Connect with us

KAJIAN ISLAMI

Bersama Orang-Orang Saleh

Published

on

Orang saleh

Oleh: Khusnul Yaqin
‎
‎Ada satu kecemasan yang tersembunyi dalam doa para nabi: bukan kecemasan tentang bagaimana memulai perjalanan, tetapi bagaimana mengakhirinya.
‎
‎Kita sering berdoa agar memperoleh sesuatu. Kita meminta ilmu, rezeki, kesehatan, kedudukan, keturunan, dan umur panjang. Tetapi Al-Qur’an memperlihatkan bahwa manusia-manusia pilihan justru mempunyai kecemasan yang lain. Setelah memperoleh nikmat, mereka bertanya: apakah nikmat ini akan tetap membawa saya kepada Allah sampai akhir kehidupan?
‎
‎Nabi Yusuf adalah contoh yang indah.
‎
‎Setelah melewati sumur, perbudakan, fitnah, penjara, dan akhirnya kekuasaan, Yusuf berdoa:
‎
‎تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
‎
‎”Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”
‎(QS Yusuf [12]: 101)
‎
‎Pertanyaannya kemudian: siapakah al-salihin itu?
‎
‎Pertanyaan ini penting. Sebab seorang nabi seperti Yusuf masih memohon agar digabungkan dengan mereka. Bahkan jauh sebelumnya, Nabi Ibrahim juga memohon:
‎
‎رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
‎
‎”Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku hikmah dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”
‎(QS al-Syu’ara [26]: 83)
‎
‎Perhatikan susunannya.
‎
‎Ibrahim tidak langsung mengatakan, wa alhiqni bis-salihin. Sebelumnya ada permintaan:
‎
‎رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا
‎
‎”Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hukm.”
‎
‎Kata hukm di sini dapat menunjuk kepada hikmah, pengetahuan, kemampuan memberikan keputusan yang benar, dan kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah. (Sebagai catatan renungkan kata *Hikmat* dalam sila ke empat Pancasila).
‎
‎Seakan-akan ada sebuah jalan menuju al-salihin: manusia harus belajar melihat dunia dengan hikmah. Kesalehan bukan kebodohan yang dibungkus kesucian. Ia membutuhkan kemampuan membedakan yang benar dari yang salah, yang hakiki dari yang semu, yang adil dari yang zalim.
‎
‎Tetapi siapakah orang-orang saleh itu?
‎
‎Al-Qur’an memberi petunjuk yang lebih konkret ketika berbicara tentang kelompok lain yang sangat dekat maknanya: al-abrar.
‎
‎Tentang mereka Allah berfirman:
‎
‎إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا
‎
‎”Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan, al-abrar, akan minum dari gelas yang campurannya adalah kafur.”
‎(QS al-Insan [76]: 5). (Renungkan kata kafur, ia adalah tanaman endemik di Nusantara. ia adalah Dryobalanops aromatica) .
‎
‎Tetapi Al-Qur’an tidak membiarkan al-abrar menjadi konsep abstrak. Beberapa ayat kemudian, kita diperlihatkan tindakan mereka:
‎
‎وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
‎
‎”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.”
‎(QS al-Insan [76]: 8)
‎
‎Di sini kesalehan turun dari langit konsep menuju meja makan orang miskin.
‎
‎Dalam riwayat tafsir yang masyhur, dalam tradisi Islam dalam madrasah Ahlul Bait maupun Sahabati, ayat-ayat ini dikaitkan dengan keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah al-Zahra.
‎
‎Dikisahkan bahwa Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keluarga mereka menjalankan nazar berpuasa. Ketika waktu berbuka tiba, makanan yang mereka miliki diberikan kepada orang miskin. Pada kesempatan berikutnya kepada anak yatim, lalu kepada seorang tawanan. Mereka sendiri menahan lapar.
‎
‎Kemudian Al-Qur’an menggambarkan suara batin mereka:
‎
‎إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
‎
‎”Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.”
‎(QS al-Insan [76]: 9)
‎
‎Di sinilah kita mulai memperoleh jawaban.
‎
‎Siapakah al-abrar?
‎
‎Mereka bukan sekadar orang yang banyak berbicara tentang Tuhan. Mereka adalah manusia yang cintanya kepada Tuhan meresonansi menjadi keberpihakan kepada manusia.
‎
‎Mereka memberi makan bukan hanya kepada kerabat dan pengikutnya, tetapi kepada orang miskin, anak yatim, bahkan tawanan. Seseorang yang mungkin berada di luar kelompoknya tetap mempunyai hak untuk diperlakukan sebagai manusia.
‎
‎Lebih menakjubkan lagi, mereka memberi *tanpa meminta terima kasih*.
‎
‎Di situlah al-birr mencapai bentuknya yang paling tinggi: berbuat baik ketika tidak ada keuntungan yang kembali kepada diri sendiri.
‎
‎Karena itu kita dapat memahami mengapa ulul albab, setelah merenungkan penciptaan langit dan bumi, berdoa:
‎
‎وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
‎
‎”Wafatkanlah kami bersama al-abrar.”
‎(QS Ali Imran [3]: 193)
‎
‎*Puncak intelektualitas ternyata bukan kebanggaan karena telah memahami alam semesta*.
‎
‎Puncaknya justru kerendahan hati: “Ya Allah, tempatkan kami bersama orang-orang baik itu.”
‎
‎Yusuf meminta bergabung dengan al-salihin. Ibrahim meminta hikmah agar digabungkan dengan al-salihin. Ulul albab meminta diwafatkan bersama al-abrar.
‎
‎Maka al-salihin dan al-abrar bukan sekadar nama-nama kehormatan. Mereka menggambarkan manusia yang pengetahuannya melahirkan kebijaksanaan, imannya melahirkan amal, dan cintanya kepada Allah melahirkan pelayanan kepada manusia.
‎
‎Dan ada sesuatu yang lebih besar lagi.
‎
‎Al-Qur’an mengatakan:
‎
‎وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
‎
‎”Dan sungguh telah Kami tuliskan di dalam Zabur setelah disebutkan dalam adz-Dzikr bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
‎(QS al-Anbiya [21]: 105)
‎
‎أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
‎
‎”Bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
‎
‎Sekarang kesalehan memperoleh dimensi yang lain.
‎
‎Ia bukan hanya persiapan menuju akhirat. Kesalehan mempunyai konsekuensi sejarah.
‎
‎Orang saleh bukan manusia yang melarikan diri dari bumi untuk mencari Tuhan di langit. Justru kepada merekalah bumi dijanjikan.
‎
‎Mengapa?
‎
‎Barangkali karena hanya manusia yang tidak diperbudak oleh kepentingan dirinya sendiri yang layak menerima amanah mengelola bumi.
‎
‎Orang yang rakus akan mengubah bumi menjadi barang dagangan. Orang yang haus kekuasaan akan mengubah manusia menjadi alat. Orang yang mencintai dirinya sendiri akan mengubah agama menjadi kendaraan kepentingannya.
‎
‎Tetapi al-salihin memperbaiki apa yang rusak.
‎
‎Di sinilah makna saleh menemukan kedalaman sosialnya. Lawannya adalah fasad. Jika fasad adalah kerusakan, maka kesalehan tidak cukup hanya dengan ritual pribadi. Kesalehan harus menghadirkan perbaikan.
‎
‎Karena itu pewaris bumi bukan sekadar orang yang pandai mengucapkan doa.
‎
‎Pewaris bumi adalah mereka yang mampu menjaga bumi dari kerusakan, manusia dari penindasan, kekuasaan dari kezaliman, ilmu dari kesombongan, dan agama dari kepentingan diri.
‎
‎Sekarang kita kembali kepada Al-Fatihah:
‎
‎صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
‎
‎”Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
‎
‎Siapakah mereka?
‎
‎Al-Qur’an sendiri memberikan salah satu jawabannya:
‎
‎وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
‎
‎”Barang siapa menaati Allah dan Rasul, mereka akan bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.”
‎(QS al-Nisa [4]: 69)
‎
‎Di sini jawabannya menjadi terang.
‎
‎Di antara alladzina an’amta ‘alaihim itu ada al-salihin.
‎
‎Maka ketika setiap hari kita membaca Al-Fatihah, sebenarnya kita sedang meminta sesuatu yang pernah diminta Ibrahim dan Yusuf: masukkan kami ke dalam barisan orang-orang saleh.
‎
‎Tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa jalan menuju barisan itu bukan jalan gelar dan pengakuan.
‎
‎Ibrahim meminta hukm: kita memerlukan hikmah.
‎
‎Keluarga Ali dalam riwayat tafsir QS al-Insan memperlihatkan al-birr: kita harus mampu memberikan apa yang kita cintai kepada orang yang membutuhkan tanpa menunggu balasan.
‎
‎Ulul albab meminta diwafatkan bersama al-abrar: kita membutuhkan istiqamah sampai akhir.
‎
‎Dan Allah menyatakan bahwa bumi diwarisi oleh ibadi al-salihun: kesalehan akhirnya harus menjelma menjadi tanggung jawab sejarah.
‎
‎Maka mungkin doa ihdinash-shirathal-mustaqim jauh lebih revolusioner daripada yang kita bayangkan.
‎
‎Kita sedang meminta hikmah seperti Ibrahim.
‎
‎Kita sedang meminta akhir seperti Yusuf.
‎
‎Kita sedang meminta kebersamaan dengan al-abrar seperti ulul albab.
‎
‎Dan kita sedang meminta agar layak menjadi bagian dari hamba-hamba saleh yang dipercaya Allah mewarisi bumi.
‎
‎Sebab mendapatkan nikmat adalah karunia.
‎
‎Menjaga nikmat adalah perjuangan.
‎
‎Menggunakan nikmat untuk memberi kepada yang miskin, yatim, dan bahkan tawanan adalah al-birr.
‎
‎Menggunakan nikmat untuk memperbaiki bumi adalah kesalehan.
‎
‎Dan menjaga semuanya sampai kita kembali kepada Allah—
‎
‎itulah barangkali makna terdalam dari:
‎
‎وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
‎
‎”Gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KAJIAN ISLAMI

‎Ketika Hati Berakal

Published

on

By

hati yang berakal

Oleh: ‎Khusnul Yaqin
‎
‎Saat mengenang ayah saya yang gemar dengan suara merdu Ummu Kultsum, tiba-tiba melintas pelantun puisi dengan suara merdu yang memulai bait puisinya dengan ayat Al Quran. Dengan penuh penghayatan yang mempesona, dia berujar:
‎
‎قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا
‎
‎“… Hati yang dengannya mereka memahami (berakal) ” (QS. Al-Hajj: 46)
‎
‎Jika hatiku mampu berpikir dan memahami, lalu kepada siapakah selama ini aku mendengarkan?
‎
‎Jika cahaya itu begitu dekat, siapakah yang selama ini menghalanginya?
‎
‎Berapa kali ketakutan mengenakan wajah keyakinan, lalu aku berjalan mengikutinya dengan perasaan tenteram?
‎
‎Berapa kali luka batinku berbicara atas namaku, sementara aku mengira bahwa itulah suaraku sendiri?
‎
‎Siapakah sebenarnya yang berbicara di dalam diriku? Hatiku atau ketakutanku?
‎
‎Siapakah yang menentukan langkahku? Hatiku atau ketakutanku?
‎
‎Dahulu aku selalu menyalahkan ketakutanku dan berusaha melarikan diri darinya, hingga akhirnya aku menyadari sesuatu:
‎
‎Bukan ketakutan yang bersemayam di dalam diriku, melainkan akulah yang selama ini hidup di dalam ketakutan.
‎
‎Aku telah menjadikan luka batinku sebagai jendela untuk memandang dunia, dan penderitaanku sebagai peta yang menuntun perjalanan hidupku.
‎
‎Aku lupa bahwa hati memunyai mata yang mampu melihat dengan cara yang berbeda.
‎
‎Maka, akankah aku mengizinkan hatiku untuk melihat?
‎
‎Apakah yang menentukan langkahku sesungguhnya adalah hatiku atau ketakutanku?
‎
‎Kini aku tidak lagi serta-merta memercayai setiap suara yang muncul dari dalam diriku.
‎
‎Aku akan berdiam diri agar dapat mendengarkan.
‎
‎Aku akan mulai belajar menyimak hati yang berakal.
‎
‎Ada orang yang mempersiapkan syahadah sepanjang hidupnya. Ada pula yang sepanjang hidupnya mempersiapkan alasan untuk menghindari kehilangan.
‎
‎Di antara keduanya mungkin terbentang sesuatu yang tak segera tampak: cara hati memahami kehidupan.
‎
‎Yang pertama tidak selalu lebih berani. Ia mungkin juga gemetar. Ia mengenal kecemasan, mencintai keluarganya, dan berharap masih ada hari esok. Tetapi ada sesuatu yang telah selesai dalam dirinya. Atau, setidaknya, sesuatu yang terus-menerus diusahakannya agar selesai: ketergantungan kepada apa yang fana.
‎
‎Ia tidak mencari kematian. Syahadah baginya bukan hasrat untuk mengakhiri kehidupan, melainkan kemungkinan terakhir dari kesetiaan kepada sesuatu yang lebih besar daripada kehidupan itu sendiri.
‎
‎Tetapi bagaimana seseorang sampai kepada kesadaran semacam itu?
‎
‎Kita mungkin terlalu cepat menyebutnya iman.
‎
‎Sebab, iman sendiri menyimpan pertanyaan yang belum tentu sederhana. Apakah ia keyakinan yang diwarisi, atau kesadaran yang telah melewati pergulatan panjang dengan akal? Apakah ia sesuatu yang kita ucapkan, atau sesuatu yang perlahan-lahan mengubah cara kita takut?
‎
‎Di tempat lain, seorang pegawai gelisah mendengar kemungkinan pemecatan. Seorang pejabat tak dapat tidur karena kedudukannya terancam. Seorang akademisi memilih diam ketika kebenaran menuntut kesaksiannya. Barangkali ia telah menghitung segalanya: penghasilan, keluarga, masa depan, penghormatan, dan kemungkinan kehilangan.
‎
‎Perhitungan itu tidak selalu keliru.
‎
‎Manusia memang hidup dengan kebutuhan. Ada anak yang harus disekolahkan. Ada rumah yang mesti dipertahankan. Ada orang-orang yang nasibnya bergantung kepada keputusan kita.
‎
‎Tetapi pada suatu titik, perhitungan dapat berubah menjadi ketakutan. Dan ketakutan, bila terlalu lama diberi tempat, perlahan-lahan memperoleh kewibawaan seperti kebenaran.
‎
‎Kita mulai menyebut kepengecutan sebagai kebijaksanaan. Kita menamai kepatuhan kepada kekuasaan sebagai kesabaran. Kita menganggap diam sebagai kedewasaan.
‎
‎Mungkin di situlah akal mulai kehilangan cahayanya.
‎
‎Bukan karena ia berhenti bekerja. Justru sebaliknya. Ia bekerja semakin keras, menyusun alasan demi alasan, sampai manusia tak lagi dapat membedakan antara apa yang benar dan apa yang membuatnya merasa aman.
‎
‎Ada kecerdasan yang mengagumkan dalam kemampuan manusia membenarkan ketakutannya sendiri.
‎
‎Tetapi apakah kecerdasan selalu berarti akal?
‎
‎Al-Qur’an menyebut qulubun ya‘qiluna biha. Hati yang dengannya manusia memahami.
‎
‎Mengapa hati?
‎
‎Mengapa bukan semata-mata kemampuan berpikir, mengingat, membandingkan, dan menyimpulkan?
‎
‎Barangkali karena ada sesuatu dalam pengertian yang tidak selesai sebagai kegiatan intelektual. Sesuatu yang menuntut agar apa yang diketahui tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan mengendap menjadi kesadaran.
‎
‎Di sinilah zikir menjadi sebuah pertanyaan yang menarik.
‎
‎Apakah zikir hanya mengulang nama Allah? Apakah semakin sering sebuah nama diucapkan, semakin dekat pula manusia kepada hakikat yang dinamainya?
‎
‎Kita mengenal orang yang begitu fasih berzikir, tetapi tetap gelisah menghadapi kemungkinan kehilangan kedudukan. Kita juga mengenal orang yang tak banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi sanggup menanggung kerugian karena menolak mengkhianati nuraninya.
‎
‎Tentu kita tak mengetahui isi hati mereka.
‎
‎Namun, kenyataan itu mengundang sebuah pertanyaan: apakah zikir selalu berlangsung pada lidah?
‎
‎Atau mungkinkah zikir merupakan proses yang jauh lebih dalam, ketika hasil kerja akal perlahan-lahan mengendap dalam kesadaran, ketika sesuatu yang sebelumnya hanya dipahami sebagai konsep akhirnya menjadi cara seseorang berada di dunia?
‎
‎Pikir bergerak. Ia mencari, membandingkan, mempertanyakan, dan kadang meragukan.
‎
‎Zikir seakan-akan mengendapkan gerak itu. Bukan menghentikannya, melainkan membiarkan apa yang telah ditemukan oleh akal meresap ke dalam hati.
‎
‎Dalam pikir, manusia mungkin sampai pada kesimpulan bahwa segala sesuatu bersifat sementara.
‎
‎Dalam zikir, kesementaraan itu tidak lagi sekadar kesimpulan.
‎
‎Ia menjadi pengalaman batin.
‎
‎Seseorang tidak hanya mengetahui bahwa jabatan akan berakhir. Ia mulai hidup dengan kesadaran bahwa jabatan memang bukan dirinya. Ia tidak hanya memahami bahwa rezeki tidak identik dengan gaji. Ia perlahan-lahan membebaskan harga dirinya dari ketergantungan mutlak kepada orang yang menandatangani daftar gajinya.
‎
‎Tetapi proses itu tentu tidak sederhana.
‎
‎Sebab, mengetahui bahwa sesuatu bersifat fana tidak dengan sendirinya membuat manusia sanggup melepaskannya.
‎
‎Berapa banyak dari kita yang memahami kematian, tetapi hidup seolah-olah tak akan mati? Berapa banyak yang mengakui kekuasaan Allah, tetapi diam-diam menganggap manusia tertentu sebagai penentu terakhir nasibnya?
‎
‎Mungkin karena pengetahuan belum mengendap.
‎
‎Akal telah sampai kepada suatu kesimpulan, tetapi hati masih tinggal di tempat yang lama.
‎
‎Di sini pikir dan zikir barangkali bukan dua kegiatan yang terpisah. Keduanya merupakan dua gerak dalam satu perjalanan kesadaran. Pikir membuka kemungkinan pengertian. Zikir membuat pengertian itu kembali, berulang, dan meresap, sampai ia tidak lagi berdiri di luar diri sebagai sesuatu yang diketahui.
‎
‎Ia menjadi bagian dari cara manusia melihat.
‎
‎Tetapi apakah setiap pengulangan akan menghasilkan pengendapan?
‎
‎Belum tentu.
‎
‎Air yang terus bergerak tidak selalu menjadi jernih. Ada kalanya ia justru mengaduk kembali lumpur yang telah lama berada di dasarnya.
‎
‎Demikian pula zikir. Ia mungkin hanya menjadi bunyi yang berulang, sementara ketakutan tetap bersemayam tanpa pernah dipertanyakan. Nama Tuhan disebut, tetapi kekuasaan manusia masih menjadi pusat kegelisahan.
‎
‎Maka, boleh jadi persoalannya bukan berapa kali seseorang mengingat Allah, melainkan sejauh mana ingatan itu mengubah hubungan dirinya dengan dunia.
‎
‎Apakah setelah berzikir ia menjadi lebih merdeka?
‎
‎Apakah setelah berzikir ia lebih mampu membedakan antara kebutuhan dan ketakutan?
‎
‎Apakah setelah berzikir ia masih menganggap kehilangan jabatan sebagai kehilangan dirinya sendiri?
‎
‎Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak memerlukan jawaban yang segera.
‎
‎Sebab, zikir yang sungguh-sungguh barangkali justru dimulai ketika manusia berhenti tergesa-gesa menjawab pertanyaan tentang dirinya.
‎
‎Ia mulai mendengarkan.
‎
‎Dan dalam keheningan itu, ia menemukan betapa banyak suara yang selama ini disangkanya sebagai suara hati ternyata hanya gema ketakutan.
‎
‎Mungkin di situlah arti hati yang berakal.
‎
‎Bukan hati yang tidak pernah takut, melainkan hati yang mulai dapat mengenali ketakutannya. Bukan hati yang selalu yakin, melainkan hati yang berani mempertanyakan dari mana keyakinannya berasal.
‎
‎Apakah dari kebenaran?
‎
‎Atau dari kebutuhan untuk merasa aman?
‎
‎Kita kembali kepada mereka yang mempersiapkan syahadah.
‎
‎Mungkin yang membedakan mereka bukanlah ketiadaan rasa takut terhadap kematian, melainkan suatu pengertian yang telah begitu lama mengendap sehingga kematian tak lagi memunyai kewenangan mutlak untuk menentukan pilihan hidup.
‎
‎Di hadapan kemungkinan kehilangan segalanya, mereka masih dapat mengatakan tidak kepada sesuatu yang diyakininya salah.
‎
‎Sementara itu, ada manusia yang tak sedang diancam kematian, tetapi telah menyerahkan kemerdekaan batinnya hanya karena takut kehilangan jabatan.
‎
‎Betapa jauh jarak antara keduanya.
‎
‎Namun, jarak itu mungkin bukan jarak antara orang beriman dan orang yang tidak beriman. Bukan pula antara orang pandai dan orang bodoh.
‎
‎Barangkali ia adalah jarak antara pengetahuan yang masih tinggal di kepala dan pengertian yang telah mengendap dalam hati.
‎
‎Jarak antara akal yang sibuk menghitung dan akal yang mulai bercahaya.
‎
‎Kita tak tahu kapan pengendapan itu selesai. Mungkin tak pernah sepenuhnya selesai selama manusia masih hidup.
‎
‎Sebab, ketakutan selalu dapat kembali. Kadang dengan wajah yang baru. Kadang dengan bahasa yang lebih sopan. Kadang sebagai tanggung jawab, kadang sebagai kehati-hatian, kadang bahkan sebagai keyakinan agama.
‎
‎Dan mungkin karena itulah zikir perlu terus berlangsung.
‎
‎Bukan untuk mengulang sesuatu yang telah selesai dipahami, melainkan untuk kembali memeriksa apakah pengertian kita sungguh telah menjadi bagian dari diri, atau baru menjadi kalimat yang kita hafal.
‎
‎Pada akhirnya, seseorang mungkin tidak akan ditanya berapa lama ia pernah menduduki sebuah jabatan. Atau berapa banyak orang yang pernah menundukkan kepala di hadapannya.
‎
‎Yang tertinggal mungkin justru sebuah pertanyaan yang tak dapat lagi dihindarinya:
‎
‎Ketika kebenaran datang dan meminta tempat dalam hidupmu, siapakah yang menjawab?
‎
‎Hatimu?
‎
‎Atau ketakutanmu?
‎
‎Dan mungkin seluruh perjalanan pikir dan zikir tidak lain adalah usaha yang panjang, senyap, dan sering menyakitkan untuk memastikan bahwa ketika saat itu tiba, yang berbicara bukan lagi ketakutan yang menyamar sebagai akal.
‎
‎Melainkan hati yang akhirnya belajar memahami.
‎
‎Qulubun ya‘qiluna biha.
‎
‎Hati yang berakal.
‎
‎Hati yang barangkali baru mulai melihat, setelah manusia bersedia mempertanyakan segala sesuatu yang selama ini disangkanya sebagai cahaya.

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

‎Syahid

Published

on

By

ChatGPT Image 8 Sep 2026 19.54.07

Oleh: ‎Khusnul Yaqin
‎
‎Syahid adalah anugerah. Tidak semua orang mendapatkannya. Kompetisinya sangat ketat—jika kata “kompetisi” boleh digunakan untuk sebuah jalan yang sepenuhnya berada dalam kemurahan Allah.
‎
‎Syahid bukan semata-mata kematian. Ia justru kehidupan dalam pengertian yang paling hakiki: immortal. Jika kesyahidan dapat dikejar, ia harus dikejar. Jika dapat dipersiapkan, diri harus dipersiapkan. Namun, pada akhirnya, manusia hanya mampu mengetuk pintunya. Allah Yang Maha Pengasihlah yang menentukan siapa yang diizinkan masuk.
‎
‎Di Karbala, kita melihat bagaimana para sahabat Imam Husain a.s. tidak menjadi syuhada secara tiba-tiba. Mereka adalah manusia-manusia yang sejak awal kehidupannya memupuk kecintaan kepada kebenaran. Setiap kesetiaan kecil, setiap keberanian menolak kebatilan, dan setiap pengorbanan untuk membela yang benar seolah menjadi anak tangga yang mengantarkan mereka menuju Asyura.
‎
‎Karena itu, Imam Husain a.s. mengetahui orang-orang yang telah memiliki kesiapan batin untuk menjemput kesyahidan. Dalam perjalanan menuju Karbala, beliau terus mendekati seorang musafir yang kelak akan membantunya. Orang itu pada mulanya selalu berusaha menghindar. Barangkali ia mengetahui bahwa berjumpa dengan Imam Husain berarti berjumpa dengan sebuah pilihan yang tidak ringan: mempertahankan seluruh dunianya atau meninggalkan semuanya demi kebenaran.
‎
‎Namun, setelah Imam Husain a.s. berbicara kepadanya—setelah tabir dunia disingkapkan dan makna kesyahidan diterangkan—orang itu berubah. Ia meninggalkan dunianya. Ia memilih bergabung bersama Al-Husain. Ia tidak lagi bertanya berapa lama akan hidup, tetapi untuk apa hidup yang masih tersisa.
‎
‎Di situlah kita memahami bahwa syahid adalah anugerah yang mahal. Bukan karena Allah membatasi kasih sayang-Nya, melainkan karena tidak semua manusia bersedia menyiapkan dirinya. Banyak orang ingin memperoleh kemuliaan seorang syahid, tetapi belum tentu bersedia menjalani kehidupan seorang calon syahid: mencintai kebenaran, melawan kezaliman, menundukkan ego, meninggalkan kenyamanan, dan tidak memperjualbelikan keyakinan.
‎
‎Al-Qur’an menegaskan:
‎
‎وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
‎
‎“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu telah mati. Sebenarnya, mereka hidup di sisi Tuhannya dan memperoleh rezeki.”
‎(QS Ali ‘Imran [3]: 169)
‎
‎Perhatikanlah kalimatnya: وَلَا تَحْسَبَنَّ—jangan sekali-kali engkau mengira. Bukan sekadar “jangan berkata”. Bahkan prasangka bahwa mereka telah mati pun dibantah oleh Allah.
‎
‎Tidak. Mereka tidak mati.
‎
‎بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
‎
‎Mereka hidup di sisi Tuhannya. Mereka mendapatkan rezeki. Itulah immortal dalam pengertian yang sesungguhnya. Tubuh mereka mungkin telah meninggalkan alam materi, tetapi keberadaan mereka tidak berhenti. Dalam perenungan spiritual, kehidupan mereka melampaui batas-batas yang kita kenal: alam materi, alam barzakh, dan alam-alam lain yang hanya diketahui oleh Allah. Mereka telah memasuki kehidupan yang tidak lagi dapat dijangkau oleh ukuran biologis manusia.
‎
‎Lalu, apakah yang masih dapat diancamkan kepada orang seperti itu?
‎
‎Ancaman bekerja dengan cara menanamkan ketakutan: takut kehilangan jabatan, harta, rumah, keluarga, kebebasan, bahkan kehidupan. Akan tetapi, pada diri seseorang yang telah dianugerahi kesiapan menuju syahid, ancaman itu kehilangan tempat untuk tumbuh. Apa yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti justru mempertebal kerinduannya. Apa yang dimaksudkan untuk membuatnya mundur justru mempercepat langkahnya.
‎
‎Ancaman akhirnya menjadi nihil.
‎
‎Hari ini kita melihat Amerika melancarkan berbagai bentuk tekanan terhadap Iran: verbal, ekonomi, politik, sosial, fisik, dan bentuk-bentuk lainnya. Akan tetapi, Iran tidak serta-merta mati atau hancur berantakan. Tekanan itu justru menghidupkan kembali kesadaran yang telah lama tumbuh dalam sejarahnya: bahwa kehidupan tidak selesai oleh kematian dan perjuangan tidak berhenti ketika seorang pejuang gugur.
‎
‎بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
‎
‎Di Iran, antara mereka yang telah syahid dan mereka yang sedang mempersiapkan diri menuju kesyahidan seolah terdapat konektivitas spiritual yang sangat kuat. Yang telah gugur tidak dipandang sebagai masa lalu. Mereka tetap hadir dalam ingatan, doa, keberanian, dan arah perjuangan orang-orang yang masih hidup. Darah para syuhada tidak membeku di tanah. Ia mengalir menjadi kesadaran.
‎
‎Mungkin itulah yang tidak dipahami oleh para pengancam. Mereka menghitung jumlah senjata, kekuatan ekonomi, jaringan politik, dan besarnya sanksi. Mereka menghitung semuanya—kecuali satu: manusia yang tidak lagi takut mati karena telah menemukan alasan yang benar untuk hidup.
‎
‎Orang seperti itu tidak bisa dikalahkan.
‎
‎Ancaman terhadap orang yang telah mengenal syahid bukan hanya kehilangan kekuatannya. Ancaman itu dapat berbalik kepada orang yang mengucapkannya. Sebab, ketika yang diancam tidak lagi takut, seluruh bangunan kekuasaan si pengancam mulai kehilangan wibawa. Senjatanya masih ada, tetapi taringnya telah tanggal. Suaranya masih keras, tetapi gema ketakutannya kembali menghantam dirinya sendiri.
‎
‎Pada akhirnya, yang menghancurkan seorang pengancam bukan semata-mata kekuatan lawannya. Ia dihancurkan oleh kesombongannya sendiri: oleh keyakinannya bahwa setiap manusia dapat ditundukkan dengan rasa takut.
‎
‎Karbala telah membantah keyakinan itu.
‎
‎Imam Husain a.s. dan para sahabatnya memperlihatkan bahwa ada manusia yang tidak dapat dibeli, tidak dapat ditakut-takuti, dan tidak dapat dikalahkan oleh kematian. Sebab, bagi mereka, kematian di jalan Allah bukanlah akhir kehidupan. Ia justru adalah pintu menuju kehidupan yang lebih tinggi.
‎
‎Syahid memang anugerah. Kita tidak dapat mengklaimnya. Kita tidak berhak merasa telah pantas menerimanya. Kita hanya dapat mempersiapkan diri: mencintai kebenaran, membela mereka yang tertindas, membersihkan hati, dan tidak berkompromi dengan kezaliman.
‎
‎Selebihnya adalah rahasia kasih sayang Allah.
‎
‎Barangkali pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah: “Apakah saya akan mati sebagai syahid?”
‎
‎Pertanyaannya justru lebih senyap dan lebih menggetarkan: “Sudahkah saya hidup sebagaimana seseorang yang pantas dianugerahi kesyahidan?”

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

‎Imajinasi Perlawanan Menurut Ahlul Bait

Published

on

By

perlawanan ahlulbait

Oleh: ‎Khusnul Yaqin

‎Albert Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.” Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan, menurut Einstein, terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami, sedangkan imajinasi merangkul dunia dan segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui.
‎
‎Barangkali sebuah peradaban memang tidak hanya dibangun oleh apa yang diketahui manusia. Ia juga dibangun oleh apa yang berani dibayangkannya.
‎
‎Imajinasi mendahului kenyataan. Manusia membayangkan terbang sebelum pesawat dibuat. Ia membayangkan berjalan di bulan jauh sebelum jejak kaki manusia tertinggal di sana. Dan manusia membayangkan sebuah dunia yang adil, mungkin jauh sebelum dunia bersedia menjadi adil.
‎
‎Dalam tradisi Ahlul Bait, ada imajinasi semacam itu: imajinasi perlawanan terhadap kezaliman.
‎
‎Ada satu perbedaan yang cukup mendasar antara cara tradisi Ahlul Bait memandang kekuasaan dan cara sebagian tradisi politik membaca ketaatan. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, kekuasaan tidak dengan sendirinya memperoleh kesucian hanya karena seseorang berhasil menduduki singgasana. Kekuasaan harus ditimbang dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri: keadilan.
‎
‎Karena itu, dalam teologi Imamiyah, Imamah bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah kepemimpinan yang berakar pada Rasulullah dan diteruskan melalui Ahlul Bait. Para Imam diyakini memiliki ismah, yakni keterpeliharaan dari dosa dan kezaliman.
‎
‎Dari sini sejarah politik Islam dibaca dengan cara yang berbeda. Keberhasilan merebut kekuasaan tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang memperoleh legitimasi moral untuk memimpin.
‎
‎Sejarah memang mempunyai ironi yang getir. Mereka yang menang dapat menulis hukum tentang kewajiban menaati pemenang. Mereka yang menguasai mimbar dapat menentukan bahasa yang digunakan untuk berbicara tentang kekuasaan. Pada suatu masa, stabilitas bahkan dapat diberi nama “ketaatan”, sementara perlawanan terhadap kezaliman dinamai “fitnah”.
‎
‎Tetapi Karbala meninggalkan sebuah pertanyaan yang sulit dibungkam: jika setiap penguasa harus ditaati hanya karena ia telah menjadi penguasa, untuk apakah Husain meninggalkan Madinah dan akhirnya berdiri berhadapan dengan kekuasaan Yazid?
‎
‎Di sinilah Asyura memperoleh makna yang melampaui sebuah peristiwa sejarah.
‎
‎Husain tidak memperoleh kerajaan. Ia bahkan kehilangan hampir segala sesuatu yang secara duniawi dapat disebut kemenangan. Tetapi justru dari kekalahan itulah muncul sebuah kemenangan lain: manusia diperlihatkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada keselamatan pribadi, yakni menolak memberikan legitimasi moral kepada kezaliman.
‎
‎Menariknya, imajinasi perlawanan dalam tradisi Ahlul Bait tidak berhenti pada kehidupan manusia.
‎
‎Dalam Ziyarat Asyura terdapat doa:
‎
‎واساله ان يبلغني المقام المحمود لكم عند الله وان يرزقني طلب ثاري مع امام هدى ظاهر ناطق بالحق منكم
‎
‎Artinya:
‎
‎”Aku memohon kepada Nya agar menyampaikanku kepada kedudukan terpuji kalian di sisi Allah dan menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntut tegaknya keadilan bersama seorang Imam pemberi petunjuk dari kalian, yang tampil dan menyuarakan kebenaran.”
‎
‎Tetapi imajinasi itu bergerak lebih jauh.
‎
‎Seorang pengikut Ahlul Bait bahkan diajarkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa ketika Imam Mahdi hadir, dirinya sudah tidak berada di dunia. Tubuhnya telah dikuburkan. Namanya mungkin sudah dilupakan manusia. Generasi demi generasi telah berganti.
‎
‎Namun keberpihakannya kepada keadilan belum selesai.
‎
‎Dalam Dua al Ahd terdapat ungkapan yang sangat kuat dan indah:
‎
‎اللهم ان حال بيني وبينه الموت الذي جعلته على عبادك حتما مقضيا فاخرجني من قبري مؤتزرا كفني شاهرا سيفي مجردا قناتي ملبيا دعوة الداعي في الحاضر والبادي
‎
‎Artinya:
‎
‎”Ya Allah, apabila antara aku dan dia terhalang oleh kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai kepastian bagi hamba hamba Mu, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan kain kafanku terikat pada tubuhku, pedangku terhunus, tombakku terangkat, sambil memenuhi panggilan sang penyeru, baik di kota maupun di padang terbuka.”
‎
‎Betapa jauh imajinasi itu bergerak.
‎
‎Kubur, dalam doa tersebut, bukan batas terakhir keberpihakan.
‎
‎Kematian bahkan tidak cukup kuat untuk membuat seseorang berkata: urusan keadilan bukan lagi urusanku.
‎
‎Tentu saja bahasa pedang dan tombak dalam doa itu berada dalam konteks kehadiran Imam Mahdi. Ia bukan pemberian izin kepada setiap orang untuk menentukan sendiri siapa yang boleh diperangi, apalagi pembenaran bagi kekerasan yang lahir dari kemarahan pribadi. Yang menarik justru struktur kesadarannya: seorang manusia diminta memunyai keberpihakan kepada keadilan yang bahkan lebih panjang daripada usianya sendiri.
‎
‎Di sini kita menemukan sesuatu yang mungkin jarang dibicarakan ketika membahas perlawanan.
‎
‎Perlawanan bukan pertama tama persoalan senjata.
‎
‎Ia adalah persoalan imajinasi.
‎
‎Sebelum sebuah kezaliman dapat dilawan, seseorang harus terlebih dahulu mampu membayangkan dunia tanpa kezaliman. Sebelum manusia berani mengatakan tidak kepada penindasan, ia harus percaya bahwa keadaan yang sedang berlangsung bukan satu satunya dunia yang mungkin.
‎
‎Karena itu Karbala bukan sekadar tempat.
‎
‎Karbala adalah sebuah kemungkinan.
‎
‎Kemungkinan bahwa seseorang dapat kalah tetapi tidak menyerah. Dapat terbunuh tetapi tidak ditundukkan. Dapat kehilangan tubuhnya tetapi meninggalkan sebuah pertanyaan yang hidup selama berabad abad.
‎
‎Dan Imam Mahdi, dalam imajinasi Ahlul Bait, menjadi horizon dari kemungkinan itu: sebuah dunia ketika keadilan tidak lagi hanya menjadi doa orang orang yang kalah.
‎
‎Mungkin itulah sebabnya menunggu Imam Mahdi tidak selayaknya dipahami sebagai menunggu dengan pasif.
‎
‎Menunggu adalah mempersiapkan keberpihakan.
‎
‎Hari ini mungkin kita tidak membawa pedang. Bentuk kezaliman pun tidak selalu datang dengan pasukan berkuda. Ia dapat hadir dalam hukum yang tidak adil, kekuasaan yang sewenang wenang, kemiskinan yang sengaja dipelihara, suara yang dibungkam, atau manusia yang diperlakukan seolah tidak mempunyai martabat.
‎
‎Maka imajinasi perlawanan Ahlul Bait menjadi sangat sederhana sekaligus sangat radikal: jangan pernah berdamai dengan kezaliman hanya karena kezaliman telah berlangsung terlalu lama. Jangan  juga bertekuk lutut di depan penguasa penindas yang hanya karena kamu sedirian. Imajinasi perlawanan tetap harus diwujudkan.
‎
‎Dan doa itu membawa gagasan tersebut sampai ke batas yang hampir tak terbayangkan.
‎
‎Jika aku masih hidup ketika keadilan memanggil, aku ingin berada di sana.
‎
‎Jika aku telah berada di dalam kubur ketika Imam Mahdi datang, dan Allah menghendaki aku kembali, keluarkan aku dari kuburku.
‎
‎Bukan karena aku mencintai peperangan.
‎
‎Bukan karena aku menginginkan kekuasaan.
‎
‎Tetapi karena aku tidak ingin menjadi penonton ketika keadilan akhirnya datang.
‎
‎Einstein benar bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan memberi tahu kita bagaimana dunia ini bekerja.
‎
‎Tetapi imajinasi membuat manusia bertanya:
‎
‎haruskah dunia selalu seperti ini?
‎
‎Karbala menjawabnya dengan darah.
‎
‎Dan doa kepada Imam Mahdi menjawabnya dengan sebuah harapan yang bahkan tidak mau dikalahkan oleh kematian.

Continue Reading

Trending