Connect with us

KAJIAN ISLAMI

Mengeja Literasi Karbala

Published

on

Karbala

Oleh: Sulhan Yusuf

Tidak semua darah berakhir menjadi noda. Ada darah yang berubah mewujud aksara. Sehingga, “airmata dari berbagai penjuru, taklah lelah mengalir, mencari darah selaku kembarannya.”

Berabad-abad lampau, di sebuah padang gersang, darah itu mengalir dari tubuh-tubuh yang kehausan. Ia meresap ke tanah Karbala, lalu hilang dari pandangan mata. Namun, sejarah nyana bekerja dengan cara ganjil. Apa yang tampak lenyap, justru kerap menemukan jalannya menuju keabadian.

Darah yang tertumpah pada 10 Muharam 61 Hijriah, pembunuhan Imam Husein bersama keluarga dan pengikutnya, tidak membeku sebagai peristiwa. Ia menjelma ingatan, lalu berubah menjadi hikayat, terus merawi nurani manusia dari zaman ke zaman, seraya-menyeraya melintasi batas generasi.

Barangkali itulah sebabnya tragedi Karbala tidak pernah selesai dibaca.

Peristiwa tersebut telah berlalu lebih dari tiga belas abad, tetapi gaungnya tetap terdengar hingga hari ini. Ia hidup dalam doa-doa, syair-syair, majelis duka, bahkan dalam kesunyian seseorang yang tengah menimbang makna keberanian.

Setiap generasi datang menimba, lalu pulang membawa pemaknaannya masing-masing. Dari sumber yang sama, lahir pelbagai tafsir: kesedihan untuk sebagian jiwa, keteguhan bagi sebagian lainnya, serta pantulan pergulatan batin buat mereka yang menatapnya lebih dalam.

Amat lazim mengenang tragedi Karbala melalui air mata. Tidak ada yang keliru dengan itu. Air mata merupakan bahasa tertua, dimiliki manusia ketika berhadapan dengan kehilangan. Ia hadir jauh sebelum lahirnya pidato, kitab, maupun risalah. Akan tetapi, air mata sesungguhnya hanya gerbang. Ia bukan tujuan akhir. Kesedihan yang berhenti sebagai ratapan, lambat laun menguap menjadi kenangan, sedangkan kesedihan yang berjumpa dengan perenungan dapat menjelma kebijaksanaan.

Dus, Karbala tidak hanya mengharap untuk dikenang. Ia juga meminta buat dibaca. Dalam pengertian itulah saya memaknainya sebagai literasi. Bukan sekadar kecakapan mengenal huruf dan merangkai kalimat, melainkan kemampuan menyingkap makna di balik sebuah peristiwa. Sebab sejarah, sebagaimana sebuah buku, tidak cukup dipandangi sampulnya. Ia perlu dibaca, ditafakuri, lalu dipertautkan dengan kehidupan yang sedang dijalani.

Mungkin di situlah tradisi mengenang Karbala bersentuhan dengan tradisi literasi. Keduanya berangkat dari ikhtiar, agar sesuatu yang bernilai tidak tenggelam dalam lupa. Jika literasi menjaga pengetahuan melalui aksara, maka peringatan Karbala mengawetkan makna melalui ingatan.

Syair-syair dibacakan, kisah-kisah dituturkan, majelis-majelis digelar, sementara nurani bersemuka dengan duka yang tak kunjung surut. Doa-doa diwariskan bukan semata untuk merawat kesedihan, melainkan buat memastikan pesan dari padang itu tetap hidup. Dengan cara demikian, Karbala terus dibaca, bukan hanya oleh mata, tetapi juga lewat hati.

Di situlah Karbala menghadirkan dirinya sebagai literasi. Bukan literasi yang berhenti pada aksara, melainkan literasi yang mengajak manusia membaca martabat, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan kepada nurani. Darah para syuhada menjadi aksaranya, sedangkan perjalanan sejarah menjadi halaman-halamannya.

Setiap zaman membacanya dengan cara berbeda, tetapi gema yang dipancarkannya tetap serupa. Pertanyaan lahir dari padang itu dan tak pernah kehilangan relevansinya: apa yang mesti dilakukan, ketika kebenaran berhadapan dengan kekuasaan? Mana yang harus dipilih, kala keselamatan diri menuntut seseorang berpaling dari suara hatinya sendiri?

Pertanyaan semacam itu tidak pernah usang. Ia selalu hadir dalam wajah baru. Kadang muncul dalam ruang politik, sering menjelma godaan jabatan, atau bersembunyi di balik perkara-perkara yang tampak sepele. Namun, hakikatnya tetap serupa. Manusia sedang diuji di hadapan pilihan antara kemaslahatan diri dan kesetiaan kepada nuraninya.

Dalam pengertian itulah, Karbala tidak pernah menjadi masa lampau. Ia terus hadir sebagai cermin yang memperlihatkan wajah manusia ketika berhadapan dengan pilihan yang menentukan martabatnya.

Imam Husein, cucu kinasih Rasulullah Muhammad Saw., tidak mewariskan istana. Ia tak meninggalkan singgasana megah. Ia juga tiada mewariskan kemenangan dalam pengertian yang lazim dipahami para penguasa. Namun, ia menutahkan sesuatu yang jauh lebih langgeng: teladan tentang cara menjaga martabat, saat dunia menawarkan berbagai jalan untuk melepaskannya.

Kisahnya tidak bertahan karena kekuasaan yang dimilikinya, melainkan karena keteguhan yang diperlihatkannya tatkala kekuasaan justru berdiri di hadapannya.

Karbala sesungguhnya tidak berkisah tentang kematian. Ia berkisah tentang sikap hidup.

Banyak orang mampu bertahan, ketika keadaan berpihak kepadanya. Namun, tidak semua sanggup tetap tegak, saat seluruh keadaan bergerak ke arah sebaliknya. Pada titik itulah integritas menemukan maknanya. Integritas bukan perkara mengucapkan yang benar saat aman dilakukan. Integritas memperlihatkan wujudnya, kala kebenaran menuntut ongkos yang mahal.

Dalam sejarah manusia, tidak sedikit memilih keselamatan dengan mengorbankan prinsip. Sebaliknya, hanya segelintir bersedia mempertahankan prinsip, meskipun harus kehilangan keselamatan.

Padang Karbala menjadi saksi bagi pilihan semacam itu. Ia merupakan hamparan tanah yang nisbi sunyi, tetapi dari kesunyiannya lahir gema melintasi abad. Di sana pedang memang berkilat, tubuh-tubuh memang rebah, dan darah memang mengalir. Namun, sejarah tidak berhenti pada kibasan pedang. Sejarah menyimpan apa-apa yang diperjuangkan mereka yang gugur. Pedang hanya menggores tubuh, sedangkan nilai-nilai perjuangan meninggalkan jejak lebih panjang pada kesadaran manusia.

Barangkali di titik itulah air mata menemukan kembarannya. Yang satu lahir dari luka. Lainnya lahir dari pengorbanan.

Di hadapan waktu, segala sesuatu akhirnya memperlihatkan wajah sejatinya. Kekuasaan boleh membangun tembok, mendirikan istana, atau menulis kisahnya sendiri. Walakin, waktu memiliki tabiat yang sulit ditaklukkan. Ia menampi segala yang semu, lalu membiarkan hakikat berdiri sendiri tanpa pegari kepalsuan. Ia mengelupas kemilau yang bertumpu pada rasa takut. Ia memperlihatkan betapa rapuh kemenangan yang berdiri di atas penindasan.

Sementara itu, nama Imam Husein tetap hidup. Ia berkelintangan dalam ingatan umat manusia, disebut di antara doa, dirindukan lewat syair, dan dikenang dalam berbagai bahasa. Apa yang dahulu tampak sebagai kekalahan, perlahan memperlihatkan wajah lain: kemenangan moral, terus memancarkan pengaruh hingga kiwari.

Mungkin karena itulah, air mata tidak pernah lelah mengalir menuju Karbala. Ia datang dari berbagai penjuru dunia, melintasi bangsa, bahasa, dan generasi. Seolah-olah air mata itu tengah menelusuri jejak yang tertinggal di padang tersebut. Dan yang dicarinya bukan semata darah para syuhada, melainkan makna yang tersimpan di dalam darah itu sendiri.

Sebab, darah dan air mata pada akhirnya menjadi dua aksara yang saling melengkapi. Yang satu menulis pengorbanan dan melahirkan kisah, yang lain membacanya agar peristiwa itu mengabadi dalam ingatan, setia pada peristiwa.

Dari perjumpaan keduanya, lahirlah kesadaran bahwa sejarah bukan sekadar kuburan masa silam. Ia adalah pelita yang menerangi perjalanan manusia. Maka, mengeja Karbala pada hakikatnya berarti mengeja diri sendiri.

Karena, tidak semua padang berada di Irak. Separuh tumbuh di relung dada manusia. Sebagian hadir dalam keputusan-keputusan, ketika nurani dan kepentingan saling bertatapan. Sebilangan lagi muncul saat seseorang harus memilih antara kenyamanan dan keyakinan. Ada pula yang merunjam perlahan ke dasar batin, menunggu keberanian untuk menentukan arah.

Ia tidak tinggal di masa silam. Ia berjalan bersama manusia. Dan mungkin, selama masih ada mereka yang menangis ketika menyaksikan ketidakadilan, selagi belum sirna yang memilih tegak meski sendirian, darah Karbala tidak akan pernah benar-benar kering. Ia akan tetap hidup sebagai aksara batin, dibaca berulang-ulang oleh sejarah. Darah menjadi huruf-hurufnya, air mata menjadi cara membacanya, sedangkan ingatan terus merunrun menjaga makna, agar tidak berselerak ditelan zaman.

Barangkali itulah literasi Karbala: secarik pelajaran tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan pengorbanan.

Di hadapan Karbala, sejarah dan puisi acap bersemuka. Yang satu mencatat peristiwa, yang lain memungut gema-gemanya. Dari perjumpaan itulah air mata dan darah terus menemukan suaranya.

Teringatlah saya pada puisi, pernah tertorehkan di waktu silam, sekaligus menjadi judul buku saya, sehimpunan puisi, AirMataDarah.

airmataku airmatamu airmatakita
dan darah mereka
tertampung di danau kesedihan

taklah pernah cukup
membasahi padang itu

walakin sang padang
dengan lakon kibasan pedang
akan bersaksi kelak

airmata dari berbagai penjuru
taklah lelah mengalir
mencari darah selaku kembarannya

padang tangisan airmata
pedang cucuran darah
airmatadarah

Artikel ini telah terbit di paraminda.com.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KAJIAN ISLAMI

Arsitek Jiwa

Published

on

By

gambar konversi 1

Oleh: Sulhan Yusuf

Sekotah utusan-Nya dan para penerusnya, diutus oleh-Nya untuk membangun jiwa manusia. Bukan raganya.” (Tajali Daeng Litere, 23102024)

Ikhtiar membangun dunia, agaknya patut diawali dengan membangun manusia. Dan, upaya membangun manusia selalu bermula dari pekerjaan paling sunyi: menata jiwanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Sebab, dari lapik ini, sekotah peradaban memperoleh arah, makna, dan kemuliaannya.

Pijakan minda demikian, bukanlah menafikan tubuh manusia, melainkan mengingatkan ihwal pangkal segala pembangunan. Sebelum rumah ditegakkan, terlebih dahulu pondasinya dipastikan kukuh. Sebelum peradaban menjulang, batin manusialah yang mula-mula mesti ditata.

Begitulah penabalan Daeng Litere itu tersaji, bagai mata air mengalir tenang di sela bebatuan. Tiada menghentak, tetapi perlahan meresap ke dalam kesadaran. Sepintas, ujar tersebut seolah mempertentangkan jiwa dan raga.

Diksi sekotah pada aforisme tersebut mengandung keluasan makna. Ia tidak hanya menunjuk para utusan Tuhan, tetapi juga mereka yang meneruskan jejak pengabdian para utusan itu: para guru, ulama, pendidik, pemikir, hingga siapa pun yang menyalakan pelita kesadaran di tengah kehidupan.

Mereka mungkin berbeda zaman, berlainan bahasa, serta menempuh beraneka jalan. Namun, simpul pengabdiannya tetap sama: membangunkan jiwa manusia, agar menemukan arah keberadaannya.

Kehayatan kiwari justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Kemajuan lebih sering diukur melalui apa yang tampak. Gedung menjulang menjadi lambang keberhasilan. Jalan raya membelah pegunungan. Teknologi melampaui batas-batas yang dahulu sulit dibayangkan.

Angka-angka pertumbuhan dipuja sebagai penanda kemajuan. Semua itu tentu bernilai. Namun, acap kali perhatian berhenti pada bangunan luar, sementara bangunan batin dibiarkan retak tanpa sempat diperbaiki.

Padahal, sejarah berkali-kali memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Peradaban megah, belum tentu dihuni manusia luhur. Kota dapat berkembang demikian pesat, tetapi kejujuran justru meranggas. Ilmu pengetahuan terus melesat, sementara nurani tertatih mengikuti. Kemajuan lahiriah akhirnya kehilangan arah, ketika tidak lagi ditopang oleh kejernihan jiwa.

Barangkali sebab itulah para utusan Tuhan tidak pertama-tama datang membawa rancangan kota, tata niaga, ataupun teknologi. Mereka hadir membawa pandangan hidup; menyalakan kesadaran ihwal benar-salah, adil-zalim, dan cinta-benci. Dari sanalah ruang paling sunyi dalam diri manusia mulai dibangun—tempat segala keputusan bermula sebelum menjelma tindakan.

Sesarinya, jiwa menjadi semacam mata air. Bila bening, aliran yang keluar pun cenderung jernih. Sebaliknya, apabila hulunya telah keruh, sukar mengharapkan air mengalir tetap bersih. Laku manusia bergerak dari dalam menuju ke luar. Tangan hanya mengerjakan apa yang terlebih dahulu diputuskan oleh batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, gejala itu mudah ditemukan. Dua orang dapat memiliki pengetahuan yang sama, tetapi melahirkan tindakan berbeda. Dua pemimpin memegang kewenangan serupa, tetapi meninggalkan warisan yang bertolak belakang. Yang membedakan bukan semata kecakapan, melainkan kualitas jiwa yang mengarahkan kecakapannya.

Di sinilah pembangunan memperoleh makna lebih utuh. Membangun manusia bukan sekadar menghadirkan kenyamanan fisik, melainkan juga menumbuhkan kejujuran, amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab. Nilai-nilai semacam itu tidak dapat dicetak oleh mesin, dibeli di pasar, ataupun diwariskan melalui kekuasaan. Ia bertunas melalui pendidikan batin yang panjang.

Daeng Litere seakan menginterupsi, keruntuhan besar acap tidak bermula dari robohnya bangunan, melainkan dari rapuhnya jiwa. Tatkala kerakusan memperoleh takhta, hukum mudah diperjualbelikan. Kala kesombongan menjadi kebiasaan, ilmu berubah menjadi alat penindasan. Ketika hati kehilangan rasa malu, kemajuan justru menyediakan sarana lebih canggih untuk melakukan kerusakan.

Sebaliknya, jiwa yang tertata mampu melahirkan peradaban lapang. Orang-orang saling percaya bukan semata karena aturan, tetapi karena kesadaran. Keadilan tumbuh bukan hanya akibat pengawasan, melainkan lantaran hati enggan berbuat zalim. Pada poros inilah, akhlak menjadi lapik bagi kehidupan bersama.

Pendakuan Daeng Litere juga mengandung kritik halus terhadap cara manusia menilai keberhasilan. Acap kali orang lebih mudah mengagumi bangunan menjulang daripada karakter yang bertumbuh.

Padahal, sebuah gedung dapat selesai dalam hitungan tahun, sementara membangun kejujuran memerlukan perjalanan seumur hidup. Yang pertama mudah dipotret, sedangkan yang kedua hanya dapat dirasakan melalui laku.

Nisbi diri pun kembali memperoleh tempatnya. Para utusan Tuhan tidak meninggalkan kemegahan, sebagai ukuran utama keberhasilannya. Mereka lebih dahulu meninggalkan manusia-manusia yang berubah. Dari satu jiwa yang tercerahkan, lahir keluarga lebih teduh. Dari keluarga yang teduh, tumbuh masyarakat lebih beradab. Perubahan besar acap bermula dari simpul-simpul kecil, bekerja dalam kesunyian.

Barangkali karena itulah, para penerus para utusan tidak pernah selesai menjalankan tugasnya. Selama manusia masih memerlukan kejernihan, sepanjang hati masih dapat dikeruhkan oleh keserakahan, sebentang batin masih mungkin disesatkan oleh keangkuhan, pekerjaan membangun jiwa akan selalu menemukan panggilannya. Ia bukan proyek yang mengenal garis akhir, melainkan safari panjang lintas generasi.

Dus, aforisme Daeng Litere tersebut tidak sedang memisahkan jiwa dari raga. Tubuh tetap memerlukan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan. Akan tetapi, semua itu akan kehilangan arah, bila batin yang mengendalikannya dibiarkan gersang. Raga memberi manusia kemampuan hidup, sedangkan jiwa memberinya alasan mengapa hidup mesti dijalani.

Pucuknya, bangunan paling kukuh bukanlah tembok menjulang, melainkan jiwa yang sanggup menopang peradaban. Tatkala jiwa berdiri tegak, badan, masyarakat, bahkan sejarah akan menemukan arah bertumbuhnya sendiri.

Artikel ini sudah pernah dimuat di paraminda.com

 

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

‎Kematian yang Menggerakkan

Published

on

By

Khamenei

Oleh: Khusnul Yaqin

‎Di sebuah sudut Karbala, berabad-abad silam, sejarah mencatat sebuah ironi yang karib: sebuah kekalahan fisik yang menjelma menjadi kemenangan spiritual yang abadi. Ketika kepala Hussein bin Ali dipisahkan dari jasadnya, para jagal di bawah panji Yazid mengira mereka telah selesai. Mereka keliru. Kematian di padang gersang itu tidak menutup buku; ia justru membuka sebuah mata air perlawanan yang tak kunjung kering.

‎Sejarah kaum tertindas (mustadh’afin) selalu ditulis dengan tinta yang ganjil. Di sana, kematian bukanlah akhir dari sebuah teks, melainkan tanda seru yang menggerakkan garis-garis baru.

‎Maka, ketika kita menyaksikan lautan manusia yang menyemut dalam prosesi pemakaman panjang pekan ini–di mana jutaan rakyat Iran tumpah ke jalan-jalan Teheran, memadati ruang dengan ratapan dan kepalan tangan–kita sedang melihat repetisi dari arsitektur teologis yang intim itu.

Washington dan Tel Aviv, dengan segala kalkulasi geopolitik dan presisi serangan udaranya yang mengakhiri hidup sang Pemimpin Agung pada Februari lalu, kerap gagal membaca apa yang tak kasat mata: bahwa dalam tubuh Republik Islam, politik tak pernah berdiri sendiri tanpa jubah mistisisme dan gelora memori syahadah.

‎Bagi Gedung Putih, sanksi ekonomi, tuduhan korupsi, dan tekanan militer adalah instrumen untuk meruntuhkan legitimasi sebuah rezim. Namun, di bawah payung Wilayatul Faqih–konsep yang dianyam oleh Imam Khomeini dan dilanjutkan dengan asketisme yang paripurna oleh Sayyid Ali Khamenei–kekuasaan tidak diukur dari sekadar angka pertumbuhan, melainkan dari sejauh mana sebuah bangsa mampu bertahan dalam kesendirian yang bermartabat. Kematian tragis sang pemimpin akibat hantaman bom justru menjadi proklamasi bahwa kesederhanaan hidup sang marja’ lebih perkasa ketimbang armada laut musuh.

‎Kehadiran puluhan juta manusia serta para tamu negara di tengah kepungan krisis adalah sebuah jawaban yang benderang. Ia meruntuhkan narasi Barat yang menganggap rakyat Iran hidup dalam paksaan. Ada cinta yang kolosal di sana, sebuah ikatan purba antara yang memimpin dan yang dipimpin, yang dipupuk oleh karakter manusia Persia: tangguh, puitis, dan memiliki ingatan historis yang panjang atas setiap kezaliman. Kemenangan Iran hari ini atas kepungan AS dan sekutunya bukanlah kalkulasi material semata, melainkan buah dari keteguhan spiritual konsep wilayatul faqih.

‎Amerika dan para sekutunya di kawasan sering kali terjebak dalam kesombongan hegemonik. Mereka mengira, dengan melenyapkan sebuah figur secara fisik, gerakan akan lumpuh dan perlawanan akan bungkam. Mereka lupa, dalam kosmologi perlawanan Syiah, martir (syahid) adalah benih yang paling subur.
‎Kematian seorang ulama yang tawakalnya total tidak akan menghentikan mesin perlawanan.

Justru, dari titik nadir kematian itu, sebuah energi baru diledakkan. Gerakan *Wilayatul Faqih* menantang apa yang mereka sebut sebagai kezaliman global bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan keyakinan bahwa darah yang tertumpah akan meningkatkan militansi gerakan hingga seribu persen dari hari ini.

‎Pada akhirnya, sejarah Syiah Iran adalah sejarah tentang bagaimana kematian dirayakan bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai sebuah transisi menuju keabadian gerakan. Melalui kepergian Sayyid Ali Khamenei, tirai belum diturunkan. Di Teheran hari-hari ini, kematian tidak pernah bungkam. Ia bicara, ia berteriak, dan ia menggerakkan.

Continue Reading

KAJIAN ISLAMI

Di Balik Asyura: Cinta yang Membangun Peradaban?

Published

on

By

Asyura

Oleh: Irfanesa

Setiap tahun, pada momen Asyura, jalanan kota-kota Iran dipenuhi lautan manusia yang tumpah ruah. Mereka bukan sekadar peziarah duka, melainkan pecinta yang merayakan kesetiaan pada Al-Husein. Sebagai negara dengan populasi pengikut Syiah terbesar di dunia, fenomena ini adalah pemandangan yang lumrah.

Di belahan dunia lain, terutama di Indonesia—tempat sentimen terhadap Syiah seringkali tinggi—komunitas ini lebih suka menamai dirinya sebagai Pecinta Ahlulbait. Syarat menjadi pengikut, sebagaimana sering mereka kutip, sederhana: taat kepada Ahlulbait, sesuai perintah Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 59.

Ayat itu menyerukan ketaatan kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri—sebuah rantai otoritas yang dalam keyakinan Syiah merujuk pada para Imam maksum dari keluarga Nabi, sebuah jalur valid dan integrasi otoritas yang tak terputus dari Tuhan hingga manusia.

Namun, di sinilah persoalannya: cukupkah menjadi sekadar pecinta, atau bahkan pengikut yang tulus, untuk membentuk tatanan masyarakat yang adil? Pertanyaan ini mendesak diajukan. Sebab, secara faktual, menjadi seorang Syiah—dalam arti pengikut setia Ali dan keluarganya—belum tentu mampu menciptakan peradaban yang dicita-citakan Rasulullah dan Ahlulbait-nya.

Mayoritas pengikut Ahlulbait, sadar atau tidak, masih terlena dalam anggapan bahwa menjadi Syiah sudah cukup untuk menata kehidupan. Rasa turut bersedih atas kemalangan keluarga Nabi dan berbahagia atas kebahagiaan mereka dianggap sebagai kompas yang telah membuat hidup terarah dan mapan. Padahal, jika kita menengok kriteria Syiah sejati yang diajarkan Imam Ja’far ash-Shadiq, standarnya luar biasa berat.

Bayangkan, dari 10.000 manusia, seorang pengikut Ahlulbait dituntut untuk menjadi yang terbaik. Dalam riwayat al-Kafi, Imam ash-Shadiq bahkan secara tajam menggambarkan bahwa Syiah sejati bukanlah yang sekadar mencintai Ali secara lisan, melainkan mereka yang paling wara’, paling zuhud, dan paling teguh dalam amal; sehingga di antara banyak pengaku, hanya segelintir yang benar-benar layak menyandang gelar itu.

Secara matematis, perbandingan ini sangat sulit menjadi kenyataan jika dikaitkan dengan kehidupan kita sebagai manusia biasa. Di sini, kecintaan harus bermetamorfosis: ia bukan lagi klaim pribadi, melainkan napas yang tumbuh dalam setiap tarikan hidup. Sebab, level penyaksian kita atas kebenaran—cara pandang, sikap, hingga tindakan—sangat bergantung pada sejauh mana kedalaman cinta itu tertanam.

Lalu, andai kita berhasil menjadi “yang terbaik di antara 10.000 orang” itu, cukupkah itu untuk membangun peradaban unggul? Sejarawan Arnold Toynbee melalui konsep creative minority-nya mungkin akan membenarkan optimisme itu. Dalam A Study of History, Toynbee berpendapat bahwa peradaban besar lahir dari respons kreatif segelintir minoritas yang visioner terhadap tantangan zaman.

Namun, apakah kita bisa sepenuhnya bergantung pada minoritas sekecil itu? Realitas sosial kita, terutama di Indonesia, memaksa kita untuk ragu. Kemungkaran merajalela dari tingkat RT hingga pusat kekuasaan. Korupsi, penyelewengan, dan ketidakadilan bukan lagi fenomena luar biasa, melainkan telah mencapai level pemakluman massal. Dalam masyarakat yang dikuasai oligarki—penyakit kronis negara dunia ketiga—bisikan minoritas kreatif akan dengan mudah ditelan oleh gemuruh kuasa kapital dan politik yang busuk.

Imam Khomeini, dalam magnum opusnya Hukum Islam: Pemerintahan Faqih, melontarkan diagnosis yang tajam: negara dunia ketiga harus melakukan revolusi. Sebab, jika ia memilih jalan demokrasi, ia akan dikendalikan oleh oligarki; jika ia terjebak dalam monarki, ia akan dicekik oleh dinasti yang menghianati keadilan dan kemanusiaan universal. Maka, revolusi adalah keniscayaan bagi bangsa yang ingin merdeka dan berdaulat sebagai prasyarat tegaknya keadilan.

Dengan lensa ini, kembali ke pertanyaan semula: apakah menjadi pecinta yang turut menangisi kemartiran Al-Husein di Karbala sudah cukup? Apakah menjadikannya teladan moral pribadi sudah memadai? Populasi manusia dengan kriteria pecinta Ahlulbait mungkin sudah mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan, yang tersebar di seluruh dunia. Namun, kenyataan pahitnya, hanya bangsa Iran di era pasca-revolusi yang hari ini mampu berdiri melawan hegemoni tirani global.

Fakta ini mengusik logika: bukankah Iran di masa Rezim Syah juga penduduk yang mayoritas pengikut Al-Husein? Lantas, apa yang secara fundamental membedakan Iran yang tunduk di bawah boneka Barat itu dengan Iran yang kini menjadi simbol perlawanan? Jika perbedaannya hanya pada semangat kecintaan dan kesetiaan pada Al-Husein, proposisi itu terlalu rapuh.

Di sinilah letak variabel yang selama ini kerap luput dari perhatian: wilayatul faqih. Tepat ketika Imam Mahdi memasuki kegaiban kubro, ia meninggalkan pesan penting melalui wakilnya yang terakhir di muka bumi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Syaikh ath-Thusi dalam Kitab al-Ghaybah, Imam Mahdi bersabda, “Adapun tentang peristiwa yang akan terjadi, maka kembalikanlah kepada para perawi hadis kami (para faqih), karena mereka adalah hujjahku atas kamu dan aku adalah hujjah Allah.”

Maksudnya jelas: kesetiaan kepada Ahlulbait belum cukup sampai manusia dengan sadar mengikatkan diri pada sistem kepemimpinan para faqih yang adil, terutama dalam konteks kegaiban Imam Zaman. Gagasan inilah yang berhasil dirumuskan dan diwujudkan oleh Imam Khomeini pada tahun 1979 dalam bentuk negara Islam yang dipimpin oleh Wali Faqih.

Inilah unsur pembeda mutakhir yang paling tegas: Iran sebelum revolusi adalah negeri pecinta Al-Husein yang terpecah, tunduk pada sistem taghut; Iran setelah revolusi adalah negeri pecinta yang bergerak dalam bingkai otoritas ilahiah yang hidup dan membumi. Jadi, menjadi Syiah adalah modal spiritual yang amat penting.

Namun, secara sosiologis, untuk menciptakan perubahan sosial dan membangun peradaban yang adil, tidak ada jalan lain kecuali kesiapan kita untuk menjadi bagian dari gerakan sebuah sistem yang kokoh: wilayatul faqih. Dunia tidak hanya membutuhkan pecinta yang pasif. Ia membutuhkan kecintaan yang berbuah gerakan, karena setiap cinta sejati niscaya menuntut pengorbanan. Wallahu A’lam.

Continue Reading

Trending