dengan pasif.
Menunggu adalah mempersiapkan keberpihakan.
Hari ini mungkin kita tidak membawa pedang. Bentuk kezaliman pun tidak selalu datang dengan pasukan berkuda. Ia dapat hadir dalam hukum yang tidak adil, kekuasaan yang sewenang wenang, kemiskinan yang sengaja dipelihara, suara yang dibungkam, atau manusia yang diperlakukan seolah tidak mempunyai martabat.
Maka imajinasi perlawanan Ahlul Bait menjadi sangat sederhana sekaligus sangat radikal: jangan pernah berdamai dengan kezaliman hanya karena kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Jangan juga bertekuk lutut di depan penguasa penindas yang hanya karena kamu sedirian. Imajinasi perlawanan tetap harus diwujudkan.
Dan doa itu membawa gagasan tersebut sampai ke batas yang hampir tak terbayangkan.
Jika aku masih hidup ketika keadilan memanggil, aku ingin berada di sana.
Jika aku telah berada di dalam kubur ketika Imam Mahdi datang, dan Allah menghendaki aku kembali, keluarkan aku dari kuburku.
Bukan karena aku mencintai peperangan.
Bukan karena aku menginginkan kekuasaan.
Tetapi karena aku tidak ingin menjadi penonton ketika keadilan akhirnya datang.
Einstein benar bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan memberi tahu kita bagaimana dunia ini bekerja.
Tetapi imajinasi membuat manusia bertanya:
haruskah dunia selalu seperti ini?
Karbala menjawabnya dengan darah.
Dan doa kepada Imam Mahdi menjawabnya dengan sebuah harapan yang bahkan tidak mau dikalahkan oleh kematian.
KAJIAN ISLAMI
Dari Khumrah ke Turbah Karbala
Oleh: Khusnul Yaqin
Ada sesuatu yang sering luput ketika orang memperdebatkan turbah Karbala: perdebatan biasanya dimulai dari Karbala, padahal seharusnya dimulai jauh sebelumnya–dari cara Rasulullah saw. meletakkan dahinya ketika bersujud.
Dalam sejumlah riwayat sahih disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ
“Rasulullah saw. salat dengan sujud di atas khumrah.”
Khumrah bukan sajadah tebal seperti yang kita kenal hari ini. Ia adalah alas kecil, umumnya dianyam dari pelepah atau daun kurma. Dengan demikian, dahi Nabi ketika bersujud tetap bersentuhan dengan sesuatu yang berasal dari bumi dan tumbuh dari bumi.
Di sini kita menemukan sebuah prinsip yang kemudian mendapat penekanan khusus dalam fikih Ahlulbait: sujud dilakukan di atas bumi atau sesuatu yang tumbuh dari bumi, selama bukan sesuatu yang lazim dimakan atau dipakai sebagai pakaian.
Tetapi sesungguhnya tradisi sujud langsung pada bumi bahkan lebih tua daripada khumrah.
Rasulullah saw. bersabda:
جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا
“Bumi telah dijadikan bagiku sebagai tempat sujud dan sarana bersuci.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Kata masjid sendiri berasal dari akar kata sajada–bersujud. Bumi bukan hanya ruang tempat manusia mendirikan bangunan masjid; bumi adalah tempat dahi manusia merendah di hadapan Allah.
Karena itu, dalam banyak riwayat kita menemukan Nabi bersujud langsung di atas tanah. Bahkan ketika hujan turun, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ia melihat bekas air dan tanah/lumpur pada dahi dan hidung Rasulullah setelah beliau bersujud.
Abu Sa’id al-Khudri tentang malam hujan. Ia berkata:
فَبَصُرَتْ عَيْنَايَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى جَبْهَتِهِ أَثَرُ الْمَاءِ وَالطِّينِ
“Kedua mataku melihat Rasulullah saw, pada dahinya terdapat bekas air dan tanah/lumpur.”
Maka perjalanan dari tanah menuju khumrah sebenarnya bukan perubahan prinsip. Khumrah adalah solusi praktis: sebuah alas bersih dari bahan yang tumbuh dari bumi, tempat seseorang dapat meletakkan dahinya. Ia bukan barang sintetis.
Lalu datang Karbala.
Pada tahun 61 H, tanah Karbala memperoleh makna lain dalam kesadaran kaum Muslimin, terutama dalam tradisi Ahlulbait. Di atas tanah itu Husain bin Ali, cucu Rasulullah saw., disembelih dengan sangat sadis bersama keluarga dan para sahabatnya. Tanah yang sebelumnya hanyalah bagian dari bumi menjadi saksi sebuah pengorbanan.
Dari sinilah harus dibuat pembedaan yang sangat penting.
Syiah tidak meyakini bahwa sujud harus dilakukan kepada turbah Karbala. Sujud hanya kepada Allah. Turbah hanyalah tempat dahi diletakkan, bukan objek yang disembah.
Ada perbedaan besar antara:
السُّجُودُ لِلَّهِ
“bersujud kepada Allah”
dan
السُّجُودُ عَلَى الْأَرْضِ
“bersujud di atas bumi.”
Yang pertama menjelaskan kepada siapa manusia menyembah. Yang kedua menjelaskan di atas apa dahinya diletakkan.
Dalam fikih Ja’fari, seseorang dapat bersujud di atas tanah biasa, batu, atau bahan tumbuhan tertentu yang memenuhi ketentuan fikih. Inilah prinsip khumrah. Karena itu, turbah Karbala bukan syarat sah sujud.
Mengapa kemudian tanah Karbala diutamakan?
Di sinilah fikih bertemu dengan ingatan spiritual yang revolusioner.
Dalam tradisi Imamiyah terdapat riwayat-riwayat yang memberikan keutamaan khusus kepada tanah makam Imam Husain. Karena itu, tanah Karbala kemudian dibentuk menjadi kepingan kecil agar mudah dibawa dan digunakan sebagai tempat meletakkan dahi ketika salat. Ia disebut turbah Husainiyyah.
Maka turbah bukanlah “berhala kecil” sebagaimana kadang dituduhkan. Justru secara simbolik ia hendak mengembalikan manusia kepada sesuatu yang sangat sederhana: bumi tempat manusia bersujud.
Ketika dahi menyentuh turbah, manusia sedang melakukan gerakan yang sangat tua. Ia berasal dari tanah dan kembali merendahkan dirinya di atas tanah.
Tetapi Karbala menambahkan sebuah ingatan.
Tanah itu mengingatkan bahwa Husain pernah meletakkan seluruh yang dimilikinya–keluarga, sahabat, darah, bahkan kehidupannya sendiri–di hadapan Allah. Maka ketika seorang pecinta Ahlulbait meletakkan dahinya di atas tanah Karbala, secara spiritual ia seakan berkata: Ya Allah, ajarkan aku ketundukan yang revolusioner yang tidak berhenti pada gerakan tubuh.
Di sinilah perjalanan itu menjadi menarik:
bumi → khumrah → turbah → Karbala.
Bumi memberikan prinsipnya.
Khumrah menunjukkan praktiknya.
Turbah memberikan bentuk praktisnya.
Dan Karbala memberikan ingatannya.
Tetapi tujuan akhirnya tetap satu: Allah.
Dalam sujud, manusia menempatkan bagian tubuhnya yang paling mulia–wajah dan dahi–pada sesuatu yang paling rendah: tanah. Tidak ada mahkota. Tidak ada pangkat dan jabatan. Tidak ada kekayaan.
Hanya dahi dan bumi.
Dan mungkin itulah sebabnya Karbala menemukan tempatnya dalam sujud sebagian kaum Muslimin. Bukan karena tanah itu Tuhan. Bukan pula karena Husain disembah.
Justru sebaliknya.
Karena di Karbala, Husain menunjukkan sampai batas paling jauh apa artinya tidak bersujud kepada siapa pun selain Allah.
KAJIAN ISLAMI
Bersama Orang-Orang Saleh
Oleh: Khusnul Yaqin
Ada satu kecemasan yang tersembunyi dalam doa para nabi: bukan kecemasan tentang bagaimana memulai perjalanan, tetapi bagaimana mengakhirinya.
Kita sering berdoa agar memperoleh sesuatu. Kita meminta ilmu, rezeki, kesehatan, kedudukan, keturunan, dan umur panjang. Tetapi Al-Qur’an memperlihatkan bahwa manusia-manusia pilihan justru mempunyai kecemasan yang lain. Setelah memperoleh nikmat, mereka bertanya: apakah nikmat ini akan tetap membawa saya kepada Allah sampai akhir kehidupan?
Nabi Yusuf adalah contoh yang indah.
Setelah melewati sumur, perbudakan, fitnah, penjara, dan akhirnya kekuasaan, Yusuf berdoa:
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
”Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”
(QS Yusuf [12]: 101)
Pertanyaannya kemudian: siapakah al-salihin itu?
Pertanyaan ini penting. Sebab seorang nabi seperti Yusuf masih memohon agar digabungkan dengan mereka. Bahkan jauh sebelumnya, Nabi Ibrahim juga memohon:
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku hikmah dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”
(QS al-Syu’ara [26]: 83)
Perhatikan susunannya.
Ibrahim tidak langsung mengatakan, wa alhiqni bis-salihin. Sebelumnya ada permintaan:
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا
”Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hukm.”
Kata hukm di sini dapat menunjuk kepada hikmah, pengetahuan, kemampuan memberikan keputusan yang benar, dan kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah. (Sebagai catatan renungkan kata *Hikmat* dalam sila ke empat Pancasila).
Seakan-akan ada sebuah jalan menuju al-salihin: manusia harus belajar melihat dunia dengan hikmah. Kesalehan bukan kebodohan yang dibungkus kesucian. Ia membutuhkan kemampuan membedakan yang benar dari yang salah, yang hakiki dari yang semu, yang adil dari yang zalim.
Tetapi siapakah orang-orang saleh itu?
Al-Qur’an memberi petunjuk yang lebih konkret ketika berbicara tentang kelompok lain yang sangat dekat maknanya: al-abrar.
Tentang mereka Allah berfirman:
إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا
”Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, al-abrar, akan minum dari gelas yang campurannya adalah kafur.”
(QS al-Insan [76]: 5). (Renungkan kata kafur, ia adalah tanaman endemik di Nusantara. ia adalah Dryobalanops aromatica) .
Tetapi Al-Qur’an tidak membiarkan al-abrar menjadi konsep abstrak. Beberapa ayat kemudian, kita diperlihatkan tindakan mereka:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”
(QS al-Insan [76]: 8)
Di sini kesalehan turun dari langit konsep menuju meja makan orang miskin.
Dalam riwayat tafsir yang masyhur, dalam tradisi Islam dalam madrasah Ahlul Bait maupun Sahabati, ayat-ayat ini dikaitkan dengan keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah al-Zahra.
Dikisahkan bahwa Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keluarga mereka menjalankan nazar berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, makanan yang mereka miliki diberikan kepada orang miskin. Pada kesempatan berikutnya kepada anak yatim, lalu kepada seorang tawanan. Mereka sendiri menahan lapar.
Kemudian Al-Qur’an menggambarkan suara batin mereka:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
”Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.”
(QS al-Insan [76]: 9)
Di sinilah kita mulai memperoleh jawaban.
Siapakah al-abrar?
Mereka bukan sekadar orang yang banyak berbicara tentang Tuhan. Mereka adalah manusia yang cintanya kepada Tuhan meresonansi menjadi keberpihakan kepada manusia.
Mereka memberi makan bukan hanya kepada kerabat dan pengikutnya, tetapi kepada orang miskin, anak yatim, bahkan tawanan. Seseorang yang mungkin berada di luar kelompoknya tetap mempunyai hak untuk diperlakukan sebagai manusia.
Lebih menakjubkan lagi, mereka memberi *tanpa meminta terima kasih*.
Di situlah al-birr mencapai bentuknya yang paling tinggi: berbuat baik ketika tidak ada keuntungan yang kembali kepada diri sendiri.
Karena itu kita dapat memahami mengapa ulul albab, setelah merenungkan penciptaan langit dan bumi, berdoa:
وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
”Wafatkanlah kami bersama al-abrar.”
(QS Ali Imran [3]: 193)
*Puncak intelektualitas ternyata bukan kebanggaan karena telah memahami alam semesta*.
Puncaknya justru kerendahan hati: “Ya Allah, tempatkan kami bersama orang-orang baik itu.”
Yusuf meminta bergabung dengan al-salihin. Ibrahim meminta hikmah agar digabungkan dengan al-salihin. Ulul albab meminta diwafatkan bersama al-abrar.
Maka al-salihin dan al-abrar bukan sekadar nama-nama kehormatan. Mereka menggambarkan manusia yang pengetahuannya melahirkan kebijaksanaan, imannya melahirkan amal, dan cintanya kepada Allah melahirkan pelayanan kepada manusia.
Dan ada sesuatu yang lebih besar lagi.
Al-Qur’an mengatakan:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
”Dan sungguh telah Kami tuliskan di dalam Zabur setelah disebutkan dalam adz-Dzikr bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
(QS al-Anbiya [21]: 105)
أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
”Bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
Sekarang kesalehan memperoleh dimensi yang lain.
Ia bukan hanya persiapan menuju akhirat. Kesalehan mempunyai konsekuensi sejarah.
Orang saleh bukan manusia yang melarikan diri dari bumi untuk mencari Tuhan di langit. Justru kepada merekalah bumi dijanjikan.
Mengapa?
Barangkali karena hanya manusia yang tidak diperbudak oleh kepentingan dirinya sendiri yang layak menerima amanah mengelola bumi.
Orang yang rakus akan mengubah bumi menjadi barang dagangan. Orang yang haus kekuasaan akan mengubah manusia menjadi alat. Orang yang mencintai dirinya sendiri akan mengubah agama menjadi kendaraan kepentingannya.
Tetapi al-salihin memperbaiki apa yang rusak.
Di sinilah makna saleh menemukan kedalaman sosialnya. Lawannya adalah fasad. Jika fasad adalah kerusakan, maka kesalehan tidak cukup hanya dengan ritual pribadi. Kesalehan harus menghadirkan perbaikan.
Karena itu pewaris bumi bukan sekadar orang yang pandai mengucapkan doa.
Pewaris bumi adalah mereka yang mampu menjaga bumi dari kerusakan, manusia dari penindasan, kekuasaan dari kezaliman, ilmu dari kesombongan, dan agama dari kepentingan diri.
Sekarang kita kembali kepada Al-Fatihah:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
”Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
Siapakah mereka?
Al-Qur’an sendiri memberikan salah satu jawabannya:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
”Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.”
(QS al-Nisa [4]: 69)
Di sini jawabannya menjadi terang.
Di antara alladzina an’amta ‘alaihim itu ada al-salihin.
Maka ketika setiap hari kita membaca Al-Fatihah, sebenarnya kita sedang meminta sesuatu yang pernah diminta Ibrahim dan Yusuf: masukkan kami ke dalam barisan orang-orang saleh.
Tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa jalan menuju barisan itu bukan jalan gelar dan pengakuan.
Ibrahim meminta hukm: kita memerlukan hikmah.
Keluarga Ali dalam riwayat tafsir QS al-Insan memperlihatkan al-birr: kita harus mampu memberikan apa yang kita cintai kepada orang yang membutuhkan tanpa menunggu balasan.
Ulul albab meminta diwafatkan bersama al-abrar: kita membutuhkan istiqamah sampai akhir.
Dan Allah menyatakan bahwa bumi diwarisi oleh ibadi al-salihun: kesalehan akhirnya harus menjelma menjadi tanggung jawab sejarah.
Maka mungkin doa ihdinash-shirathal-mustaqim jauh lebih revolusioner daripada yang kita bayangkan.
Kita sedang meminta hikmah seperti Ibrahim.
Kita sedang meminta akhir seperti Yusuf.
Kita sedang meminta kebersamaan dengan al-abrar seperti ulul albab.
Dan kita sedang meminta agar layak menjadi bagian dari hamba-hamba saleh yang dipercaya Allah mewarisi bumi.
Sebab mendapatkan nikmat adalah karunia.
Menjaga nikmat adalah perjuangan.
Menggunakan nikmat untuk memberi kepada yang miskin, yatim, dan bahkan tawanan adalah al-birr.
Menggunakan nikmat untuk memperbaiki bumi adalah kesalehan.
Dan menjaga semuanya sampai kita kembali kepada Allah—
itulah barangkali makna terdalam dari:
وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
”Gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah
