KAJIAN FILSAFAT
Peta Persepsi dalam Filsafat Ibn Sina dan Batasnya dalam Mencapai Pengetahuan
Tim Media DPW ABI Sulsel
Peran persepsi indrawi (sense perception) tak bisa disepelekan dalam usaha memperoleh pengetahuan. Manusia hanya mampu mengenali objek eksternal jika dimediasi oleh kelima indra. Murthada Muthahari menyebut objek eksternal sebagai alam. Yakni dunia materi yang mencakup ruang, waktu, gerak, dan segala sesuatu di mana manusia hidup dan berinteraksi. Agar manusia dapat memperoleh pengetahuan dari alam tersebut, seluruh kemampuan indrawinya harus difungsikan secara aktif.
Indra eksternal dan internal
Ibn Sina menyebut pengalaman indrawi sebagai daya persepsi eksternal, suatu kemampuan psikis manusia yang terdapat dalam jiwa hewani. Dalam Psikologi Ibn Sina, ada lima persepsi eksternal atau indra lahiriah dengan fungsi berbeda-beda menurut Ibn Sina. Berikut penjelasnnya:
Pertama, penglihatan, yang bertugas mempersepsi bentuk suatu objek yang terpancar dan tercetak pada media tertentu dalam mata, yang ia sebut sebagai cairan beku. Bentuk ini berasal dari kerangka fisik berwarna dalam fisik tipis yang sampai ke permukaan fisik yang mengilap. Kedua, pendengaran yang bertugas mempersepsi bentuk yng sampai kepadanya melalui gelombang udara. Gelombang ini ditangkap oleh telinga dan menghasilkan bunyi.
Ketiga, penciuman yang bertugas mempersepsi bentuk yang dikirimkan oleh udara. Kemudian bagian otak yang terdiri dari dua tonjolan yang menyerupai puting susu menghirup aroma yang bercampur dengan uap. Keempat, daya yang terletak pada saraf yang tersebar pada lidah untuk mempersepsi rasa yang terlepas dari benda-benda yang bersentuhan dengannya.
Kelima, perabaan yaitu daya tang terletak pada seluruh saraf kulit tubuh dan dagingnya untuk mempersepsi sesuatu yang disentuh yang terpengaruh oleh kontradiksi (seperti panas dan dingin) serta perubahan campuran dan keadaannya (seperti lembab, hangat, dll).
Di sisi lain, Ibn Sina juga memperkenalkan persepsi internal dan indra batin (al-hawâs al-bâthinah) yang perannya tak bisa disepelekan dalam mengenali objek eksternal. Sebab, representasi objek eksternal menjadi objek internal sebagai bahan mencapai pengetahuan dimungkinkan karena adanya imajinasi sebagai salah satu fakultas indra batin.
Akar dari konsep indra batin sudah ada dalam tradisi filsafat Aristotelian. Dalam De Anima, Aristoteles membahas mengenai imajinasi, yang meskipun tak eksplisit menyebutnya indra batin, namun dibedakan dengan persepsi indrawi dan rasio. Adalah Ibn Sina yang nanti akan membagi indra batin menjadi lima fakultas persepsi internal. Keberagaman fakultas indra batin kemudian banyak dikutip dan dikembangkan oleh filsuf abad pertengahan Eropa. Fakultas indra batin tersebut antara lain:
Pertama, Indra bersama (Al-hâss al-musytarak/sensus communis/common sense) adalah fakultas yang menerima seluruh bentuk yang sampai dan tercetak pada panca indra. Sejatinya, Indra eksternal hanya menangkap warna merah dan aroma harum pada bunga secara terpisah. Namun kedua persepsi tersebut dapat terkumpul menjadi satu bentuk atau satu kesadaran utuh melalui indra bersama: bunga merah yang harum.
Kedua, fakultas imajinatif dan formatif. Disebut juga sebagai imajinasi (al-quwwah almutakhayyilah/ imajination) yang berfungsi menyimpan apa yang diterima indra bersama dan tetap berada di sana meskipun meskipun objek yang terindra sudah tak ada lagi. Misalnya, meskipun bunga yang harum dan berwarna merah itu telah dipindahkan atau layu, citranya tetap hidup dalam benak kita
Ketiga, Fakultas imajinasi yang berkaitan dengan jiwa hewani dan fakultas kogitatif yang berkaitan dengan jiwa insani. Disebut juga imajinasi rasional (quwwah al-mufakkirah/vis imaginativa). Fungsinya adalah mengombinasikan dan memisahkan bentuk-bentuk yang telah disimpan oleh fakultas imajinasi. Fakultas ini dapat menggabungkan bunga merah dengan makna tertentu, misalnya cinta. Sehingga menjadi, “bunga merah melambangkan cinta”.
Keempart, fakultas estimasi atau daya penduga (al-quwwah alwahm/vis aestimativa) yang berfungsi mempersepsi makna-makna bukan objek terindra (non-indrawi) yang terkandung dalam objek-objek partikular yang terindra. Contoh pada hewan, seekor domba secara naluriah akan lari jika melihat serigala meski pun dari jarak jauh, padahal hewan tersebut tak memiliki konsep mengenai bahya. Itu mirip sepersi seorang bayi yang merasa nyaman di pelukan ibunya meskipun belum punya konsep tentang welas asih.
Kelima, fakultas memori (al-quwwah al-hâfizhah/vis memorativa) berfungsi menyimpan makna-makna dari estimasi seperti serigala adalah musuh dan anak adalah buah hati orangtua. Jika fakultas estimasi bertugas menangkap makna non-indrawi yang melekat pada objek partikular, maka fakultas memori menyimpan makna-makna tersebut agar bisa diingat kembali. Jadi, jika di lain waktu seekor domba melihat serigala, ia secara otomatis sudah tahu bahwa ia harus menghindar. Karena makna tersebut telah tersimpan di memorinya berdasarkan berbagai pengalaman sebelumnya saat bertemu serigala.
Penjelasan di atas menunjukkan, jika sebagian dari persepsi internal akan membantu manusia untuk mempersepsi bentuk objek-objek eksternal yang dikirimkan melalui sensasi indra eksternal. Sebagiannya lagi mempersepsi makna dari objek-objek eksternal. Menurut Ibn Sina, suatu objek dipersepsi oleh mansia melalui kombinasi antara persepsi internal dan persepsi eksternal.
Indra eksternal mempersepsi objek terlebih dahulu, lalu mengirimkannya ke jiwa untuk ditangkap oleh persepsi internal. Sementara itu, ada fakultas dari persepsi internal yang membantu manusia mempersepsi makna, yakni estimasi. Fakultas ini mempersepsi hal-hal nonmateri dari objek ekesternal seperti makna ketakutan, bahaya, atau perlawanan pada entitas di luar dirinya. Olehnya itu, Ibn Sina mengatakan, makna tersebut dapat dipersepsi tanpa bantuan indra eksternal.
Kelemahan
Kelemahan dari pengalaman indrawi, hanya dapat mempersepsi objek-objek kekinian dan kedisinian. Artinya, pengalaman indrawi hanya mampu mempersepsi objek-objek yang hadir di hadapannya, di sini dan saat ini, namun tak bisa menjangkau objek yang jauh di hadapannya atau di luar dari batas-batas jangkauannya, juga tak bisa mempersepsi objek masa lalu dan masa depan.
Kelemahan lainnya adalah, pengalaman indrawi sangat bergantung pada keadaan organ indra biologis dan saraf-saraf reseptor, juga bergantung pada keadaan psikologis manusia. Jadi jika seseorang sedang sakit, marah, atau bersedih, sangat berpotensi mereduksi sensasi atas objek-objek. Sehingga kualitas-kualitas objek bisa dirasakan berbeda dari kualitas aslinya.
Di sisi lain, pengalaman indrawi hanya mampu memberikan informasi yang bersifat lahiriah, permukaan, dan partikular dari objek-objek di luar diri kita. Ia tidak dapat menghasilkan pemahaman tentang konsep-konsep universal. Pengalaman indrawi mungkin memperkenalkan kita pada berbagai warna tertentu, tetapi tidak memberikan gambaran umum tentang konsep warna itu sendiri.
Misalnya, kita melihat banyak benda berwarna merah—seperti bunga mawar, bendera, atau dinding. Dari berbagai contoh ini, kita membentuk ide universal tentang apa itu “merah”. Ide tersebut tidak berasal dari satu objek merah tertentu, ataupun dari satu pengalaman melihat warna merah saja. Namun konsep universal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh fakultas pengetahuan bernama rasio, yang menjadi bagian dari jiwa insani.
Hal yang sama berlaku untuk konsep hubungan, seperti “di atas”, “di antara”, atau “sama”. Kita tidak mendapatkan konsep ini dari kesan langsung. Kita hanya melihat benda-benda yang saling berhubungan—misalnya, kucing di atas tikar, atau Selat Inggris yang memisahkan Britania Raya dari daratan Eropa. Artinya, pikiran kita tidak sekadar menyalin apa yang dilihat, tapi membentuk pengertian dari pola-pola hubungan tersebut.
Hal serupa juga berlaku untuk konsep-konsep relasional, seperti “di atas”, “di antara”, atau “sama dengan”. Indra kita memang menangkap objek-objek yang berada dalam suatu hubungan, tapi hubungan itu sendiri tertangkap secara langsung oleh indra, namun dikenali langsung oleh akal.
Sebagai contoh, saat kita melihat buku diletakkan di atas meja, atau melihat dua pohon yang tumbuh di antara dua rumah. Dari berbagai pengalaman tersebut, akal kita menyusun pemahaman umum tentang hubungan posisi atau perbandingan. Jadi, konsep-konsep ini berasal dari kemampuan akal untuk mengenali pola keterkaitan yang berulang dalam realitas sekitar.
OPINI
Filsafat Ekonomi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Oleh: Erwin Lessy
Mengembalikan Ekonomi sebagai Jalan Menuju Keadilan dan Peradaban
Ketika berbicara tentang ekonomi, hampir seluruh teori modern memulai pembahasannya dengan persoalan yang sama, yakni bagaimana meningkatkan pertumbuhan, memperbesar keuntungan, menciptakan efisiensi, atau memperluas pasar. Perdebatan kemudian berkembang mengenai siapa yang paling tepat mengatur proses tersebut. Kaum kapitalis percaya bahwa pasar yang bebas merupakan jalan terbaik menuju kemakmuran, sementara kaum sosialis meyakini bahwa negara harus mengambil peran utama agar distribusi kekayaan berlangsung lebih adil.
Namun Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengajukan pertanyaan yang sama sekali berbeda. Beliau tidak memulai pembahasan dari pasar, negara, modal, atau bahkan pertumbuhan ekonomi. Beliau memulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yakni untuk apa manusia membangun ekonomi?
Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya mengubah seluruh arah pembahasan ekonomi.
Menurut Khamenei, kesalahan terbesar ekonomi modern bukanlah karena terlalu banyak menggunakan matematika atau statistik, tapi karena kehilangan orientasi filosofisnya. Ekonomi modern cenderung memandang manusia sebagai makhluk yang tujuan utamanya adalah memenuhi kebutuhan material. Dalam kapitalisme, manusia dipahami sebagai individu rasional yang mengejar kepentingan dan keuntungan pribadinya. Dalam sosialisme, manusia lebih dipahami sebagai bagian dari kelas sosial yang harus memperjuangkan distribusi kekayaan yang lebih merata. Meskipun berbeda dalam mekanisme, keduanya tetap menempatkan ekonomi sebagai pusat kehidupan manusia.
Di sinilah Khamenei menawarkan perspektif yang berbeda.
Menurut beliau, manusia bukanlah makhluk yang hidup demi ekonomi. Manusia adalah makhluk spiritual, intelektual, moral, sosial, sekaligus ekonomi. Ekonomi hanyalah salah satu instrumen yang memungkinkan manusia menjalankan misi yang lebih besar sebagai khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu, keberhasilan suatu sistem ekonomi tidak cukup diukur dari besarnya pertumbuhan, tingginya investasi, atau meningkatnya konsumsi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah sistem ekonomi tersebut mampu membentuk manusia yang lebih bermartabat, lebih adil, lebih mandiri, dan lebih dekat kepada tujuan penciptaannya?
Dari titik inilah filsafat ekonomi Khamenei dibangun.
Tauhid menjadi fondasi seluruh bangunan pemikirannya. Tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, tetapi paradigma dalam memahami realitas. Jika seluruh alam semesta pada hakikatnya adalah milik Allah, maka manusia bukanlah pemilik mutlak kekayaan, melainkan penerima amanah untuk mengelolanya. Kepemilikan pribadi tetap diakui, tetapi tidak pernah bersifat absolut. Setiap kekayaan selalu mengandung tanggung jawab sosial dan moral. Dengan demikian, hak milik tidak dipahami sebagai kebebasan tanpa batas, tapi sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat dan Tuhan.
Pandangan ini melahirkan ukuran keberhasilan ekonomi yang berbeda. Khamenei tidak menolak pertumbuhan ekonomi, bahkan beliau berulang kali menekankan pentingnya produktivitas, investasi, dan kemajuan teknologi. Namun semua itu bukan tujuan akhir. Pertumbuhan yang menghasilkan ketimpangan, melemahkan solidaritas sosial, mendorong konsumerisme, atau menciptakan ketergantungan ekonomi kepada pihak lain, menurut beliau, justru menunjukkan kegagalan pembangunan.
Karena itu, keadilan menjadi pusat orientasi ekonomi. Tetapi keadilan yang dimaksud bukanlah pemerataan yang menghilangkan kreativitas individu ataupun kebebasan berusaha. Keadilan berarti menciptakan struktur ekonomi yang membuka kesempatan secara luas, melindungi kelompok yang lemah, mencegah monopoli kekayaan, dan memastikan bahwa aktivitas ekonomi benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Ekonomi Resisten: Kemandirian sebagai Jalan Kebebasan
Konsep yang paling dikenal dari pemikiran ekonomi Khamenei adalah Resistance Economy atau Ekonomi Resisten. Sayangnya, konsep ini sering dipersempit sebagai strategi menghadapi sanksi ekonomi terhadap Iran. Padahal, apabila dibaca secara utuh dari pidato dan dokumen kebijakannya, Ekonomi Resisten merupakan sebuah filsafat tentang kemandirian bangsa.
Menurut Khamenei, bangsa yang menggantungkan kehidupan ekonominya kepada kekuatan eksternal akan kehilangan kebebasan menentukan masa depannya sendiri. Ketergantungan ekonomi lambat laun akan berubah menjadi ketergantungan politik, budaya, bahkan cara berpikir. Karena itu, masyarakat harus memiliki kemampuan bertahan bukan dengan cara menutup diri dari dunia, tapi dengan memperkuat fondasi internalnya.
Ekonomi Resisten bukan berarti anti-perdagangan internasional ataupun anti-globalisasi. Sebaliknya, Khamenei mendorong interaksi dengan dunia luar, tetapi dari posisi yang kuat dan bermartabat. Sebuah bangsa harus mampu memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri, mengembangkan inovasi, memanfaatkan sumber daya domestik secara optimal, serta menjadikan tekanan eksternal sebagai pendorong kreativitas, bukan sebagai alasan untuk menyerah.
Dengan demikian, inti Ekonomi Resisten bukanlah “bertahan dari sanksi”, tapi membangun masyarakat yang memiliki daya tahan, kepercayaan diri, dan kedaulatan ekonomi.
Ekonomi Berbasis Produksi: Kekayaan Tidak Diciptakan oleh Uang, tetapi oleh Karya
Salah satu kritik paling tajam Khamenei terhadap ekonomi modern adalah dominasi sektor finansial yang semakin menjauh dari kegiatan produksi nyata.
Beliau berulang kali menegaskan bahwa kemakmuran tidak lahir dari perputaran uang semata. Kekayaan sejati diciptakan ketika masyarakat mampu menghasilkan barang, mengembangkan teknologi, membangun industri, memperkuat pertanian, dan menciptakan inovasi. Karena itu, produksi dipandang sebagai fondasi utama ekonomi nasional.
Pandangan ini menarik karena menggeser cara kita memandang kekayaan. Dalam banyak sistem ekonomi modern, pertumbuhan sektor keuangan sering dianggap sebagai indikator keberhasilan. Namun Khamenei mengingatkan bahwa apabila uang terus berputar tanpa diikuti peningkatan kapasitas produksi, maka ekonomi menjadi rapuh dan rentan terhadap krisis.
Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang menghasilkan nilai tambah nyata melalui kerja, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan produktivitas. Dalam perspektif ini, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat dan bagian dari pembangunan peradaban.
Ekonomi Berbasis Ilmu Pengetahuan (Knowledge-Based Economy): Pengetahuan sebagai Modal Terbesar Bangsa
Berbeda dengan banyak pemikir ekonomi Islam yang lebih menekankan distribusi kekayaan, Khamenei memberikan perhatian besar pada ilmu pengetahuan sebagai sumber utama kemajuan ekonomi.
Beliau berulang kali menegaskan bahwa kekayaan alam tidak pernah cukup untuk menjamin kemajuan suatu bangsa. Negara yang kaya sumber daya dapat tetap tertinggal apabila tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, negara yang miskin sumber daya dapat menjadi maju apabila berhasil membangun tradisi riset, inovasi, dan pendidikan.
Karena itu, investasi terbesar menurut Khamenei bukanlah investasi pada komoditas, melainkan investasi pada manusia. Universitas, lembaga penelitian, industri berbasis teknologi, dan generasi muda dipandang sebagai aset strategis yang menentukan masa depan ekonomi. Dalam perspektif ini, ilmu pengetahuan bukan sekadar instrumen akademik, tetapi menjadi kekuatan produktif yang mengubah struktur ekonomi bangsa.
Ekonomi sebagai Pilar Peradaban Islam Baru
Semua konsep tersebut akhirnya bermuara pada gagasan terbesar Khamenei, yaitu New Islamic Civilization atau Peradaban Islam Baru.
Inilah yang membedakan beliau dari banyak ekonom modern. Khamenei tidak pernah berbicara tentang ekonomi sebagai tujuan akhir pembangunan. Ekonomi hanyalah satu pilar dari sebuah proyek besar membangun peradaban.
Menurut beliau, sebuah peradaban tidak lahir hanya karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Peradaban lahir ketika ilmu pengetahuan berkembang, keadilan ditegakkan, budaya diperkaya, moral dijaga, pemerintahan berjalan amanah, dan ekonomi menjadi sarana untuk memuliakan manusia.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui angka-angka statistik. Ukuran yang jauh lebih penting adalah apakah ekonomi tersebut berhasil melahirkan manusia yang lebih berilmu, lebih mandiri, lebih berintegritas, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama.
Pada titik inilah filsafat ekonomi Khamenei menghadirkan perspektif yang menyegarkan. Beliau tidak mengajak dunia meninggalkan pasar, menolak kepemilikan pribadi, atau memusuhi keuntungan. Yang beliau lakukan adalah menggeser orientasi ekonomi. Pasar tetap diperlukan, keuntungan tetap dihargai, inovasi tetap didorong, tetapi semuanya ditempatkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu membangun manusia dan peradaban.
Mungkin inilah kontribusi terbesar filsafat ekonomi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bagi pemikiran ekonomi kontemporer. Ketika banyak teori ekonomi sibuk memperdebatkan bagaimana membagi kekayaan atau memperbesar pertumbuhan, beliau mengajak kita kembali kepada pertanyaan yang hampir terlupakan: untuk apa manusia membangun ekonomi?
Selama pertanyaan ini diabaikan, pertumbuhan mudah berubah menjadi keserakahan, efisiensi menjadi eksploitasi, dan kemajuan material kehilangan arah moralnya. Sebaliknya, ketika ekonomi dipahami sebagai amanah untuk memuliakan manusia dan membangun peradaban, maka kekayaan tidak lagi menjadi tujuan akhir, melainkan menjadi jalan menuju masyarakat yang adil, mandiri, bermartabat, dan berkeadaban.
Referensi Utama
Sumber Primer
- Khamenei, Ali. An Outline of Islamic Thought in the Qur’an. Islamic Thoughts Foundation.
- Khamenei, Ali. Resistance Economy: Policy Statements (dokumen kebijakan resmi).
- Khamenei, Ali. Kumpulan pidato resmi di https://english.khamenei.ir (khusus tema Economy, Production, Justice, Knowledge-Based Economy, dan New Islamic Civilization).
Literatur Pendukung
- Baqir al-Shadr, Iqtisaduna (Our Economics).
- Murtadha Muthahhari, Society and History.
- Hamid Algar (ed.), berbagai studi mengenai pemikiran politik dan sosial Revolusi Islam Iran.
- Seyyed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought.
- Artikel-artikel akademik mengenai Resistance Economy dan pembangunan ekonomi Iran dalam jurnal seperti Digest of Middle East Studies, World Scientific Studies in Political Science, dan publikasi universitas di Iran.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News1 tahun ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
News1 tahun ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah