News
Pelatihan Jurnalistik ABI Sulsel Tekankan Peran Berita dalam Membentuk Opini Publik
ABI Sulsel— DPW Ahlulbait (ABI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menyelenggarakan Pelatihan Dasar Jurnalistik di sekretaritariat LDSI Al-Muntazhar, Jumat (1/5/2026).
Kegiatan ini menyoroti pentingnya penulisan berita yang akurat dan bertanggung jawab dalam membentuk opini publik. Hal ini ditegaskan oleh ketua ABI Sulsel, Dr. Imran Latief, M.Hum.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa berita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi cara pandang dan ideologi masyarakat terhadap suatu isu.
Imran berharap pelatihan ini mampu melahirkan penulis yang kritis dan profesional, sehingga dapat berkontribusi dalam menciptakan informasi yang sehat dan membangun opini publik yang lebih bijak di ruang digital.
“Minimal, para peserta dapat memberikan dampak nyata di lingkungan sekitarnya dan bisa mengedukasi komunitasnya tentang pentingnya menyaring dan menyampaikan informasi secara bijak,” ujarnya.
Kontributor: Wa Indri Fitwi Rasim
KEGIATAN ABI
Majelis Pengajian Mutiara Resmi Dimulai, Hadirkan Ruang Belajar Al-Qur’an dan Penguatan Keagamaan bagi Masyarakat
ABI Sulsel— Dewan Pengurus Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Yayasan Simpul Panrita Dua Belas menggelar pertemuan perdana Majelis Pengajian Mutiara (Majelis Untuk Tahsin, Iqra, dan Ragam Agama) pada Senin (22/6/2026) di Sekretariat DPW ABI Sulawesi Selatan, Jalan Batua Raya 5 Lorong 4, Makassar.
Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00 hingga 17.30 WITA tersebut diikuti oleh ibu-ibu yang berdomisili di sekitar area sekretariat sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan di lingkungan masyarakat.
Pelaksanaan Majelis Pengajian Mutiara merupakan salah satu bentuk kontribusi sosial-keagamaan yang bertujuan menyediakan ruang belajar yang terbuka, ramah, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui program ini, peserta diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memperbaiki bacaan melalui pembelajaran tahsin, serta memperkaya wawasan keagamaan melalui berbagai materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pertemuan perdana diawali dengan pembukaan dan perkenalan program kepada peserta. Selanjutnya, kegiatan difokuskan pada pembelajaran dasar membaca Al-Qur’an dan tahsin yang disampaikan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing peserta. Pendekatan yang digunakan menekankan suasana belajar yang nyaman dan tidak menghakimi sehingga setiap peserta dapat mengikuti proses pembelajaran dengan percaya diri.
Pengajar Majelis Pengajian Mutiara, Hj. Asnimihram, menyampaikan bahwa keberadaan majelis ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat, khususnya kaum ibu, untuk terus meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an sekaligus memperkuat fondasi keagamaan dalam keluarga.
“Belajar Al-Qur’an adalah proses yang tidak mengenal usia. Melalui Majelis Pengajian Mutiara, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang hangat dan terbuka, tempat setiap orang dapat memperbaiki bacaannya, menambah pengetahuan agama, serta saling menguatkan dalam kebaikan. Kami berharap majelis ini menjadi langkah kecil yang membawa manfaat besar bagi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” ujar Hj. Asnimihram.
Sementara itu, salah seorang peserta, Hj. Andi Norma, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran majelis pengajian di lingkungan tempat tinggal memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk terus belajar dan memperdalam pemahaman agama.
“Kami merasa senang karena ada wadah belajar seperti ini di sekitar lingkungan kami. Banyak di antara kami yang masih ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an tetapi sering merasa tidak memiliki kesempatan atau tempat yang tepat. Di sini suasananya sangat nyaman dan membuat kami lebih bersemangat untuk belajar bersama,” tuturnya.
Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat jelas. Para peserta mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, mencatat materi yang disampaikan, serta aktif berinteraksi dengan pengajar. Beberapa peserta juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an dan praktik ibadah sehari-hari.
Suasana majelis berlangsung khidmat namun tetap hangat dan komunikatif. Semangat kebersamaan tampak dalam interaksi antar peserta yang saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Tidak sedikit peserta yang mengungkapkan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin sehingga proses belajar dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Selain menjadi sarana pembelajaran, kegiatan ini juga memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Kehadiran ibu-ibu dari lingkungan sekitar sekretariat menciptakan ruang silaturahmi yang positif, sekaligus memperkuat budaya belajar dan saling berbagi pengetahuan keagamaan dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
Bagi DPW ABI Sulawesi Selatan, pelaksanaan pertemuan perdana Majelis Pengajian Mutiara yang bertepatan dengan hari keenam bulan Muharram 1448 Hijriah memiliki makna tersendiri. Bulan Muharram dipandang sebagai momentum untuk memperkuat refleksi spiritual, memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai keagamaan, serta menumbuhkan semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri.
Dalam pandangan DPW ABI Sulawesi Selatan, salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari bulan Muharram adalah pentingnya menjaga integritas, kejujuran, keberanian dalam mempertahankan kebenaran, serta kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam keteladanan Imam Husain as yang hingga kini dikenang sebagai figur yang teguh memegang prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai universal tersebut dinilai tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern, terutama dalam membangun keluarga, lingkungan sosial, dan generasi yang berakhlak mulia.
Meski demikian, penyelenggaraan Majelis Pengajian Mutiara tetap difokuskan pada tujuan utamanya, yakni menghadirkan ruang pembelajaran Al-Qur’an dan penguatan pemahaman keagamaan yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis kebutuhan masyarakat, program ini diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan umat melalui pendidikan dan pembinaan spiritual yang berkelanjutan.
Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal dari rangkaian kegiatan yang direncanakan berlangsung secara rutin. DPW ABI Sulawesi Selatan bersama Yayasan Simpul Panrita Dua Belas berharap Majelis Pengajian Mutiara dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar serta mendorong lahirnya lingkungan yang lebih religius, harmonis, dan berkeadaban.
Pada akhirnya, semangat Muharram yang sarat dengan pelajaran tentang keteguhan moral, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh peserta untuk terus menumbuhkan budaya belajar, memperkuat akhlak, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, beradab, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
News
Ambulans Jenazah ABI DPW Sulsel Selesaikan Pengantaran Perdana, Layani Keluarga Duka dari RS Hingga Liang Lahat
ABI Sulsel— Misi kemanusiaan perdana resmi dijalankan Layanan Ambulans Jenazah ABI DPW Sulawesi Selatan. Hari ini, Senin (22/6/2026), unit ambulans bernomor lambung putih-hijau itu terlihat melesat menyusuri jalanan Makassar, menjalankan tugas sakral mengantar seorang almarhum ke peristirahatan terakhir.
Pantauan media di lokasi, prosesi pengantaran dimulai kemarin sejak siang hari ketika tim ABI tiba di salah satu rumah sakit rujukan di kawasan Jalan A.P. Pettarani Makassar.
Dengan prosedur yang humanis dan penuh penghormatan, tim medis dan relawan ABI mengevakuasi jenazah menggunakan tandu khusus menuju ambulans. Setelah dikondisikan, kendaraan segera meluncur menuju rumah duka di kawasan Gunung Sari untuk dilakukan prosesi penghormatan terakhir oleh keluarga dan kerabat.
Rangkaian tugas tidak berhenti di situ. Keesokan harinya, TIM dan ambulans kembali bergerak mengantarkan almarhum dari rumah duka menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Jl. Palantikang, Katangka Kab. Gowa.
Cuaca terik tidak menyurutkan semangat tim untuk mendampingi keluarga hingga prosesi pemakaman selesai, menandai pengantaran perdana yang berjalan lancar dan khidmat. Koordinator Layanan Ambulans ABI DPW Sulsel, Irfan, mengungkapkan haru dan bangganya atas kelancaran operasi hari ini.
“Ini adalah ujian pertama bagi kami. Alhamdulillah, seluruh rangkaian dari jemput RS, antar ke rumah duka, hingga pemakaman berjalan tanpa kendala. Kami tidak sekadar mengantar jenazah, tetapi hadir mendampingi kesedihan keluarga dengan sigap dan empati,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela tugas.
Menariknya, layanan yang baru diresmikan beberapa hari lalu ini mengusung konsep pelayanan sosial yang meringankan beban warga. Keluarga almarhum yang ditemui di TPU mengaku sangat terbantu.
“Kami tidak menyangka prosesnya secepat dan semudah ini. Timnya sangat profesional dan sabar mendampingi kami dari rumah sakit sampai akhir,” ucap salah satu kerabat dengan mata berkaca-kaca.
Dengan suksesnya pengantaran perdana ini, ABI DPW Sulsel menegaskan komitmennya untuk siaga 24 jam penuh bagi masyarakat Makassar dan sekitarnya yang membutuhkan jasa antar jenazah, baik dari rumah sakit ke rumah duka, maupun langsung ke pemakaman.
Bagi warga yang tengah berduka dan memerlukan layanan cepat, tanggap, dan berintegritas, jangan ragu untuk segera menghubungi posko darurat ABI DPW Sulsel di nomor 0811-4700-1214. Satu panggilan, tim siap bergerak membantu perjalanan akhir saudara kita dengan penuh kemuliaan.
Kontributor: Erwin
KOMUNITAS
Bedah Buku “Mengapa Saya Mengikuti Ali” di Jeneponto
ABI Sulsel— Suasana Minggu sore, 21 Juni 2026, di Warkop “Diresapi Kopi” Jeneponto, terasa berbeda dari biasanya. Di antara aroma kopi dan percakapan para pengunjung, puluhan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul untuk mengikuti bedah buku “Mengapa Saya Mengikuti Ali” karya H. Lexi Mailowa Budiman.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktur Balla Kopi Institut, Maggalatung, ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan tokoh agama untuk mendiskusikan isi buku yang mengisahkan perjalanan intelektual dan spiritual seorang keturunan Tionghoa dalam menemukan jalan pemikiran yang diyakininya melalui sosok Imam Ali bin Abi Thalib.
Dalam pengantarnya, Maggalatung menyampaikan bahwa diskusi literasi tidak boleh hanya berlangsung di ruang-ruang akademik yang eksklusif. Warung kopi, menurutnya, harus menjadi ruang publik tempat masyarakat bertemu, bertukar pikiran, dan memperbincangkan gagasan-gagasan besar yang menyangkut kehidupan bersama.
Diskusi diawali oleh Prof. Khusnul yang mengawali paparannya dengan sebuah refleksi spiritual.
“Kehadiran kita di tempat ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah bentuk kecintaan Imam Ali kepada kita semua sehingga kita dipertemukan dalam majelis ini,” ujarnya.
Menurut Prof. Khusnul, ilmu pengetahuan tidak semestinya hanya beredar di kampus dan universitas. Masyarakat juga berhak memperoleh akses terhadap diskusi-diskusi yang mencerahkan, termasuk melalui forum-forum sederhana seperti yang berlangsung di Warkop Diresapi Kopi.
Ia menjelaskan bahwa salah satu keunikan buku karya H. Lexi Mailowa Budiman terletak pada latar belakang penulisnya yang berasal dari keluarga multikultural dan multiagama. Dalam keluarganya terdapat penganut Islam, Kristen, Konghucu, dan lainnya. Ia sendiri adalah seorang muallaf (Islam). Dari latar belakang itulah lahir sebuah pencarian panjang terhadap kebenaran.
Menurut Prof. Khusnul, buku tersebut pada mulanya merupakan catatan-catatan harian penulis yang merekam kegelisahannya setelah memeluk Islam. Ia menyaksikan umat Islam yang terpecah dalam berbagai kelompok, saling menyalahkan, bahkan saling menyesatkan.
“Ada yang bertahlil, ada yang membid’ahkan. Ada yang menganggap dirinya paling benar, sementara yang lain dianggap sesat. Dari kegelisahan itulah Pak Lexi melakukan penelusuran panjang,” jelasnya.
Salah satu kalimat yang menurut Prof. Khusnul menjadi inti dari buku tersebut adalah ungkapan penulis: “Saya menolak mewarisi tanpa memeriksa.”
Kalimat itu menggambarkan keberanian seorang pencari kebenaran yang tidak menerima begitu saja warisan pemikiran tanpa melakukan penelitian dan verifikasi terhadap sumber-sumber yang dianggap kredibel.
Dalam paparannya, Prof. Khusnul juga menyoroti sosok Imam Ali sebagai figur yang sangat dekat dengan rakyat kecil. Menurutnya, keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas merupakan salah satu karakter utama Imam Ali yang kemudian juga tercermin dalam perjuangan para tokoh besar Islam, termasuk Imam Khomeini.
“Ia memimpin revolusi besar, tetapi hidup sederhana dan lebih dekat kepada kaum mustadhafin,” ujarnya.
Prof. Khusnul juga mengingatkan bahwa sebagian besar sanad keilmuan para penyebar Islam di Nusantara memiliki mata rantai yang tersambung kepada Imam Ali bin Abi Thalib, meskipun banyak manuskrip sejarah yang hilang atau berpindah tangan pada masa kolonial.
Paparan berikutnya disampaikan oleh Hasanuddin Malewa dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) Sulawesi Selatan. Ia menilai perjalanan intelektual yang ditulis Lexi Mailowa memiliki kemiripan dengan pengalaman spiritual yang dikisahkan dalam buku “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” karya Muhammad at-Tijani as-Samawi.
Menurut Hasanuddin, mengikuti Ali bukan berarti sekadar mengidolakan atau memfanatikkan seseorang. Mengikuti Ali berarti mengikuti jalan kebenaran yang diwariskan Rasulullah Muhammad SAWW kepada umatnya.
Ia menjelaskan konsep wasi dalam tradisi Islam, yakni sosok yang menerima amanah untuk melanjutkan dan menjaga risalah kenabian. Dalam pandangannya, Imam Ali merupakan wasi Rasulullah sebagaimana para nabi terdahulu juga memiliki penerus yang menjaga ajaran mereka.
Hasanuddin juga mengulas berbagai peristiwa penting yang menunjukkan keberanian Imam Ali dalam sejarah Islam, mulai dari Perang Uhud, Khandaq hingga Khaibar.
“Ali bukan hanya simbol ilmu pengetahuan dan spiritualitas, tetapi juga simbol keberanian dalam membela kebenaran,” katanya.
Sementara itu, Sayyid Jalil Fattah Tuang Liu dari ABI Jeneponto menyampaikan kesan emosionalnya terhadap buku tersebut.
“Saat melihat judul buku ini, saya ingin memeluk penulisnya. Karena saya adalah darah Ali,” ujarnya yang disambut senyum oleh peserta karena beliau dikenal sebagai seorang Sayyid keturunan Rasulullah.
Menurutnya, buku ini sesungguhnya berbicara tentang cinta, kedamaian, dan keteladanan. Ia menggambarkan Imam Ali sebagai sosok yang memadukan keberanian dan kebijaksanaan dalam satu pribadi.
Sebagai ilustrasi, Sayyid Jalil mengisahkan peristiwa ketika Imam Ali berhasil menjatuhkan lawannya dalam peperangan. Namun ketika lawan tersebut meludahinya, Imam Ali justru menahan diri dan mengurungkan niat untuk membunuhnya saat itu juga.
“Ali khawatir jika tindakannya didorong oleh kemarahan pribadi, bukan demi menegakkan kebenaran,” tuturnya.
Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan musuh, melainkan mengalahkan hawa nafsu dalam diri sendiri.
Dari Ahlul Bait hingga Peristiwa Ghadir Khum
Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian paling menarik dalam bedah buku tersebut. Berbagai pertanyaan diajukan peserta, mulai dari konsep Ahlul Bait, kondisi sosial Arab sebelum Islam, hingga persoalan kepemimpinan umat setelah wafatnya Rasulullah SAWW.
Menjawab pertanyaan tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait, narasumber menjelaskan bahwa istilah tersebut secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Ahzab ayat 33 yang menyebutkan bahwa Allah berkehendak menghilangkan segala noda dari Ahlul Bait dan menyucikan mereka sesuci-sucinya.
Menurut Hasanuddin, untuk memahami siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait dalam ayat tersebut, para ulama merujuk kepada sejumlah hadis, salah satunya Hadis Ahlul Kisa atau Hadis Selimut. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW mengumpulkan lima orang di bawah satu selimut, yaitu Rasulullah SAW sendiri, Imam Ali bin Abi Thalib, Sayidah Fatimah Az-Zahra, Imam Hasan, dan Imam Husain. Rasulullah kemudian berdoa agar mereka mendapatkan limpahan rahmat dan kesucian dari Allah SWT.
Karena itu, lima sosok tersebut dikenal sebagai Ahlul Kisa dan menempati posisi yang sangat istimewa dalam sejarah Islam. Narasumber menjelaskan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait bukan sekadar persoalan hubungan keluarga dengan Nabi, tetapi juga karena keteladanan moral, ilmu, dan pengorbanan yang mereka tunjukkan dalam menjaga ajaran Islam.
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah mengenai kondisi sosial masyarakat Arab sebelum kelahiran Rasulullah SAW.
Prof. Khusnul menjelaskan bahwa Makkah pada masa itu sebenarnya merupakan kota yang maju dan menjadi pusat perdagangan penting di Jazirah Arab. Karena itu, istilah “jahiliah” yang sering digunakan untuk menggambarkan periode tersebut tidak berarti masyarakat Arab ketika itu bodoh atau tidak berpendidikan.
Yang dimaksud dengan jahiliah adalah kondisi moral dan spiritual masyarakat yang berada pada titik kemerosotan. Praktik-praktik ketidakadilan berlangsung secara luas, seperti peperangan antarsuku yang berkepanjangan, perbudakan, eksploitasi kelompok lemah, serta tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap sebagai aib keluarga.
Narasumber juga menjelaskan bahwa sejumlah kelompok Yahudi pada masa itu telah mengenal berbagai nubuat tentang akan datangnya seorang nabi akhir zaman. Dalam sejumlah riwayat sejarah disebutkan bahwa mereka menantikan kemunculan sosok tersebut. Namun sebagian dari mereka berharap nabi yang dijanjikan itu berasal dari garis keturunan Bani Israil, bukan dari keturunan Nabi Ismail AS.
Karena itu, menurut Prof Khusnul, keluarga Bani Hasyim yang kelak menjadi tempat kelahiran Rasulullah SAWW telah menghadapi berbagai tekanan dan ancaman bahkan sebelum Nabi Muhammad lahir.
Pertanyaan yang kemudian memancing diskusi lebih panjang adalah mengenai siapa yang seharusnya menjadi penerus Rasulullah SAW setelah beliau wafat.
Menanggapi hal itu, Prof mengajukan pertanyaan reflektif kepada peserta.
“Kalau seseorang ketua sebuah organisasi dan mengetahui bahwa masa kepemimpinannya akan segera berakhir, apakah ia akan meninggalkan umatnya tanpa memberikan petunjuk tentang siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan?”
Dari pertanyaan tersebut, narasumber kemudian menjelaskan peristiwa Ghadir Khum, sebuah lokasi yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Menurut berbagai riwayat sejarah Islam, peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah SAW menyelesaikan Haji Wada atau haji perpisahan.
Di hadapan ribuan jamaah haji yang sedang dalam perjalanan pulang, Rasulullah SAW menghentikan rombongan dan menyampaikan sebuah khutbah. Dalam khutbah tersebut beliau mengangkat tangan Imam Ali bin Abi Thalib dan menyampaikan pernyataan yang sangat terkenal:
“Barang siapa yang menjadikan aku sebagai mawlanya (pemimpin, pelindung atau yang memiliki otoritas atas dirinya), maka Ali adalah mawlanya.”
Menurut narasumber, peristiwa ini dipahami oleh banyak kalangan sebagai deklarasi penting mengenai kedudukan dan kepemimpinan Imam Ali setelah Rasulullah SAW. Karena itu, Ghadir Khum memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah Islam, terutama dalam tradisi yang meyakini bahwa Rasulullah SAWW telah memberikan penegasan mengenai peran Ali sebagai penerus kepemimpinan umat.
Meski demikian, narasumber juga menjelaskan bahwa dalam sejarah Islam terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna dan implikasi politik dari peristiwa tersebut. Perbedaan itulah yang kemudian berkembang menjadi salah satu tema besar dalam diskursus sejarah dan pemikiran Islam hingga hari ini.
Diskusi berlangsung hangat dan penuh penghormatan terhadap perbedaan pandangan. Para peserta tampak antusias mengikuti penjelasan para narasumber yang tidak hanya mengulas aspek sejarah, tetapi juga mengajak peserta memahami pentingnya membaca, meneliti, dan mengkaji sumber-sumber Islam secara mendalam sebelum mengambil kesimpulan.
Diskusi berlangsung hangat hingga menjelang magrib. Para peserta tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga memperbincangkan pentingnya membangun tradisi berpikir kritis, budaya membaca, dan keberanian melakukan pencarian intelektual secara jujur.
Bedah buku ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar diskusi literasi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan gagasan, ruang berbagi pengalaman spiritual, sekaligus pengingat bahwa pencarian terhadap kebenaran selalu dimulai dari keberanian untuk bertanya, meneliti, dan membuka diri terhadap pengetahuan.
Di tengah secangkir kopi yang perlahan mendingin, percakapan tentang Ali bin Abi Thalib sore itu meninggalkan kesan yang hangat: bahwa sosok yang hidup lebih dari empat belas abad lalu itu masih terus menginspirasi manusia untuk mencari jalan keadilan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan.
-
KEGIATAN ABI1 tahun ago
DOA & AKSI SUNYI INDONESIA MENYALA UNTUK PALESTINA 🇮🇩🇵🇸
-
News11 bulan ago
Difasilitasi Kemenag Bone, Belasan Ormas Islam Bangun Komitmen Moderasi Beragama
-
KEGIATAN ABI11 bulan ago
Fungsionaris ABI Sulsel Ngopi Santai, Bahas Agenda dan Program Pasca PTD
-
SIARAN PERS1 tahun ago
Silaturahmi yang Menyulut Nurani: GUSDURian Makassar dan Ikhtiar Menjaga Demokrasi
-
News11 bulan ago
Indonesia Desak Dunia Bertindak Hentikan Agresi Israel dan Buka Akses Bantuan ke Gaza
-
PERSPEKTIF ABI1 tahun ago
Imam Khomeini: Hari Quds, Hari Perlawanan terhadap Arogansi Dunia
-
DOA-DOA1 tahun ago
Doa dan Tata Cara Shalat Wahsyah
-
KAJIAN ISLAMI1 tahun ago
Khutbah Jumat Perdana Rasulullah di Madinah


